"Kalian sedang apa?"
Jantung Devana semakin berdebar kencang. Kini sepupu Georgino satu lagi telah berdiri kurang dari satu meter dibelakangnya.
Wajahnya terlihat suram. Seperti tidak begitu suka melihat tawa Devana yang seperti mudah diobral hanya karena rayuan gombal Surya Abdi.
"Hati-hati, Kak Devana! Dia ini player. Jangan mudah terpesona oleh canda tawanya yang terkesan ramah dan friendly!" tutur Demian membuat Surya menempelkan di dinding seraya menjulurkan lidahnya setengah meledek.
"Hei, mana sepatu futsalku yang kau pakai minggu lalu?"
"Sudah kukembalikan! Alasan, kau! Padahal pura-pura ke sini supaya lebih leluasa melihat wajah cantik kakak ipar. Akal bulusmu!"
"Kau yang akal bulus! Ngapain rayu-rayu kak Devana sampai dia tersipu dan kau tertawa bahagia?"
"Kepo! Hehehe..."
"Kami hanya mengobrol biasa. Tak ada yang istimewa, Kak! Hanya tegur sapa saja."
"Gege di paviliun Tante Nani, kenapa kak Dev disini?"
"M iya. Tadi saya minum obat sakit kepala dulu. Ini baru akan menyusul ke sana! Saya pamit, permisi Surya, kak Demian!"
"Jangan pakai kakak, nama saja seperti kakak panggil Surya!"
"Aku panggil dia Deva, makanya Deva pun panggil aku hanya nama saja!"
"Apa bisa begitu? Kakek pasti tidak akan suka. Kak Dev ini adalah istrinya Gege. Gege itu kakak sepupu kita!" tegur Demian pada sepupunya dengan ketus. Membuat Deva merasakan ketidaknyamanan berada diantara keduanya.
"Mamma!"
Suara imut Ericko yang berada dalam gendongan bi Fani, membuat Deva menoleh.
"Sedang ada apa ini? Kumpul-kumpul di sini?"
Deva, Surya juga Demian terkejut mendengar suara pertanyaan Georgino telah ada di lorong paviliun sang Kakek. Ia bingung, aula yang biasa sepi kini justru ramai sepupu-sepupu.
"Hehehe... Ini nih, Demian mau kenalan katanya sama Deva!"
Bug.
Kepalan tinju Demian tepat kena otot bisep Surya Abdi hingga sang pemilik lengan itu mengaduh kesakitan.
Georgino telah faham watak para sepupunya. Ia hanya memberi senyuman.
"Jangan buat istriku jadi tidak nyaman karena tingkah konyol kalian!" ujarnya santai tapi kata-katanya agak dalam menghujam.
"Aku pamit dulu ya, Dem..., Surya!?"
"Oiya Dev! Have anice day! Aku harap kamu dan Ericko akan betah tinggal di sini!"
Devana tersenyum dan mengangguk.
Ia masuk kamar mengikuti langkah Georgino yang telah lebih dulu masuk dan juga bibi Fani yang mengekor sembari menggendong Ericko.
Bibi Fani membawa tas berisi pakaian dan perlengkapan Ericko, lalu minta izin keluar kamar. Pindah di kamar sebelah yang memang sudah disiapkan Kakek dan Nenek Georgino.
Deva ingin sekali mengikuti langkah bi Fani yang juga sigap mendorong stroller Ericko. Putranya sudah terlelap di atas kereta dorong.
Baru kakinya melangkah, jemari tangan Georgino yang besar telah memegang lengan atasnya.
"Tunggu! Mau kemana?" tanyanya dingin.
"Mau ke kamar Ericko!"
"Aku yakin niatmu tidak seperti itu bukan?"
"Apa maksud Kak Gege?"
"Kau pasti suka sekali karena kedua sepupuku itu menyambangimu sampai ke kamarmu! Kau merasa seperti putri raja yang cantik jelita dan dielu-elukan para pria tampan. Seperti itu khan?"
Hei? Kenapa tatapan mata dan juga ucapannya nyelekit sekali? Ada apa dengan pria perfeksionis ini? Cemburu? Marah karena Demian dan Surya yang mengobrol santai denganku?
Devana menelan salivanya. Tak ada keinginan untuk menjawab pertanyaan Sang Tuan Muda yang menyakitkan.
Tetapi cekalan tangan Georgino semakin erat mengepal lengan atasnya hingga mulai terasa agak sakit.
"Mereka hanya say hello padaku! Tidak seperti yang Kakak bayangkan! Dan..., hei! Ini menyakiti namanya!"
Georgino segera melepas tangan Deva.
"Tolong, ingat selalu kontrak kerjamu di rumah ini! Belum satu hari tapi sudah mau buat sensasi!"
"Cari sensasi? Untuk apa aku cari sensasi Tuan Muda Georgino Gunawan? Aku hanyalah bawahanmu di rumah ini. Tak ada kapasitas apalagi kekuasaan untukku mencari sensasi seperti yang Tuan katakan!" jawabnya dengan bibir gemetar.
Terang saja amarah Deva meninggi. Ia tak terima jika dicap ingin cari sensasi. Apalagi seperti dipandang rendah mau tebar pesona.
Deva tahu, sepupu-sepupu Gege tampan rupawan. Matanya normal dan tidak buta juga. Dia juga tak mau pura-pura menyebut wajah Demian dan Surya Abdi biasa saja. Itu munafik namanya. Karena kedua pria itu memang tampan-tampan sekali.
Tapi bukan berarti Deva seenak jidatnya senyum sana senyum sini untuk cari perhatian mereka berdua.
Deva mengetahui dirinya dengan baik. Walaupun usianya masih 22 tahun, tapi statusnya adalah seorang ibu muda yang memiliki bayi berumur tujuh bulan.
Dia juga sadar diri. Dia wanita bersuami. Dan masih dalam kondisi kejiwaan berduka, karena sang suami telah tiada. Jadi untuk Deva, kemarahan Georgino padanya dan menuduh macam-macam setelah berbincang di lorong depan kamar adalah kekanak-kanakkan.
Apalagi di depan kamar kakek nenek pula. Sangat bodoh sekali Devana jika benar-benar ingin melakukan seperti yang Gege tuduhkan.
Devana segera keluar kamar. Ia lebih memilih untuk tidur dengan Ericko dan juga bi Fani di kamar sebelah. Daripada harus tidur dengan pria pemarah yang perfeksionis seperti Georgino.
"Ish,... bungkusan apa ini? Dasar perempuan! Kerjaannya teledor sekali!"
Gege mengangkat plastik hitam yang ada di atas ranjang tidurnya.
Diendusnya beberapa kali.
Karena rasa penasarannya yang tinggi akan isi di dalamnya, Gege membuka ikatannya. Dan...
"Sh*it!!! Devanaaa...!!!" teriaknya tanpa sadar.
Terlihat seonggok pampers kotor bekas Ericko. Aroma tak sedap menyeruak menyergap menyengat penciuman Georgino yang sensitif.
Sementara di kamar sebelah,
Rasain tuh! Aroma berharga dari Ericko-ku tersayang! Makan tuh pencarian! Emang enak jadi orang sok bersih? Bisa-bisanya dia terlihat begitu tersiksa ketika iler bayiku menetesi lengannya. Ck ck ck...! Hehehe...
...........
Devana tidak ada keinginan untuk kembali masuk ke kamar Georgino. Ia juga tak ingin mengabari pria meski hanya lewat chattan. Hapenya sendiri tertinggal di kamar besar Georgino.
Dia telah memiliki handphone kini. Pemberian Gege untuk memudahkan komunikasi dua arah diantara mereka. Jika suatu ketika Deva ada masalah di rumah disaat Gege sedang bekerja, maka akan mempermudah hubungan selanjutnya.
"Dev! Devana?..."
Dev terkejut. Pipinya diusap lembut jemari tangan imut.
"Kenapa kamu tidur di sini?"
"Ne-nenek?"
"Gege mana? Tidur di kamar sendirian? Ayo, pindah kamarmu, Sayang!"
"Nenek...sendirian kemari?"
Deva merasa gugup, tak enak hati. Wanita tua nan lembut itu hanya tersenyum manis memandangi wajahnya.
"Kenapa? Gege sedang buat masalah ya? Sampai kamu ngambek dan tidur pisah kamar dari dia?" tanya Nenek Widia lembut.
"Ti-tidak, Nek!" jawab Deva gugup.
"Hehehe...! Jangan khawatir! Nenek faham koq, lelaki memang begitu. Egois banget! Maunya menang sendiri, tak mau dinasehati! Kakek juga begitu. Bahkan sampai tua pun ya tetap seperti itu! Hehehe...! Tapi, kalau kita pakai senjata pamungkas kita..., lelaki akan kalah dan cepat luluh hatinya. Caranya, kita yang perempuan ini yang harus lebih banyak mengalah! Beri suami perhatian dan ketulusan dari cinta suci kita. Penuhi perutnya dengan makanan-makanan kesukaannya, dia pasti tak akan berani pergi kemana-mana!"
Devana terpana pada ucapan Nenek Widia yang begitu lembut bijaksana.
Ternyata benar ya. Dibalik pria hebat, ada wanita luar biasa yang senantiasa mendukung dan menyupportnya. Contohnya, Kakek Gunawan dan Nenek Widia.
Devana tersenyum, tenang hatinya. Tubuhnya dipeluk erat seorang wanita yang luar biasa. Yang telah mengalami banyak kisah dalam hidup, pastinya.
"Ayo, kembali ke kamar. Tidurlah bersama Gege, Sayang! Ini sudah pukul satu malam. Besok pagi, buatkan dia sandwich isi untuk sarapan. Nanti Nenek bantu! Mau ya?"
Devana mengangguk, mengiyakan ajakan nenek Georgino itu.
Ia tak sanggup untuk menolak. Terlebih ketika tangan mungil sang Nenek bergerak memutar roda kursi duduknya.
"Nek, biar Deva yang bantu dorong!"
Widia tersenyum. Kini ia bisa melihat dan menilai langsung kepribadian istri dari cucunya tersayang itu.
Dimatanya, Gege amat beruntung. Devana cantik luar dalam. Wajahnya juga cantik alami tanpa banyak polesan. Walaupun usianya masih 22 tahun, tapi di mata Nenek Devana cukup dewasa dan bisa membawa dirinya dengan baik. Berarti Devana adalah anak dari keluarga baik-baik. Itu fikir Nenek tentang dirinya.
💌TO BE CONTINUE
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Na Gi Rah
masyaAllah raja bulan kenapa ada di sini🤭
2022-09-22
1
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
petuah bijak nenek itu benar
2022-09-13
0
🍁𝕬𝖓𝖉𝖎𝖓𝖎•𖣤᭄æ⃝᷍𝖒❣️HIAT
devana dikelilingi player..😗
2022-09-13
1