"Iya, Ma!" Cheryl dan Axel menyahut serempak.
Cheryl meneguk ludahnya dengan berat. Ia bersembunyi di balik punggung adiknya yang memang tingginya setara dengannya. Kedua tangannya mencengkeram bahu Axel. Dadanya berdegub hebat, ketakutan merayap di sekujur tubuhnya.
"Apaan sih, Kak?!" Axel menggerakkan kedua bahunya merasa tak nyaman.
"Mama denger nggak ya? Bisa-bisa dikurung nanti aku!" bisik perempuan itu berjalan perlahan.
Meski sudah berusia 24 tahun, Cheryl tetap patuh dengan perintah mamanya. Dia kesulitan berbohong dan mudah panik jika berhadapan dengan wanita cantik yang usianya tak lagi muda itu.
"Mukamu biasa aja, jangan kek orang ketakutan gitu. Nanti mama curiga!" cibir Axel memutar bola matanya malas.
"Ehm!"
Cheryl berdehem, lalu menarik kedua sudut bibirnya dengan kedua jari telunjuk. Deretan gigi putihnya berjajar rapi terlihat jelas. "Gini 'kan?" ucapnya menaik turunkan alisnya.
Axel bergegas membuka pintu karena Jihan terus mengetuk dan berteriak memanggil anak-anaknya.
Pintu terbuka lebar, wanita itu melipat kedua lengannya di dada, sembari melayangkan tatapan tajam. Ujung kakinya bergerak-gerak seolah tengah menunggu penjelasan.
"Mama," panggil Cheryl dengan senyum lebarnya.
"Puas berantemnya?" ucap Jihan tegas.
Dada Cheryl yang seolah terhimpit kini mulai meluruh. Tubuhnya sudah tidak begitu tegang. Wajah cantiknya pun mengurai senyum tulus. Apa yang dikhawatirkan ternyata tidak terjadi.
"Udah pada gede masih aja kaya kucing sama tikus!" sembur Jihan lagi.
"Axel, Ma!" tunjuk Cheryl pada sang adik.
"Kakak, Ma!" seru Axel bersamaan dengan ucapan Cheryl.
"Sudah cukup! Turun, Kak! Axel, ganti baju lalu makan!" titah Jihan dengan tegas.
Cheryl langsung berlari menuruni anak tangga dengan bersemangat. Bahkan tangannya mengepal dengan sempurna, sepertinya rencananya malam ini akan berjalan mulus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya, Cheryl sudah bersiap dengana celana jeans, kaos kedodoran yang dilipat ujung lengannya. Jaket kulit yang diikat di pinggang rampingnya, juga topi hitam yang menambah kesan tomboy namun tak memudarkan kecantikannya.
"Dek!" Cheryl mengetuk pintu kamar Axel.
Pintu terbuka, Axel menatap malas sang kakak, ia bahkan belum bersiap. Masih mengenakan celana pendek dan kaos oblongnya. Cheryl mendelik sembari berkacak pinggang.
"Kok belum siap sih?" geram Cheryl dengan suara tertahan.
"Ayo!" ajak Axel mengabaikan penampilannya yang masih berantakan.
"Heh! Minimal cuci muka sono! Ganti baju kek!" sergah gadis itu.
"Ck! Jadi apa nggak? Kalau enggak lanjut tidur nih!" ancam Axel sudah memutar langkahnya kembali masuk.
"Eeehh! Iya! Iya!" ujar Cheryl menarik ujung kaos Axel.
Lelaki itu berbalik, menutup pintu kamarnya lalu berjalan santai mendahului kakaknya. Cheryl hanya menggerutu dalam hati karena adiknya itu super cuek dengan penampilan. Tidak pernah peduli dengan cibiran orang. Dia tetap menjadi dirinya sendiri.
"Ma! Kami berangkat!" ucap Cheryl ketika melalui ibunya yang sedang duduk anggun di ruang tengah menghadap layar laptop mengerjakan desain gaun.
Jihan menatap pergelangan tangannya, "Pulang jam 10 maksimal! 3 jam dari sekarang. Kalau lebih, sudah tahu ya apa akibatnya. Cheryl jangan nyetir. Biar adikmu saja!" tutur Jihan dengan tatapan mengerikan. Ia sangat tahu, bagaimana anak gadisnya itu membawa mobil. Tentu saja sebagai seorang ibu, ia sangat khawatir.
"Siap, Ma!" ucap Cheryl meraih tangan ibunya dan menciumnya, Axel mengikuti.
"Axel, jangan macam-macam! Kalau nggak, semua fasilitas akan dicabut!" Kali ini Jihan menggertak putranya.
"Heem, Ma," jawab Axel singkat.
Cheryl menggamit lengan adiknya, berjalan riang dengan sepatu casual yang membalut kaki indahnya. Tidak sabar ingin segera beraksi di arena balap, karena selalu berada di bawah pengawasan ketat orang tuanya.
Axel hanya mendengkus, tetapi ia sendiri tidak tega membiarkan kakaknya keluar seorang diri. Meski usianya jauh di bawah sang kakak, tetap saja jiwa lelakinya ingin melindungi orang-orang yang ia sayangi.
"Kamu yang bawa, Dek. Tuh, Mama ngintip di balik jendela," bisik Cheryl di telinga adiknya.
Hanya dengan ekor mata tajamnya, Cheryl bisa mengamati gerakan sang mama sekalipun bersembunyi di balik tirai. Benar saja, wanita paruh baya itu tengah menilik anak-anaknya, baru beranjak ketika mobil putrinya sudah semakin jauh.
"Hemm! Jangan lupa semua janji-janjinya!" Axel mengingatkan.
"Beres!" ucapnya mengangkat jempol, dengan kedua alis terangkat.
Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata, Cheryl tengah mengoperasikan ponselnya untuk berkomunikasi dangan komunitasnya. Sudah lama sejak masih duduk di bangku menengah atas, Cheryl ikut komunitas mobil balap yang dibangun oleh para pemuda di kota tersebut.
Hanya saja, Cheryl melakukannya sembunyi-sembunyi. Berdalih dengan banyaknya tugas sekolah agar selalu bisa mengikutinya.
Tanpa dia sadari, sebenarnya Tiger sudah membaca jelas pergerakan putrinya. Namun, dia diam saja. Tidak ingin terlalu mengekang, membiarkan apapun yang ingin dilakukan Cheryl. Yang terpenting masih berada pada batas kewajaran.
"Kak?" ucap Axel melirik spion mobil sport yang dikendarainya. "Hemm?" gumam Cheryl masih asyik berselancar dengan benda pipihnya.
"Ada yang ngikutin sejak dari tikungan tadi!" Axel berusaha tenang meski dadanya bagai genderang.
Secepat kilat, Cheyl menoleh ke belakang. Matanya memicing ketika melihat pria mengendarai motor sport berwarna hitam tak jauh dari mobilnya.
"Coba perempatan depan belok kanan!" ujar Cheryl masih melirik pada pemotor tersebut. Ia meminta Axel untuk merubah jalur yang dilalui.
Motor tersebut semakin dekat, dan mata Axel mendelik ketika melihat pria itu menodongkan sebuah pistol di tangan kirinya. Melepas handel motor demi melesatkan tembakan.
"Kak!" seru Axel panik.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
makin seru nihhh
2025-03-28
0
Acid
barudak di kucingin
2024-06-19
0
Dini Mulyati
Cheryl kan waktu baby seneng banget di ajak ngebut sama Tiger...
2024-05-24
1