Jourrel memejamkan mata, napasnya terasa begitu berat. Ia tengah berada pada dua pilihan yang sama-sama penting dalam hidupnya.
Uang, sahabat, keduanya memiliki posisi yang sama. Pernyataan yang meluncur begitu saja dari bibir Tristan jelas membuatnya dilema. Kepalanya serasa berputar-putar.
"Kok bisa sih?!" geramnya tanpa sadar. Bahkan kedua tangannya mengepal dengan kuat.
"Hah? Apa, Jhon? Kok bisa apanya? Jangan-jangan lu juga naksir sama doi?" selidik Tristan menyenggol lengan Jourrel yang terlihat melamun.
"Dih, sorry! Nggak minat sama sekali!" cebik lelaki itu menepis lengannya di depan tubuhnya.
"Jangan-jangan lu nggak normal? Padahal dia itu mendekati sempurna. Cantik, pinter, berbakat, tahan banting." Tristan menggeleng-gelengkan kelalanya, membayangkan wajah rupawan dengan sejuta pesona gadis itu.
Jourrel mengabaikannya. Ia melenggang ke kamar Tristan dan melemparkan tubuhnya di sana. Masih bergelut dengan pikirannya yang kacau.
Tak lama berselang, ponselnya bergetar. Ia beranjak bangun untuk mengambilnya. Membiarkan sejenak vibra ponsel itu terasa di tangannya. Tidak seperti biasanya yang langsung sigap mengangkat telepon dari kliennya.
Jourrel menarik napas panjang, mengembuskannya dengan kasar. "Ya!" jawabnya dingin.
"Berapa lama targetnya? Kenapa belum ada kabar apapun sampai sekarang? Aku sudah memberimu uang muka yang sangat banyak. Tapi sampai sekarang masih belum juga kamu kerjakan!" pekikan amarah dari seberang telepon semakin membuatnya frustasi.
Ia menggenggan erat ponsel di tangannya. "Sudah kubilang sebelumnya. Target tidak mudah dilumpuhkan. Seharusnya kamu juga memberi informasi yang lengkap tentang identitasnya!" sahut Jourrel.
"Apa pentingnya? Bukankah kamu selalu tidak peduli dengan latar belakangnya?" Reno kembali memekik. Baru kali ini ia kecewa dengan kinerja Jourrel yang dianggap lamban.
"Karena dia bukan gadis biasa, Tuan! Bahkan kecerdikannya tidak bisa dibandingkan dengan target-targetmu sebelumnya. Ini lebih sulit dari yang aku kira. Sabarlah! Jangan ganggu konsentrasiku. Karena kali ini butuh strategi!" jelas Jourrel langsung mematikan sambungan telepon.
Lelaki itu masih berperang dengan batinnya. Elakan dan keinginannya untuk membunuh Cheryl sama-sama kuat. Denyut di kepalanya semakin kuat.
Dia beranjak dari ranjang, berjalan pada jendela yang terbuka. Matanya menatap ke luasnya pekarangan di belakang sana. Memikirkan bagaimana strategi yang akan ia gunakan nanti.
Beberapa waktu berlalu, Jourrel keluar dari kamar. Ia sudah mendengar desingan mesin-mesin yang cukup mengusik telinga. Pertanda bahwa bengkel sudah buka. Beberapa karyawan pun sudah bersiap dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Jourrel melihat motornya ditangani oleh bawahan Tristan. Sedangkan pemilik bengkel itu turun langsung untuk mengecek kondisi mobil Cheryl.
"Apa segitu cintanya dia sama si gadis bar-bar nggak ketulungan itu?" gerutu Jourrel mengernyitkan keningnya.
Jourrel melenggang dengan langkah panjang. Melalui beberapa teknisi yang tengah bergelut dengan mesin-mesin mobil maupun motor pada masing-masing area.
"Tan!" Jourrel menepuk bahu Tristan hingga membuatnya terkejut.
"Aduh!" seru Tristan ketika kepalanya terantuk kap mobil. Mundur dua langkah sembari mengusap-usap kepalanya. "Apaan?"
"Kapan ada balapan lagi?" tanya Jourrel santai memasukkan kedua tangan di saku celananya.
"Weekend sudah pasti. Kadang ada hari-hari tertentu juga. Tergantung komunitas," sahutnya menepuk kedua tangannya yang sedikit kotor.
"Gue ikut!" cetus Jourrel mengurai senyum.
Tristan tentu terkejut dengan permintaan sahabatnya itu. Pasalnya, dari dulu Jourrel tidak menyukai sesuatu yang berhubungan dengan mobil. "Dalam rangka apa?" tanyanya curiga.
"Pengen tahu aja. Gimana sih balapan liar gitu!"
"Eit! Jangan salah. Ini komunitas resmi, Bro. Bahkan ada sponsor dari perusahaan besar untuk membuat arena. Dan Cheryl sendiri yang membuat rancangan desain arena balap itu. Keren 'kan crush gue. Ah Cheryl emang luar biasa!" Tristan terus membanggakannya membuat telinga Jourrel berdengung mendengar nama itu.
Jourrel berdecak malas. Meskipun terbesit sedikit kekagumannya pada gadis muda itu. Tetapi, target tetaplah target.
"Yaudah, ajak gue. Tapi nggak punya mobil. Nebeng boleh 'kan?"
"Boleh, adeknya Cheryl sering ikut. Walaupun cuma jadi penonton dan tim hore aja," ucap Tristan beralih memeriksa goresan di mobil Cheryl. "Club kita bebas. Nggak ada ketentuan yang memberatkan," sambung pria itu lagi.
Jourrel mengangguk dengan senyum misterius yang tidak diketahui Tristan, karena ia masih asyik dengan mobil milik Cheryl.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tadi pagi," sahut Tiger menunduk, menciumi puncak kepala istri manjanya itu.
Semakin tua, semakin manja. Begitulah Tiger men-cap istrinya. Jihan tidak bisa berlama-lama jika berjauhan dengan sang suami.
"Kok nggak ngabarin sih? Tahu gitu aku langsung pulang," ucapnya mendongak dengan ekspresi lucu. Dia lupa sudah tidak muda lagi.
Tiger melirik anak-anaknya sekilas, lalu mencuri ciuman di bibir istrinya. "Sengaja, namanya juga kejutan," gumam pria itu dengan suata baritonnya.
"Kak, mau sampai kapan? Aku udah laper," gumam Axel menyentuh perutnya yang sudah berperang di dalam sana, meminta diisi.
"Bentar lagi," balas Cheryl santai menyandarkan bokongnya pada tepian meja.
Jihan mendelik ketika mendengar bisik-bisik dari anaknya. Ia segera mendorong dada Tiger, seketika menjadi salah tingkah. Wajahnya bahkan sudah memerah bak kepiting rebus.
Tiger justru terkekeh melihat istrinya yang salah tingkah seperti itu. Ia menarik kembali pinggang Jihan hingga tubuh mereka tak berjarak. "Kenapa malu-malu sih? Mereka sudah besar. Biar bisa jadi contoh, usia boleh tua, jiwa romantis kita tetep muda dong," ucapnya menaikkan dagu Jihan.
"Iishh! Udah ah. Aku mau siapin makan siang!" Jihan tak nyaman, malu dengan anak-anaknya. Ia mundur dan menjauh dari suaminya. "Axel, ganti baju dulu sana," titahnya.
Barulah dua remaja itu berbalik sembari mengurai senyum lebar. Axel mengangguk, lalu melenggang ke kamarnya. Saat berpapasan dengan Tiger, Axel menghentikan langkah.
Dua lelaki beda usia itu hanya diam dan saling menatap lekat. Axel yang sungkan, ditambah Tiger yang gengsi membuat suasana menjadi hening seketika.
"Boy, nggak kangen papa?" Setelah beberapa detik akhirnya Tiger bersuara.
Barulah Axel melesak ke dalam pelukan papanya. "Kangen, Pa. Tapi Axel malu. Hehe!" gumamnya pelan sekali tidak terdengar oleh dua wanita yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Heleh, sama-sama gengsi kalian tuh!" cetus Jihan yang ternyata masih memperhatikan mereka berdua.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Renireni Reni
😍😍😍😍😍
2023-03-09
0
Atik Marwati
sama ya Thor...
2023-03-05
0
⸙ᵍᵏ Sari Kᵝ⃟ᴸ
kirain aku salah baca, ternyata double toh
2023-01-25
2