"Kakek! Bolehkah Gege menolak acara pesta pernikahan? Cukup Kakek kenalkan saja secara umum di rapat para pemegang saham senin nanti. Tapi untuk pesta, Gege kurang sefaham dengan Kakek! Maaf...! Menurut hemat Gege, selain menghambur-hamburkan uang... pesta pernikahan ini juga sudah lewat dan Gege tak mau orang makin menilai buruk hubungan kami ini. Baru menikah tapi sudah punya anak. Nama baik Kakek juga bisa jadi taruhannya!"
"Betul, Pa! Jangan sampai masyarakat umum tahu, kalau pewaris tahta CEO Gunawan Wicaksono sudah memiliki putra sebelum menikah."
Devana hanya bisa menunduk. Hati kecilnya ingin berontak, mengatakan kalau Erickonya bukanlah hasil dari hubungan di luar nikah.
Tapi..., apa daya. Saat ini dia sudah berganti identitas diri.
"Tuan, biar saya yang gendong Tuan Muda Ericko!"
Georgino terlihat sangat tidak nyaman ketika iler Ericko terlihat mulai menetesi lengannya.
Air liur putra Devana yang banyak menetes membuat Gege ingin sekali cepat pergi dari perkumpulan keluarganya itu.
Untung saja bi Fani sudah mulai dapat di ajak kerjasama karena fokus pada apa tugas dan kerjaannya. Yakni mengurus serta mengasuh Ericko.
Deva yang tanpa sengaja melihat Georgino yang terlihat jijik dengan menarik kotak tissue secara cepat, mengambil beberapa lembar, kemudian menghapus iler Ericko yang ada di atas lengan kanannya.
Ternyata bukan saja Deva yang memperhatikan. Ada dua pasang mata, yakni mata Om Tio dan mata Demian.
Hati Devana tiba-tiba merasa sakit sekali. Seperti ada torehan luka kecil yang mampu membuat hatinya perih dan berdarah.
Georgino benci pada air liur Ericko.
Dasar pria angkuh! Dia terlihat sangat jijik dan tersiksa pada iler putraku yang menetesi lengannya. Lihat saja, malam ini akan kukerjai dia dengan hal yang lebih gila lagi dari iler Ericko! Huh! Berani-beraninya kau merasa geli pada iler bayiku yang bahkan bau mulutnya jauh lebih wangi ketimbang bau mulutmu!
Devana kesal hingga fikiran usilnya memunculkan ide gila untuk membalas perbuatan Georgino.
................
"Papa, boleh Tio menyampaikan sesuatu?"
Benar saja. Tio, suami dari Lisa putrinya Gunawan yang paling bungsu, tak bisa menunggu lama.
Ia dan kedua menantu Gunawan yang lainnya adalah orang yang paling suka kasak-kusuk walaupun seringkali sakit hati karena mertuanya itu tak mudah digoyahkan pendiriannya.
"Ada apa, Tio?"
Ruang kerja Gunawan ada di tengah paviliun. Letaknya disamping perpustakaan keluarga. Disitulah Gunawan Wicaksono lebih banyak menghabiskan waktunya setiap hari.
Ia sedang merapikan semua pembukuan perusahaan besarnya dengan cara kuno alias manual. Masih mencatat dengan tangan dan ditulis di beberapa puluh buku besar.
Indra dan ketiga putrinya seringkali mengingatkannya untuk menggunakan laptop karena lebih efisien dan tidak capek juga jemari tangannya. Tetapi Gunawan lebih menyukai menulis serta mencatat di buku jurnal sejak ia masih muda. Ia tak ingin menghilangkan kebiasaannya itu walau teknologi kini telah canggih, maju pesat.
Tio sengaja memencet bel yang ada di pintu kerja ayah mertuanya, untuk menyampaikan unek-uneknya.
"Pa..."
"Katakanlah, Tio! Apa yang ingin kau sampaikan!"
"Mohon maaf sebelumnya, jika Tio terkesan sangat kurang ajar karena berani mengemukakan pendapat yang..."
"Ada apa?"
"Tidakkah terlalu beresiko jika Papa tetap memilih Gege menjadi CEO PT MAKMUR SENTOSA setelah mengetahui latar belakang kehidupannya kini?"
"Apa maksudmu, Tio?"
"Pa...! Dulu aku dan Lisa sepakat jika Gege memang pantas mendapatkan jabatan CEO, menggantikan Papa yang turun tahta. Selain Demian dan Surya Abdi putraku usianya masih jauh lebih muda dari Gege 2 tahun, Gege juga jauh lebih berkompeten dalam mengurus perusahaan seperti Mas Indra."
"Lalu? Apa keluhanmu kini?"
"Pa! Gege punya anak diluar nikah!"
"Gege sudah menikahi Devana secara resmi! Apalagi? Nasi sudah menjadi bubur. Aku tidak bermaksud menutup mata kalau cucuku yang paling kubanggakan itu telah membuat kesalahan besar dengan menghamili seorang perempuan dan setelah melahirkan baru dia nikahkan! Tetapi..., Gege sudah mengakui kesalahannya. Devana kini adalah istrinya. Apa aku harus memukuli cucuku sampai mati karena perbuatan buruknya dimasa lalu, dan membuat putra tunggalnya menjadi anak yatim? Begitu maumu, Tio?"
"Bu-bukan begitu, Pa! Tadi aku lihat, Gege sepertinya... menutupi sesuatu!"
"Menutupi apa?"
"Gege seperti kurang suka pada putranya sendiri. Bahkan, ilernya Ericko pun sampai dia hapus dengan perasaan jijik. Adakah seorang Ayah yang baik terlihat begitu geli pada kotoran kecil yang keluar dari putranya sendiri?"
"Kau sendiri? Apa kau pernah membersihkan kotoran putra putrimu sedari mereka lahir?Surya Abdi misalnya? Atau me-lap ingus Tiasa sewaktu hidungnya pilek penuh lendir ketika masih bayi? Tidak khan? Tapi Widia istriku, yang melakukan semua itu pada putra putrimu, juga putra putri anak-anaknya yang lain. Kecuali Georgino, karena anak itu tumbuh jauh tanpa belaian kasih sayang aku dan Widia istriku!!"
Tio diam. Tak berani melanjutkan perkataannya lagi.
Ayah mertuanya terlalu pintar untuk dia hasut.
"Aku tahu maksudmu menyampaikan unek-unekmu itu! Kau ingin aku berfikir ulang untuk memberikan jabatan CEO pada Gege khan? Lalu aku harus mencoba mencari kandidat lain, antara Demian atau Surya Abdi. Begitu khan, Tio?"
Tenggorokan Tio seperti tersekat. Ia diam seribu bahasa dengan wajah tertunduk malu.
"Kau tahu? Georgino memiliki semua kriteria yang kuinginkan dalam memimpin perusahaan yang kubangun dari nol! Kenapa bukan Demian ataupun Surya Abdi, sedangkan keduanya juga sama-sama cucu lelakiku walaupun beda usia mereka dua tahun saja? Memang betul. Aku terkesan memilah-milah kalian. Karena kinerja Indra dan Nani tak sebanding dengan kinerja kau juga Lisa, Fifie dengan Rendy, Ellie dengan Glen! Tidak bisa."
"Kau tahu? Indra dan Nani sudah berjasa membangun serta perusahaanku menjadi seperti sekarang ini. Setelah bertahun-tahun aku melakukan kesalahan dengan membuang putra pertama dan menantuku itu! Aku..., akhirnya tahu... mana yang berlian asli, mana yang imitasi. Aku kini tahu, putra bangsawan seperti kau, Rendy dan Glen justru tak punya kemampuan apapun selain menghabiskan harta orangtua. Berbeda dengan Nani yang awalnya aku benci karena berasal dari keluarga tidak mampu bahkan sampai aku mengusir Indra dari rumah padahal istrinya saat itu sedang mengandung Gege. Aku, buta pada penglihatanku yang murni sampai sepuluh tahun berlalu. Sampai tega tak mau menerima Gege dan Nani hingga Tuhan menjitak kepalaku. Perusahaanku nyaris bangkrut kala itu karena kelakuanku sendiri. Kini aku tidak akan terjelembab ke lubang kenistaan di masa lalu, Tio! Cukup kini aku berjalan dengan rasa syukurku pada Tuhan. Jangan kalian kacaukan fikiranku ini! Itu tidak akan mengubah semuanya!"
Di ruang yang lain, Devana duduk dengan wajah masam dan bibir ditekuk kesal.
Ia seorang diri di kamar besar nan luas dan lengkap fasilitas. Georgino sedang di paviliun kedua orangtuanya, yang masih ada di wilayah istana besar Gunawan.
Ericko sendiri dibawanya dengan bibi Fani turut mendorong strollernya.
Devana sengaja tidak ikut dengan alasan agak sakit kepalanya. Padahal ia hanya ingin berfikir bagaimana caranya mengerjai pria yang sudah menjadi suami kontraknya itu.
Hm..., aku ada akal! Tiba-tiba wajah Devana cerah kembali.
Ia berdiri melangkah menuju keranjang sampah tertutup yang ada disamping toilet kamarnya.
"Sip! Ternyata masih ada!" gumamnya seorang diri.
Tangannya mengambil bungkusan hitam rapi yang tadi ia buang di keranjang sampah, lalu menaruhnya di atas kasur busa berukuran besar.
Dengan bibir tersenyum sinis, Devana keluar dari kamar dengan menghela nafas lega.
Kita lihat nanti, Tuan Muda Georgino Gunawan! Apa reaksi kau setelah melihat bungkusan hitam di atas ranjang tidurmu yang mewah itu, Tuan? Apa kau akan jadi ileran setelah membuka bungkusan itu? Hmm???
Devana tersenyum geli sendiri.
"Kak Deva? Kenapa senyum-senyum sendirian? Pasti inget sama gombalan Gege ya?"
Devana segera merubah sikap dan mimik wajahnya yang tadi cengengesan. Si wajah tampan Surya Abdi kini tepat berada dihadapannya.
Ya Tuhaaan! Ini cowok koq mukanya ginclong banget? Mirip porselen. Licin dan mulus sekali. Perawatannya pasti luar negeri punya!
Devana menelan salivanya dengan mengangguk kikuk.
"Santai saja, Kak! Tapi, setelah kutahu kalau umurmu ternyata baru 22 tahun... Sebaiknya aku memanggilmu dengan nama Dev saja, boleh ya? Aku juga memanggil Gege tanpa embel-embel Kakak karena hanya beda usia 2 tahun saja!"
"Bo-boleh!"
"Hahaha...ya ampun! Kenapa kaku dan gugup begitu? Apa aku terlihat mirip guru killer di sekolah? Hehehe...! Senang berjumpa dengan perempuan yang sangat cantik sepertimu!"
"Ca-cantik? Aduh... jangan buat Saya tambah grogi dan malu. Apalagi wajah...,"
"Surya. Panggil aku Surya!"
"Wajah Surya begitu tampan, mirip oppa Korea yang bening mempesona!"
Upsss... Ya Tuhaan, aku keceplosan! Devana segera menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
Sementara tawa renyah Surya Abdi semakin membahana membuat wajah Devana bersemburat merona.
💌TO BE CONTINUE
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
liat cowok ganteng bisa heboh gitu, deva?
2022-09-13
0
ℛᵉˣ🍾⃝ɴͩᴀᷞᴜͧғᷠᴀᷧʟ🤎🦁ˢ⍣⃟ₛ
Porselin gak tuh 🤣 ini Devana ada ada aja .. tumben baper ma cowok ganteng
2022-09-06
0
ẅ͜͡üɭäN⃟●⃝ғғ♕︎٭ཽ࿐🐊
tuan muda nya bikin ngakak ih 🤣 dia tau calon papahnya sedang beracting hahaha di ileri ga tuh 🤣🤣🤣🤣
2022-09-06
1