Kenzo mulai melangkah keluar sambil menggenggam tangan Tiara, menghampiri sebuah mobil sport merah yang sudah terparkir di depan rumah, sebuah alat transportasi yang Daddy nya siapkan untuk nya selama dia dan sang istri tinggal di London.
"Hanya ini saja yang akan kalian bawa?" tanya Naura heran saat melihat dua koper kecil milik Kenzo dan Tiara yang sudah di ambil pelayan nya. Pasalnya setiap mahasiswa baru harus tinggal dan menginap di asrama sampai batas waktu yang tidak tentu dan pasutri itu pasti membutuhkan perlengkapan yang cukup banyak karena tidak bisa keluar asrama sesukanya. "Kalian pun pasti akan terpisah." tuturnya lagi memberi tahu.
"Segini saja sudah cukup, Aunty." Tiara yang menjawab, langsung tersenyum kecil melirik Kenzo. Karena inilah rencana sang suami, tidak bisa terpisah dalam waktu yang cukup lama lelaki itu sengaja membawa sedikit barang agar punya alasan untuk bisa keluar asrama. "Aunty tidak tahu seberapa manja keponakannya, bahkan aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia akan tidur saat kita terpisah nanti." gumamnya tertawa dalam hati. Pasalnya saat mengetahui kalau mereka akan terpisah Kenzo sampai uring-uringan karena tidak bisa lagi tidur satu ranjang dengan nya.
Bahkan tanpa sepengetahuan aunty Naura Kenzo sudah menyewa sebuah kontrakan di dekat kampus agar setiap akhir pekan lelaki itu dan istrinya bisa quality time bersama.
"Iya, hati-hatilah. Kalau ada apa-apa hubungi aunty." tutur Naura menawarkan diri, sang Kakak telah menitipkan kedua pasutri muda ini, dia pasti akan melakukan hal yang terbaik untuk keponakannya.
"Iya, kami pamit dulu, aunty." Tiara langsung berbungkuk berpamitan pada sang bibi, tapi tidak dengan Kenzo, entah apa sebenarnya yang suaminya itu rasakan sekarang. Raut wajahnya terlihat begitu dingin, terlebih setelah mengetahui kalau Renzela tengah berpacaran, lelaki itu tidak bicara sepatah katapun, dan hanya menatap bibinya itu dengan dingin.
......................
Mobil yang Kenzo kendarai sudah membelah jalanan kota, melaju dengan kecepatan rendah, membutuhkan waktu sekitar setengah jam lebih dari rumah aunty Naura sampai asrama kampus yang mereka tuju membuat Kenzo bisa lebih santai mengendarai mobil nya.
Tiara sendiri sedari tadi terus memperhatikan Kenzo, ingin bertanya sebenarnya kenapa mood suaminya itu tidak terlihat baik. "Ken, kenapa?" ucapnya langsung bertanya tanpa mengalihkan pandangannya menatap wajah lelaki itu.
"Hanya kesal saja," Kenzo menjawab singkat, bahkan tatapan matanya terlihat kosong menghadap ke depan.
"Kenapa apa karena Renzela?" Tiara berusaha menebak, namun tidak ada jawaban, sepertinya ucapnya itu benar. "Jangan terlalu keras pada nya, berpacaran hal yang wajar, Renzela pasti punya batasan, Ken." tuturnya berusaha meredam kekesalan sang suami. Namanya juga anak remaja, mereka pasti ingin menikmati masa mudanya.
Kenzo langsung menghela nafas, apa yang dia lakukan bukan tanpa alasan, "Aku hanya khawatir kesalahan yang telah terjadi terulang kembali." tutur nya mulai bicara. Ada hal yang belum Tiara ketahui mengenai keluarga nya dari pihak sang Mommy, dan sepertinya inilah waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya.
"Kesalahan?" Tiara sampai mengerutkan keningnya, dia sudah cukup lama hadir di keluarga Kenzo, tapi rupanya masih banyak hal yang belum dia ketahui mengenai keluarga suaminya itu.
"Kakek Angga merupakan pengusaha besar. Namun sedikitpun Mommy tidak pernah meminta bagian aset kekayaan Kakek karena merasa cukup dengan kekayaan Daddy, dan melimpahkan semua kuasa nya pada aunty Naura sebagai pewaris kekayaan Kakek. Tapi siapa sangka, bukannya meneruskan kerja keras Kakek mengembangkan perusahaan Nugraha, aunty malah di butakan cinta." Kenzo mulai bicara, kesalahan lama yang tidak di ingat kini harus terkuak. Alih-alih belajar dengan baik dan menjadi sosok pewaris yang bertanggung jawab, aunty Naura malah memilih menikah dengan Bernard; lelaki yang tidak jelas asal-usulnya.
Tiara sampai tertegun, tidak di perjelas pun dia tahu kalau ini alasannya Kenzo begitu kesal saat mengetahui kalau sepupunya itu berhubungan dengan lelaki, di masa-masa yang seharusnya wanita itu membentuk jati dirinya dengan baik, adik sepupunya itu malah bersenang-senang dengan hal yang tidak penting.
"Dan kau tahu? karena kebodohannya itu aunty mengizinkan lelaki itu menjual semua aset Kakek dan di pindahkan ke sini tanpa sepengetahuan Mommy, dan lebih menjengkelkannya lagi semua aset itu di ganti atas nama bajingan itu." jelas Kenzo menceritakan, bahkan rahang nya terlihat mengeras jika mengingat penghianatan lelaki yang menjadi paman nya itu.
Tiara sampai syok tidak mampu bicara, "Pantas Kenzo terlihat begitu dingin pada uncle Bernard, jadi ini alasannya," gumamnya dalam hati. Bahkan bukan hanya Kenzo saja, saat sang Daddy dan Mommy mengantarkan mereka ke sini pun, kedua orang tua itu memilih tinggal di hotel, dan tidak pernah lama-lama jika bersetapa dengan paman Bernard. "Tapi Daddy tidak mungkin tinggal diam kan?" tanyanya ingin tahu, dia tahu seperti apa Ayah mertuanya itu, tidak mungkin diam saja.
"Daddy tidak bisa menggugat lelaki itu, karena semua yang dilakukannya tidak melanggar hukum, semuanya di tandatangani oleh aunty sendiri sang pemilik aset, jadi dari segi hukum tidak ada salahnya sama sekali, hanya aunty nya saja yang begitu bodoh." decak nya kesal. Jika mengingat itu dia begitu menyayangkan jika Renzela mengikuti jejak mamih nya, yang mudah di perdaya karena cinta buta.
"Beruntung Mommy masih berlapang dada dan begitu mengasihani adik dan keponakannya itu. Mommy meminta Daddy terus mengintai pergerakan uncle dan memastikan kalau semua kekayaan itu masih di nikmati aunty dan Renzela," tutur nya lagi menceritakan. Masih mending sekarang ada Daddy nya yang penuh tanggung jawab, bagaimana jika kebodohan itu terulang kembali pada Renzela mungkin suatu saat kekayaan itu akan jatuh pada orang lain, dan sia-sialah semua kerja keras Kakek Angga di masa lalu. "Dan karena itu juga alasan kenapa kita harus berkuliah di sini."
Tiara hanya bisa diam seribu bahasa, pantas saat suaminya itu meminta izin untuk berkuliah di Harvard university sang Mommy tidak meresponnya. Setelah mengetahui faktanya dia bisa menafsirkan, mungkin secara tidak langsung sang Mommy meminta mereka untuk mengawasi sang bibi dan sepupunya itu. Dan lagi kalau mereka berkuliah di sini Mommy tidak akan terlalu khawatir karena ada sang bibi yang akan membantu mereka.
"Tanpa ku jelaskan sepertinya kau sudah mengerti." Kenzo kembali bicara, matanya menatap ke depan, tapi tangannya bergerak mengelus punggung tangan Tiara. Selama mereka hidup bersama selalu saja permasalahan keluarganya yang begitu rumit yang Tiara dengar. Tapi dia berjanji akan melindungi wanita itu dan tidak akan pernah membiarkannya terluka sedikit pun. "Aku berjanji akan membuat mu bahagia, Tiara."
Beberapa menit berlalu, tanpa terasa kini mereka sudah sampai di depan gerbang asrama, pintu besar yang akan membawa mereka masuk ke dua bagian tempat yang terpisah dan di batasi oleh sebuah dinding tinggi; sebelah kanan merupakan asrama putra dan sebelah kiri adalah asrama putri.
Mobil Kenzo sudah terparkir, kini mulai melangkah menarik koper sang istri dan mengantarkan nya ke depan pintu masuk asrama putri. "Apa kita harus terpisah di sini?" keluhnya dengan begitu lemas. Rasanya dia belum bisa membayangkan akan terpisah dari istrinya ini.
"Besok kan kita bisa bertemu di kampus." timpal Tiara dengan tersenyum kecil, bak anak kecil yang sedang merengek, ekspresi suaminya itu terlihat menggemaskan.
"Tetap saja, rasanya aku tidak bisa tidur tanpamu." Kenzo bahkan langsung melingkarkan tangannya merangkul pinggang Tiara, rasanya dia tidak ingin melepaskan wanita itu pergi. "Aku pasti akan merindukanmu." rengek nya dan perlahan mengecup bibir sang istri.
"Hei," Tiara sampai terperangah, ini di depan asrama putri, malu kalau di lihat orang lain. "Kau bukan anak TK Kenzo, sayang." ledeknya dengan tersenyum. Tangannya langsung bergerak membalas rangkulan sang suami, "Akhir pekan nanti kita kan bisa tidur bareng lagi." tuturnya lagi dengan penuh arti.
Kenzo sontak langsung tersenyum girang, "Baiklah, aku tidak sabar menantikan nya." tuturnya dan langsung menyuruh Tiara masuk, dia juga harus bergegas ke asrama putra sebelum kesiangan. "Masuklah, dan jangan jauhkan ponsel mu. Kalau ada apa-apa hubungi aku!"
"Iya."
Tiara sudah masuk, Kenzo pun kembali ke parkiran untuk mengabdi koper miliknya. Setelahnya terlihat seorang wanita yang baru memasuki asrama putri dengan raut wajah kesal. Bahkan wanita itu menarik kedua kopernya dengan begitu kasar.
"Damn it! Why is the suitcase so heavy?" ("Sial! kenapa kopernya berat sekali si?") decak nya kesal, bibir wanita itu terus mengoceh sana sini. "He prefers to take his girlfriend over to take his sister. Sis sucks." ("Dia lebih memilih mengantarkan pacar nya dari pada mengantarkan adiknya. Dasar Kakak menyebalkan.") umpatnya lagi. Bibirnya terus mengoceh tapi matanya terus melihat sekeliling untuk mencari bantuan. "Hey, you!" ("Hei, Kau!") teriak nya pada seseorang yang berjalan di depannya.
Tiara yang merasa ada seseorang yang memanggilnya langsung menoleh ke belakang, "You call me?" ("Kau memanggil ku?") tanyanya pada wanita di belakangnya.
Bukannya menjawab pertanyaan Tiara, wanita itu malah dengan percaya diri menyuruh Tiara membawakan kopernya. "Bring mine too!" ("Bawa punyaku juga!") titahnya tanpa basa-basi.
Tiara sampai menohok, "What?" apa dia tidak salah dengar. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba ada wanita asing yang menyuruhnya tanpa sopan santun.
"Why are you still silent, you don't know who I am?" ("Kenapa masih diam, kau tidak tahu siapa aku?") ucap wanita itu dengan berdecak pinggang. Dia sudah cukup kesal, kenapa sekarang wanita ini tidak mau menuruti perintah nya. "I'm his sister, Dominic. Quick, bring my suitcase!" ("Aku adiknya, Kak Dominic. Cepat bawakan koper ku!") titah nya lagi. Seharusnya setiap mahasiswa yang kuliah di sini tahu siapa Kakak nya. Dan seberapa besar kekuasaannya di kampus ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Nur Kurniasih
d luar negri juga masih ada ya yg rese so berkuasa
2022-08-17
0
Anisnikmah
awal bully ya
2022-08-06
0
azril arviansyah
haduh gak di sekolah gak di kampus ada aja yang resek
2022-08-03
0