Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.
***
Bab 18
Perasaan Aulia saat melihat tamu yang datang ke rumah, antara senang dan gugup. Melihat laki-laki yang belakangan ini sering mengusik kehidupannya. Paras tampan yang bercahaya, tatapan mata yang teduh, dan senyum yang menawan. Sering membuat Aulia beristighfar karena senang memandangi laki-laki yang bukan mahramnya.
Setelah meletakan gelas berisi air teh manis dan dua toples berisi keripik. Aulia pun duduk di sofa yang berhadapan dengan Fathir.
"Ada apa, ya, Gus?" tanya Aulia sambil menundukkan kepalanya karena dia malu tidak memakai cadar.
"I-tu?" Fathir tenggorokannya terasa kering.
"Di minum dulu tehnya, Gus." Aulia merasa kasihan karena kakak dari sahabatnya itu seperti kering tenggorokannya.
"Terima kasih," kata Fathir dan mengambil gelas di depannya, lalu dia pun meminumnya,"bismillahirrahmanirrahim."
Segelas air teh manis itu pun langsung habis dalam satu napas. Fathir benar-benar gugup saat ini.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu yang sangat privasi kepada kamu Aulia?" tanya Fathir pada akhirnya.
"Boleh, Gus. Saya akan jawab jika mampu menjawabnya," balas Aulia.
"Usia kamu saat ini berapa tahun?" tanya Fathir. Padahal dia sudah tahu dari adiknya yang memberi tahu tanggal kelahiran Aulia kemarin.
"Saya sudah menginjak sembilan belas tahun," jawab Aulia.
"Lalu, apakah ada rencana ingin menjalin suatu hubungan yang berkomitmen dengan laki-laki?" tanya Fathir dengan gugup. Tangannya mencengkram kedua lututnya.
"Maksud Gus, apa? Bukannya kita itu tidak boleh berpacaran?" Aulia balik bertanya.
"Siapa bilang, kita tidak boleh berpacaran?" Fathir malah menyangkal.
"Bukannya berpacaran haram karena itu merupakan salah satu dari perbuatan yang mendekati zina? Kenapa Gus tidak mengerti hal ini," ujar Aulia agak kecewa.
"Itu jika dilakukan sebelum menikah. Tapi, jika dilakukan setelah menikah, itu malah mendapatkan pahala," balas Fathir menahan senyumnya saat melihat ekspresi wajah Aulia.
"Ja-di, maksud Gus itu me-nikah?" tanya Aulia tergagap saking terkejut dan deg-degan di saat bersamaan.
"Iya, Aulia. Apakah sudah ada laki-laki yang mengajak kamu untuk berkomitmen?" tanya Fathir kini tatapan matanya tidak lepas dari gerak dan bahasa tubuh Aulia.
"Belum ada. Saya sadar diri masih perlu banyak belajar untuk menjadi seorang muslimah sholehah. Sehingga, belum ada laki-laki yang mau menjadikan saya sebagai makmumnya," jawab Aulia merendah.
Fathir agak terkejut mendengar perkataan Aulia barusan. Setahu dia sudah ada beberapa orang yang meminta melakukan ta'aruf kepada Aulia melalui Kakek Yusuf.
"Aku rasa kamu sudah cukup umur untuk menjalin hubungan yang serius. Pemahaman agama kamu juga sudah sangat baik sekarang. Umma yang bilang padaku kalau kamu sudah hafal juz ke tiga puluh. Juga kata Annisa, kamu itu pandai memasak juga mengurus dan menjaga rumah. Kamu orang yang bisa dipercaya kata Ustadzah Halimah. Ustadz Yusuf juga bilang kalau kamu sudah menjadi seorang wanita muslimah yang cerdas," puji Fathir dan itu membuat Aulia sangat malu.
"Mereka terlalu berlebihan menilai saya, Gus. Saya tidak sebaik yang mereka kira," balas Aulia.
"Aulia, maukah kamu menjadikan aku sebagai imammu?" tanya Fathir dengan penuh harap.
Jantung Aulia merasa bertalu-talu. Tubuhnya bergetar, entah saking senangnya atau malah merasa takut.
"Gus, sadar dengan apa yang barusan diucapankan?" Aulia malah balik bertanya lagi. Takut tadi laki-laki itu salah ucap.
"Sadar. Aku tahu apa yang barusan aku katakan kepada kamu. Aku ingin menjadi imam kamu. Aku berharap menghabiskan waktu bersama kamu dalam naungan ridho Allah Azza Wa Jalla," balas Fathir.
Air mata Aulia meleleh membasahi pipinya. Betapa bahagianya dia saat laki-laki idamannya meminta dia untuk menjadi pendamping hidupnya. Rasanya dia ingin langsung menjawab, 'Iya, bersedia!'
"Gus, Anda tahu bagaimana masa lalu saya. Aku sadar, bagaimana pun hal itu pastinya akan menjadi masalah," ucap Aulia.
"Aku tahu. Dan aku tidak mempermasalahkan hal itu. Aku melihat kamu yang sekarang dan kamu yang akan datang. Biarkan saja masa lalu itu menjadi rahasia kita saja," balas Fathir.
"Terima kasih, Gus. Izinkan saya untuk membicarakan ini dengan Kakek Yusuf dan Nenek Halimah. Juga saya ingin melakukan istikharah dahulu," tukas Aulia.
"Iya. Aku akan menunggu jawaban kamu," ucap Fathir.
Berawal dari rasa kagum, keduanya menjadi suka. Di mana sebuah perasaan yang muncul di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Rasa kagum akan muncul setelah kita merasa tertarik kepada seseorang.
***
Saat malam hari setelah kepulangan Kakek Yusuf. Aulia membicarakan hal tadi. Dia sendiri bingung dan tidak pernah melakukan sholat istikharah.
"Lakukanlah dengan niat minta petunjuk kepada Allah. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk segala urusan kamu," kata Kakek Yusuf.
"Akan Aulia lakukan. Apapun hasilnya, insha Allah, Aulia akan ridho," balas Aulia.
***
Keputusan apa yang akan di ambil oleh Aulia dari hasil sholat istikharah nya? Tunggu kelanjutannya ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Nimas Bin Udin
masa Alloh seandyenya suamiku bisa bersikap seperti itu bahagianya hati
2024-12-25
1
Sheenta_12
Subhanallah langsung meleleh hati ini pak ustadz 😍😂
2022-10-26
3
Susilawati Rela
secara sadar atau tidak, kisah masa lalu Aulia pasti mempengaruhi alam bawah sadar Aulia dan itu pasti akan menimbulkan ketakutan ketakutan sendiri dalam hatinya Aulia......
2022-08-01
6