Teman-teman baca sampai tuntas, ya. Jangan di scroll, terus kasih like dan komentar. Semoga urusan teman-teman juga dimudahkan.
***
BAB 5
"Bapak kenapa meninggalkan Lia sendirian," kata Aulia di sela-sela isak tangisnya.
Gundukan tanah merah yang masih basah dan diatasnya banyak kelopak bunga bertaburan. Aulia duduk sambil mengusap pusara bertuliskan nama bapaknya.
"Bukannya bapak ingin melihat aku di wisuda dan memakai topi toga?" racau Aulia membuat hati orang yang mendengar itu terasa teriris dan pilu.
"Aulia relakan bapak kamu. Biar dia tenang di sana," kata Pak RT yang berdiri di dekatnya.
"Iya, Aulia. Kamu masih punya kami. Semua tetangga siap membantu kamu jika ada apa-apa," lanjut Bu RT dan di iyakan oleh yang hadir di sana.
Mereka merasa iba kepada gadis yatim piatu itu. Dia kini hidupnya sebatang kara tanpa memiliki kerabat keluarga. Tanpa ada yang bisa menjaga dan melindungi dirinya.
"Terima kasih," balas Aulia sambil menatap para pelayat yang ikut mengantar ke tempat pemakaman umum itu.
Air mata Aulia seakan tidak pernah kering. Sejak tadi sampai malam dia terus menangis. Bahkan makan siang dan malam pun dia lewatkan. Napsu makannya hilang sudah. Aulia lupa kalau ada janin yang membutuhkan nutrisinya.
***
Aulia yang tadinya mau melanjutkan kuliah kini menjadi sangsi. Dia takut putus ditengah jalan. Jika dia kuliah sambil kerja, nanti siapa yang akan menjaga anaknya. Dia juga merasa malu untuk tinggal di lingkungannya sekarang. Pastinya para tetangga akan menggunjingkan dia dan bayinya nanti.
Sebelum kandungannya terlihat besar, Aulia memutuskan untuk pergi dari sana. Untungnya dekat tempat dia bekerja di butik dan restoran ada kontrakan murah. Aulia mengontrakkan rumah peninggalan orang tuanya. Uangnya dia pakai untuk membayar kontrakan dan ditabung untuk biaya persalinan nanti.
"Aulia, tolong bungkus gaun pesanan Nyonya Deasy!" titah Ana, pemilik butik tempat Aulia bekerja di pagi sampai sore hari.
"Sudah saya tadi bungkuskan, Bu. Tinggal diambil sama pemesannya," balas Aulia sambil menyerahkan paper bag yang dikasih gantungan nama pemesan.
"Wah, bagus! Kamu tidak perlu disuruh-suruh sudah berinisiatif sendiri," ucap Ana sambil tersenyum.
"Itu karena saya melihat jadwal pengambilan barang pesanan di buku. Pesanan untuk hari ini dan besok semua sudah saya siapkan. Jadi, bisa langsung diambil oleh pemesannya nanti. Saya sudah menaruhnya di atas meja dekat kasir, Bu," jelas Aulia.
"Aku suka cara kerja kamu," ucap Ana sambil tersenyum lebar.
"Ini sudah tugas saya," kata Aulia.
Aulia tipe orang yang cekatan dalam melakukan tugas atau pekerjaannya. Dia tidak suka menunda-nunda, apalagi jika ada waktu luang. Hal ini malah suka dimanfaatkan oleh rekan kerjanya. Mereka suka sekali meminta bantuan atau menyuruh Aruna untuk melakukan pekerjaannya. Aulia yang merasa sebagai pegawai baru, dengan senang hati melakukan perintah mereka.
"Aulia di panggil oleh Bu Ana," bisik salah satu rekan kerja yang seumuran dengannya.
Aulia pun mendatangi ruang kerja atasannya. Ternyata Ana memberikan amplop berisi uang untuk dia.
"Pakai dengan baik-baik, ya. Jangan suka menghambur-hamburkan uang," ucap Ana setelah menyerahkan bonus untuk Aulia.
"Tapi, Bu. Aku baru saja gajian minggu kemarin. Kenapa sekarang aku dikasih lagi?" tanya Aulia tidak mengerti.
"Itu bonus untuk kamu yang sudah rajin bekerja. Kamu jangan boros, ingat buat ditabung sebagian," jawab Ana sambil tersenyum tipis.
"Iya, Bu. Terima kasih," ucap Aulia senang.
***
Aulia bekerja di butik dari jam 08.00 - 16.00 setelah itu dilanjutkan bekerja di restoran masakan Nusantara yang ada di sampingnya dari jam 16.00 - 22.00 pulang ke kontrakan sekitar 22.30 atau 23.00 karena harus membereskan ruang restoran atau membereskan dapur, berbagi tugas dengan karyawan lainnya.
Kini Aulia sedang melayani pengunjung restoran, dia selalu ramah dan sabar kepada pembeli, sehingga tidak jarang dia selalu mendapatkan tips dari pengunjung karena merasa puas akan pelayanannya. Berbeda dengan teman-teman butiknya yang baik meski terkadang memanfaatkan tenaganya. Rekan kerja di restoran ini ada beberapa orang yang tidak suka kepada Aulia. Mereka merasa iri kepada ibu hamil itu karena setiap hari Aulia selalu dapat uang yang banyak dari pelanggan. Apalagi pelanggan dari kalangan atas alias kaum Borjuis. Sudah dipastikan uang berwarna merah bergambar Bapak sang Proklamator yang diberikan kepadanya. Gaji di restoran sendiri hanya sebesar UMR, tetapi tips dari pelanggan jika dikumpulkan selama sebulan bisa 2-3 kali lipat total dari gaji.
Aulia tahu kalau ada beberapa temannya yang selalu iri padanya. Namun, dia bertahan bekerja di sana. Selain bisa dapat uang yang banyak, pemilik restoran juga orang yang baik padanya. Koki dan beberapa rekan kerjanya juga ada yang baik.
Hinaan, sindiran, dan dipandang rendah oleh orang-orang itu, tidak membuat Aulia patah semangat. Dia bekerja banting tulang untuk biaya hidupnya dan juga untuk anaknya nanti. Dia bekerja sekuat tenaga selagi mampu, sebelum dia melahirkan. Pastinya, jika sudah punya bayi, dia harus memikirkan mencari uang tanpa harus meninggalkan bayinya. Maka, dia pun berpikir untuk mengumpulkan modal untuk usahanya nanti.
"Aulia, ini pesanan untuk meja nomor 17!" teriak asisten koki.
"Siap, akan saya antarkan," balas Aulia sambil memegang nampan kayu berisi nasi goreng udang ektra pete dan nasi goreng seafood. Juga dua gelas es teh.
Setelah Aulia meletakan pesanan di atas meja, dia melihat Rangga dan keluarganya bersama seorang wanita berada di meja nomor 25. Agak jauh, tetapi dia masih bisa mengenali rupa mereka. Terlihat mamanya Rangga sedang tertawa bersama perempuan muda itu. Aulia menduga kalau perempuan itu adalah tunangannya Rangga yang dulu dibicarakan oleh Shinta.
"Mas … Mbak, selamat menikmati. Semoga masakannya nikmat di lidah dan kenyang di perut," kata Aulia diiringi senyum ramahnya.
"Terima kasih, Mbak. Ini wangi sekali masakannya, pasti enak rasanya," ucap si pembeli.
Aulia dengan cepat membalikan badan saat pandangan Rangga mengarah kepadanya. Dia tidak mau berhubungan lagi dengan keluarga itu yang sudah menghancurkan hidupnya.
***
Rangga melihat pelayan perempuan yang mirip dengan Aulia. Dia penasaran dan terus memperhatikan pelayan berambut hitam dan panjang itu.
"Aku ke toilet dulu," kata Rangga berbohong. Padahal dia ingin melihat wajah pelayan tadi dengan lebih jelas lagi. Dia ingin membuktikan kalau perempuan itu adalah wanita yang dicintainya. Cinta pertamanya yang tidak mungkin dia lupakan seumur hidupnya.
Langkah dia terhenti saat berpas-pasan dengan Aulia. Kedua orang itu terkejut dan saling menatap. Terlihat pancaran kerinduan dari mata Rangga sedangkan pancaran mata Aulia penuh dengan kebencian.
"Sa-yang?" Rangga tergagap memanggil pujaan hatinya.
"Hai," balas Aulia dan dia pun kembali melangkah, tetapi tangannya dicekal saat melewati tubuh Rangga.
Tangan Aulia ditarik dan dipeluknya tubuh wanita yang sedang berbadan dua itu. Perasaan senang dan terharu, Rangga rasakan saat ini.
"Aku merindukan kamu. Aku terus mencari kamu selama dua bulan ini," ucap Rangga diiringi isak tangisnya.
"Lepaskan aku!" desis Aulia sambil berusaha mendorong tubuh Rangga.
"Tidak. Aku mohon biarkan aku memelukmu sebentar saja. Aku hampir gila karena sangat merindukan kamu, Sayang."
"Aku tidak ingin bertemu atau melihat kamu dan semua keluarga kamu lagi," tukas Aulia mendorong dengan sangat kuat dan menginjak kaki Rangga, sehingga pelukan itu terlepas.
"Sayang—"
"Jangan panggil aku seperti itu lagi!" bentak Aulia lalu pergi meninggalkan Rangga.
"Maaf, Sayang. Maafkan aku," lirih Rangga sambil menatap punggung Aulia.
***
Jarak antara restoran ke rumah kost hanya sekitar 200 meter jika ditolalkan. Sebab, kost-an itu masuk lagi ke dalam gang. Kalau dari restoran hanya terhalang 3 bangunan. Saat Aulia pulang dari restoran sekitar jam 22.45 jalanan sangat sepi. Hanya kendaraan yang lalu lalang sedangkan pejalan kaki hampir tidak ada.
Aulia mengalihkan pandangannya ke seberang jalan terlihat ada seorang kakek-kakek yang hendak menyeberang. Dia berdiri di samping jalan menunggu lampu merah. Namun, saat lampu berubah jadi merah dan si kakek sedang menyebrang ada motor yang melaju dengan kencang menerobos lampu merah itu.
"Kakek, awas!" teriak Aulia sambil mendorong tubuh lelaki tua itu.
Ternyata bukan motor itu saja yang mengebut, ada satu motor lagi dibelakangnya yang sama melaju dengan kencang. Jika motor pertama berhasil dihindari, berbeda dengan motor kedua. Tubuh Aulia terhempas ke jalanan beraspal karena tertabrak motor kedua.
"Hei, berhenti!" teriak pengendara yang sedang menunggu lampu rambu lalu lintas berubah.
"Tolong! Tolong gadis ini!" teriak si Kakek.
Orang-orang di sana pun membantu Aulia dibawa ke samping trotoar dulu sambil menunggu ambulans. Banyak darah yang keluar dari tubuh Aulia.
"Permisi, kami dari tim medis mau membawa korban tabrak lari," ucap salah seorang berseragam.
Si kakek pun ikut ke rumah sakit untuk mendampingi Aulia. Dia merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang sudah menimpa gadis malang itu.
"Apa Anda keluarganya?" tanya dokter yang baru saja keluar dari ruangan UGD.
"Bukan, Dokter. Saya adalah orang yang sudah ditolong oleh gadis itu," jawab si kakek.
"Perempuan itu harus segera di operasi. Bayi di dalam kandungannya tidak bisa di selamatkan," ucap dokter itu.
"Apa? Perempuan itu sedang hamil!" Si Kakek sangat terkejut dengan berita ini.
***
Apa yang akan terjadi kepada Aulia kedepannya, setelah dia tahu bayinya meninggal? Siapa Kakek yang sudah ditolong oleh Aulia? Tunggu kelanjutannya ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Nimas Bin Udin
Uda pasti kecewa ath .klo bayinya g ada dan g bisa d selamarkan
2024-12-24
1
Ma Malikha
ya
2024-11-12
1
Andi Fitri
sabar lia belajar lah dri kesalahan mu perbaiki diri insyaallah bahagia menanti mu..
2023-09-07
3