"Luna!" seru Cheryl heboh, melambaikan tangan dengan senyum mengembang sempurna.
Dari seberang terlihat Luna masih mengenakan earphone di telinga. Ia tersenyum lembut. Salah satu anak kembar dari pasangan Leon dan Khansa itu, memang memiliki perangai seperti ibunya. Lembut, kalem, cantik, namun mematikan untuk orang-orang yang berani menyakiti kesayangannya.
"Mau tanya hasilnya ya, Kak?" tanya Luna dengan suara halus yang membuat jiwa Axel bergetar.
"Iya! Gimana? Udah dapet?" Cheryl nampak antusias. Bahkan mendekatkan kursinya ke meja, hingga wajah cantiknya semakin dekat dengan layar laptop.
Luna menggeleng pelan, tanpa memudarkan senyuman. "Belum, Kak. Hehe. Nanti aku minta tolong sama Paman Gerry deh." Gadis cantik itu hanya menyengir sembari menggaruk kepalanya.
"Jangan!" teriak Cheryl.
Kening Luna mengernyit ketika melihat kakak sepupunya itu tampak panik. "Eee ... kenapa, Kak? Paman Gerry bestie kok sama aku. Nggak kayak Xavier, tenang aja," ucap Luna yang meraba ketakutan Cheryl.
Terlihat Cheryl mengembuskan napas lega. "Ah, baiklah. Beneran ya, cuma kita bertiga nih!" desahnya kemudian.
"Berempat, Kak." Luna menyanggah, mengalihkan pada lelaki yang berdiri di belakang Cheryl.
"Cuma tiga, Dek!" kekeuh Cheryl.
"Tuh, belakang kakak nggak dihitung?" tunjuk Luna pada punggung Axel.
Cheryl baru teringat kehadiran adiknya. Ia memutar tubuh hingga bisa melihat punggung Axel yang masih bergeming di sana.
"Oh iya! Axel, sini! Ngomong langsung nih, mumpung ada orangnya," ucap Cheryl.
"Eng ... enggak, Kak. Lanjutkan saja. Aku mau tidur," ucapnya melirik sekilas, buru-buru melenggang pergi dari kamar kakaknya.
Tidak ada yang tahu jika wajah lelaki itu tengah memerah. Senyum hangat gadis anggun yang sulit hilang dari pikirannya, membuat Axel salah tingkah jika berhadapan dengan Luna.
"Issh kenapa tuh anak?!" Cheryl mengedikkan kepala bingung. Sedangkan Luna hanya mengurai senyum manisnya.
"Nanti aku kabari hasilnya, Kak. Soalnya yang aku temukan alamat aslinya Medan. Makanya aku ragu, mau konsultasi dulu sama Paman Gerry," papar Luna menjelaskan.
"Oke deh! Ditunggu ya, Sayang. Maafin Kakak ngerepotin terus!" ucap Cheryl menangkup kedua tangannya, sedikit menunduk.
"Jangan gitu ih, Kak. Kayak sama siapa aja!" elak Luna mencebikkan bibir.
Setelah perbincangan ringan tetapi serius itu, mereka beristirahat di belahan pulau yang berbeda. Karena malam semakin larut, esok harus menghadapi kembali dunia mereka masing-masing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mentari mulai menyingsing di pagi hari. Dina hendak membangunkan putranya, takut jika Jourrel terlambat bekerja. Ia mengetuk pintu kamar Jourrel dengan perlahan.
"Jourrel! Kamu nggak kerja, Nak?" ucapnya masih mengetuk.
Keningnya mengernyit, ketika tak mendapat jawaban. Dina menarik tuas pintu berbahan kayu itu, lalu mendorongnya dengan perlahan. Hingga terdengar derit pintu yang menggema.
"Jou? Kamu sudah berangkat? Jourrel!" teriak Dina terus menerus sembari mengelilingi kamar yang tak luas itu.
"Kapan berangkatnya? Kenapa aku tidak tahu dia keluar. Apa dia nggak mandi?"Dina tampak berpikir keras.
Rumah yang tidak begitu luas, menghubungkan kamar Jourrel dengan dapur dan kamar mandi yang hanya ada satu. Itu pun letaknya di luar kamar. Sedangkan Dina memang sudah terbiasa bangun pagi-pagi buta.
"Jourrel!" serunya sekali lagi melongokkan kepala ke jendela. Akan tetapi jendela tersebut masih tertutup rapat. Dan ketika menoleh ke ranjang pun, masih sangat rapi. Dina terheran-heran pagi itu.
Di ruang bawah tanah, Jourrel terperanjat ketika sayup-sayup suara ibunya menelusup indera pendengarannya. Semalaman bergelut dengan pikirannya yang panas, sampai tak sadar tertidur di meja kerjanya.
Matanya mengerjap perlahan, menguap sambil meregangkan kedua lengannya. "Hah! Aku ketiduran!" serunya gelagapan berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Jourrel menggeser pintu masuknya, lalu merangkak di bawah ranjang. Perlahan kembali menutup, lalu ia keluar dari peraduan. Sedikit mengerang hingga berhasil berdiri tegap di luar ranjang. Menggerakkan lehernya ke kiri dan kanan karena merasa kaku, semalaman tidur sambil duduk.
"Jourrel! Dari mana kamu muncul? Tadi nggak ada siapa-siapa di sini! Jangan-jangan kamu .... " pekik Dina terkejut menekan dadanya yang berdetak kuat.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
axel suka luna ya😄
2025-03-29
0
nobita
Joureel menghilang bagaikan hantu
2024-09-18
0
Qaisaa Nazarudin
Axel suka sama Sepupunya ya dokter Luna.. Hujung2 Luna nikah sama Arash,kasian Axel🥹🥹
2024-08-30
0