"Itu, Bu. Sepertinya semalam aku jatuh dari ranjang. Keterusan sampai pagi," alasan Jourrel.
Jujur saja, ia sendiri tengah dilanda panik dan keterkejutan luar biasa. Ia pikir ibunya sudah keluar dari kamar. Salahnya, ia tidak mengecek keadaan terlebih dahulu sebelum keluar dari persembunyiannya.
"Kamu itu kebo atau apa? Jatuh ke lantai sampai nggak kerasa. Nggak dingin apa tidur di lantai?" Dina menggeleng-gelengkan kepala.
"Hehe, adem, Bu!" sahut Jourrel menyengir.
"Yasudah! Mandi sana. Sarapan sudah siap!" titah Dina baru melenggang dari kamar lelaki itu.
Jourrel segera merapatkan kembali bibirnya. Senyumnya memudar dan mengusap dadanya, mengurai sisa-sisa keterkejutan di sana.
Ia berjalan mencari keberadaan ponselnya. Kemudian segera menghubungi seseorang. Siapa lagi kalau bukan Tristan. Lama sekali ia menunggu nada sambung yang tak kunjung dijawab. Ia menggeram sembari berjalan mondar-mandir dengan ponsel di daun telinganya.
"Halo!" ucap Tristan masih dengan suara seraknya.
"Di mana?" Jourrel berucap tanpa basa basi.
"Di kasur!" cetus Tristan malas membuka mata. Akan tetapi ia sudah hapal suara sang penelepon.
"Ck! Bangunlah. Aku tunggu di bengkel! Ibu akan banyak tanya kalau aku nganggur di rumah. Buruan nggak pake lama!" tegasnya mendominasi tanpa membiarkan Tristan membalas apa pun lalu langsung mematikannya.
Jourrel melempar ponselnya di ranjang. Kemudian segera melakukan rutinitas paginya seperti biasa. Mandi, berpakaian rapi dengan kemeja dan bersepatu seperti biasa agar ibunya tidak curiga.
"Jourrel," panggil ibunya ketika mereka tengah sarapan bersama.
Lelaki itu menengadahkan pandangan, masih asyik mengunyah makanan hasil karya ibunya yang terasa begitu nikmat.
Bibir Dina mengulas senyum tipis, ia menggenggam jemari panjang putranya, "Maafin ibu ya. Gara-gara ibu, kamu harus banting tulang siang malam. Ibu hanya menjadi beban untukmu. Mungkin jika ayahmu masih ada, dan kejadian itu tidak pernah terjadi, kita bisa hidup tenang dan bahagia sekarang," ucap wanita paruh baya itu dengan suara sendu.
Jourrel hampir tersedak dengan makanannya, buru-buru ia menelannya, "Jangan bilang seperti itu, Bu. Ibu sama sekali tidak pernah menjadi beban untuk Jourrel. Tenang saja, kita akan mendapatkan hak kita kembali. Ibu harus semangat agar cepat sembuh! Jangan mikir macam-macam," ujarnya meremas balik tangan ibunya yang semakin kurus, mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya.
"Tidak boleh ada kata seandainya. Yang terjadi biarlah terjadi, Bu. Jourrel cuma punya ibu. Jadi tolong, ibu harus terus sehat untuk menemani hari-hari Jourrel," sambungnya lagi.
Dina mengangguk meski dengan napas yang berat. Jourrel segera pergi setelah ojek online pesanannya sudah sampai di rumahnya.
"Jourrel pamit, Bu. Kalau ada apa-apa tolong segera hubungi," ucapnya memeluk sang ibu.
"Iya, Nak. Hati-hati," pungkas sang ibu melepas kepergian anaknya.
Jourrel bergegas menaiki motor yang sudah menunggunya sedari tadi. Tidak tahu lagi kemana tujuannya selain bengkel milik Tristan.
Satu-satunya tempat menghindar dari segala beban yang menghimpit dadanya. Tristan sendiri selalu menerimanya dengan tangan terbuka. Walaupun seringkali Jourrel melampiaskan kekesalannya pada Tristan. Mereka selalu bersama sejak masuk SMA.
Sesampainya di bengkel, tempat luas itu masih tertutup rapat. Ia segera duduk dan menyalakan sebuah rokok favoritnya untuk menemani kesendirian sambil menunggu sahabatnya datang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Rain, kamu tolong anter Axel dulu ya. Nanti jemput aku di bengkel biasa. Mobil aku harus ke dokter. Hehehe," celetuk Cheryl ketika sang asisten menjemputnya.
"Oke, Boss!" sahutnya mantap.
"Kenapa nggak sama sopir aja, Axel?" Jihan menimpali dari dalam rumah berjalan pelan keluar.
"Ada janji sama kakak, Ma!" Pria muda itu memamerkan deretan gigi rapinya.
"Iya, Ma. Berangkat ya. Bye, Ma!" seru Cheryl berlari kecil ke mobilnya sebelum Jihan bertanya lagi. Begitupun Axel, yang segera duduk di sebelah Rainer.
Cheryl menyalakan klakson lalu mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedangm Bahkan rasanya tak sabar. Kakinya ingin menginjak kuat pedal gas tersebut.
Rainer juga mulai melaju. Setelah kepergian anak-anaknya, Jihan berangkat ke butik sebentar untuk mengawasi para bawahannya. Sudah ada banyak karyawan bertalenta, sehingga ia hanya tinggal mengawasi dan memberikan masukan-masukan saja.
Cheryl lupa menghubungi bengkel langganannya, ia langsung melesat pergi ke sana. Betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat Jourrel tengah duduk santai sambil mengepulkan asap rokok di teras bengkel tersebut.
"Manusia mesum itu lagi?!" serunya melotot tajam.
Bersambung~
Nah lho... mau apa?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
juorell anak berbakt ternyata 🤣🤣🤣
2025-03-29
0
Rifa Endro
berarti sama2 pelanggan Tristan
2024-04-17
1
yuiwnye
bengkel yg sama 😎😎
2024-02-07
2