Cheryl mendengkus kesal. Ia beranjak dengan gerakan sedikit kasar lalu melenggang untuk menghampiri lelaki yang sedari tadi menatapnya.
Cheryl berdiri sembari melipat kedua lengannya di dada. Matanya memicing dan sedikit mencondongkan tubuhnya hingga membuat Jourrel memundurkan punggungnya, bibirnya tersungging senyum tipis sekaligus tatapannya berubah lembut.
"Apa kita ada masalah sebelumnya?" tanya Cheryl penuh penekanan.
"Mmmm ... tidak!" sahut Jourrel mengepulkan asap rokok ke wajah cantik Cheryl, sehingga gadis itu segera mundur sembari mengibaskan tangannya.
"Lalu kenapa matamu terus menatapku sejak kamu duduk di sini. Ooh! Jangan-jangan, kamu menggunakan tubuh saya untuk fantasy liar di otak kamu, iya?!" tuduh Cheryl menggebrak meja penuh amarah.
"Kalau iya, kenapa?" sahut Jourrel dengan senyum smirk-nya sembari mengepulkan asap rokok tepat di wajah cantik Cheryl lagi.
Manik indah abu gadis itu melotot tajam, giginya bergemeletuk kuat, ia tidak suka ada yang melecehkannya seperti itu. Dengan gerakan cepat dan tak terduga, Cheryl mencengkeram kuat lengan Jourrel, memutarnya lalu menepuknya kuat hingga puntung rokok terjatuh.
Setelahnya, gadis itu melayangkan sebuah tamparan keras di pipi pria itu. "Hari ini aku cuma menyentuh pelan lenganmu, lain kali akan aku patahkan jika kamu berani melakukannya lagi!" ancamnya menunjuk wajah tampan yang meringis kesakitan sembari memutar-mutar bahunya.
"Cantik dan pemberani!" gumam pria itu pelan tak melepaskan tautan mata mereka.
"Weiih! Cheryl! Jangan bikin ribut!" Rain yang baru selesai membereskan semua dokumennya segera berlari menghampiri atasannya.
"Dia yang duluan!" Cheryl menatap pria itu tajam dengan napas yang menderu kasar.
"Heh! Ralat, kamu yang menghampiriku duluan!" elak Jourrel menyandarkan punggungnya menunjuk Cheryl.
Cheryl hendak memukul pria itu lagi, namun dengan cepat Rain segera menarik tubuhnya. "Udah, ayo! Bisa-bisa digembok mama kamu nanti, nggak boleh keluar!" bisik Rainer.
Rainer tentu sangat hafal dengan sikap posesif orang tua Cheryl. Dia berada di bawah pengawasan ketat orang tuanya. Sedikit saja terlibat hal berbahaya, sudah pasti Jihan, ibunya akan mengurung Cheryl dan tidak boleh melakukan apa pun.
"Awas lo!" Cheryl mengepalkan tangannya, memberi ancaman pada Jourrel, kakinya menendang kursi yang ada di seberang Jourrel lalu berbalik dengan kesal.
Rain masih menggenggam erat lengan Cheryl. Ia takut jika terlepas, Cheryl akan hilang kendali dan melakukan hal yang lebih mengerikan. Membayangkan saja membuat Rain bergidik.
"Masuk!" ucap Rain membukakan pintu penumpang belakang.
Cheryl masih menggebu-gebu ketika duduk di kursi penumpang. Wajah cantiknya semakin kusut. Rain segera melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata. Keduanya terdiam selama beberapa saat.
"Lagian ngapain sih ngurusin orang nggak jelas gitu?" Rain membuka suara ketika sudah setengah perjalanan.
"Gue nggak terima ya, para otak mesum itu pake diri ini buat fantasy liarnya!" ketus Cheryl tanpa menoleh. Pandangannya sedari tadi mengarah keluar jendela.
"Ah, lu-nya aja yang kepedean!" cetus Rain dengan santainya.
Cheryl menoleh kilat. Ia langsung memukul kepala Rain dengan setumpuk dokumen yang ada di sebelahnya hingga membuat Rain terkejut, untung saja masih bisa mengendalikan setirnya.
"Aduhh! Cher! Ini penganiayaan!" rintih Rain mengusap-usap kepalanya.
"Sejak dia masuk dan duduk, dia selalu natap aku dari ujung rambut sampe ujung kaki. Apa coba namanya?" cebik Cheryl dengan kesal. Karena sahabat sekaligus asistennya itu justru tidak membelanya.
"Ya mana ku tahu!" Rain mengedikkan bahunya. Bisa-bisa remuk tubuhnya jika mengiyakan ucapan gadis itu. "Terus kemana nih?"
"Pulang lah. Nggak sanggup dengerin mama ngomel-ngomel kalau jam makan siang masih di luar!" celetuk Cheryl kembali menyandarkan punggungnya.
Tanpa mereka sadari, sebuah motor sport berwarna hitam kini mengekorinya sejak tadi. Ketika Cheryl keluar dari restoran, Jourrel segera meraih kunci motornya dan melesat pergi.
Tujuannya jelas, untuk semakin mengetahui seluk beluk targetnya. Jourrel mengikuti dengan jarak aman. Namun mata elangnya tidak lepas sedikit pun dari mobil yang dikendarai Cheryl.
Hingga sampailah ia di Kediaman Sebastian, rumah megah dan mewah bak istana menjulang tinggi di hadapannya. Jourrel mengawasi dari seberang jalan, sampai mobil Cheryl menghilang di balik gerbang tinggi.
"Wow!" gumam Jourrel penuh kekaguman. Ia melepas helm yang sedari tadi menutup penuh kepalanya, meninggalkan sepasang mata elangnya saja. Ia masih duduk di atas motor kesayangannya.
Decakan kekaguman terus bergulir dari bibir tipisnya. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru bangunan yang begitu megah dan luas.
"Hmmm, sepertinya lebih sulit dari yang aku kira," gumamnya mengira-ngira. Melihat pintu gerbang yang terbuka otomatis setelah klakson dinyalakan, lalu beberapa orang berseragam hitam berbaris rapi juga sempat terlihat di matanya ketika gerbang yang menjulang tinggi itu terbuka.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
jodoh mungkin 🤭🤭🤭🤭
2025-03-28
0
nobita
hhhmmm biasalah horang kayahhh
2024-09-17
0
Qaisaa Nazarudin
Wah calon lakik mintak di gampar nih..🤣🤣
2024-08-30
0