Cheryl memperhatikan bajunya. Kali ini kebetulan ia mengenakan pakaian tertutup. Blazer hitam berlengan panjang dengan celana bahan sepanjang tumit.
"Awas aja masih lihat dengan tatapan mesum," gerutunya melepas seatbelt lalu segera turun dari mobil sportnya.
Mendengar debuman pintu mobil yang tertutup, Jourrel menoleh. Sontak matanya mendelik ketika melihat sang target sudah berdiri bersandar pintu mobil, dengan tatapan sinis.
Tak dapat dipungkiri, rambut bergelombang yang diikat seluruhnya, milik gadis cantik itu semakin memancarkan aura yang memikat. Apalagi dipadukan dengan wajah juteknya. Terlihat semakin menggemaskan di mata Jourrel.
"Ngapain lo di sini?! Atau, lo satpam ya di bengkel ini." Cheryl melipat kedua lengannya.
Pandangannya mengedar, tidak menemukan kendaraan apa pun di sana. Itu semakin menguatkan dugaannya bahwa pria itu hanya seorang satpam.
Jourrel menjaga ekspresinya, tak berkedip dan bibir yang masih terkatup rapat, "Sayang sekali aku nggak bawa senjata apa-apa. Padahal target datang sendiri. Harusnya ini kesempatan," gumamnya dalam hati dengan tatapan tajam mengarah pada Cheryl.
Jemarinya memutar-mutar puntung rokoknya yang tinggal setengah. Bibirnya tersenyum miring sambil memutar bola matanya malas.
"Kamu yang ngapain di sini? Perempuan bukan di sini tempatnya. Atau jangan-jangan sebenarnya kamu wanita jadi-jadian. Tapi wajahmu itu sangat tidak cocok dengan kelakuanmu. Muka spek bidadari, tapi kelakuan mirip macan betina!" ejek Jourrel menatap remeh.
Darah yang mengalir di tubuh Cheryl seketika mendidih, kedua tangannya mencengkeram dengan kuat, "Mulut lo belum pernah cium tas mahal 'kan?" Cheryl menantang.
Ia melenggang dengan kaki jenjangnya, semakin mengikis jarak di antara mereka berdua. Benturan heels panjangnya menggema di teras yang sepi pagi itu.
Jourrel mendongak karena kini perempuan itu berhenti dan menjulang tinggi, tepat di hadapan Jourrel. Dua pasang mata mereka saling bertaut, aura dendam dan kemarahan terpancar jelas dari keduanya.
Cheryl yang sangat membenci lelaki itu karena sudah berpikiran mesum sejak pertemuan pertama mereka, sedangkan Jourrel menyimpan amarah karena kesialan bertubi-tubi yang dialami kemarin.
Cheryl sudah mengangkat hand bag-nya di tangan kiri. Mengarahkan tepat pada wajah tampan pria itu. Satu sudut bibirnya terangkat.
Jourrel sudah menatap waspada dan bersiap menangkisnya. Mata elang pria itu menyelidik, menatap bergantian antara wajah cantik Cheryl dengan tas di tangannya. Walaupun belum terlihat gerakan apa pun dari Jourrel.
"Rasakan nih pria mesum!" seru Cheryl penuh emosi.
"BUGH!"
Bukan tas mahal Cheryl yang mendarat. Melainkan bogem mentah dari tangan kanan gadis itu, tepat di hidung Jourrel.
"Aarrghh!" erang Jourrel menutup hidungnya, matanya sampai berkaca-kaca dengan serangan tak terduga itu. Terlalu fokus hendak menangkis tas, ternyata diserang dari arah lain.
Jourrel menurunkan telapak tangannya, tampak ada bercak darah di sana. Mata elangnya menyalang merah menyeka darah yang mengalir dari lubang hidungnya. Geraman di wajahnya terlihat semakin jelas.
"Maaf ya, Tuan Mesum. Sebenarnya itu masih belum seberapa. Jangan pernah main-main dengan saya. Hilangkan pikiran kotor dari kepala anda, sebelum saya menghilangkan kepala Anda," ancam Cheryl yang seketika wajah cantiknya berubah devil. Bahkan senyumnya tampak mengerikan.
Jourrel melirik ke sudut teras, matanya menemukan sebuah tongkat besi berukuran 50 cm. Dengan gerakan cepat Jourrel beranjak dan lengan panjangnya segera meraih benda itu.
Jourrel berbalik, satu kakinya memanjat sofa dan melompat hingga berhimpitan dengan tubuh semampai Cheryl. Ia melingkarkan besi panjang itu ke leher Cheryl dan menekannya kuat. Tubuh mereka tak berjarak, bahkan Jourrel bisa merasakan wanginya tubuh dan rambut gadis itu menyeruak pada indera ciumnya.
Ia mendekatkan bibir di telinga Cheryl. "Nona Macan, kamu memang picik ya," desis Jourrel yang habis kesabarannya.
Cheryl mendelik, ia refleks menahan tongkat besi itu dengan kedua lengan kurusnya untuk melindungi leher putihnya.
Namun sebenarnya, yang lebih membuatnya terkejut adalah panggilan baru untuknya. Ia sampai lengah karena terlalu memikirkan hal itu, apakah pria itu memang mengenal ayahnya? Atau hanya kebetulan saja? Yang jelas, Cheryl masih bergulat dengan pikirannya sendiri. Sampai lupa bahwa kini ia dalam bahaya.
'Ternyata segini saja kemampuannya. Dasar si mulut besar. Tahu gini kemarin langsung aku habisi saja!' geram Jourrel dalam hati.
Tidak melihat perlawanan berarti, Jourrel menyeringai tipis. Ia pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Pria itu semakin menumpukan semua tenaganya, mematikan gerakan Cheryl dan bahkan keinginan menghabisinya saat itu juga.
"Selamat tinggal gadis bar-bar! Aku pasti merindukan keganasanmu!" gumam Jourrel tersenyum puas karena yakin eksekusinya akan berhasil.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
h hhhhhhhh kaliannnn inii pasti jodoh endingnya 😄😄😄😄
2025-03-29
0
nobita
gak mungkin lah berhasil... Cheryl wanita kuat... tak mudah menumbangkan nya
2024-09-18
0
Rifa Endro
waah ... bedebah
2024-04-17
1