Jangan lupa Vote dan Hadiah nya untuk othor ya 🥰 agar othor makin semangat 💪🤭
Happy Reading
Aldo merasa ada yang memperhatikan dari luar, anak itu langsung melihat ke belakang dan dia melihat Pamannya Flo masuk ke dalam mobilnya. Entah kenapa melihat Flo dan pamannya membuat Aldo merasa ingin memiliki seorang Ayah. Padahal selama ini Aldo selalu bisa mengendalikan perasaannya, dia tidak pernah semelow ini sebelumnya.
"Ada apa tuan kecil? Kenapa wajahmu begitu murung?" tanya Mia. Memperhatikan gerak gerik Aldo saat dia baru saja tiba tadi.
"Tidak apa-apa, Nanny, Al laper!" jawab anak itu sambil menundukkan kepalanya.
Seharusnya Aldo tidak bersikap seperti ini, bahkan dia juga sering melihat temen-temennya yang di antar ke sekolah oleh Ayah kandungnya, tapi Al tidak pernah merasa cemburu, namun entah kebapa melihat Flo di jemput oleh pamannya membuat dia iri seperti ini.
"Apa perlu kita mampir beli es krim? Mumpung Mommy tidak tahu, tapi ini hanya akan menjadi rahasia kita, hem?" Aldo terkejut ketika mendengar sang Nanny menawarkan es krim padanya, padahal biasanya makanan itu selalu di hindari oleh pengasuh nya itu.
"Apa Nanny tidak salah bicara? Nanny menawari ku es krim?" Mia mengangguk mantap dan melirik sekilas ke arah Aldo, kemudian ia fokus menyetir kembali.
"Nanny rasa makan es krim sebulan sekali tidak masalah, mungkin tuan kecil perlu mencicipi sedikit es krim coklat agar otak kita menjadi segar, bagaimana?"
"Tentu saja aku mau, tapi jangan bilang-bilang ke Mommy dan nenek, ya, Nanny?" ucap Aldo berbinar.
"Tentu saja, sayang, bukankah Nanny sudah mengatakan bahwa ini hanya akan menjadi rahasia kita?" Aldo mengangguk-anggukkan kepalanya senang.
Sudah lama anak itu tidak makan es krim, mungkin sebulan sekali Ave mengizinkan putranya itu makan, itupun tidak boleh kalau musim dingin tiba, semenjak dua tahun lalu Aldo sakit panas demam sampai harus di rawat dua hari di rumah sakit gara-gara makan semangkuk es krim saat musim dingin.
Mia sendiri tidak bermaksud untuk membuat Aldo melanggar aturan Mommy-nya, wanita itu hanya merasa kasihan saat melihat wajah Aldo yang terlihat muram setelah melihat temannya bersama Ayahnya.
Mia tahu bagaimana perasaan Aldo yang belum pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah semenjak dia lahir. Ave sendiri mengatakan bahwa mantan suaminya pergi meninggalkannya.
*****
Austin menatap Laura yang kini telah sibuk memilih desain undangan untuk pernikahan mereka. Ada rasa bersalah dan tidak enak hati melihat Laura seantusias itu menyambut pernikahan yang akan mereka gelar Empat bulan lagi itu.
Saat ini keinginan Austin hanya satu, sejak berhasil bertemu kembali dengan Ave, pria itu ingin menemuinya lagi, bahkan dia akan meminta nomer telpon sang mantan istri. Biarlah dia menjadi pria brengsek, yang jelas itulah yang ia inginkan saat ini.
"Apa kamu memiliki nomer pemilik Wedding organizer yang kemarin kita datangi itu, Laura?" tanya Austin.
"Pemilik nya Nyonya Alma, sahabatnya Mama, apa kamu mau aku memberikan nomernya, sayang?" tanya Laura.
Austin menelan salivanya, Nyonya Alma adalah mantan mertuanya, apa dia sanggup untuk bertemu dengan mantan mertuanya itu?
"Tidak, maksud ku bagaimana dengan Nona Ave, apa kamu memiliki nomernya, aku ingin menanyakan tentang desain pernikahan dengan tema Spring and lilies, aku sangat tertarik dengan desain itu!"
Laura membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan sang calon suami. "Apa aku tidak salah dengar, sayang? Baru kali ini kamu nampak antusias dengan acara persiapan pernikahan kita?"
Glek!
'Sial!! Kenapa aku bisa keceplosan begini, sih? Agrh! Aku seperti ini karena Ave, bukan karena antusias!'
"Ya, sepertinya menarik, jadi aku hanya ingin melihat desain itu, karena kemarin Ave, eh maksud ku Nona Ave tidak memperlihatkan desain nya itu," jawab Austin kelabakan.
'Sepertinya aku benar-benar akan menjadi pria brengsek lagi, Ave! Aku akan gila karena mu!'
"Ya, aku punya, akan aku kirim nomer telepon Nona Ave, ehm ... Aku senang sekali melihatmu yang sangat antusias seperti ini, sayang!" Laura berdiri dan memeluk Austin.
Wanita itu mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir calon suaminya itu, Austin yang paham maksud Laura langsung mengalihkan wajahnya, membuat Laura hanya bisa menempelkan bibirnya pada pipi Austin.
Ada raut kecewa yang tercetak di wajah cantik itu, Austin selalu seperti ini, pria itu sangat sulit untuk di ajak bermesraan atau bahkan hanya sekedar ciuman. Austin selalu menghindar, sikapnya yang dingin itulah yang menjadi daya tarik wanita ini. Seorang Laura Brandon wanita yang biasanya selalu di puja dan di kejar oleh para pria tampan dan sempurna, kaya dan mapan bahkan banyak dari mereka melakukan berbagai cara agar bisa menaklukkan hati Laura, tapi nyatanya wanita itu lebih tertarik dengan Austin.
Bahkan melamarnya secara langsung karena merasa laki-laki itu begitu kaku, yah, Laura memang penasaran dengan sosok pria yang saat ini sudah menjadi calon suaminya.
Apakah ini masuk kategori cinta atau obsesi? entahlah, Laura hanya ingin membuat Austin takhluk kepadanya.
"Baiklah, sayang, tunggulah satu menit, nomer Nona Ave akan segera terkirim, tapi sepertinya dia tidak ingin memberitahukan kepada kita tentang konsep desain premium nya itu?"
"Aku pasti akan mendapatkan nya," jawab Austin singkat.
'Huh, aku tidak sabar, Ave!'
****
Ave meletakkan tab-nya ke atas sofa dengan sedikit kasar, desain Sring and lilies sudah 99% jadi dan siap di luncurkan pada klien untuk promosi, tapi rencana yang sudah ia susun matang ternyata tidak jadi terealisasikan karena pertemuan nya dengan klien tidak terduga yaitu Austin sang mantan suami.
Mungkin sebaiknya Ave mengalihkan pekerjaannya ini pada sang Ibu, yah, itu lebih baik, meskipun ia yakin bahwa ibunya pasti sama terkejutnya dengan Ave, itu lebih baik dari pada dia yang harus menangani.
"Sepertinya aku butuh piknik! pikiran ku benar-benar lelah!" keluh Ave menangkup wajahnya ke meja.
Drrtt! Drrtt!
Ave mendongak ketika mendengar ponselnya bergetar. Siapa lagi yang menelepon ke nomer pribadi nya? nomer asing?
Tidak banyak yang tahu nomer pribadi wanita itu, kalau masalah pekerjaan Ave menyuruh Daisy untuk meng-handle semuanya. Bahkan biasanya para klien akan menelpon Daisy terlebih dahulu sebelum Asistennya itu melaporkan padanya.
Karena nomer itu meneleponnya dua kali mungkin memang penting.
"Halo?"
( .... )
Ave mengerutkan keningnya ketika tidak ada orang yang menyahut nya di sebrang telepon.
'Siapa sih orang yang iseng?'
"Halo, maaf kalau tidak penting dan bukan masalah pekerjaan jangan telepon lagi, anda menggangu saya!"
siapa sih orang yang mengusiknya sepagi ini!
Ave akan menutup teleponnya, tapi tiba-tiba orang di sebrang telepon berbicara.
"Jangan di tutup, aku ingin membahas masalah pekerjaan!"
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
beby
mulai pendekatan
2022-11-18
2
Puja Kesuma
kasihan aldo...krn keegoisan org tua sampe nahan perasaannya
2022-08-25
0
Sunarti
Austin jangan buat mslh
2022-08-08
2