Devana Wandira, hanya bisa bengong melompong di dalam sebuah butik pakaian pengantin besar milik seorang desainer kondang yang biasanya hanya ia lihat di televisi, koran dan majalah ibukota.
..."Hm... Nona cantik, tubuhnya juga bagus dan proporsional. Jadi..., semua pakaian eike pasti jadi keren pas dipakai nanti!"...
Devana hanya diam mematung, ketika pria setengah matang itu mengukur-ukur beberapa anggota tubuhnya dengan sangat lihay.
Tetapi seketika ia agak terkejut dan merah padam wajahnya, saat sang desainer itu mencoba menaruh tali pengukur ke bagian atas dadanya. Devana segera bereaksi sontak memegang dua buah benda berharga miliknya itu tanpa sadar.
..."Maaf, Saya ingin tahu ukuran lingkaran dadanya Nona!"...
Georgino yang sedari tadi hanya duduk dengan kaki menyilang, ikutan menoleh memandang ke arah Devana.
"Ada apa?" tanyanya setelah bangkit dan menghampiri Deva serta sang desainer.
..."Eike cuma mau ukur lingkar dadanya. Tapi Nona ini sepertinya belum pernah pergi sendiri ke butik dan pesan baju ya?"...
"Hei, jaga ucapanmu! Dia ini calon istriku!" hardik Georgino semakin membuat merah padam wajah Deva.
..."Tapi..., tindakanku juga bukan tindakan mesum, Gege! Nona ini reaksinya berlebihan. Seolah-olah aku ingin merem*s gunung kembarnya saja! Padahal, aku lebih suka merem*s dad* dan juga bok*ng Gege! Aauwww!!! Hahaha... Gege nakal!"...
Devana terpana. Georgino tertawa sambil menepuk ****** sang desainer melambai itu.
Pria dewasa itu terlihat seperti sudah biasa berlaku seperti begitu. Tentu saja Deva shock dibuatnya.
Jangan-jangan Kak Gege ini homo?!? Jangan-jangan, desainer pria yang melambai ini adalah pacarnya? Jangan-jangan... itu sebabnya ia lebih memilih melakukan pernikahan kontrak denganku daripada mencari gadis untuk dinikahi resmi olehnya! Hm... ya ampun! Kenapa sih sekarang ini banyak pria ganteng tapi pada belok kelakuannya? Sayang banget itu ketampanan disia-siakan!
Devana akhirnya bisa sedikit santai, ketika tubuh bagian sensitifnya itu agak tersentuh pria lekong yang sedang mengukur beberapa bagian tubuhnya untuk urusan pesan pakaian.
..."Wow... ternyata ukuran cup nya lumayan besar, syay! Hehehe...! Puas dong ni yaaa..."...
"Ck ck ck...! Mulutmu kepingin aku sumpal ya, Julie?" timpal Georgino membuat sang desainer tertawa terkekeh-kekeh.
"Sudah selesai!"katanya sembari merapikan alat-alat ukur serta buku notes dan ballpoin yang dibawanya sedari tadi.
Devana dipersilakan duduk oleh Julie, sang desainer tadi.
"Sebentar ya Nona! Akan eike buatkan baju-baju istimewa untuk Nona Deva yang cantik jelita. Ciaaa... Ciciaaa!"
Seorang gadis keluar dari balik kamar butik. Ia mengangguk pada Georgino juga Devana. Lalu mengambil notes berisi ukuran tubuh Deva yang tadi dicatatnya.
"GPL ya?" katanya sembari mengedipkan sebelah mata kirinya.
"Siap koko Sayang!"
"Ish,..." desisnya ketus.
Georgino hanya tertawa mendengar Julie disebut koko oleh pekerjanya.
Tiga orang karyawan berseragam sama kemudian keluar sembari membawa stand hanger berisi beberapa gaun pengantin berwarna putih. Semuanya tampak indah berkilauan dipandangan mata Devana.
"Hm... Ini adalah keluaran terbaru produk butik gaun pengantin kami! Silakan Nona Deva coba dulu!"
Deva menatap wajah Georgino. Anggukan kepala dari pria itu menjadikan Deva jadi penurut.
Satu persatu dicobanya gaun pengantin harga ratusan juta itu dengan sangat hati-hati dan dibantu salah seorang karyawan Julie.
"Semuanya bagus! Tapi aku hanya butuh satu saja untuk pemotretan. Sebenarnya yang kubutuhkan itu adalah gaun yang simpel saja. Toh calon istriku sudah terlihat cantik jelita bukan?"
"Hehehe... Iya, Gege. Iya. Baiklah, aku akan merekomendasikan satu gaun khusus untuk calonmu ini! Tapi..., inget lho... apa tadi permintaan khususku sama Gege?"
"Siap. Woles, Julie! Aku pastikan barang yang kamu mau akan datang dalam waktu tiga hari kemudian!"
"Asyiiik! Oke, siap Tuan Muda Georgino Gunawan! Hehehe..."
Setelah pakaian pengantin untuk Deva dan Gege selesai, mereka langsung berangkat menuju sebuah studio besar yang letaknya berada agak pinggir Ibukota.
"Kemana lagi kita? Aku kangen Ericko, Kak!"
"Sabarlah dulu. Kita selesaikan hari ini setelah fotoshot untuk buku album pernikahan kita! Ericko aman koq, tenang saja! Bibi Fani itu pengasuh profesional, Dev! Aku juga gak akan berani sembarangan dalam mempekerjakan orang!"
Devana menunduk.
Ia tak lagi berani berkata. Argumen kekhawatirannya seketika dipatahkan oleh Georgino.
Pria mana tahu isi hati wanita yang meninggalkan anaknya pergi meskipun hanya untuk beberapa jam saja! batinnya dalam hati.
Georgino terus melanjutkan niatnya untuk mengambil gambar dengan latar belakang pemandangan alam.
Mereka berdua berasa seperti jadi model setelah satu jam lebih dipoles beberapa perias profesional yang juga dibooking Georgino.
Cekrek. Cekrek...
"Bravo, sempurna!"
Terlihat juru foto begitu puas akan hasil jepretannya. Tapi yang membuatnya senang adalah, jarang-jarang ia mendapatkan klien yang cantik dan tampan bak para model kelas atas ini.
Belum lagi make up artis serta pakaian yang mereka bawa pun memiliki standart mutu paling tinggi. Sehingga lengkap sudah hasil akhirnya.
"Selesai! Terima kasih banyak atas kerja samanya, Tuan Gege! Besok semua selesai dan langsung saya kirim ke kediaman Tuan!"
Georgino mengangguk puas.
Waktu pemotretan sesuai dengan jadwal sehingga ia bisa cepat menjemput Ericko yang dititipkan di rumah kuasa hukumnya dan diasuh oleh pengasuh handal yang akan ia pekerjakan untuk nanti di rumah kakek.
"Ayo, sudah selesai khan?"
"Kemana lagi kita?"
"Katanya kangen sama Ericko! Ayo!"
Netra Devana berbinar indah. Senyumnya mengembang sempurna. Hampir setengah hari ia tak melihat wajah imut Ericko. Kangen menguasai seluruh jiwa raganya.
Georgino tanpa sadar ikut tersenyum senang. Ia bahagia, Devana mampu mengimbanginya dan tidak menyusahkan meskipun memiliki seorang bayi.
Seorang bayi?!?... Seketika Georgino tersadar. Ericko butuh asupan Air Susu Ibu-nya.
Matanya melirik ke arah gundukan dada Devana. Seraya menambah kecepatan kilometer kendaraan roda empatnya.
"Mmh, Deva..."
"Ya?"
"Apa... Ericko mimik susu kamu?" tanyanya gugup dengan suara pelan.
"Apa, Kak? Suaramu terlalu pelan. Aku kurang dengar!" tanya Deva. Semburat merah di wajah Georgino seketika menjalar.
"Ericko minum ASI juga kah?"
Kini berbalik. Deva yang menunduk malu. Tetapi hanya sebentar. Dibenak Deva, Georgino adalah pria yang tidak tertarik pada wanita. Sehingga terdengar gamblang dalam menyebutkan bagian-bagian vital tertentu lawan jenis.
Deva tak tahu. Padahal ketika hendak melontarkan pertanyaan itu, Gege sampai harus menelan saliva dan berfikir ulang. Khawatir dianggap pria mesum yang punya pikiran kotor.
"ASI-ku gak keluar sejak Ericko lahir. Kata bu bidan, aku terserang baby blues dan depresi ringan. Hingga air susu haknya Ericko sama sekali tak mengalir. Makanya Ericko hanya minum susu formula!"
Georgino diam. Kini ia seperti gunung es yang membeku. Tak tahu harus bagaimana dan berkata apa. Obrolan Devana mengarah ke hal-hal yang membangkitkan naluri kelelakiannya yang binal.
"Deva!"
"Ya?"
"Mengapa sampai bisa tak keluar? Bukankah setiap wanita yang melahirkan itu dianugerahi keistimewaan berupa air susu ibu yang wajib disusui oleh anaknya?"
"Hahaha... iya, memang. Tapi ada juga sebagian perempuan yang Tuhan takdirkan tak bisa menyusui meskipun melahirkan seorang bayi. Aku salah satunya!"
"Sudah diperiksa? Apa ada yang salah? Dan pasti ada sebab sampai tak bisa mengalir juga menyusui Ericko!"
Deva menunduk.
"Setelah Ericko lahir, Papanya jatuh sakit. Sehingga aku dan keluarganya fokus untuk merawat kak Chandra! Jadi kurang merawat dan mengurus diri sendiri."
"Boleh kutahu, kenapa kamu bisa pergi dari rumah keluarga suamimu? Padahal... suamimu baru saja meninggal!"
Devana menggelengkan kepalanya berkali-kali. Airmatanya menetes perlahan. Hatinya sedih mengingat kembali perlakuan ibu mertuanya beberapa hari lalu.
Dengan sigap Georgino mengambil beberapa lembar tissue dari tempatnya yang ada di atas dashboard mobil, lalu diberikannya pada Deva.
"Sejujurnya aku juga kurang mengerti, kenapa Mama Lalita dan Papa Xian menyuruhku pergi dari rumah mereka. Tetapi..., aku bisa menarik benang permasalahannya. Kak Chandra menikahiku dua tahun lalu ternyata tanpa izin dan sepengetahuan orangtua serta keluarganya! Itu yang membuat mereka tidak menyukaiku. Mereka hanya bilang, aku tidak pantas bersanding dengan kak Chandra. Aku ini..., anak yatim piatu yang tak jelas asal-usulnya! Hhh..."
Georgino menangkap jemari kanan Deva yang basah dan dingin.
"Sungguh disayangkan sekali tindakan mereka. Padahal putra mereka sudah memiliki keturunan yang kuat pastinya. Bahkan mereka sama sekali tidak peduli pada tumbuh kembang keturunannya sendiri. Pantas saja, Tuhan mengambil nyawa anaknya cepat sekali. Supaya pasangan itu bisa menyadari betapa pentingnya arti buah hati dan darah daging keturunan yang harusnya dijaga baik-baik!"
Devana bungkam. Airmatanya semakin deras mengalir. Ucapan Georgino menyentuh sisi hatinya yang paling dalam.
Sedangkan hati dan fikiran Georgino berbeda. Hati kecilnya berkata, kalau ia tak akan membuat Deva menjadi tidak dihargai seperti itu dalam keluarga besarnya.
Georgino ingin kedua orangtua, kakek-nenek serta para tantenya menghargai dan menyayangi Deva dan Ericko tanpa syarat.
💌TO BE CONTINUE
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
ℛᵉˣ🍾⃝ɴͩᴀᷞᴜͧғᷠᴀᷧʟ🤎🦁ˢ⍣⃟ₛ
Gue dukung Ge.. niat baikmu semoga terealisasikan
2022-09-06
0
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
semoga niat baik gege terkabul.
2022-09-06
0
🍁𝕬𝖓𝖉𝖎𝖓𝖎•𖣤᭄æ⃝᷍𝖒❣️HIAT
astaga kalo ngomong gk di filter nih betty 😁😁
2022-09-06
0