Ini gantinya ya... mon maap tadi kesalahan sistem. Jadi up nya double 😁
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Empat anggota keluarga itu makan siang diiringi bincang-bincang hangat. Tiger sekalian mengungkapkan rencananya setelah ini.
"Axel, Cheryl, Papa berangkat lagi sore nanti. Axel tolong jangan buat repot kakakmu ya. Malah kalau bisa bantuin, sekalian belajar," ucap lelaki itu setelah menyesap kopinya.
"Sayang, kok langsung balik lagi?" sanggah Jihan sedikit kesal.
Tiger meraih jemari istrinya dan meremasnya cukup kuat. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, ketika melihat Jihan badmood seketika. "Kan kita perginya sama-sama, Sayang," ucapnya dengan suara lembut.
Jihan yang sedari tadi menunduk, kini mengangkat kepalanya, menoleh pada pria yang sudah 25 tahun bersamanya. "Ma ... maksudnya?" tanyanya bingung.
"Papa mau honeymoon lagi, Ma. Ah gitu aja nggak paham," celetuk Cheryl menyuap puding buatan mamanya.
"Tuh, Cheryl aja tahu," Tiger menyahut dengan senyum tipis.
"Tapi gimana dengan anak-anak?" tanya Jihan khawatir.
Tentu saja ia sangat bahagia jika terus berdekatan dengan sang suami. Akan tetapi, Jihan juga khawatir membiarkan kedua anaknya sendirian di Jakarta.
Axel sedari tadi hanya diam, enggan menimpali perbincangan orang-orang dewasa. Ia merasa tidak memiliki hak untuk ikut campur.
"Sayang, mereka sudah bukan anak-anak lagi." Tiger berusaha membujuk.
"Ma, tenang aja. Cheryl bisa jaga diri sekaligus jagain adik bontot yang manja ini!" cetus Cheryl menepuk bahu Axel.
Lelaki itu menatap sang kakak, Cheryl menaik turunkan alisnya. Sepasang manik birunya bergerak ke arah sang mama, agar Axel tutur berbicara.
"Iya, Ma. Jangan khawatir," tambah Axel meyakinkan sang mama.
"Tidak lama, paling cepat satu bulan saja. Lagi pula butik sudah ada yang megang sekarang. Apalagi? Sekalian jenguk ayah kita," ucap Tiger masih tak melepas tautan tangannya.
Jihan berpikir beberapa saat. Seketika tersadar, sudah lama tidak mengunjungi ayah tiri dan ayah mertuanya. Juga, sudah lama tak berkunjung ke makam ibunya di Palembang.
"Baiklah, kalian harus jaga diri baik-baik. Terutama kamu, Kak. Istirahat tepat waktu, jangan keluyuran!" tegasnya menatap tajam pada kedua anaknya.
"Siap, Ma!" sahut Axel dan Cheryl kompak dan bersemangat.
Tentu saja semangat, Cheryl tak perlu memikirkan beribu alasan untuk mengikuti kegiatan komunitasnya. Dan juga, tidak perlu merayu adiknya agar mau menjadi pionnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak terasa, sudah tiga hari berlalu. Cheryl beraktivitas seperti biasa. Mengurung diri di kamar, untuk menemukan inspirasi sekaligus mengaplikasikannya dengan perhitungan yang begitu kompleks, agar menjadi desain yang indah sekaligus aman.
Di jam-jam tertentu, dia akan mengerjakan laporan-laporan perusahaan yang dikirim oleh Rain melalui surelnya. Sering kali harus begadang untuk menyelesaikannya.
Sudah tiga hari pula, Axel berangkat sekolah seperti biasa. Karena tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan atau membahayakan. Cheryl bisa melepasnya dengan tenang.
Cheryl menyesap secangkir kopi sembari menatap layar laptopnya. Malam yang semakin larut, tak menyurutkan semangatnya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ponselnya bergetar, lengannya terulur meraih benda pipih itu dan segera mengangkatnya.
"Halo, Tris!" Cheryl meletakkan ponsel di telinganya setelah beberapa detik berdering.
"Cher, mobil kamu udah siap nih. Mau dicoba nggak buat besok? Ikut 'kan?" balas Tristan di ujung telepon.
"Oh ya? Siap! Besok pagi aku ke sana. Eh nggak ada si Jhoni 'kan?" Seketika nama itu terlintas lagi di otaknya. "Malas ah kalau ketemu satpam mesum itu lagi!" sambungnya merebahkan punggung di kursi kerjanya.
Tristan tertawa terbahak-bahak. Sempat berpikir siapa Jhoni yang dimaksud. Setelah berkata satpam mesum, ia baru teringat, bahwa Jhoni itu nama panggilan yang ia ciptakan untuk sahabatnya, Jourrel.
"Nggak ada kayaknya. Ke sini aja jam 7, aku bukain spesial buat kamu," ucapnya setelah tawanya mereda.
"Haha! Spesial, lu kira martabak!" sahut Cheryl tertawa renyah yang membuat Tristan berdesir di balik telepon. "Okey siap deh. Besok aku meluncur. Kebetulan libur," sambungnya lagi.
"See you and good night, Cheryl!" ucap Tristan.
"Ya!" sahut Cheryl singkat lalu mematikan sambungan telepon tengah malam itu. Kembali meletakkannya di nakas.
Ia kembali pada layar laptopnya. Mengerjakan beberapa proposal yang masuk ke perusahaan, untuk ia teliti sekaligus menerima atau menolaknya.
Di tengah keheningan malam, vibra ponselnya kembali terdengar di atas nakas. Cheryl sengaja tidak menyalakan dering notifikasi. Karena tak mau terganggu konsentrasinya.
Namun, Cheryl segera menoleh ketika ekor matanya menangkap layar ponsel yang terus berkedip. Ia meregangkan tubuhnya, lalu beranjak untuk melihatnya.
"Luna?" gumamnya ketika membaca nama pengirim pesan beruntun. Buru-buru ia membuka semua pesan tersebut.
Manik indah Cheryl bergerak dari ujung ke ujung untuk membaca setiap huruf yang terkirim dari nomor Luna. Keningnya mengernyit membaca identitas yang ditelusuri oleh saudara sepupunya itu.
Bersambung~
seharian ini aku susah masuk apk... jadi ga bisa langsung edit. mon maaf kalo bnyak typo ya... susah banget masuk dashboard penulisnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Atik Marwati
wah bakal punya adek nich Cheryl ma Exel...
2023-03-05
1
⸙ᵍᵏ Sari Kᵝ⃟ᴸ
dapat ga sih informasi jo, apa sulit juga👀
2023-01-25
2
♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)
semngat bnget sih jwab nya saking seneng nya ya yg mau balapan 😄
2022-12-14
1