Tersadar dari lamunan, lengan Cheryl menepis kuat kedua tangan Jourrel hingga cengkeramannya terlepas. Besi kecil dan panjang itu pun luruh ke lantai. Sikunya mendarat di tulang iga Jourrel.
Cheryl berbalik lalu menatap sinis pada Jourrel. Cengkeraman kuat di kerah kemeja Jourrel sekaligus melayangkan wajah ganasnya, pria itu benar-benar terkejut.
Cheryl lalu menyentak sangat kuat pangkal paha lelaki itu dengan lututnya. Manik indah abunya memicing dengan tajam, gigi rapinya terdengar bergelemeletuk.
Tubuh Jourrel menegang dan tiba-tiba berubah kaku. Matanya melotot sangat lebar. "Aaarrgghh! Shitt!" erangan kesakitan Jourrel terdengar memekik dengan sangat keras.
Jourrel menyentuh pangkal pahanya, wajahnya memerah menahan sakit luar biasa hingga terduduk di sofa. Napasnya tersengal-sengal bahkan serasa hampir putus. Mata mereka menyorot kebencian dan amarah masing-masing.
"Sudah kuperingatkan, jangan macam-macam denganku! Ingat baik-baik, jangan suka meremehkan orang!" ucapnya pelan sembari menunduk, merasa puas bisa memberi pukulan telak pada pria itu.
Tatapan tajam yang sama sekali tak berkedip seolah menembus hingga jantung Jourrel. "Roooarrrrr!" ledek Cheryl menggerakkan jari jemari tangannya seolah hendak menerkam.
Ngilu yang menjalar hingga ubun-ubun membuat Jourrel sama sekali tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Menarik napas saja membuat rasa ngilu itu merambat naik hingga ke ubun-ubun.
Gadis cantik itu hendak melenggang pergi meninggalkannya. Namun, saat Cheryl mengibaskan rambut panjangnya, Jourrel menariknya hingga Cheryl terjengkang. Tidak mau bokongnya mendarat di lantai yang keras, Cheryl bermaksud duduk di sofa.
Akan tetapi, nasib baik mungkin tengah tak berpihak padanya. Cengekraman yang cukup kuat di rambut, memaksanya duduk di pangkuan Jourrel.
Matanya mendelik, satu tangannya meraih heels yang membalut kakinya, lalu menghentakkan di kening Jourrel. "Dasar pria mesum!" teriak Cheryl tidak terima.
"Awwwwh! Ratu macan sialan!" desis Jourrel.
Deru mesin mobil yang berhenti, bahkan tak terdengar di telinga mereka. Cheryl sibuk mengumpat dan beranjak berdiri. Sedangkan Jourrel menikmati rasa sakitnya lagi dan lagi. Tangannya mengusap-usap dahinya yang memerah sembari mendesis kesakitan.
"Hei! Kalian ngapain?" Tristan berlari memisahkan mereka berdua.
Lelaki itu berdiri di antara mereka berdua. Lengannya menjulur, menjauhkan Cheryl yang masih ingin menerkam sahabatnya itu.
"Tuh satpam kamu gila dan mesum!" cetus Cheryl bersungut-sungut lalu memungut kembali sepatunya dan mengenakannya.
"Hah? Satpam? Mesum?" Tristan menoleh pada Jourrel. Ia membelalak ketika melihat sahabatnya tampak babak belur. "Heh! Lu apain Cheryl, Jhon?" tambahnya menyelidik.
Jourrel mendengkus kesal. "Apain? Pertanyaan lu kebalik, Setan! Yang ada lu harus nanya, lu diapain sama cewek ini? Lu nggak lihat gue yang babak belur di sini!" sanggah Jourrel merasa disudutkan.
"Cheryl nggak akan ngamuk kalau nggak disenggol duluan! Khodamnya akan keluar kalau lu senggol, Bro!" bela Tristan menepuk bahu Jourrel.
"Tuh, dengerin Jhon! Salah lu sendiri cari masalah sama gue!" tambah Cheryl merasa puas karena mendapat dukungan.
Tristan terkekeh. Ia menegakkan tubuh dan kembali menghadap Cheryl. Tangannya menjulur dalam keadaan terkepal, yang segera dibalas Cheryl.
Dua genggaman tangan berbeda saling beradu sebagai salam pertemuan mereka. Sudah menjadi kebiasaan mereka sejak mengikuti organisasi yang sama, yaitu Extradiornary Riders.
"Ada apa nih, Princess? Sepagi ini udah apel di bengkel? Kok nggak ngabarin dulu?" tanya Tristan duduk agar suasananya lebih santai.
"Mobil aku lecet, tolong benerin ya. Terus, semalem aku abis ngedrift. Tolong cek mesinnya ya," aku Cheryl turut duduk di sebelah Tristan.
"Oh iya, semalem abis turun? Aku batal ikut. Gara-gara si Jhoni ini. Manusia paling ribet di muka bumi." Tristan menunjuk Jourrel yang masih berusaha meredam rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Kedua kakinya masih terasa lemas akibat tendangan maut dari Cheryl tepat mengenai aset paling berharganya. Ia hanya menyandarkan punggung dan kepala, sembari memasang telinga baik-baik.
Selama ini Jourrel tahu jika Tristan ikut club mobil. Akan tetapi ini berita terbaru yang bisa memudahkannya untuk membalas semua perbuatan Cheryl padanya. Tentunya selain menjalankan tugas utamanya, melenyapkan nyawa gadis cantik itu.
"Bukan! Aku juga batal ikut, Tris. Gara-gara ada yang mau celakai aku!" ujar Cheryl.
"Hah? Kamu punya musuh? Tapi nggak apa-apa 'kan? Kamu nggak terluka?" cecarnya menangkup kedua pipi Cheryl dan menatapnya penuh kekhawatiran.
Cheryl mengerjap lembut, ia tersentak dengan perlakuan lelaki itu. "Eng ... enggak apa-apa, kok. Aman. Cuma mobil jadi korban. Sempet aku srempet tu motor, sampe jatuh juga. Sayangnya bisa lolos!" ucapnya menurunkan kedua tangan Tristan, karena merasa tidak nyaman.
"Ah, syukurlah. Eh tunggu! Semalem? Serempet motor? Kok sama seperti ...."
Bersambung~
Secrazy crazy nya aku up... tolong crazy juga like komennya ya 🤣🤣🙏❤️ lope youu all... gimana sejauh ini? masih menggregett?. 😳🙈
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Wkwkwkwkwk Aku hanya mampu ketawain nasib kamu Jou..Anak macan kamu tantang..🤣🤣🤣
2024-08-30
0
Rifa Endro
tu kan ? jangan2 Tristan mulai curiga
2024-04-17
1
Qaisaa Nazarudin
Nah kan, jangan sampai Tristan keceplosan,
2023-07-10
2