Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu kasih like dan komentar. Semoga kebaikan teman-teman dapat balasan yang lebih baik.
***
BAB 8
Tidak terasa Aulia tertidur sambil duduk karena kelelahan menangisi penuh penyesalan akan perbuatan dosa-dosanya. Meski begitu mulutnya tidak berhenti dari lafadz, astaghfirullah.
Nenek Halimah yang hendak mengajaknya sarapan pun ikut meneteskan air matanya, saat mendengar suara lirihan Aulia yang sedang beristighfar. Wanita tua itu tidak jadi membangunkan Aulia. Dia merasa kalau Aulia saat ini membutuhkan waktu untuk istirahat.
"Kamu pasti banyak menangis memohon ampunan akan dosa-dosamu. Semoga Allah mengampuni dosamu, Nak," lirih Nenek Halimah sambil membelai rambut Aulia.
***
"Bagaimana, Bu?" tanya Kakek Yusuf ketika Nenek Halimah mendatangi ruang makan.
"Dia sepertinya kelelahan berdzikir sampai tertidur kembali," jawab Nenek Halimah sambil duduk.
"Dia itu gadis baik yang sempat tersesat dan jatuh ke perbuatan dosa besar," kata Kakek Yusuf.
"Iya, Aulia meski tidur, tetapi mulutnya tidak berhenti beristighfar. Aku yakin kalau dia benar-benar sangat menyesali perbuatannya dulu," ucap Nenek Halimah dengan suaranya yang lirih.
"Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang langsung bertaubat setelah melakukan perbuatan dosa dan tidak mengulanginya lagi," kata Kakek Yusuf.
***
Betapa terkejutnya Aulia saat menyadari hari sudah siang. Dia pun keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar mandi. Rumah nampak sepi tidak terasa tanda-tanda kehidupan.
Setelah selesai mandi, Aulia mencari keberadaan Kakek Yusuf dan Nenek Halimah. Dia mengelilingi rumah yang didominasi terbuat dari kayu jati.
Saat dia keluar rumah untuk mencari orang tua angkatnya, Aulia melirik kepada orang-orang yang menatap aneh kepadanya. Rumah milik Kakek Yusuf berada di sisi jalan umum, sehingga banyak orang yang lewat.
"Kenapa para lelaki itu menundukkan kepala? Apa aku terlihat mengerikan?" tanya Aulia pada dirinya sendiri.
Mata Aulia terlihat merah dan bengkak karena terlalu banyak menangis. Tapi, tadi dia sudah menutupinya dengan make up tipis.
"Assalammu'alaikum," salam seseorang begitu Aulia masuk ke kamarnya.
"Wa'alaikumsalam," balas Aulia yang berjalan kembali ke arah pintu depan.
"Eh, Gus Fathir. Ada apa?" tanya Aulia.
"A, astaghfirullahal'adzim." Fathir cepat-cepat menundukkan kepalanya seraya bertanya, "Ada Ustadz Yusuf?"
'Kenapa dia langsung menunduk begitu?' tanya Aulia dalam hatinya.
"Sepertinya Kakek Yusuf dan Nenek Halimah sedang pergi keluar. Barusan aku juga mencari mereka, tapi tidak ada di rumah," balas Aulia.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Assalammu'alaikum," ucap Fathir dan segera membalikkan badannya.
"Wa'alaikumsalam," balas Aulia agak berteriak.
"Kenapa sih, orang-orang di sini suka menundukkan kepalanya? Apa ada sesuatu di bawah, ya?" gumam Aulia sambil melihat di bawah lantai dan tanah.
"Tidak ada apa-apa, kok," lanjutnya lagi.
***
Saat mendekati waktu Dzuhur, Kakek Yusuf dan Nenek Halimah baru sampai ke rumah. Aulia menyambut mereka dengan suka cita, senyum cantiknya terpancar dari wajah sembabnya.
"Kakek Yusuf dan Nenek Halimah sudah dari mana?" tanya Aulia setelah menyalami tangan kedua orang yang sudah tua itu.
"Kita habis dari toko baju," jawab Nenek Halimah.
"Tadi ada Gus Fathir ke sini dan menanyakan Kakek," kata Aulia kepada Kakek Yusuf.
"Gus Fathir? Oh, iya. Kalau begitu aku pergi ke pesantren dulu, Bu," ucap Kakek Yusuf pun pergi kembali.
"Pak, baju gantinya cek dulu, apa sudah tersimpan di bagasi?" titah Nenek Halimah kepada suaminya.
"Alhamdulillah, sudah ada, Bu. Assalammu'alaikum," ucap Kakek Yusuf sambil melambaikan tangannya.
Kedua wanita beda generasi itu pun masuk ke dalam rumah. Nenek Halimah menyerahkan satu paper bag berukuran besar kepada Aulia.
"Ini apa, Nek?" tanya Aulia ketika menerima bingkisan itu.
"Baju set gamis sama jilbabnya," jawab Nenek Halimah sambil tersenyum lembut.
"I-ni un-tuk a-ku, Nek?" tanya Aulia dengan tergagap dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya. Mulai sekarang pakailah baju layaknya seorang muslimah agar kehormatan dirimu terjaga. Allah memerintahkan kepada kita, kaum wanita, untuk menjaga aurat dari ujung kaki sampai kepala," jawab Nenek Halimah.
"Terima kasih, Nek." Aulia memeluk tubuh wanita yang sudah renta itu dan kembali terisak. Kali ini dia menangis karena bahagia.
"Sana coba pakai! Nenek mau melihat kamu memakai baju muslim ini," titah Nenek Halimah.
Aulia pun mencoba memakai gamis kombinasi berwarna hijau muda dan hijau tua. Jilbab lebar yang menjulur menutupi sampai perut dan pantatnya. Saat Aulia mematut dirinya di depan cermin. Dia terpana melihat dirinya yang terlihat cantik saat mengenakan jilbab.
"Ya Allah, ternyata aku terlihat lebih cantik saat memakai jilbab," gumam Aulia sambil menatap cermin yang memantulkan bayangan wajahnya.
"Nak, apa sudah dipakai? Sini, Nenek mau coba melihatnya!" titah Nenek Halimah dari balik pintu.
Sambil menunduk Aulia keluar kamarnya. Dia merasa malu, terharu, deg-degan, dan rasa gembira adalah yang paling dominan dalam hatinya.
"Bagaimana, Nek?" tanya Aulia malu-malu.
"Masya Allah, Aulia! Kamu cantik sekali memakai gamis dan jilbab. Sudah pakai jangan dilepas lagi," kata Nenek Halimah dengan nada gembira.
"Tapi, Aulia malu, Nek." Aulia merasa kalau dirinya itu kotor. Dia takut malah akan menjatuhkan martabat seorang wanita muslimah, jika dia juga ikut memakai baju gamis dan jilbabnya.
"Kenapa malu? Justru seharusnya yang malu itu adalah wanita muslim yang tidak menutupi aurat mereka. Semua tubuh wanita adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangannya. Jadi harus di tutupi dan dijaga, ini juga merupakan perintah Allah," balas Nenek Halimah.
"Aku ingin menjadi seorang muslimah yang bisa menjalankan kewajibanku, Nek," ujar Aulia.
"Insha Allah, kamu pasti bisa. Belajarlah secara perlahan dan penuh semangat setiap hari setiap waktu sampai ajalmu datang. Carilah ilmu agama sebanyak-banyaknya!" Nenek Halimah memeluk tubuh ringkih Aulia.
"Iya, Nek. Aku mohon bimbingannya dari Kakek dan Nenek."
"Iya, kami akan lakukan itu untuk kamu, Nak."
***
Aulia pun melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah bersama Nenek Halimah. Betapa malunya dia tadi saat berwudhu. Ternyata wudhu dia masih salah, sehingga Nenek Halimah mengajarkan cara yang benar sesuai ajaran Rasulullah. Aulia sadari kalau dirinya itu minim ilmu agama. Berbeda dengan ilmu pengetahuan umum, Aulia sering jadi murid berprestasi.
"Aulia apa kamu tahu, sebuah amal ibadah yang mudah dan ringan di lisan tetapi memiliki nilai pahala yang besar jika ditimbang dalam timbangan amal?" tanya Nenek Halimah dan Aulia menggelengkan kepalanya.
"Dzikir. Mengingat Allah SWT. Baik itu melalui lisan atau hati," jawab Nenek Halimah.
"Apa yang seperti, Laa Ilaha Illallah, Subhanallah, Alhamdulilah, dan Allahu Akbar," ucap Aulia.
"Ya. Itu dzikir pendek. Jika itu yang kamu bisa. Maka perbanyaklah bacaan dzikir itu. Nanti Nenek dan Kakek akan membimbing dan mengajari kamu dzikir yang lebih lengkap," ujar Nenek Halimah.
"Iya, Nek. Aulia akan belajar ilmu agama mulai sekarang," kata Aulia dengan penuh semangat.
"Alhamdulillah, semoga kamu selalu Istiqomah di jalan yang di ridhoi oleh Allah, Nak." Nenek Halimah mengusap kepala Aulia dengan penuh rasa sayang.
"Insha Allah, Nek."
"Isi waktu luang kamu dengan membaca buku tentang agama Islam. Ada banyak kitab-kitab yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, di kamar belakang. Itu adalah ruang perpustakaan, kamu bisa membaca semua buku yang ada di sana," pungkas perempuan tua yang memiliki wajah teduh dan kulitnya mulus bersinar karena sering di basuh oleh air wudhu.
"Bolehkah aku masuk ke sana sekarang, Nek?" tanya Aulia dengan penuh semangat.
"Ya, tentu saja boleh," jawab istri dari Ustadz Yusuf itu.
***
Aulia pun memasuki ruangan yang seukuran kamarnya. Di sana dindingnya dikelilingi oleh rak-rak buku. Dibagian tengah ruangan ada karpet lebar dan sebuah meja berbentuk persegi panjang.
Mata Aulia menelusuri setiap buku-buku yang ada di rak itu. Lalu matanya menangkap sebuah judul buku yang menarik baginya.
"Wanita yang pantas masuk surga," gumam Aulia. Saat dia menarik buku itu ada satu buku yang ikut terjatuh. Lalu Aulia pun membuka buku itu karena penasaran dengan isinya.
Baru saja membaca beberapa halaman bagian depan buku itu. Tangan Aulia bergetar begitu juga dengan tubuhnya. Air matanya kembali meluncur di pipinya yang putih.
***
Kira-kira buku apa ya dibaca oleh Aulia? Tunggu kelanjutannya ya!
Jika ada typo tolong tandai, ya. Soalnya tulisan Arab diubah ke Indonesia sering terjadi typo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Nimas Bin Udin
buku tentang pelajaran agama jgu mungkin
2024-12-25
1
🌷💚SITI.R💚🌷
smg istikomah trharu banget sm taubaty aulia..dia anaj yg cerdas tp krn salah prgauln jd gt de..
2022-08-30
4
Pipit Sopiah
menarik
2022-08-12
1