Keegoisan membuat semuanya rumit

Happy Reading.

Laura membuka kedua matanya perlahan, tubuhnya terasa lemah dan lemas, tenggorokan nya kering dan terasa sedikit serak. Perlahan gadis itu berusaha duduk dan langsung memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing.

Laura berusaha untuk bersandar ke kepala ranjang, tubuhnya terasa remuk dan menggigil, tapi gadis itu berusaha menyenderkan kepalanya agar tidak terasa berat.

Laura melihat sekeliling, matanya mengerjab beberapa kali. Ah, dia ingat bahwa itu bukanlah kamarnya, melainkan kamar Josh karena tadi malam dia datang ke apartemen mantan kekasihnya itu.

"Kepalaku, pusing sekali!" Laura mengingat apa yang terjadi setelah dia meminta Josh memeluknya.

Laura memang sudah merasakan kepalanya sakit sejak siang, tapi kepalanya semakin terasa berdenyut pada malam harinya.

Akhirnya setelah Josh memeluknya dengan erat dan membisikkan kata-kata sayang, Laura sudah tidak ingat apa-apa lagi.

Entah kenapa dia merasa Austin seakan menghindari nya. Apakah Austin masih belum bisa menerimanya dengan sepenuh hati? wanita itu tahu kalau ia telah memaksakan perasaan Austin untuk mencintainya bahkan dia menggunakan kekuasaannya untuk mengikat Pria itu agar bisa menjadi miliknya.

Tapi bukankah hubungan mereka sudah cukup lama, lalu apakah Austin sama sekali tidak bisa mencintai nya dengan tulus?

Laura bisa move on dari Josh berkat Austin juga, dari sebagian besar pria yang mendekati nya, bahkan melamarnya secara terang-terangan, Laura hanya bisa jatuh hati terhadap sang duda.

Ya, Laura tahu kalau Austin pernah menikah, dan mereka sudah bercerai lama. Untuk masalah skandal Austin dengan Lily Enam tahun lalu, Laura tidak tahu karena sekandal itu langsung di hapus dari berbagai sumber media berkat bantuan Zidane Alvares, sahabat Austin yang memiliki kekuasaan di Florida.

"Laura! Kau sudah bangun?" Josh masuk ke dalam kamar dengan membawa sebaskom air hangat dan sebuah handuk kecil.

"Josh, kenapa kamu membawakan handuk dan baskom?" Laura malah bertanya.

"Badan kamu semalaman panas, kamu pingsan dan langsung ku bawa ke kamar, semalam kamu menggigil bahkan mengigau memanggil nama calon suami mu, apakah kalian ada masalah?" tanya Josh dengan raut wajah di buat setenang mungkin.

Laura hanya memejamkan matanya, dia memang merasa keadaan nya tidak baik-baik saja. Terutama juga karena sikap Austin, entah kenapa sejak di Florida Laura merasa sikap calon suaminya itu sedikit berbeda.

"Ehm, kami baik-baik saja," jawab gadis itu lirih.

Josh duduk di sisi ranjang dan meletakkan baskom itu ke atas meja, pria itu mengecek suhu tubuh Laura dengan memegang keningnya. Masih hangat walaupun tidak sepanas tadi malam.

Josh semalam menjaga Laura dan dengan telaten mengompres dahi wanita yang masih sangat di cintai nya itu.

"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja, aku sadar jika selama beberapa hari ini selalu mengejarmu, tapi aku paham sekarang kondisi mu sudah berbeda, kamu adalah calon istri orang," ujar Josh dengan sedikit candaan di akhir kalimat.

Pria itu akhirnya memang memutuskan untuk menyerah akan perasaannya terhadap Laura, dia tidak ingin membuat Laura marah karena keegoisannya.

Josh berpikir bahwa jika Laura bahagia, dia juga akan bahagia.

"Eh, kenapa? Apa ada yang sakit?" Josh terkejut saat tiba-tiba Laura memeluknya.

Ada apa sebenarnya dengan wanita ini, seharusnya dia baik-baik saja, kan?

"Biarkan seperti ini dulu, aku hanya ingan meminjam bahumu, bolehkan?"

"Tentu saja, Laura, dengan senang hati bahu ini akan selalu menjadi sandaran mu bila kamu butuhkan," jawab Josh membalas pelukan Laura.

Entah kenapa perasaan Laura merasa sedikit menghangat setelah mendapat pelukan itu.

'Apakah hatiku memang sudah memantapkan diri dengan Austin?'

***

Ave tersenyum melihat Aldo makan sandwich nya dengan lahap, putranya itu seperti mendapatkan mood booster dan menjadi lebih bersemangat. Ave tentu saja tidak akan berpura-pura tidak tahu apa yang membuat putranya sangat bersemangat pagi ini.

Apalagi kalau bukan karena Austin, meskipun pagi-pagi sekali Austin memutuskan untuk sedera pulang, namun dia sudah bermain dengan Aldo sejak subuh.

Aldo terbangun lebih dulu dan berteriak girang saat mendapati sang Ayah masih ada di sampingnya. Apalagi ketika dia juga melihat ibunya yang juga masih setia ada sambil memeluk dirinya.

Sungguh tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan Aldo saat itu. Yang jelas anak itu seperti mendapatkan mainan mahal yang hanya di produksi 2 buah di dunia. Definisi bahagia seorang anak berumur hampir 6 tahun itu.

"Mom, apakah Daddy akan menginap di sini malam ini?" tanya Aldo.

Ave tidak terkejut dengan pertanyaan sang putra, dia pasti akan menanyakan hal itu, tapi dia juga belum siap untuk menceritakan semuanya pada Aldo tentang kondisinya dan juga Austin yang memang sudah tidak bisa terus-terusan bersama.

"Aldo tahu gak, kalau Mom dan Dad tidak bisa bersama atau hidup berdampingan seperti para orang tua teman-teman di sekolah mu?"

Aldo menghentikan kunyahannya, "Mom dan Daddy sudah berpisah, jadi tidak boleh hidup bersama?" pertanyaan yang lebih mengarah ke pernyataan.

Ave mengangguk dan berusaha menahan air matanya, entah kenapa dia bisa seegois itu terhadap Aldo, apalagi putranya itu semakin tumbuh besar semakin mengerti dengan keadaan yang ada.

"Apakah tidak bisa kembali, Mom?'" tanya Aldo sendu. Anak sekecil itu sudah paham dengan situasi dan kondisi orang tuanya, sudah banyak yang menjelaskan tentang hal itu pada dirinya.

Ave menggeleng pelan menjawab pertanyaan dari sang putra, dia harus menjelaskan pada putranya ini segera agar tidak akan terjadi kesalahpahaman.

Biar bagaimanapun Austin akan segera menikah dan dia akan memiliki kehidupan yang bahagia bersama istrinya, atau bahkan mungkin dengan anak-anak mereka nanti.

Ave tidak akan pernah merusak kebahagiaan rumah tangga orang lain.

"Al, dengarkan penjelasan Mommy, meskipun Mom dan Dad sudah tidak bisa bersama, tapi Al masih bisa terus bersama Dad sampai kapanpun, Al bisa menemui Dad setiap hari atau bahkan bisa menginap di apartemen nya, jadi Al gak boleh sedih, Al tetap bisa bersama kami," jelas Ave hati-hati agar perkataan nya masuk dan di terima oleh sang putra.

"Baiklah, Mom, Al sudah paham!" anak itu langsung tutun dari kursinya dan menyambar tas sekolah.

Jujur hati Ave sangat sedih melihat wajah putranya yang berubah menjadi menjadi murung, namun dia bisa apa?? Tentu Ave tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah.

***

Austin melihat Laura berjalan masuk ke dalam apartemennya, wajah wanita itu sedikit pucat, Austin segera mendekat dan memegang bahu calon istrinya itu.

"Kamu dari mana, Laura? Apa kamu sakit, kelihatannya kamu tidak baik-baik saja," Laura menatap Austin tersenyum samar dan mengangguk.

"Aku tidak enak badan, sejak semalam aku mencarimu, ponselmu tidak aktif dan hal itu benar-benar membuat ku khawatir!"

Deg!

Austin terkejut mendengar hal tersebut, tiba-tiba rasa bersalah menyegap hatinya, semalam ponselnya memang mati dan dia sudah tidak mengingatnya karena terlalu senang bisa bertemu dengan putranya.

'Apakah sebaiknya aku jujur saja tentang semua masa laluku!' batin Austin.

Bersambung

Terpopuler

Comments

Sukliang

Sukliang

emang hrs jujur, lebih baik

2022-08-21

2

Puji Eka Setyawati

Puji Eka Setyawati

up thor...

2022-08-14

0

Octavia Muliani

Octavia Muliani

lanjut thor 🌹🌹🌹🌹🌹

2022-08-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!