Di tempat lain, Jourrel sudah berganti pakaian serba pendek milik Tristan. Salah satu betisnya memar bahkan warnanya kini mulai berubah biru keungunan.
Ia duduk di tepi ranjang kamar yang tidak terlalu besar itu. Tristan memang memiliki kamar pribadi di sana, biasanya digunakan untuk beristirahat ketika penat bekerja. Meski tidak terlalu luas, cukup nyaman baginya.
"Tan! Ada obat memar nggak?" teriak Jourrel. Tristan sedang ke pantry untuk menyeduh kopi.
"Ada! Itu kotak P3K deket pintu masuk!" sahut Tristan juga berteriak.
Jourrel berdiri, matanya segera menyapu ruangan hingga menemukan kotak obat yang tertempel di dinding. Berjalan tertatih meraihnya, lalu duduk di sofa dan segera mengoles salep anti memar. Berharap bisa meredakan rasa nyerinya.
Usai meratakan salep di permukaan kulitnya yang terluka, Jourrel menangkup kedua lengannya yang menyiku di atas paha. Mata elangnya tak berkedip bahkan menyorot dengan tajam. Pikirannya berkecamuk dan hatinya bergulat hebat di dalam sana.
"Oke, kali ini aku akui keunggulanmu. Tapi lain kali, tiada ampun bagimu! Kita lihat, sampai kapan kamu bisa bertahan!" desis Jourrel mengepalkan kedua tangannya dengan seringai dingin.
"Nih, kopi." Tristan meletakkan gelas di hadapan Jourrel. Asap robusta yang kuat menyeruak di hidung mancung Jourrel.
"Thanks!" sahutnya meraih cangkir tersebut dan mengesapnya sedikit.
Tristan duduk di sebelah Jourrel. Kakinya menyilang di atas pahanya, menatap sahabatnya penuh selidik. "Lu kenapa, Jhon? Puluhan tahun bawa tu motor belum pernah lecet sedikitpun!"
Mata lelaki itu mendelik ketika melihat luka di kaki Jourrel. "Buahaha!" Tawa Tristan memekik sembari menepuk bahu Jourrel. "Malu-maluin gue aja. Lu jatuh?" lanjutnya mencibir dengan puas.
"Paan sih! Hari apes nggak ada di kalender. Dasar tuh cewek aja yang bar-bar nggak ketulungan," sahut Jourrel menyandarkan punggungnya. Ia tanpa sadar keceplosan sendiri tanpa didesak.
"Tunggu! Tunggu! Cewek? Bar-bar? Jadi lo jatuh karena cewek? Hahaha!" Tristan semakin puas menertawakannya.
Jourrel memicingkan mata tajamnya. Dalam hati berdecak kesal karena kelepasan bicara. Padahal sedari tadi sudah berusaha keras untuk menahannya.
"Ck! Udah diem deh! Atau gue baut juga mulut lo! Tu kapan selesainya? Buruan, nanti gue nggak bisa kerja!" Jourrel mendengkus sebal sembari mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau aibnya terbongkar dan digunakan sebagai senjata sang sahabat untuk membully nya.
"Satu minggu!" cetus Tristan menghela napas panjang.
"Lama amat! Bisa apa nggak sih!" sentak Jourrel mengerutkan keningnya.
"Heh, lu kira ngecat tembok sehari jadi? Untung temen kalau nggak gue tendang lu sampe pluto!" sanggah Tristan mendelik.
Jourrel memaksa bibirnya untuk tersenyum. Kedua tangannya mengarah pada Tristan yang emosinya mulai merambat naik. "Oke! Oke satu minggu. Sekarang anter gue pulang!" titahnya beranjak berdiri.
"Dih, emang gue sopir grab apa?!" tolak Tristan.
Jourrel berdiri lalu melenggang mengambil jaketnya, ia meraih sesuatu dari sakunya. Benda kecil seperti remote berwarna hitam. "Jangan nangis kalau besok tempat ini rata dengan tanah!" ancamnya menggerak-gerakkan benda tersebut.
Tristan menelan ludahnya sudah payah. Ia tahu, sahabatnya itu suka mengoleksi barang-barang berbahaya. Ya, Tristan mengira Jourrel hanya mengoleksi beraneka senjata tajam. Tidak tahu jika sebenarnya digunakan untuk membunuh setiap bidikannya.
"Dasar psikopat!" umpat Tristan dengan dada yang meletup-letup. Takut jika Jourrel benar-benar menghancurkan usahanya.
Jourrel berbalik, sembari terkekeh geli. Tidak tahu saja, jika Jourrel tidak memiliki jenis bom apa pun. Karena untuk pembelian secara legal, harus memenuhi persyaratan yang kompleks.
Tentu saja dia tidak bisa memenuhinya. Sedangkan jika membeli illegal, terlalu menguras isi kantongnya. Karenanya, ia hanya memiliki beberapa jenis senjata api saja. Yang ia pegang hanyalah sebuah miniatur.
"Nah, itu baru sohib gue!" ucap Jourrel merangkul bahu Tristan yang hanya mendengkus sebal.
Hanya beberapa menit mereka sampai di halaman rumah yang tidak terlalu luas, bahkan terlihat sangat sederhana. Satu-satunya rumah di tempat tersebut. Jauh dari perkotaan dan juga pemukiman padat penduduk.
"Thanks, Bro. Bayarannya sekalin besok kalau motor udah jadi!" ucap Jourrel sebelum turun dari mobil Tristan.
"Hmmmm!" balas Tristan menggumam pelan.
Ia segera putar balik kembali ke rumahnya. Mood nya sudah hancur tak berbentuk, diremas oleh sahabatnya sendiri.
Jourrel mengendap-endap seperti maling di rumahnya sendiri. Kakinya berpijak dengan sangat pelan dan hati-hati menuju kamarnya yang terletak di belakang.
Pria itu menahan napas ketika mencongkel jendela, dan susah payah melewatinya. Kemudian kembali menutupnya dengan perlahan.
"Prang! Bugh! Bugh!"
Sebuah panci mendarat di kepala Jourrel, lalu menghantam punggung kekarnya bertubi-tubi.
Bersambung~
Sejak bertemu Cheryl... penderitaan Jourrel tiada akhir, 😆😆😆 mau kasian tapi Jourrel 🙏😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
Jourell nahh lhoo... siap yg lempar loe pke panci 🤣🤣🤣🤣
2025-03-29
0
nobita
kayak nonton sinetron... paling juga emaknya itu
2024-09-17
0
Patrisia Seli
knpa nama murid aku sih,Jourel
2024-06-05
0