"Apaan, Rain?" tanya Cheryl ketika mobil yang ditumpangi sudah mulai melaju dengan kecepatan tinggi. Lengannya bergerak membelitkan seatbelt pada tubuhnya.
"Dipanggil Tuan!" ucap Rainer tanpa menoleh, fokus mengemudi.
Cheryl membelalakkan mata cantiknya. "Papa pulang?" teriaknya kegirangan.
"Ya, dan ada banyak hal yang mau dibicarakan. Karena kemungkinan beliau tidak lama di sini. Bisnis perakitan senjatanya butuh perhatian khusus saat ini," jelas pria itu.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Meski masih sesuai batas standar kecepatan berkendara. Cheryl tidak sabar bertemu dengan ayahnya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di halaman rumah megahnya, Cheryl turun dan berlari menerobos masuk pintu yang menjulang tinggi di hadapannya. "Papa! Pa!" panggilnya berteriak.
"Pelankan suaramu, Cheryl!" Di lantai atas, Tiger berdiri gagah menopang kedua lengannya pada sandaran tangga.
Gadis itu mendongak, segera berlari menaiki anak tangga satu per satu. Walaupun sedikit kepayahan dengan heelsnya. Itulah sebabnya dia malas mengenakan sepatu hak tinggi, menurutnya terlalu ribet. Namun sang mama terus mengingatkan, agar tetap anggun ketika jam kerja.
"Pa! Cheryl kangen!" seru gadis itu menelusup ke dada bidang sang ayah.
Tidak seperti biasanya, yang langsung membalas pelukan putri kesayangannya. Tiger masih mencengkeram erat tralis besi di hadapannya. Satu tangannya menggantung ke bawah. Manik abu pria paruh baya yang masih gagah itu, enggan berkedip disertai sorot yang tajam.
Cheryl mendongak, menatap wajah dingin sang ayah membuat jantungnya berdetak cepat. "Pa," panggil gadis itu bersuara lirih. Jemari lentiknya mencengkeram kuat kedua sisi jas papanya.
"Siapa yang mengusikmu?!" Suara Tiger begitu dingin, membuat sekujur tubuh Cheryl bergidik.
Bagai lari marathon, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering kerontang. Kesusahan ketika menelannya. Tidak menyangka jika sang ayah tahu dengan sendirinya. Karena tidak mungkin Axel bercerita. Mereka tidak sedekat itu.
"Eee ... itu kayaknya orang iseng, Pa. Tapi tenang aja. Cheryl bisa mengatasinya. Bahkan bisa membuatnya kelimpungan. Nih buktinya Cheryl masih sehat nggak luka sedikitpun," ucap Cheryl sedikit panik.
Ia takut semua akses akan dicabut dan semua kegiatannya juga dibatasi. Tidak bisa! Dan tidak akan pernah bisa. Balapan merupakan pelampiasannya melepas penat usai memikirkan semua pekerjaannya. Jika dilarang, kemungkinan stress mudah sekali menghampirinya.
"Papa percaya 'kan sama Cheryl," ujarnya memelas menggoyangkan kedua lengannya. "Cheryl masih bisa, Pa," rayunya lagi terlihat berkaca-kaca.
Dia tidak mengira, bahwa Tiger ternyata mengetahui pergerakannya. Nasi sudah menjadi bubur. Bagaimanapun Cheryl harus menghadapinya. Entah itu sekarang atau nanti.
Helaan napas panjang diembuskan oleh Tiger. Pandangannya menunduk, tidak bisa melihat putrinya sedih. Rasa bersalah ketika Cheryl masih dalam kandungan, sering kali
melintas di otaknya.
"Baiklah. Tapi sedikit saja kamu terluka, papa ledakkan kepalanya saat itu juga. Dan kamu akan selalu dalam pantauan mama selama 24 jam di Palembang. Tahu sendiri bagaimana aturan dari mamamu? Dan papa tidak mau ikut campur lagi!" tegas Tiger mencubit dagu Cheryl dan mendongakkannya.
"Pa!" Air mata Cheryl melaju semakin deras. Dia tidak mau dikekang dari hobi-hobinya.
Selama ini hanya sang papa yang selalu mengerti keinginan-keinginan extreme-nya. Tiger selalu melindungi Cheryl dan membelanya di hadapan Jihan.
Di satu sisi Jihan khawatir, di sisi lain, dia juga ingin Cheryl bisa melindungi diri. Apalagi pengalaman pahitnya ketika pernah dilecehkan ketika masa mudanya dulu.
Bagaimana jadinya kalau Cheryl harus menjadi gadis rumahan? Cheryl tidak bisa membayangkannya. Apalagi harus tinggal di Palembang. Jika sesekali saja, bukan masalah besar baginya. Namun dalam jangka waktu lama, jelas tidak bisa.
Tiger lalu menarik bahu Cheryl ke dalam dekapannya. "Papa harus selesaikan pekerjaan dalam waktu yang lumayan lama. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi papa atau Paman Rico," ucapnya mencium puncak kepala anak gadisnya.
"Cheryl sendirian dong sama Axel? Sebenarnya Cheryl penasaran pengen rakit senjata juga. Hahaa!" celetuk Cheryl mendongak.
"Kali ini, big no! Pekerjaanmu sudah banyak. Jangan serakah," sambut Tiger menggerakkan hidung mancung Cheryl.
Milano Sebastian, kakeknya mengalami penurunan kesehatan sejak beberapa tahun terakhir. Leon meminta agar tinggal bersamanya di Palembang, agar Khansa yang notabene seorang dokter, bisa terus memantau kesehatannya.
"Kamu sudah besar, Sayang. Kalau ada kesulitan di perusahaan, bisa langsung hubungi papa. Terima kasih sudah membantu menjalankan perusahaan dengan baik selama 2 tahun ini. Walaupun cuma di balik layar, tapi kamu hebat. Ide-ide kamu briliant. Apalagi kamu berhasil menggaet klien sekaligus bekerja sama dengan perusahaan. Papa bangga sekali sama kamu!" tuturnya lembut dengan seulas senyum hangat.
"Semua juga berkat arahan papa," jawabnya merendah.
"Sambil nunggu mama pulang, ke ruang kerja papa dulu. Jika kamu dalam bahaya, 24 jam ada yang standby. Lalu sambungkan ke ponsel kamu untuk memasang alarm!" ajak Tiger.
Tiger merangkul bahu Cheryl dan mengajaknya masuk ke ruang kerja. Ia mengajarkan memecah kode-kode sederhana agar lebih cepat terhubung dengan timnya.
Cheryl duduk tepat di belakang Tiger. Memperhatikannya dengan serius, sesekali mencatatnya jika memang merasa diperlukan. Ia juga menyambungkan dengan ponsel dan memasang software khusus, buatan perusahaan Leon.
Hampir seharian mereka berbincang serius. Hingga Jihan kini tiba di rumahnya jam sebelas siang. Tiger sengaja tidak mengabari kepulangannya, karena ingin memberi kejutan pada ibu dari dua anaknya itu.
"Pa, itu suara mama!" ucap Cheryl ketika mendengar ibunya tengah berbincang dengan beberapa pelayan untuk menyiapkan makan siang.
"Sampai di sini sudah paham?" tanya Tiger.
"Paham, Pa. Nanti kalau bingung bisa telepon papa 'kan?"
Tiger mengangguk, merasa lega, karena setidaknya Cheryl sudah ia bekali banyak hal untuk melindungi diri maupun adiknya. "Ayo turun!" ajak Tiger beranjak dari duduknya.
"Cheryl dulu, Pa!" Cheryl melepas heelsnya. Lalu berlari mendahului sang ayah menghampiri ibunya.
"Mama! Cheryl punya kejutan!" teriak gadis cantik itu kegirangan.
Jihan yang tengah mengenakan apron, berbalik. Keningnya mengernyit, "Apa? Eh, kamu sudah pulang? Axel mana?"
Tak berapa lama remaja itu memasuki rumah. Tiger sedari pagi sudah berpesan pada Rain untuk menjemput putranya tepat waktu.
"Ma!" seru Axel melenggang masuk.
"Ehm!" dehem Tiger berjalan perlahan mendekati mereka bertiga.
Mendengar deheman yang sangat ia kenali, Jihan menggerakkan kepalanya. Matanya mendelik ketika melihat suaminya berdiri gagah di belakang Cheryl.
"Sayang! Kapan pulang?!" pekik Jihan yang langsung menghambur ke pelukan suaminya. Ia sampai lupa jika kini diperhatikan anak-anaknya.
"Ssst! Ssttt! Pura-pura nggak lihat!" bisik Cheryl memutar tubuhnya membelakangi orang tuanya. Axel menggaruk kepalanya dengan senyum kaku, ia mengikuti gerakan sang kakak.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
nobita
keluarga yg harmonis... bikin iri para readers aja thor...
2024-09-18
0
Renireni Reni
🤣🤣🤣🤣
2023-03-09
0
Atik Marwati
semangat ....
2023-03-05
0