Membuka Hati Lagi

Happy Reading

Austin, kau benar-benar pria brengsek! Tapi aku hanya ingin menuruti kata hatiku! Bukan karena nafsu ataupun dendam seperti dulu, tapi karena aku murni ingin minta maaf pada Ave, yah, aku memang harus minta maar secara langsung. Batin pria itu sebelum mendial nomer telepon yang beberapa saat lalu di kirimkan oleh Laura.

Dengan jantung yang berdebar-debar seperti remaja yang ingin menelepon gebetannya, Austin menempelkan benda pipi itu ke telinganya.

Berdering! Ah, kenapa rasanya seperti ini, jantungku berdegup kencang, bahkan perutku seperti tergelitik. Batin pria itu.

"Halo?"

Deg! Deg!

Suara Ave mendayu merdu di telinga Austin, suara seorang wanita yang dulu pernah menemaninya hidup dan juga wanita yang telah ia sia-siakan. Kesalahan yang dulu membuatnya begitu terpuruk dan di ceraikan oleh Ave pada saat ia berada dalam penjara. Sekarang bisa bertemu dengannya lagi merupakan sebuah anugerah dari Tuhan yang tidak akan Austin sia-siakan.

Setidaknya dia hanya ingin minta maaf dan menjalin hubungan persahabatan dengan mantan istrinya itu.

"Halo, maaf kalau tidak penting dan bukan masalah pekerjaan jangan telepon lagi, anda menggangu saya!"

"Jangan di tutup, aku ingin membahas masalah pekerjaan!"

"Baiklah, urusan apa yang ingin anda bicarakan?"

Austin menggaruk rambutnya yang tiba-tiba berubah menjadi gatal. Pekerjaan, ya?? eh kenapa Austin tiba-tiba menjadi salah tingkah hanya karena pertanyaan formal dari Ave.

"Ehhmm ... tentu saja urusan tentang konsep pernikahan ku, bukankah kamu yang bertugas mengurusnya?"

Hening!

Austin memukul bibirnya dua kali, merasa bodoh dengan ucapan yang ia lontarkan untuk Ave, entah kenapa dia merasa tidak enak hati melihat status nya kali ini yang merupakan seorang calon suami dari pebisnis muda Laura Brandon. Apalagi orang yang akan mengurus pernikahannya nanti adalah sang mantan istri. Meskipun sejujurnya Austin ingin bisa kembali bersama Ave, tapi bagaimana dengan Laura? tentu dia tidak akan pernah menjadi pria brengsek tuk yang kesekian kalinya, bukan?

"Halo, Ave! Apa kamu masih di sana?!"

"Oh, iya, tapi maaf tuan Austin, untuk masalah konsep pernikahan anda, sudah ada yang mengurusnya."

"Maksudnya?"

Terdengar suara helaan napas di seberang.

"Persiapan pernikahan Anda dengan Nona Laura akan di urus oleh Nyona Alma, Ibu saya."

Austin yang mendengar jawaban Ave langsung mengepalkan kedua tangannya. Sorot matanya menajam, ia tahu kalau Ave pasti akan menghindari nya. Tapi sedetik kemudian dia menghela napas kasar agar suasana hatinya tidak memburuk.

Mendengar Ave tidak mau mengurus pernikahannya entah kenapa membuat Austin kesal setengah mati, padahal dengan begitu dia bisa berpura-pura mencari cara untuk bertemu dengan mantan istrinya itu.

"Tapi aku ingin kamu yang mengurusnya, Ave!"

"Tapi, tuan ... !"

"kami sudah membayar DP nya 50%, kita bertemu di restoran X dan aku akan memberikan 20% lagi, kalau kamu tidak datang atau mengganti dengan orang lain, aku akan membatalkan semua ini!"

Di sisi lain, Ave terkejut dengan ucapan Austin yang begitu mengintimidasi, kenapa pria itu memaksa sekali, bahkan baru saja dia mendengar suara dinginnya yang selama ini tidak pernah Ave dengar, karena dulu selama menikah Austin termasuk pria yang hangat.

"Baiklah, tuan, nanti saat jam pulang kantor, sekarang aku sangat sibuk, permisi!"

Ave mematikan panggilan nya, wanita itu meremas ponselnya erat, seakan menjadikan benda itu sebagai pelampiasan kekesalan hatinya karena ulah sang mantan.

"Sebenarnya apa yang kamu mau, Austin!!"

****

Jam pulang kantor telah tiba, Ave dengan malas melangkah keluar kantor dengan wajah yang di tekuk. Dia baru saja mendapatkan pesan dari Austin mengatakan tentang pertemuan mereka tadi pagi.

Sebenarnya ini bukan kebiasaan Ave yang mengajak klien bertemu di jam luar kantor, tapi menurut Ave orang yang akan di temuinya bukan cuma klien, tapi juga sang mantan suami yang pernah mengkhianati nya, ya, meskipun Ave sendiri juga akhirnya memilih jalan yang sama, tapi setidak-tidaknya dia masih tahu batasan.

Sedangkan di sisi lain.

Austin sudah tiba di restoran X 30 menit lebih awal dari jam yang di tentukan oleh Ave, pria itu begitu antusias ketika akan bertemu lagi dengan mantan istrinya.

Ada rasa sedikit tidak percaya diri ketika harus bertemu berdua seperti ini dengan wanita yang dulu pernah ia sakiti itu.

'Aku harus percaya diri, cukup sudah kamu bersembunyi dari rasa malumu itu, Austin!'

Pria itu sengaja bertemu dengan Ave seorang diri tanpa mengajak Laura, karena menurutnya ia akan membicarakan masalah pribadi dengan sang petugas WO tersebut.

Masalah Laura, apakah dia akan memberi tahu pada tunangannya itu bahwa sebenarnya Ave adalah mantan istrinya?

Ah, biarlah waktu yang menjawab, bahkan sekarang di hatinya telah tahu harus berbuat apa, ketika dirinya belum bisa sepenuhnya meyakinkan hatinya untuk Laura, tetapi Austin telah di pertemukan kembali dengan wanita yang masih ia cintai.

'Sudahlah, aku bingung harus bagaimana, sebaiknya aku menuruti takdir apa yang akan di berikan Tuhan padaku!' batin Austin.

Tidak lama setelah Austin berperang dengan batin, sosok wanita yang mengusiknya ternyata sudah datang dan sekarang berjalan menuju ke arah mejanya.

'CANTIK!'

Kata itulah yang pertama kali terlihat di pikiran nya. Kenapa sekarang rasanya jadi sebahagia ini ketika bertemu dengan sang mantan istri yang telah ia sia-siakan?

Bahkan degup jantung nya sudah kembali tidak normal lagi saat Ave langsung duduk di hadapannya dengan wajah yang datar.

"Eghem!" Austin berdehem, menetralkan degupan di dadanya yang masih belum normal.

Ave terlihat biasa saja, bahkan segera mengeluarkan laptop dan map dari dalam tas. "Jadi apa yang harus kita sepakati sekarang, tuan?" tanya wanita itu.

"Ya, itu tadi, karena aku akan menambahkan biaya DP di awal lebih banyak, dan aku harap kamu yang akan tetap bertugas menjadi perugas WO di pernikahan ku nanti!"

Sumpah, rasanya tubuh Austin panas dingin, tegang dengan tangan yang berkeringat. Membicarakan pernikahannya dengan wanita lain dengan sang mantan istri yang sialnya adalah Austin masih mencintai wanita itu.

Mentalnya benar-benar harus di kuatkan! dia harus bisa menjadi hati dan perasaannya agar tidak lemah di hadapan Ave, meskipun seandainya Ave tahu kalau Austin masih mencintainya, pria itu tidak masalah sama sekali.

"Baiklah kalau itu kemauan anda, anda bisa menandatangani perjanjian yang baru," jawab Ave membuka map yang di bawahnya.

Austin tidak terlalu menyukai sikap formal Ave seperti ini, padahal dia sudah bersikap informal semenjak di telepon, agar tidak ada rasa canggung diantara mereka. "Ave, aku ingin mengatakan sesuatu, tapi sebelumnya aku akan pesan makanan untuk kita," ucap Austin.

Ave menggeleng, "tidak perlu, tuan, saya tidak akan lama, dan juga belum terlalu lapar, jadi lebih baik cepat segera selesaikan tugas anda!" jawab Ave dingin.

Sedingin hatinya yang sejak tadi jadi harus mati-matian ia jaga, melihat sang mantan suami brengseknya dengan seenaknya memintanya mengurus pernikahannya dengan wanita lain yang jauh lebih di atasnya.

'Apakah udah saatnya aku membuka hati lagi?' batin Ave.

Bersambung

Terpopuler

Comments

Ririn Nursisminingsih

Ririn Nursisminingsih

biar austin menyesal ave... jg lemah

2022-08-30

3

Puja Kesuma

Puja Kesuma

buka hatinya ke austin lg aja eve😁😁😁

2022-08-25

1

Sukliang

Sukliang

kadihan ave

2022-08-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!