Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian bahagia.
***
Bab 17
"Kenalkan nama aku, Aulia," kata Aulia tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
"A-ra," balas gadis itu tergagap dan suaranya terdengar aneh. Serak dan mencicit.
Jujur Aulia tidak pernah mendengar suara seperti itu sebelumnya. Dia sampai meneteskan air matanya. Terbayang sulitnya Mutiara berbicara.
"Ara, apa kamu bisa menggoreng?" tanya Aulia.
"Bi-bisa," balasnya lagi.
"Aku akan tunjukan cara membuat keripik dan sampai keripik berwarna keemasan. Tidak boleh terlalu kuning muda atau kuning kecoklatan," kata Aulia. Lalu, dia pun menjelaskan sambil praktek.
Mutiara pun mengikuti langkah-langkah yang sudah di contohkan oleh Aulia. Hasilnya lumayan bagus menurut Aulia. Pikirannya, jika sering membuatnya, maka akan lebih bagus lagi hasilnya.
"Eh, ada siapa ini?" tanya Nenek Halimah.
"Ini, Nek. Teman yang akan membantu Aulia membuat keripik. Belakangan banyak yang minta order keripik. Tapi, Aulia tidak punya waktu lagi. Jadi, ikutin saran Kakek saja. Mencari pegawai untuk membantu Aulia," jawab Aulia.
Mutiara pun mengenalkan dirinya. Ternyata gadis itu kenal kepada Nenek Halimah. Sebaliknya juga, Nenek Halimah kenal dengan neneknya Mutiara.
"Oh, kamu cucunya Mintarsih. Sampai pangling, ternyata sekarang sudah besar," kata Nenek Halimah.
"I-iya Us-Ustadz-ah," balas Mutiara seperti kesulitan bicara.
Aulia tidak tahu apa yang menyebabkan Mutiara bicaranya seperti ini. Dia jadi tidak tega mengajaknya bicara, kalau Mutiara sampai harus banyak-banyak menjawab.
"Semoga kamu betah bekerja di sini bersama Aulia," kata Nenek Halimah.
"In-sha Allah, be-tah," balas Mutiara mencicit.
***
Kini Aulia dan Kakek Yusuf sedang berbincang-bincang seperti biasanya. Ternyata Kakek Yusuf juga tahu dengan kisah hidup Mutiara. Hanya saja, Kakek Yusuf tidak menceritakan detailnya. Hanya saja, dia bilang Mutiara adalah gadis yang malang. Dia berharap Aulia bisa menyayanginya dan menganggapnya teman.
"Kewajiban orang tua kepada anak itu sangat banyak. Diantaranya adalah: menjadi orang tua yang baik. Memberikan nama yang baik artinya, bagus, dan mulia untuk sang anak. Memberikan ASI untuk si anak. Mengajarkan atau memberikan ilmu agama kepada anak. Memberikan nafkah untuk anaknya. Memberikannya makanan halal. Menikahkan anak dengan calon yang baik untuknya. Bersikap adil padanya. Mengkhitan anak-anaknya. Memberikan pendidikan yang baik. Memberikan kasih sayang dan menjaganya dengan baik," jelas Kakek Yusuf memberitahu Aulia agar dia tidak salah nanti saat sudah menjadi orang tua. Dia ingin Aulia tahu kewajibannya sebagai orang tua nanti.
"Lalu, Kek. Sekarang banyak orang tua yang tega membuang bayi. Apalagi kalau bayi itu hasil dari hubungan di luar nikah. Apakah mereka pantas menuntut hak pada anaknya nanti?" tanya Aulia.
"Baik buruk orang tua kandung kita, tetap tidak bisa dipungkiri kalau kita adalah anaknya. Jika, anak itu mencintai Allah dan selalu menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Maka, dia akan memperlakukan orang tuanya itu dengan baik. Meski mereka dulunya tidak memberikan hak pada anaknya. Atau orang tuanya itu tidak melaksanakan kewajiban terhadap dirinya. Maka, kita itu harus melakukan sesuatu dengan niat karena Allah dan mengharapkan keridhoan-Nya. Kalau kita berbuat baik pada manusia dan mengharapakan kebaikan atau meminta balas kebaikan untuk kita kembali, pastinya kita akan sering sakit hati," jelas Kakek Yusuf.
"Iya, Kek. Apa yang dibilang barusan itu benar. Dulu Aulia sering membantu teman atau menolong mereka. Namun, saat Aulia perlu bantuan mereka, tidak ada seorang pun yang memberikan bantuan. Banyak sekali alasan yang mereka buat," ujar Aulia.
"Makanya, berharap itu hanya kepada Allah. Dia akan mengirimkan bantuannya kepada kita tanpa disangka-sangka dan tanpa diduga-duga," kata Kakek Yusuf dengan senyum hangatnya.
"Iya, Kek. Kita berbuat baik juga jangan karena ingin dipuji. Nanti tidak dapat pahala," pungkas Aulia sambil menyeringai. Dulu dia tidak pernah melibatkan Allah dalam segala urusannya. Rasanya jadi sia-sia kebaikannya karena niatnya bukan karena Allah.
"Semoga, kamu bisa menjadi seorang ibu yang baik dan menjadi orang tua yang mampu mencetak generasi penerus yang hebat," ucap Kakek Yusuf Mendoakan Aulia.
"Aamiin. Aamiin Ya Rabbal Alamin."
***
Tiga bulan kemudian.
Fathir mendatangi rumah Kakek Yusuf saat siang hari. Kebetulan dia baru pulang mengajar. Dia senang saat melihat Aulia lah yang membukakan pintu untuknya.
"Assalamu'alaikum," salam Fathir.
"Wa'alaikumsalam, Gus Fathir. Mau ketemu Kakek?" tanya Aulia dengan senyum cantiknya.
"Apa Ustadz Yusuf ada?" tanya Fathir.
"Kakek pergi mengisi pengajian ke dusun sebelah. Sepertinya akan malam pulangnya," jawab Aulia.
"Apa kita berdua bisa bicara?" tanya Fathir dengan gugup.
"Boleh. Masuk dulu, Gus. Saya buatkan dulu minuman." Aulia pun pergi ke dapur dan membuat teh manis. Kebiasaan orang di sini kalau ada tamu selalu di buatkan teh manis. Mau itu panas, hangat, ataupun dingin.
Aulia pun membawakan dua gelas air teh hangat dan dua toples keripik pisang dan singkong. Hanya itu yang ada di rumah.
"Ada apa, ya, Gus?" tanya Aulia.
"I-tu?" Fathir tenggorokannya tercekat.
***
Apa yang mau dikatakan oleh Fathir? Tunggu kelanjutannya, ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Nimas Bin Udin
mungkin Fathir mau mengutarakan isi hatinya ..
2024-12-25
1
teti kurniawati
saya mampir
2022-11-16
3
🌷💚SITI.R💚🌷
fathir mau melamar aulia sprtiy nih...baca novel banyak dapat ilmuy jg..sukses thoor
2022-09-03
1