Ck! Enak sekali pria ini tidur pulas di atas ranjang empuknya! Benar-benar pria dingin yang tak punya perasaan! Pantas saja, walaupun usianya sudah 28 tahun tapi dia masih sendiri dan belum beristri. Biar pun ia tampan, anak pengusaha kaya raya tajir melintir, tapi perempuan normal pasti akan berfikir berkali-kali untuk menjadi pasangannya. Atau memang anunya dia tidak bisa bangun seperti pria pada umumnya kalau di dekat wanita. Tapi justru kebalikannya? Ck ck ck...! Dunia ini benar-benar gila!
Devana hanya bisa memandangi wajah Georgino yang tengah terlelap dengan tubuh menyamping. Terlihat nyenyak sekali.
Devana hanya mengambil satu bantal, lalu melangkah ke arah sofa yang tak jauh letaknya dari ranjang tidur.
"Aku harus tidur! Besok pagi harus bangun cepat, Nenek akan mengajariku caranya buat sarapan enak!" gumamnya pelan.
Devana menggelosorkan tubuhnya ke atas sofa yang pas sekali ukurannya.
Matanya mulai mengantuk, seiring hati kecilnya mendawamkan doa tidur, perlahan kesadarannya mulai memudar dan... Devana tertidur.
Ck ck ck...! Dasar perempuan keras kepala! Akhirnya kau masuk juga ke kamar ini! Kau fikir kau akan bisa menjauh dariku dan pasang mimik muka menyebalkan demi untuk dapatkan apa maumu? Devana, aku tidak akan kalah dengan perempuan manapun. Apalagi kamu, yang hanyalah istri sewaanku selama enam bulan saja. Sesuai perjanjian, dan jika kinerjamu bagus...baru aku akan tranfer uang seratus juta rupiah ke rekening tabungan atas namamu!
Rupanya Georgino hanya pura-pura tidur setelah mendengar grendel pintu kamarnya dibuka seseorang. Dan itu pasti Devana.
Ia sengaja tak mengunci pintu kamarnya setelah Deva keluar. Khawatir kalau Kakek atau Neneknya tiba-tiba menyambangi kamar Ericko, otomatis pasti akan membangunkan Deva yang tidur disana.
Tebakan Gege benar. Pasti Kakek Nenek sudah sidak ke kamar Ericko. Sehingga perempuan yang suka ngeyel itu kini masuk kamar tidurnya kembali walaupun mereka tidak tidur seranjang.
..............
Pagi-pagi sekali Devana sudah bangun. Ia memang sudah terbiasa bangun sebelum azan subuh berkumandang di masjid.
Ia bergegas mandi pagi. Apalagi di kamar mandi Gege tersedia alat pemanas yang krannya tinggal diputar saja tanpa harus pergi ke dapur dan menjerang air.
Sangat menyegarkan.
Deva mengintip Ericko sebentar. Ia senang, putranya itu tampak kerasan tinggal di kamar besarnya bersama bi Fani. Ericko masih tertidur pulas, sementara bi Fani sedang menunaikan kewajiban lima waktunya.
Deva teringat pesan Nenek Widia semalam. Ia kemudian keluar kamar Ericko, lalu turun ke dapur kotor di lantai satu.
Sebenarnya Deva lebih menginginkan mengurus putra semata wayangnya. Menunggui Ericko sampai terbangun dari tidur nyenyaknya. Lalu menyuapi makan setelah itu memandikan sang putra seperti hari-hari lalu.
Tetapi..., kini dia harus bisa menyesuaikan keadaan. Dirinya disini sedang menjalankan pekerjaan.
.....
Terlihat beberapa pekerja sedang sibuk beberes. Ada yang melap kaca, menyapu lantai, mengepel, dan ada beberapa orang juga sibuk bekerja di luar ruangan.
"Selamat pagi Nyonya Muda!"
Deva merasa telinganya getek mendengar panggilan Nyonya Muda dari para asisten rumah tangga.
Tapi mau bagaimana lagi. Memang begitu aturannya. Ia hanya mengangguk dan tersenyum miris, insecure pada dirinya sendiri yang hanyalah perempuan dari kalangan biasa.
Wajahnya membeku mengingat kata-kata pedas Nyonya Lalita Velicia, Mamanya Chandra.
"Sendok kayu tetaplah sendok kayu! Tidak akan berubah jadi emas meskipun tinggal di istana mewah. Sekalipun dicat dengan tinta warna emas, dia tetaplah kayu. Tak akan berubah jadi emas sampai kapanpun!"
Betul, Nyonya. Kayu tetaplah kayu. Meskipun dicat dengan tinta emas, tetap saja kayu. Seperti aku ini. Tetapi, walaupun aku hanyalah sendok kayu. Namun fungsiku jauh lebih baik ketimbang sendok emas yang tak tahan panas. Itulah aku. Aku kini adalah seorang Nyonya Muda di istana yang lebih besar lagi daripada istana mungilmu. Aku bisa lebih dihargai di rumah besar ini ketimbang saat aku masih tinggal dirumahmu. Akulah sendok kayu itu, Nyonya!
Devana hanya bisa termenung di atas balkon teras paviliun utama yang luasnya puluhan meter itu.
"Selamat pagi, cucu cantikku!"
"Pagi, Nek! Bagaimana keadaan Nenek pagi ini?"
"Baik, Sayang! Kenapa tak ketuk pintu kamar Nenek kalau Deva sudah bangun lebih dulu? Kita bisa sholat berjamaah padahal!"
Deva tersipu. Ia hanya mengatakan tak ingin mengganggu tidur nenek.
"Hari ini, kita buat sarapan untuk Gege!" kata Widia dengan suara semangat.
"Hehehe... Oke!"
"O iya, Ericko sudah bangun, Sayang?"
"Belum, Nek! Tadi Deva sudah intip kamarnya."
"Kalau Gege?" goda Widia pada devana.
Kali ini Devana hanya menunduk dengan senyum dikulum. Tak menjawab pertanyaan Widia.
Ternyata ada sepasang mata yang ikut mengawasi interaksi manis sang Nenek dengan Devana.
"Kita buat sarapan apa, Nek? Kak Gege suka sarapan apa?" tanya Devana lembut.
"Sejujurnya, Nenek juga tidak tahu sarapan apa yang Gege suka! Hehehe..., maaf! Nenek juga gak bisa masak. Semalam Nenek berbohong, supaya Deva kembali ke kamar Gege!"
Deva tertawa kecil. Ia hanya bisa menatap wajah Widia yang masih terlihat cantik meskipun usianya sudah lewat 70 tahun itu.
"Nenek! Hehehe..."
"Gege datang ke rumah ini ketika usianya mau sepuluh tahun. Dia manis, baik, penurut dan pendiam. Gege selalu makan apapun yang dihidangkan. Tidak seperti Dem dan Surya yang memang pecicilan sedari bayi. Karena kedua cucu Nenek yang itu sejak bayi sudah tinggal di sini!"
"Nenek! Jadi menurut Nenek Dem ni pecicilan?"
"Oalaaa... ada toh orangnya yang sedang diomongin! Hihihi... Maaf Demian!"
Demian yang sedari tadi hanya menguping obrolan santai Nenek dengan Devana langsung bergabung mendekati keduanya.
"Pagi-pagi Nenek sudah di dapur! Sedang apa? Biarkan para koki yang menyiapkan sarapan seperti biasa!"
"Huss, sana! Ini rahasia wanita bersuami! Sana, sana! Kamu sana, Dem! Jangan ganggu Nenek sama Deva!"
"Hm...! Tanya dulu dong, Nek! Deva suka turun ke dapur gak? Jangan-jangan dia ini noni yang gak tahu urusan dapur apalagi bumbu-bumbunya! Hehehe..."
"Aiiih! Sudah mengacaukan ditambah sekarang malah meremehkan istri cucu Nenek yang cantik ini! Sana, Dem...sana!"
Widia memukul lengan sang cucu pelan. Ia mencoba menghardik Demian dengan kursi rodanya.
"Maaf Nek, Deva... bukan bermaksud meremehkan. Tapi setiap perempuan itu punya kelebihan masing-masing. Ada yang suka memasak, ada yang hobi bikin kue, ada juga yang suka menjahit. Gitu maksudnya Demian, Nek!"
"Oh begitu toh! Iya juga ya? Deva hobinya apa?"
Kini Deva jadi pusat perhatian Nenek dan juga Demian.
"Tapi jangan ditertawakan ya?"
"Masa' ditertawakan? Apa? Deva sukanya apa?"
"Sebenarnya, Deva suka masak. Tapi... itu hanya karena terbiasa dari masih remaja, bantu Bunda urusan perdapuran. Hehehe...!"
"Nah?! Cocok khan sama feeling Nenek! Nenek justru mau sekali makan masakan Deva kali ini. Boleh?"
Wajah Deva memerah. Pipinya memanas karena malu sekali mengungkapkan kebiasaannya sedari remaja.
"Deva tak bisa masak, Nek! Hanya sekedar tumis-tumis masakan orang kampung. Itu pun karena terpaksa, adik Devana banyak. Jadi, urusan rasa dan kualitas... Deva tak faham sama sekali, Nek!"
"Please... Nenek mau sarapan buatan Deva pagi ini! Boleh?"
"Ba-baiklah! Tapi kalau sekiranya masakan Deva tidak enak, jangan dimakan ya Nek?"
"Hehehe...! Oke Deva, Sayang!"
"Deva mau buat nasi goreng kunyit. Itu sarapan favorit adik-adik Dev di panti asuhan!"
Mata Deva menerawang. Seketika ia ingat adik-adik dan kehidupan masa lalunya di yayasan bunda Anne.
"Panti Asuhan? Deva ini berarti seorang donatur di yayasan ya? Anak baik. Hebat! Rajin sedekah dan suka pekerjaan sosial! Gege benar-benar beruntung sekali mendapatkan Dev!"
Malu hati Dev. Ingin sekali ia meralat pujian Widia dengan mengatakan kalau ia juga anak yatim piatu penghuni yayasan panti asuhan.
Bahkan Ia lahir tanpa tahu siapa Ibu Bapaknya, sampai saat ini usianya 22 tahun.
Nasib baik bunda Anne, seorang wanita single yang sampai kini tidak menikah mau merawat dan mengurusnya. Sehingga Deva dibesarkan dengan kasih sayang berlimpah dari seorang ibu asuh yang baik hati bernama bunda Anne.
💌TO BE CONTINUE
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
jika deva dirawat bu anne, orang tua aslinya mana?
2022-09-13
0
🍁𝕬𝖓𝖉𝖎𝖓𝖎•𖣤᭄æ⃝᷍𝖒❣️HIAT
jangan traveling kemana2 dev nanti jadi candu loh 😁😁
2022-09-13
0
ℛᵉˣ🍾⃝ɴͩᴀᷞᴜͧғᷠᴀᷧʟ🤎🦁ˢ⍣⃟ₛ
ortunya Deva itu sebenarnya siapa kok misterius banget
2022-09-13
1