Victoria perlahan memproses perkataan yang baru saja di ucapkan Kaizo padanya. Itu membuatnya tiba-tiba melepaskan cambuknya dengan wajah yang memerah.
"Tidak!" Victoria berteriak dengan suara yang lucu.
Anehnya, dia dengan cepat menyembunyikan dadanya dengan kedua tangan. Itu merupakan tindakan yang cepat menurut situasi yang dia hadapi saat ini.
"Ah, bodoh!" Kaizo tanpa sadar berseru.
Victoria yang telah melepaskan cambuknya, tiba-tiba kehilangan kendali dari cambuk api tersebut. Cambuk itu dengan liar memotong pepohonan di belakangnya hingga bersih dan menjadi hutan yang gundul.
Pohon-pohon besar perlahan tumbang dan salah satu dari mereka jatuh tepat ke arahnya.
Namun, Victoria tidak memperhatikan mereka karena matanya terpejam akibat malu sambil terus memeluk dadanya yang telanjang.
"Sialan!" keluh Kaizo sambil menendang tanah, berlari dengan seluruh kekuatannya menuju kolam air dan melompat ke arah Victoria.
"Apa!?" pupil merah Victoria melebar melihat Kaizo yang mendekatinya.
Kaizo dengan cepat terjun ke kolam air dan segera meraih bahunya yang terlihat gemetar. Ia mengabaikan ledakan beruntun yang terjadi di sekitarnya dan dengan agresif mendorong Victoria ke dalam air.
Srash
Saat tangan Victoria menyentuh air, semburan uap naik dan cambuk api menghilang.
Segera setelah itu, pohon-pohon di dekatnya bertabrakan dengan permukaan air dan menciptakan suara keras yang memekakkan telinga.
Akibatnya, pohon tumbang tersebut menciptakan kolom air yang besar. Dia menyerap panasnya api, dan air kolam yang sekarang hangat mengalir seperti hujan.
Beberapa detik kemudian...
"Oh..." Victoria membuat suara yang menggoda saat dia perlahan membuka matanya.
Ekspresinya kaget, matanya berkedip heran saat menyadari Kaizo bersandar padanya dan mendapati dirinya menatap lurus ke matanya.
Wajah mereka begitu dekat sehingga jika seseorang mendorong punggungnya dengan ringan, bibir mereka kemungkinan besar akan bersentuhan.
Rambut merah Victoria menempel erat di tengkuknya. Bibirnya yang lembab berwarna merah ceri, memikat seseorang untuk mencicipinya.
Wajahnya yang halus seperti boneka, tepat berada di depan mata Kaizo. Untuk sesaat sepertinya dia secara tidak sadar terpikat oleh kecantikan alaminya.
Kaizo dengan cepat menggelengkan kepalanya. "A-apa kamu baik-baik saja? Apa kamu terluka?"
Victoria hanya bisa mengangguk pelan.
Sepertinya dia belum sepenuhnya menyerap situasi yang tengah terjadi. Kaizo menghela napas, lalu mencoba berdiri untuk menghindari kesalahpahaman yang lebih besar.
Saat hendak berdiri, tangan Kaizo tiba-tiba menyentuh sesuatu yang lembut di bawah air. Dia tidak pernah menyentuh sesuatu yang lembut seperti itu, bahkan dalam hidupnya saat ini.
Bersamaan dengan Kaizo menyentuh benda lembut itu, Victoria bersuara imut.
"Hwaaah!"
"Apa itu? Lumpur?" pikir Kaizo menarik kesimpulan.
Dari bibir lembab Victoria, terdengar suara yang lembut dan manis. Tubuh telanjangnya yang terendam berkedut karena suatu alasan yang tidak pasti.
"Ini...?"
Setelah sampai sejauh ini, Kaizo akhirnya sampai pada kesimpulan tertentu dan bergumam dengan keringat dingin. "Aku tidak ingin apa yang kupikirkan menjadi kenyataan. Itu sangat menakutkan."
"Tu-tunggu, tenang. Ini tidak mungkin hal itu, 'kan?" Kaizo mati-matian mencoba untuk menyangkal kemungkinan seperti itu. "Ini tidak mungkin. Ketika aku melihat miliknya sebelumnya, mereka tidak begitu—"
"A-apa... apa yang kau lakukan pada..." bibir Victoria bergetar tanpa sadar. Dia memerah dengan air mata di matanya yang perlahan mengalir turun. "Kamu, cabul!"
"Gwah!" Kaizo berteriak kesakitan karena perutnya di tekuk dengan keras dan ambruk ke dalam air kolam.
Suara kabut panas naik dari permukaan sungai. Dengan kabut panas yang meningkat di belakangnya, Victoria perlahan berdiri.
Cambuk api yang merupakan manifestasi dari roh apinya, sekali lagi berada di genggaman tangannya.
Air di kolam seketika mulai mendidih, banyak gelembung berbuih ke permukaan di sekelilingnya.
"Ti-tidak, ini salah paham! Tunggu, jika kamu melakukan itu, aku benar-benar akan mati!" Kaizo memohon untuk pertama kali dalam hidupnya.
Victoria mengangkat tangannya ke atas tak peduli pada ucapannya. "Di-diam cabul! Kamu akan mati di sini!"
Blammm
Dengan suara ledakan yang hampir memekakkan telinga dan nyaring, tubuh Kaizo terlempar tinggi ke udara dan jatuh dengan kuat menghantam tanah.
****
Beberapa menit kemudian...
Ugh!
Kaizo perlahan tersadar dari tidurnya. Pertama yang ia lihat adalah hutan luas terbentang di depan matanya.
Dia mencoba untuk bangun, tapi tiba-tiba dia sadar ada sesuatu yang melingkar di lehernya. Itu adalah cambuk kulit hitam yang biasa di gunakan untuk menyiksa.
"Benda apa ini?" gumam Kaizo sambil mencoba melepaskan cambuk yang terikat di lehernya.
"Kamu akhirnya bangun, dasar cabul pengintip."
Krkkk
Cambuk di lehernya mengencang hingga membuat Kaizo tercekik dan terbatuk. "Ugh! Le-lepaskan aku."
Kaizo kemudian melihat ke atas dan terlihat gadis muda berambut merah memegang ujung dari cambuk yang mengikat lehernya.
Gadis itu, Victoria Blade berdiri di atasnya dengan tangan di pinggang sambil menatap Kaizo dengan alis yang terangkat ke atas.
Kali ini dia tidak telanjang. Victoria telah berubah menjadi memakai seragam sekolah yang menggemaskan.
Polanya adalah garis biru di atas bidang putih bersih. Itu adalah seragam resmi dari Akademi Putri Sizuan.
Sebuah pita menghiasi bagian depan seragamnya, dan pola unik di jahit di tempat di mana kancing biasanya di letakkan.
Di antara celah stoking selutut berwarna hitam dan rok yang di lipatnya, kakinya yang indah dan ramping menonjol dengan cemerlang. Pita kecil mengikat rambut merahnya di belakang.
Inilah yang orang-orang sebut sebagai gaya rambut ponytail. Di lihat dari rambutnya yang masih basah, sepertinya Kaizo belum lama kehilangan kesadaran.
Menjaga leher Kaizo terikat, Victoria membusungkan dada kecilnya ke depan sambil mendengus. "Yah, bersyukurlah. Aku bersikap lunak padamu dan tidak mencoba membunuhmu secara langsung."
"Itu pasti bohong. Kau pasti berniat membunuhku, 'kan?" balas Kaizo dengan wajah datar.
Victoria menurunkan alisnya dan berbicara dengan tenang. "Apa yang kamu bicarakan? Jika aku lebih serius, kamu pasti sudah menjadi abu sekarang."
"Dia baru saja mengatakan sesuatu yang sangat menakutkan dengan wajah yang sangat tenang." pikir Kaizo dengan memasang ekspresi wajah gugup.
"Aku minta maaf. Cepat jauhkan aku dari menjadi abu. Bagaimanapun, aku membantumu!" Kaizo memohon.
"Yah, ya baiklah. Aku adalah wanita cantik berpangkat bangsawan, jadi aku akan memberimu pujian atas bantuanmu. Meski begitu, kamu adalah kelas yang lebih tinggi dari cabul rata-rata, jadi kamu cabul tingkat tinggi!" bentaknya sambil menatap tajam ke arah Kaizo.
"Pada akhirnya sebutan cabul itu tidak berubah." Kaizo menghela napas sedih dan menyadari sesuatu. "Ngomong-ngomong, bukankah cabul kelas tinggi bahkan lebih buruk dari sebutan cabul rata-rata?!"
Victoria kemudian memeluk dirinya sendiri dengan wajah tersipu malu. "Aku yakin kamu hanya berpura-pura membantuku! Ka-kamu menyentuhnya!"
Mengingat apa yang terjadi terakhir kali, wajah Victoria tiba-tiba berubah menjadi merah padam.
Melihat reaksi seperti itu darinya, Kaizo punya ide bagus untuk lepas dari takdir menyedihkannya saat ini.
(Gadis ini, mungkinkah dia orang yang seperti itu?)
"Jadi sepertinya nona ini adalah tipe mesum yang memiliki hobi mencambuk pria." ucap Kaizo menggoda Victoria dengan acuh tak acuh.
Victoria tersentak dan cemberut. "Apa!? I-itu tidak benar! Aku bukan orang mesum seperti itu!"
Responnya segera seperti yang Kaizo harapkan. Dia menggelengkan kepalanya dengan kuat dan pipinya langsung menjadi merah padam sampai ke telinganya.
"Kalau begitu, apakah kamu senang di cambuk?" Kaizo dengan licik melanjutkan godaannya.
"A-apa... apa yang kau katakan?" mata Victoria berputar saat hembusan uap keluar dari kepalanya.
"Oh, seperti yang kuduga." Kaizo tersenyum pahit.
(Gadis ini benar-benar polos.)
Kemungkinan besar bukan hanya Victoria yang sepolos ini. Lagipula, Akademi Putri Sizuan adalah sekolah tempat para gadis putri elementalist berkumpul.
Hanya gadis murni yang mampu bertukar perasaan dengan roh dari Alam Roh.
Di antara para putri suci, mereka yang memiliki cukup Divine Power untuk memerintahkan roh terkontrak adalah gadis dari garis keturunan raja atau bangsawan.
Mereka biasanya berasal dari keluarga kuno dan terhormat, yang darah elementalistnya telah di perkuat melalui pernikahan dari banyak generasi.
Untuk menjaga kemurnian tubuh dan hati mereka, gadis-gadis ini di besarkan di lingkungan yang benar-benar terpisah dari kontak dengan laki-laki sejak masa kanak-kanak hingga dewasa.
Apa yang di sebut pendidikan elit untuk elementalist tidak memiliki tempat untuk laki-laki. Oleh karena itu, semua gadis yang menghadiri akademi adalah putri super polos yang tidak terbiasa berurusan dengan pria.
Menemukan kelemahan Victoria yang mudah di kenali, Kaizo berpikir untuk mengerjainya.
Dari posisi berlutut, Kaizo menatap wajah merah cerah Victoria yang malu dan tampak lucu.
"Ka-kalau begitu, ada sesuatu yang ingin kukatakan sejak aku bangun." Kaizo tergagap mencoba untuk bermain-main lebih jauh lagi.
"A-ada apa, dasar cabul?" Victoria menjawab dengan hati-hati karena hatinya sudah tidak sanggup lagi.
Kaizo mengalihkan pandangan matanya. "Aku bisa melihat pakaian dalammu dari sudut ini.
Huh?
"Kyaaa!" teriaknya lantang dengan air mata yang mulai mengambang di mata merahnya. Ia buru-buru menekan pinggiran roknya dengan kedua tangan.
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 277 Episodes
Comments
Surya Mulya
seru..lucu..smg kedepannya lbh menghibur ..mantaaapb thorrr
2024-01-27
1
CRZ ENZI
krenn
2022-12-10
2
Author yang kece dong
Semangat... kok ganti lagi kak
2022-07-22
3