"Ma! Kita nggak telat kok. Tuh pas 'kan jarum panjangnya di angka 12!" Cheryl berucap dengan cepat sebelum dicecar pertanyaan oleh ibunya.
Axel yang menyusul langsung berdiri di sebelah sang kakak. Tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. Ia diam karena takut salah menjawab.
Jihan tak bersuara, masih melayangkan tatapan tajam pada putrinya. Cheryl mengerlingkan mata sembari menggigit bibir bawahnya. Mengingat-ingat kesalahan apa lagi yang ia buat.
Selang beberapa detik, Cheryl pun tersentak. "Ah, Ma! Aku terpaksa nyetir, soalnya Axel baru aja nabrak dinding pembatas. Tuh, Ma lihat aja mobilku ada goresannya cukup panjang, Ma," keluh Cheryl yang mengingat pesan sang mama sebelum mereka berangkat.
Seketika Axel mendelik dan menatap kakaknya. Tetapi tidak mungkin juga mereka berkata yang sejujurnya. Bisa-bisa mereka akan diperlakukan seperti tawanan dengan pengawalan ketat. Sehingga Axel memutuskan untuk mengangguki saja setiap ucapan kakaknya.
Jihan menatap kedua anaknya bergantian dari ujung kaki hingga rambut. Memastikan mereka baik-baik saja, "Yaudah masuk!" titahnya setelah tidak melihat cedera pada dua anak itu.
Dada Cheryl dan Axel serempak berembus dengan kasar. Kelegaan tengah mendera dua kakak beradik itu. Mereka saling mengulurkan tangan dan menepuknya perlahan. Lega karena sang mama tidak curiga dan tidak melakukan interogasi lebih jauh lagi.
"Papa belum pulang, Ma?" tanya Cheryl berjalan di belakang punggung Jihan.
"Mungkin besok. Kalian berdua istirahatlah. Jangan begadang ya, terutama kamu Axel!" perintahnya menunjuk mereka berdua bergantian.
"Iya, Ma!" sahut Axel menurut.
"Cih! Dasar anak mama!" cibir Cheryl memicingkan matanya.
Axel memutar bola matanya hingga kini melotot pada sang kakak. Cheryl sudah merasa waspada. Dan benar saja, tiba-tiba Axel menarik rambut panjang sang kakak yang bergelombang.
"Aw!" desis Cheryl terkejut.
Namun gadis itu langsung menunduk, memutar tubuhnya lalu menepis lengan Axel dengan kedua tangannya. Disambung gerakan cepat mendorong dada Axel. Namun sebelum terhuyung, Cheryl langsung menarik pergelangan tangan Axel, hingga mereka saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.
"Cheryl!" pekik Jihan terkejut.
"Hehe," Cheryl terkekeh menarik kedua tangan Axel dan memeluknya. "Jangan macem-macem adikku sayang," bisik Cheryl menepuk-nepuk punggung adiknya.
"Kak, ajarin dong." Axel balas berbisik, mereka masih saling berpelukan karena Jihan memperhatikan gerak-gerik mereka.
"Sibuk, Dek! Nanti aja kalau Luna ke sini, minta ajarin dia. Dia 'kan kalem, sabar, kalau sama kakak, bisa bisa langsung remuk tulang-tulangmu," balas Cheryl membuat Axel bergidik.
"Buset! Tega bener sama adiknya. Bilang aja nggak mau ngajarin," dengus Axel.
Jihan mendekati kedua anaknya, "Kalian ngapain? Lagi kerja sama ya?" tuduhnya menyelidik.
Sontak, Cheryl dan Axel melepaskan rangkulan mereka. Kemudian dua remaja itu memeluk mamanya dari sisi yang berbeda.
"Mama kan sering bilang, kita itu bersaudara, harus saling bahu membahu, saling menyayangi dan jangan ada yang saling menjatuhkan," ucap Cheryl menumpukan dagu pada bahu mamanya.
"DEG!"
Hati Jihan terenyuh, anak-anaknya selalu mengikuti setiap ucapannya. Matanya justru berkaca-kaca. Kilasan masa kecilnya, yang mendapat perlakuan berbeda dari sang ibu, hanya karena sang kakak lebih cerdas darinya.
"Ma! Kok Mama sedih? Maafin kami, Ma," Axel yang peka semakin mengeratkan pelukannya.
"Ah, enggak. Mama hanya terharu. Tetap seperti ini sampai kalian tua. Mau sesukses apa pun kalian, keluarga harus yang utama. Kebahagiaan orang tua, hanyalah melihat anak-anaknya sukses dan akur satu sama lain! Tidak peduli apapun pangkat kalian nanti," ucap Jihan dengan suara bergelombang.
"Iya, Ma. Jangan nangis lagi." Kini Cheryl ikut larut dalam suasana itu.
Jihan tersenyum, mengusap punggung putra putrinya dengan sayang. "Yaudah, sekarang kalian istirahat ya. Cheryl jangan lembur terus, Nak. Kesehatan yang utama."
"Siap, Ma!" Cheryl dan Axel menjawab serentak. Keduanya juga kompak mencium pipi ibunya.
Setelahnya mereka berlari ke kamar masing-masing. Jihan sendiri melenggang dengan langkah pelan memasuki kamarnya. Sunyi, sepi, biasanya ada sang suami yang selalu menjahilinya.
Jihan mendongak, meraba gambar dua dimensi. "Sayang, anak-anak semakin besar ya. Kapan kamu pulang? Aku merindukanmu!" ucapnya pada foto mereka berdua yang terpajang di dinding.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cheryl sendiri bukannya langsung tidur. Ia duduk di depan laptop lalu menyalakannya. Cheryl hendak melakukan panggilan video pada adik sepupunya yang tinggal di Palembang.
Ketika menunggu panggilan terhubung, pintu kamarnya terbuka. "Kak! Mana PSnya?" pinta Axel melongokkan kepala.
"Apaan? Orang nggak jadi balapan! Ogah!"
"Yang penting 'kan kakak udah keluar tadi. Masalah balapan atau nggak urusan kakak dong!" Axel melenggang masuk dan berjalan menuju alat elektronik yang sangan ia idamkan.
"Halo, Kak!" ucapan lembut dari laptop Cheryl menghentikan langkah Axel. Derap jantungnya menggema, ingin sekali membalikkan tubuhnya namun tubuhnya seolah terasa kaku.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
setuju bgt tuh sesana saudara harus saling menjaga
2025-03-29
0
Fitriana Muflihatul Afidah
axel suka ma luna
2024-01-20
2
Qaisaa Nazarudin
Ada hubungan apa Luna sama Axel??
2023-07-10
0