Jourrel menggerak-gerakkan kaki kanannya. Kemungkinan sedikit terluka, ia mendesis merasakan nyeri sembari berjalan mengitari motornya. Setelah beristirahat beberapa menit, Jourrel sudah merasa lebih baik.
Perlahan, beranjak bangun dan kembali mengenakan helm, lalu mengendarai motornya. Ia bergegas menuju bengkel Tristan, sahabat yang selalu membantunya dalam hal permodifan dan perawatan motornya.
Sesampainya di sana, Jourrel segera turun, menyeret kakinya menuju sofa yang ada di teras bengkel cukup besar milik Tristan. Ia melepas pelindung kepalanya, juga masker hitam agar bisa bebas menghirup oksigen sebanyak mungkin.
Tubuhnya dihempaskan begitu saja, di kursi empuk itu. Masih tersengal, bersandar dengan lengan menutup sebagian wajahnya.
Jarak yang cukup jauh dari tempatnya berada, membuat Tristan sampai di bengkel 15 menit kemudian. Meskipun menyebalkan, Tristan tetap menghampiri sahabatnya itu.
"Kenapa lagi kali ini?" dengus Tristan setelah turun dari mobilnya.
Langkahnya langsung tertuju pada sepeda motor yang terparkir di tengah-tengah teras. Tristan meneliti detail kendaraan sahabatnya itu, mulai dari depan, kemudian menyusuri body motor besar itu.
"Habis diseruduk apaan nih?" tanya Tristan ketika menemukan body kanan motor itu banyak goresan.
"Seruduk banteng ngamuk!" cetus Jourrel dengan nada kesal.
Tristan menahan tawanya, "Kenapa sih? Kayak cewek lagi PMS!" sindirnya telak yang seketika membuat Jourrel menegakkan duduknya.
Raut wajahnya masih terdapat sisa-sisa kekesalan bercampur keterkejutan. Napasnya berembus dengan berat, serasa mengeluarkan kekesalannya yang menumpuk dalam dada.
Lelaki itu beranjak berdiri, menopang tubuhnya meski nyeri di kakinya semakin terasa. Ia berdiri di belakang Tristan yang berjongkok masih memeriksa kondisi mesinnya.
"Ganti warnanya. Kasih modifikasi yang keren. Nggak mau tahu, harus rubah total penampakannya!" perintah Jourrel enggan bercerita. Bisa turun pamor karena kalah telak dari targetnya. Perempuan pula.
"Huft! Nggak bisa sekarang, Jourrel!" elak Tristan merunduk, menyalakan mesin motor dan mengeceknya, tangannya memutar gas berulang kali hingga suaranya cukup memekakkan telinga.
"BYURR!"
Tiba-tiba ada yang mengguyur kedua pria itu dengan air beserta embernya. Tristan dan Jourrel terkejut. Keduanya menoleh serempak penuh emosi. Di sana seorang wanita paruh baya berdiri berkacak pinggang, dengan embusan napas yang kasar.
"Shittt!" umpat Tristan pelan menatap tubuhnya yang basah kuyup.
Jourrel menggeram dalam hati. Kedua tangannya menggenggam dengan sangat erat. Keningnya berkedut karena gigi yang bergemeletuk kuat.
"Yang hidup di sini memangnya kamu saja? Ini sudah malam. Waktunya istirahat! Nggak tahu apa seharian udah capek cari duit! Kalau main motor sana tengah hutan. Jangan di tengah pemukiman!" teriak wanita berbadan gempal itu.
Meski amarahnya membuncah, Jourrel tidak meladeninya. Hanya menatap dengan mata elangnya yang begitu tajam.
Tristan berjalan dengan tetesan air dari tubuhnya. "Maaf." Hanya satu kata itu yang terucap. Tidak ingin memperpanjang masalah. Jelas, dia yang salah.
"Sekali lagi kamu nyalakan tu motor, aku bakar motor kalian!" semburnya memperingatkan. Lalu berbalik dan kembali ke rumahnya yang berada di sebelah bengkel Tristan.
Tristan mendengkus sebal. Ia memicingkan mata pada sahabatnya. "Lo kena kutukan ya di jalan? Gue jadi kena imbasnya, ikut nanggung sial. Udah batal ikut balapan. Disiram air pula! Untung bukan air kobokan!" gerutu Tristan memutar langkah, lalu membuka pintu baja bangunan tersebut.
Jourrel memang bertangan dingin, tapi tidak berlaku bagi wanita yang berusia senja. Karena teringat dengan ibunya di rumah.
Dadanya memberontak ingin melawan, tetapi nurani menolak ketika bayangan wajah sang ibu berkelebat di kepalanya. Namun dia lupa, bahwa targetnya kali ini adalah wanita, calon ibu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kak, siapa tadi? Kenapa ngincar kita?" tanya Axel ketika tubuhnya sudah merasa lebih baik. Mereka tengah menikmati makanan di kfc terdekat sembari menunggu pencucian mobil Cheryl selesai.
"Nggak tau, kamu harus lebih hati-hati lagi mulai sekarang," sahut Cheryl mengaduk mocha floatnya. Pikirannya menerawang dan mengira-ngira siapa lelaki itu. 'Kalau musuh-musuh papa kayaknya nggak mungkin. Emang mereka mau menyerahkan nyawa?' lanjutnya dalam hati.
"Sekolahku gimana, Kak? Apa kita bilang aja sama papa?" remaja itu melahap makanan di hadapannya setelah isi perutnya terkuras habis beberapa waktu tadi.
Cheryl mengernyitkan dahinya, menyesap minumannya sedikit demi sedikit sembari berpikir. "Jangan dulu, kalau ada hubungannya sama papa, pasti sudah dikasih pengawal lagi kayak dulu. Sepertinya targetnya aku deh. Besok berangkatnya sama aku aja!" ucap Cheryl mencetuskan ide.
"Nanti mama curiga?"
"Enggak, aku bilang aja ada meeting deket sekolah kamu. Lagian pake mobil Rainer. Pulangnya aku jemput. Kalau memang nggak ada apa-apa, lusa berangkat sendiri kaya biasa. Gimana?"
Axel menaikkan jarinya membentuk bulatan pada telunjuk dan ibu jarinya. Karena mulutnya tengah mengunyah makanan.
Setelah beberapa saat bergelut dengan ilmu kira-kiranya, Cheryl baru teringat satu hal. Dia segera meraih ponsel di saku celananya lalu menghubungi seseorang.
Menunggu selama beberapa detik, terdengar suara lembut di seberang telepon. Cheryl memekik kegirangan. "Luna!" serunya membuat Axel tersedak.
"Kak Cheryl, apa kabar? Tumben telepon? Aku mencium sesuatu yang nggak beres," ucap Luna.
"Aihh, kamu ini mirip om papa kalau ditelepon. Curigaan terus. Tapi bener sih. Hehehe," sambung Cheryl terkekeh.
"Sudah kuduga," sahut Luna sopan.
"Tapi, jangan ngomong sama siapa-siapa ya. Terutama om papa!" Cheryl mengingatkan.
"Iya, buruan, Kak. Nanti aku ditinggal Xavier!" Di seberang sana, Luna tengah bersiap mengenakan sepatunya. Ia memasang earpods di telinga yang sudah tersambung dengan ponselnya.
"Kalian mau ke mana? Main mulu perasaan!" tanya Cheryl menyelidik.
"Buntutin Xavier, Kak. Sekalian cari sensasi baru. Bosen dong di rumah mulu. Terus, apa yang bisa kubanting, Kak?" celetuk Luna.
"Axel nih banting aja, Lun. Biar jadi perkasa! Hahaha!" timpal Cheryl tertawa terbahak-bahak. Berbanding terbalik dengan Axel yang melotot tajam ke arah kakaknya itu. "Eh, Lun. Nanti aku kirim file cctv. Bantuin lacak pemilik motor di rekaman itu ya," lanjutnya kini berubah serius.
"Siapa tuh, jangan bilang ehem-nya Kak Cheryl?" goda Luna.
"Ehem apaan? Bukanlah. Yang jelas dia berbahaya. Patut dibinasakan. Bantuin ya. Selebihnya urusanku."
"Siap! Udahan dulu ya, Kak. Kirim aja, nanti aku kerjain. Xavier dah gedor pintu!" Buru-buru Luna mematikan sambungan ponselnya sebelum Cheryl menjawab.
"Diihh, dasar titisan om papa. Sama-sama suka matiin telepon sembarangan!" gerutunya meletakkan ponsel kembali.
Axel menyeka mulutnya dengan tissu, ingin bertanya sesuatu namun merasa malu. Hanya mengetukkan jari jemarinya di meja. "Kak, nggak jadi balapan dong?" Ia mengalihkan pergulatan batinnya.
"Enggak. Udah badmood gara-gara laki banci tadi. Lain kali aja. Udah belum? Ayo balik!" ajak Cheryl beranjak berdiri merapikan topinya.
Axel yang masih sedikit gemetar mau tak mau, mengekori kakaknya. Mereka segera menuju ke tempat pencucian mobil.
Setelah membayarnya, Cheryl segera membawa mobil itu keluar. Ia berhenti di area parkir, menyambungkan ponsel dengan rekaman CCTV di mobilnya.
"Mau ngapain, Kak?" tanya Axel.
"Menyerahkan pada ahlinya," jawab Cheryl kembali melajukan mobilnya.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Waahh Dokter Luna Tebakan nya mak jleb..Langsung kena..👏👏👏👏👍👍😜😜
2024-08-30
0
Qaisaa Nazarudin
Dokter Luna..Aku pada mu..🥰🥰🥰🥰💋💋💋💋
2024-08-30
0
Qaisaa Nazarudin
🤣🤣🤣🤣🤣
2024-08-30
0