Seira Pergi

Hari terus berlalu, satu Minggu setelah kepergian mereka dari rumah Zafran, Seira dan Bi Sari tinggal di sebuah kontrakan kecil atas saran dari seseorang yang menolongnya. Ia menolak tinggal di rumahnya karena bagaimanapun masih dalam masa iddah. Ada larangan-larangan tertentu yang tidak boleh dilakukan selama masa tunggu itu.

Pagi itu Seira baru saja membereskan semua barang yang dimilikinya. Dua buah tas besar telah teronggok di teras rumah, sedangkan penghuninya masih disibukkan dengan acara di dalam rumah.

"Assalamualaikum, Ibu, Sari!"

Sebuah sapaan dari suara seorang laki-laki menggema di dalam rumah.

"Ya, sebentar!"

Jawaban dari dalam membuatnya kembali menarik diri dan duduk di bangku teras. Menunggu dengan sabar, berkali-kali matanya melirik tas besar itu sambil berharap mereka mengurungkan niat untuk pergi.

Ketukan langkah yang menggema dari dalam rumah, membuat jantungnya bertalu-talu tak menentu. Ia hafal betul siapa pemilik langkah berirama khas itu. Aroma bunga dari sabun yang dikenakannya menguar dengan cukup kuat, ditambah harum shampo membuatnya tampak segar.

Ia duduk dengan gelisah, mengusap-usap kedua tangan mengusir gugup yang membuat gundah. Seumur hidup yang pernah dilaluinya, tak sekalipun merasakan getaran hebat seperti yang terjadi pada hatinya saat ini. Menunggu suara yang selalu menggelitik jiwa, mengusik damai dalam telinga.

"Eh, Jago! Udah dateng aja, ini masih pagi padahal," tegur si pemilik langkah dengan suara yang mendayu-dayu.

Jago beranjak, memutar menghadap wanita yang saat ini menjadi mantan majikannya. Berkali-kali ia membasahi bibirnya yang terasa kering, tangannya bertaut cemas di depan tubuh. Membungkuk sambil tersenyum kikuk pada wanita itu. Benar, Jago adalah orang yang membawa Seira dan kedua orang yang mengikutinya pergi sesaat setelah mereka keluar gerbang rumah Zafran.

Dia menawari mereka tempat tinggal, tapi Seira menolak. Berencana akan pergi, hanya saja kondisi Seira saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Hanya Mang Udin yang memutuskan pulang kampung setelah mengantar mereka ke kontrakan.

"Iya, Bu. Soalnya saya belum ke gudang, tapi udah izin tadi sama Bapak," ucapnya dengan lidah yang sedikit kelu.

Seira tak menyahut, hanya membulatkan bibir saja tanpa berniat membahasa lebih jauh tentang mantan suaminya itu lagi.

"Oya, Bu. Maaf, apa Ibu tahu kalo Bapak hari ini mau menikah?" tanya Jago takut-takut.

Ia melirik wajah Seira yang nampak sayu seketika, jujur saja di dalam lubuk hati yang terdalam cinta itu masih milik Zafran. Nama laki-laki itu masih menjadi penguasa di dalam sana. Hatinya berdenyut mendengar kabar tersebut, ada nyeri yang tak dapat dijelaskan oleh kata-kata.

Ia tersenyum canggung seraya berucap, "Syukurlah. Semoga pernikahan mereka bahagia."

Jago tersentak, padahal dia siap berdiri di barisan paling depan jika saja Seira berkeinginan menggagalkan acara itu.

"Ibu nggak mau mencegah begitu? Saya lihat, Ibu masih cinta sama Bapak," ujar Jago tak percaya bahwa Seira akan merelakan begitu saja.

Lagi-lagi, bibir merah alami itu membentuk garing lengkung sempurna yang membuat siapa saja pastinya terpesona.

"Buat apa? Aku udah ikhlasin semuanya, mudah-mudahan Mas Zafran lebih bahagia sama dia. Aku mau ikut Bi Sari pindah karena nggak punya siapa-siapa lagi di sini, mungkin akan tinggal di sana dan nggak akan kembali ke sini lagi. Jangan pernah bilang sama siapapun kalo kita emang sering ketemu," ungkap Seira dengan segenap ketabahan yang dimiliki hatinya.

Tak ada genangan air di pelupuknya, ia juga tidak terlihat lemah sama sekali. Tetap biasa seperti tak pernah ada masalah yang terjadi. Jago tercenung mendengar penuturannya, itu artinya setelah ini dia tak akan lagi melihat wanita yang selama ia kagumi. Sosok Seira menjelma menjadi satu idola dalam hati.

"Jago! Kamu bisa aku percaya, 'kan?" tegur Seira disaat laki-laki berjanggut tebal itu terdiam dalam renungan.

Jago tersentak, ia mengangguk patuh tanpa menyahut. Tak ada keinginan sama sekali dalam hatinya untuk memberitahu Zafran soal keberadaan Seira meskipun ia tahu laki-laki itu terus mencarinya, tapi untuk apa?

Bi Sari muncul dari dalam rumah membawa serta kunci kontrakan. Mengunci pintu sebelum pamit pada sang pemilik kontrakan. Seira duduk di bangku, sedangkan Jago tetap berdiri di tempatnya semula.

Laki-laki berwajah sangar itu sesekali mencuri lirikan pada sang mantan majikan. Betapa ia terpesona dengan segala yang melekat pada dirinya.

"Jaga Mas Zafran dari mereka, Jago. Dia orang baik, hanya saja mudah dipengaruhi sama orang-orang di sekitarnya. Terutama dari Lita. Aku tahu siapa dia, tapi aku nggak bisa ngapa-ngapain karena Mas Zafran lagi jatuh cinta sama dia. Aku titip dia," ucap Seira memecah hening di antara mereka.

Jago menurunkan pandangan, melirik wanita yang duduk dengan tegar di bangku. Dia wanita hebat, mengatakan kalimat yang sebenarnya menyakiti hati dengan tanpa menangis.

"Kenapa Ibu nggak nangis?"

Akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dengan sendirinya. Seira menoleh dengan pelan, tersenyum penuh ketabahan.

"Buat apa? Apa kalo aku nangis Mas Zafran akan balik kayak dulu lagi? Apa kalo aku nangis semuanya akan balik kayak dulu lagi? Nggak, Jago. Semua nggak akan bisa balik kayak dulu lagi." Dia tersenyum lagi.

Sikap tegar Seira benar-benar mencubit hatinya, Jago kalah oleh seorang wanita yang seharusnya lemah. Seira memang berbeda, disaat wanita lain akan terus menangis berhari-hari, ataupun berbuat nekad dengan segala macam cara. Ia tetap bersikap tenang bahkan tersenyum sekalipun hatinya sedang remuk redam.

Lidah Jago kelu, tiba-tiba tak dapat digerakkan untuk menimpali ucapan Seira. Memang benar, tangis tak akan mengembalikan semua, tapi dapat mengurangi beban berat yang menimpah pundak. Setidaknya begitu seperti yang sering dia dengar dari kebanyakan wanita.

Bi Sari datang dan perbincangan mereka pun terhenti. Jago membawa dua tas itu naik ke dalam pickup yang dibawanya, transportasi milik gudang beras Zafran yang digunakan untuk mengirim beras pada agen-agen langganannya.

Keduanya pergi diantar ke terminal antar-kota, entah ke mana mereka akan pergi? Jago sendiri tidak tahu.

Ke mana aja Ibu pergi, mudah-mudah diselamatkan sampe tujuan.

Jago bergumam sembari menatap kedua punggung yang menjauh dari mobilnya. Ia berbalik teringat akan tugas yang diberikan Zafran padanya. Sebelum benar-benar pergi, ia memastikan keadaan Seira yang baik-baik saja. Wanita itu duduk di depan sebuah loket, menunggu Bi Sari yang sedang membeli tiket.

Ia tersenyum seraya menginjak pedal gas dan melaju meninggalkan terminal. Seira teringat pada ponselnya, benda pipih itu ia matikan sejak melangkah keluar dari rumah Zafran. Dikeluarkannya kartu yang selama ini ia gunakan, pandanganya melilau mencari sebuah konter untuk membeli yang baru.

Saat memasukkan benda tersebut ke dalam tas, tak sengaja tangannya meraba sebuah benda lain. Kartu debit yang pernah diberikan Zafran padanya dan belum pernah digunakan. Mungkin sudah rezeki, ia tersenyum berniat mengeluarkan semua uang di dalamnya yang akan dijadikan modal usaha di desa nanti.

"Bi, aku pergi bentar, ya. Bibi tunggu di sini aja," pamitnya seraya beranjak meninggalkan Bi Sari dan tasnya.

Ia berjalan lurus menuju sebuah kantor bank yang terdapat di seberang jalan.

Namun, baru dua langkah kakinya menginjak jalan, sebuah klakson mobil menyentaknya.

"AWAS!"

Brak!

Terpopuler

Comments

ShintaSicca

ShintaSicca

Oalaahhh si ayam jago rupanya yg nolong, wkwkwk

2022-11-29

1

fifid dwi ariani

fifid dwi ariani

ttus ceria

2022-10-18

0

Muhtar Ndori

Muhtar Ndori

semoga sheira dan janinnya baik saja dan semoga juga lita mandul biar saat zafran liat sheira bawa anaknya dia akan nangis darah..

2022-10-13

0

lihat semua
Episodes
1 Kabar Baik atau Buruk?
2 Pengkhianatan
3 Kemalangan
4 Tak Acuh
5 Sebuah Derita
6 Zafran dan Jago
7 Semuanya Hancur
8 Kenangan Indah Itu
9 Dibuang
10 Pergi
11 Mencari Seira
12 Rindu
13 Perang Batin
14 Kecurigaan
15 Bukan Sei
16 Yang Sebenarnya
17 Ikhlas
18 Seira Pergi
19 Tertinggal Bus
20 Dia Tetap Milikku!
21 Pergulatan
22 Suasana Subuh
23 Keadaan Zafran
24 Penampilan
25 Lagi-lagi Seira
26 Taruhan
27 Was-was
28 Hendra dan Hubungannya
29 Masalah
30 Kehidupan Seira
31 Kebahagiaan Menjadi Ayah
32 Kemarahan Zafran
33 Bertemu Hendra
34 Kebetulan
35 Restu Ibu
36 Kenangan Masa Lalu
37 Rencana Berhasil
38 Semakin Rumit
39 Dua Wanita Lawan Satu.
40 Bersamaan
41 Tak Ingin Bercerai
42 Rasa Khas Sebuah Kue
43 Menuntaskan Rasa Penasaran
44 Sadar
45 Pada Hari Ulang Tahun Naina
46 Perjuangan Dan Kehancuran
47 Perlahan Hancur
48 Frustasi
49 Pertemuan Tak Terduga
50 Malam Kembali Memanas
51 Senyum Kebahagiaan
52 Side Story' Seira
53 Bukan Papah Rayan
54 Seperti Apa Jakarta
55 Pulang
56 Pertemuan Pertama
57 Bertemu Lagi
58 Ibu Pulang
59 Perasaan Seira, Perasaan Biya
60 Bertemu Siapa?
61 Tak Lekang Oleh Waktu
62 Kenyataan
63 Anak Itu ....
64 Panik
65 Antara Lega dan Malu
66 Kenyataan Pahit
67 Siapa Laki-laki Itu?
68 Dugaan
69 Penyesalan Terdalam
70 Naina Yang Malang
71 Apa Lagi?
72 Nasib
73 Semakin Aneh
74 Hamil?
75 Anak Tetaplah Anak
76 Kesialan
77 Kesialan II
78 Kabar Terbaru
79 Sadar?
80 Sebuah Nama Berharga
81 Bertemu Teman Lama
82 Bertemu Teman Lama II
83 Pada Waktu Itu ....
84 Ditolak
85 Malu
86 Berakhir
87 Lebih Busuk
88 Hari Itu ....
89 Pelangi Setelah Badai
90 Gadis Kecil Di Toko Kue
91 Siapa Lagi?
92 Bertemu Lagi
93 Gadis Kecil Itu
94 Keadaan Berbalik
95 Ingin Kembali
96 Kenangan
97 Tidak Jadi
98 Fathiya
99 Anak Itu
100 Sesosok Luka
101 Yang Buruk Tak Selalu Buruk
102 Bertemu
103 Hati Yang Retak
104 Perlahan Mengerti
105 Ikhlas II
106 Beberapa Hari Berlalu
107 Permohonan Gadis Kecil
108 Tak Bisa Pergi
109 Sebuah Surat
110 Bertemu Luka
111 Bertemu Muka
112 Memaafkan dan Mengikhlaskan
113 Akan Bertemu Rayan
114 Tidak Sekarang
115 Kontak Batin
116 Bukan Aids
117 Reuni
118 Keputusan
119 Kemauan Zafran
120 Tempat Ibu
121 Mencari Biang Masalah
122 Bertemu
123 Peringatan
124 Aku dan Kamu
125 Berbicara
126 Bertemu Lita
127 Sebuah Acara
128 Kenyataan
129 Ketakutan Hendra
130 Perubahan Seira
131 Tekad Zafran
132 Penolakan Rayan
133 Penolakan Rayan II
134 Diluar Dugaan
135 Mencoba Mengakhiri Hidup
136 Membuat Ulah
137 Dampak Berita Zafran
138 Tersangka
139 Tersangka Baru
140 Diburu
141 Tersangka Utama
142 Menuntaskan Masalah
143 Klarifikasi
144 Tuntas!
145 Pertemuan
146 Ingin Bertemu Naina
147 Naina Anakku.
148 Waktu Berdua
149 Doa Ibu
150 Hari Yang Ditunggu
151 Berkumpul
152 Kebahagiaan yang Tiada Tara
153 Rahasia Besar Fatih
154 Akhir Sebuah Kisah
155 Akhir Cerita (End)
156 Ekstra Part. Perpisahan
157 Pengumuman
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Kabar Baik atau Buruk?
2
Pengkhianatan
3
Kemalangan
4
Tak Acuh
5
Sebuah Derita
6
Zafran dan Jago
7
Semuanya Hancur
8
Kenangan Indah Itu
9
Dibuang
10
Pergi
11
Mencari Seira
12
Rindu
13
Perang Batin
14
Kecurigaan
15
Bukan Sei
16
Yang Sebenarnya
17
Ikhlas
18
Seira Pergi
19
Tertinggal Bus
20
Dia Tetap Milikku!
21
Pergulatan
22
Suasana Subuh
23
Keadaan Zafran
24
Penampilan
25
Lagi-lagi Seira
26
Taruhan
27
Was-was
28
Hendra dan Hubungannya
29
Masalah
30
Kehidupan Seira
31
Kebahagiaan Menjadi Ayah
32
Kemarahan Zafran
33
Bertemu Hendra
34
Kebetulan
35
Restu Ibu
36
Kenangan Masa Lalu
37
Rencana Berhasil
38
Semakin Rumit
39
Dua Wanita Lawan Satu.
40
Bersamaan
41
Tak Ingin Bercerai
42
Rasa Khas Sebuah Kue
43
Menuntaskan Rasa Penasaran
44
Sadar
45
Pada Hari Ulang Tahun Naina
46
Perjuangan Dan Kehancuran
47
Perlahan Hancur
48
Frustasi
49
Pertemuan Tak Terduga
50
Malam Kembali Memanas
51
Senyum Kebahagiaan
52
Side Story' Seira
53
Bukan Papah Rayan
54
Seperti Apa Jakarta
55
Pulang
56
Pertemuan Pertama
57
Bertemu Lagi
58
Ibu Pulang
59
Perasaan Seira, Perasaan Biya
60
Bertemu Siapa?
61
Tak Lekang Oleh Waktu
62
Kenyataan
63
Anak Itu ....
64
Panik
65
Antara Lega dan Malu
66
Kenyataan Pahit
67
Siapa Laki-laki Itu?
68
Dugaan
69
Penyesalan Terdalam
70
Naina Yang Malang
71
Apa Lagi?
72
Nasib
73
Semakin Aneh
74
Hamil?
75
Anak Tetaplah Anak
76
Kesialan
77
Kesialan II
78
Kabar Terbaru
79
Sadar?
80
Sebuah Nama Berharga
81
Bertemu Teman Lama
82
Bertemu Teman Lama II
83
Pada Waktu Itu ....
84
Ditolak
85
Malu
86
Berakhir
87
Lebih Busuk
88
Hari Itu ....
89
Pelangi Setelah Badai
90
Gadis Kecil Di Toko Kue
91
Siapa Lagi?
92
Bertemu Lagi
93
Gadis Kecil Itu
94
Keadaan Berbalik
95
Ingin Kembali
96
Kenangan
97
Tidak Jadi
98
Fathiya
99
Anak Itu
100
Sesosok Luka
101
Yang Buruk Tak Selalu Buruk
102
Bertemu
103
Hati Yang Retak
104
Perlahan Mengerti
105
Ikhlas II
106
Beberapa Hari Berlalu
107
Permohonan Gadis Kecil
108
Tak Bisa Pergi
109
Sebuah Surat
110
Bertemu Luka
111
Bertemu Muka
112
Memaafkan dan Mengikhlaskan
113
Akan Bertemu Rayan
114
Tidak Sekarang
115
Kontak Batin
116
Bukan Aids
117
Reuni
118
Keputusan
119
Kemauan Zafran
120
Tempat Ibu
121
Mencari Biang Masalah
122
Bertemu
123
Peringatan
124
Aku dan Kamu
125
Berbicara
126
Bertemu Lita
127
Sebuah Acara
128
Kenyataan
129
Ketakutan Hendra
130
Perubahan Seira
131
Tekad Zafran
132
Penolakan Rayan
133
Penolakan Rayan II
134
Diluar Dugaan
135
Mencoba Mengakhiri Hidup
136
Membuat Ulah
137
Dampak Berita Zafran
138
Tersangka
139
Tersangka Baru
140
Diburu
141
Tersangka Utama
142
Menuntaskan Masalah
143
Klarifikasi
144
Tuntas!
145
Pertemuan
146
Ingin Bertemu Naina
147
Naina Anakku.
148
Waktu Berdua
149
Doa Ibu
150
Hari Yang Ditunggu
151
Berkumpul
152
Kebahagiaan yang Tiada Tara
153
Rahasia Besar Fatih
154
Akhir Sebuah Kisah
155
Akhir Cerita (End)
156
Ekstra Part. Perpisahan
157
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!