"Ma!" panggil Cheryl menyapa ibunya yang tengah menghidangkan makan siang. Gadis itu berlari kecil memeluk mamanya.
Usai mengantar Cheryl, Rainer harus kembali ke perusahaan untuk bertukar peran dengan Cheryl. Semua orang tahunya, pria itulah sang CEO. Padahal Cheryl yang berada di balik layar. Gadis itu hanya memantau dari rumahnya.
"Hai, Sayang. Gimana meetingnya tadi?" tanya Jihan menoleh sekilas lalu mencium pipi putrinya.
Ibu dua anak itu merupakan pemilik Butik Anastasia. Desainer hebat yang melebarkan sayap mulai dari nol. Berjuang di atas kakinya sendiri ketika Cheryl masih bayi dan tepat saat Tiger, suaminya mengalami koma pasca kecelakaan. Kini butik miliknya sudah semakin berkembang, dan menjadi salah satu butik terbesar di Jakarta.
Belajar dari masa kecil yang selalu dikekang dan disetir ibunya, Jihan sama sekali tidak pernah melarang apa pun keinginan anak-anaknya. Dia selalu mendukung setiap keputusan mereka.
Pernah kehilangan arah dan jati diri di masa muda, merupakan masa-masa yang begitu berat baginya. Karenanya, Jihan tidak mau anak-anaknya mengalami hal yang sama sepertinya.
Bukan memanjakan, lebih tepatnya memberi kebebasan memilih dan menentukan masa depan mereka sesuai skill masing-masing. Namun, tetap memantaunya. Ia akan bersikap tegas ketika anak-anaknya salah langkah.
"Lancar, Ma. Papa mana? Belum pulang?" Cheryl menyomot sebuah udang crispy yang tersaji di meja. Jihan langsung menepuk punggung tangan putrinya itu hingga makanannya terlepas.
"Cuci tangan dulu!" tegasnya dengan tatapan tajam. "Papa ke Palembang tadi pagi, emang belum ngomong sama kamu?" lanjutnya kemudian mendaratkan tubuhnya di kursi makan.
Cheryl berdecak halus, namun tetap menurut. Sejak kecil ia memang anak penurut. Terutama setiap ucapan mamanya. Cheryl juga paling tidak bisa melihat sang mama sedih atau menangis.
"Enggak bilang, Ma. Iih awas aja nanti kalau pulang!" sahutnya memasang wajah kesal duduk di sebelah ibunya.
Cheryl marah bukan karena sang ayah tidak berpamitan, namun karena tidak ditawari ikut. Sejak kecil gadis itu begitu antusias mengikuti kemanapun langkah Tiger. Terutama ketika diajak ke markas besar sang ayah.
Ditambah lagi, Cheryl sangan merindukan aunty mama dan om papanya, beserta adik sepupu kembarnya.
"Uhukk!" Cheryl terbatuk ketika tiba-tiba Axel, adik laki-lakinya menepuk punggung Cheryl saat sedang meneguk minuman.
"Axel!" berang Cheryl meletakkan gelasnya kasar.
Axel segera berlari ke kamarnya, masih mengenakan seragam putih abu-abu. Menandakan baru pulang sekolah. Remaja itu memang sangat jahil terhadap kakaknya.
"Sini kamu!" pekik Cheryl melebarkan langkahnya meniti dua anak tangga agar lekas mencapai adiknya.
Gerakan yang gesit dan lincah, kejar-kejaran seperti itu merupakan hal kecil bagi Cheryl. Ia langsung menjambak rambut adik laki-lakinya itu.
"Aaaaa! Kakak!" pekik Axel kesakitan.
"Apa?!" geram Cheryl semakin menariknya dengan kuat.
"Ampun! Kakakku yang paling cantik, smart, sexy!" rintih Axel menekan telapak tangan Cheryl agar rambutnya tidak semakin ditarik.
Cheryl mendorong tubuh Axel ke dalam kamar, menutup pintu, barulah melepas cengkeraman tangannya. Axel akhirnya bernapas lega, mengusak rambutnya yang berantakan di depan cermin.
"Dek! Nanti malam keluar ya. Ada bapalan di tempat biasa!" ajak Cherl merengkuh bahu kokoh lelaki itu.
"Ogah! Lihat nih rambutku rusak gara-gara kakak!" cebik Axel dengan kesal.
"Hiiyaa, maaf! Abisnya kamu duluan yang mulai. Ayolah dek! Mumpung Papa nggak ada. Uncle Rico pasti ikut. Nggak ada yang mata-matain kita." Cheryl berusaha merayu.
Axel tampak berpikir, melipat kedua lengannya di dada. Sebelah alisnya terangkat, "Apa untungnya buat aku?"
"Yaelah, aku top up in sepuas kamu!" tawar Cheryl, ia paling tahu apa yang diinginkan adiknya itu.
Axel masih memicingkan mata, seolah mengatakan itu tidak cukup. Cheryl tidak bisa keluar tanpa adiknya. Karenanya ia berusaha keras agar Axel mau diajak kerja sama.
"Makan sepuasnya? Belanja? Mau pinjem PS? Ambil dah. Seminggu buat kamu! Tapi temenin aku." Cheryl mengeratkan rangkulannya. "Dek! Ayolah, gatel nih dah lama nggak balapan," lanjut gadis itu.
"Cheryl! Axel!" teriakan Jihan membuat Cheryl membelalak kaget. Refleks mendorong bahu Axel hingga laki-laki itu terhuyung. Ia takut ibunya mendengar ucapannya.
Bersambung~
Jangan lupa like dan komennya ya cintaaah.. biar semangat ngetik lanjutannya 🌹🔥🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
manja bgt Cheryl
2025-03-28
0
Acid
cewe yg gua suka
2024-06-18
0
Rifa Endro
oh.... jadi Cheryl adalah anak dari Tante Jihan dan om Tiger. ingat-ingat ting😉
2024-04-17
2