Anton benar-benar melakukan apa yang ia janjikan.
Pria itu pergi ke kota dimana dulu Devana tinggal. Ia mencari rumah yayasan bunda Anne, dengan tujuan bisa bertemu lagi dengan istri sepupunya itu.
Rumah panti yang terlihat sudah agak rapuh itu membuat hatinya miris.
Anton menarik nafas panjang sebelum kepalan tangannya mengetuk beberapa kali pintu rumah yayasan.
"Permisi, assalamualaikum!"
Cukup sepi, dan belum ada jawaban.
Tok tok tok...
Anton kembali mengetuk pintu lagi. Kali ini ia bergeser sedikit ke arah jendela kaca yang agak terbuka tirainya.
"Permisiii!!! Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Ia lega. Akhirnya ada suara jawaban juga dari dalam rumah.
Seorang anak perempuan berumur sekitar sebelas tahun keluar membukakan pintu.
"Permisi, apa Devana ada di rumah?" tanya Anton dengan sopan.
"Kak Dev? Bukannya kak Deva di rumah keluarga kak Chandra ya? Mereka tinggal di kota K!" jawabnya dengan mimik wajah kebingungan.
"Hm... Apa pemilik panti ini ada?" tanya Anton lagi. Ia belum puas dengan jawaban yang ingin diketahuinya.
"Sebentar ya, Mas!"
Gadis kecil itu kembali masuk ke dalam rumah. Ia memanggil sang empunya rumah dengan suara cemprengnya.
"Iya? Mas ada perlu dengan Saya?"
Seorang wanita paruh baya keluar menemui Anton.
"Saya ingin berbincang sebentar, apa Ibu ada waktu?" Kini Anton balik bertanya.
"Tentu. Silakan masuk, Nak! Mari, duduk!"
"Oiya. Nama saya Anton. Saya sepupunya Chandra. Niat saya datang kemari adalah untuk mencari Devana dan putranya, Ericko. Apa... Ibu tahu kemana Devana pergi?"
"Devana?"
Wajah Ibu Anne termangu sesaat.
"Bukannya Deva tinggal bersama suami dan mertuanya di kota K?"
Jawaban yang sama yang dilontarkan ibu Anne dengan gadis cilik tadi.
"Kapan terakhir ibu kontak dengan Deva?" tanya Anton lagi. Sangat terkesan menyelidik. Tentu saja bunda Anne jadi ikutan cemas dan khawatir pada salah satu putri asuhnya itu.
"Ada apa dengan Devana? Bukankah, mereka hidup rukun dan baik-baik saja? Devana khan baru melahirkan? Mas? Memang Devana pergi dari rumah?"
Anton terkesiap. Bu Anne malah kini lebih panik darinya sampai dua telapak tangannya tanpa ragu mengguncang-guncangkan lengan Anton.
Hhh... Hanya helaan nafas panjang yang bisa Anton lakukan. Wajahnya tertunduk lesu.
"Deva, kabur dari rumah tiga hari lalu!"
"Kabur dari rumah? Kenapa? Apa bertengkar dengan Chandra? Terakhir Deva menelpon sekitar dua bulan lalu, katanya hapenya rusak. Jadi tak bisa hubungi Ibu lagi sampai ia punya ponsel baru. Begitu katanya!"
Jadi Devana benar-benar tidak kembali ke panti! Kemana perempuan itu pergi membawa seorang bayi yang masih berumur tujuh bulan? Hhh... Hati dan fikiran Anton mencoba menerka-nerka.
"Jadi Ibu belum tahu kabar berita lainnya dari Devana?" tanya Anton. Ia terus berusaha mengorek keterangan lain dari ibu asuh Deva.
Bu Anne menggelengkan kepala. Ia sungguh tidak tahu.
Dulu Deva sering menghubunginya. Tetapi setelah melahirkan bayi laki-laki, Deva mulai jarang menelponnya. Bu Anne tahu, pasti Deva sibuk mengurus keluarga kecilnya.
Hanya sesekali saja ia menanyakan Deva perihal keadaannya lewat chat singkat. Dan pasti Deva langsung video call mengatakan kalau ia dan keluarga baik-baik saja.
Hanya itu.
Makanya ia sangat kaget ketika Anton mengatakan Devana kabur dari rumah tiga hari yang lalu.
"Chandra sudah meninggal dunia lima hari yang lalu, Bu!"
"Cha Chandra? Meninggal??? Yang benar, Nak?"
"Iya. Ia memang mengidap leukimia sedari masih muda. Kesehatannya drop setengah tahun belakangan ini. Saya juga kurang tahu pasti karena melanjutkan kuliah ke negeri sebrang!"
"Ya Tuhanku Yang Maha Agung! Berikanlah Chandra tempat yang layak, yang indah berupa syurga-Mu!"
Bunda Anne terlihat sangat shock.
Airmatanya berderai tiada henti. Berkali-kali ia menyeka lelehan bening yang mengucur deras dari kanan dan kiri kelopak matanya.
Hidungnya juga basah dan memerah.
Rupanya kabar yang Anton bawa benar-benar memukul batinnya secara mendadak.
Devana, adalah putri pertama yang ia asuh 22 tahun lalu.
Seorang petugas dinas sosial memberikan tubuh mungil yang baru keluar dari ruang perawatan intensif setelah seharian kondisinya begitu miris mengkhawatirkan untuk Anne rawat.
Tubuh mungil itu tergeletak di teras rumahnya. Tubuhnya ditaruh di dalam box bekas mie instant, hanya dengan berselimutkan kain lusuh.
Berawal dari hanya titipan dari pihak Kepolisian setempat, akhirnya ia mengajukan keinginan adopsi pada Kelurahan dan Dinas Kependudukan terkait.
Bayi cantik itu ia beri nama Devana Wandira.
Lagi-lagi Bunda Anne menangis sesegukan mengingat nasib dan kisah hidup putri asuh pertamanya.
"Apa... Devana punya teman akrab di sini, Bu?"
Bunda Anne hanya bisa menelan saliva, lalu menggeleng kepalanya pelan.
"Deva tidak punya banyak teman. Sejak kecil ia selalu gigih bekerja membantu perekonomian kami. Hik hiks... Bahkan sepulang sekolah pun ia tak pernah punya keinginan untuk kumpul bersama teman sebayanya. Hanya membantu Ibu di rumah lalu pergi bekerja kemana saja yang membutuhkan tenaganya."
Hm... Pantas saja perempuan itu jadi matrealiatis. Rupanya hidup susah sedari kecil!
"Ibu pun menikahkannya karena lamaran Chandra dan menikahkan mereka segera demi inginkan kebahagiaan Deva. Setidaknya, fikirannya tidak harus terus tertuju pada rumah ini, Ibu dan juga adik-adik panti! Bahkan uang mahar yang Chandra berikan sebesar dua puluh juta pun Deva alokasikan untuk merenovasi rumah ini, Nak! Itulah Deva! Hik hik hiks..."
Anton hanya diam membisu.
Ia juga bingung. Tak tahu harus berkata apa.
Cerita bu Anne membuatnya ikut terhanyut juga. Anton juga mencoba mengkaitkan cerita Chandra soal kebaikan Devana beberapa waktu lalu.
"Ya sudah, kalau begitu saya pamit ya Bu!? Saya akan coba cari dahulu ketempat lain. Mungkin ke teman-teman masa sekolahnya!"
"Baiklah! Tapi..., tolong kabari Ibu kalau Nak Anton sudah menemukan Deva, ya? Tolong katakan padanya, Bunda menyuruhnya pulang kemari! Ini nomor kontak Bunda!"
Anton mengambil kartu nama yang Bunda Anne berikan. Ia mencium punggung lengan wanita baik hati itu. Lalu mengucapkan salam, izin pamit pergi.
Langkahnya gontai, pencariannya tak berhasil.
Anton termenung sebelum menyalakan mobil pajero sport miliknya.
Bisa jadi ini pengaruh orang luar. Sampai si Devana berubah sifat dan tabiat seperti sekarang ini! Jujur, aku mungkin akan lebih respek dan memaafkan kelakuannya pada Uncle dan Unty-ku terutama pada mendiang Chandra jika ia kabur ke yayasan panti asuhan. Tapi ternyata ia tak pulang ke tempat asalnya tinggal! Justru kabur tak jelas kemana rimbanya! Mungkin dia tahu, kalau ke yayasan pasti Uncle dan Unty akan menemukannya segera. Makanya dia pergi bersama orang lain dan mereka foya-foya dengan uang tabungan Chandra! Sial*n memang, perempuan sundal itu!
Anton menyalakan mesin. Ia tancap gas segera meninggalkan pinggiran kota K. Kini tujuan berikutnya adalah gedung sekolah SMA Budi Santosa. Tempat Devana dan Chandra bersekolah.
Ia berharap bisa mendapatkan buku tahunan angkatan Deva dan juga Chandra. Sehingga ia bisa menelusuri satu persatu orang yang dicurigai telah membawa Devana pergi dari kediaman keluarga Chandra.
💌TO BE CONTINUE
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
ℛᵉˣ🍾⃝ɴͩᴀᷞᴜͧғᷠᴀᷧʟ🤎🦁ˢ⍣⃟ₛ
Tetap lah tenang Anton agar kamu bisa berpikir jernih dan bisa mencari Deva
2022-09-06
0
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
anton bakal bisa nemukan devana gak ya?
2022-09-06
0
🍁𝕬𝖓𝖉𝖎𝖓𝖎•𖣤᭄æ⃝᷍𝖒❣️HIAT
anton ganteng banget yaks 😄
2022-09-06
0