Mama Georgino sangat kaget dan nyaris shock setelah mengetahui sang putra pulang membawa seorang perempuan yang menggendong bayi laki-laki.
Bagaikan mimpi baginya, kini statusnya jadi 'Nenek' karena ternyata Georgino sudah punya anak.
Matanya bahkan sampai tak berkedip menatap Devana dan juga Ericko silih berganti.
"Ini beneran putramu, Ge?" tanyanya lagi untuk yang kesekian kali.
Sang suami yang tak lain adalah Papanya Georgino hanya bisa termenung, bingung.
Putranya pulang membawa perempuan yang dikenalkannya sebagai istri. Ditambah seorang bayi berumur tujuh bulan diakui sebagai anak Georgino.
Sungguh pengakuan yang membuat dadanya sedikit sesak.
Devana sendiri hanya bungkam. Lebih banyak diam dan menunduk karena takut menghadapi situasi yang tidak ia prediksi ini.
Kedua orangtua Georgino jauh lebih menakutkan dari orangtua Chandra di awal pernikahan mereka yang dilakukan tanpa izin dan restu.
Tapi kasus yang kini sedang menimpa Devana adalah kasus kebohongannya yang luar biasa dengan mengaku sebagai istri dari pria yang baru setengah hari ia kenal.
Ini gila. Benar-benar tindakan gila!
Tanpa aba-aba juga rencana. Bahkan tanpa kesepakatan terlebih dahulu dengan Georgino soal latar belakang keluarganya. Devana mau-maunya ikut andil berperan sebagai istri kontrak Georgino.
Seburuk-buruknya Deva, ia tak pernah berbohong. Selain tak pandai berbohong dan akting, ia juga takut Tuhan murka.
Ia hanya hidup mengikuti arus. Belajar dengan sungguh-sungguh karena kasihan pada ibu asuh yang baik hati mau membiayai sekolahnya.
Tamat sekolah dengan nilai baik, lalu mencari pekerjaan segera demi mendapatkan uang untuk membantu meringankan pengeluaran adik-adik penghuni panti asuhan tempatnya tinggal.
Menjadi SPG di sebuah gerai makanan siap saji adalah pekerjaannya setamat SMA.
Devana tak pernah berani bermimpi terlalu tinggi. Apalagi sampai bisa menikahi pria kaya seperti Chandra.
Semua kisah dalam hidupnya mengalir laksana arus air. Tak pernah ia khayalkan apalagi harapkan bersuamikan pria muda anak orang kaya raya.
Impiannya sedari kecil hanyalah ingin memiliki keluarga utuh yang bahagia meskipun dalam kesederhanaan. Itu saja maunya. Tak pernah neko-neko.
Tapi Tuhan rupanya menganugerahkan lebih. Setelah mengikuti acara reuni SMA nya, ternyata ia bertemu dengan kakak kelas yang membuatnya kesemsem karena kemisteriusannya.
Chandra Putra Sukoharjo. Bertubuh jangkung tipis seperti papan penggilesan kata Ijah teman sebangkunya kala itu.
Wajahnya memang tampan, tapi dingin. Dan senyumnya sangat mahal saking jarangnya Chandra tersenyum.
Chandra bukan anggota OSIS. Chandra juga tidak tergabung dalam club basket yang isinya para pria tampan bertubuh atletis.
Chandra tak tergabung dalam komunitas apapun. Baik seni apalagi beladiri.
Pemuda kerempeng itu hanya punya kulit putih, hidung bangir dan mata sipitnya yang orang bisa tahu darah keturunannya.
Bahkan Chandra sepertinya tidak pernah ikut kegiatan ekstrakulikuler di sekolahnya. Itu yang tak pernah Devana sadari, kalau Chandra adalah seorang penderita leukimia sedari usia sembilan tahun.
Suatu ketika Devana menemukan buku raport bertuliskan nama Chandra di meja kantin sekolahnya.
Buku raport adalah buku yang sangat penting bagi setiap siswa. Itu sebabnya ia berinisiatif mengantarkan langsung ke kelas Chandra. Chandra adalah siswa kelas 3 IPS 2 saat itu sedangkan Deva baru kelas 1 belum menentukan jurusan.
Chandra yang berterima kasih karena Deva mengantarkan buku raportnya sampai kelas berniat memberinya imbalan. Namun ditolak. Padahal saat itu uang yang disodorkan Chandra senilai seratus ribu rupiah. Uang jajannya sehari.
"Tidak bisakah kakak mengucapkan kata terima kasih yang tulus saja tanpa harus memberi imbalan uang?"
Ternyata respon Devana bertolak belakang dari apa yang Chandra fikirkan.
"Kenapa? Apa kakak fikir karena saya anak yatim piatu, lantas saya senang mendapatkan uang dari kakak yang bahkan tak mau mengucapkan kalimat pendek 'terima kasih'?"
Disitulah Chandra melihat kepribadian seorang Devana yang luar biasa. Dan mulai tertarik mengamati gadis pemberani itu dari kejauhan.
Bahkan sampai Chandra lulus sekolah, tiada kisah terjalin diantara mereka.
Dan Devana pun melanjutkan dua tahun berikutnya menuntut ilmu sampai tamat pula.
Takdir rupanya telah Tuhan siapkan untuk mereka.
Bertahun-tahun tak bersua, kemudian kembali dipertemukan dalam suatu situasi yang membuat Chandra kembali terpukau akan kecantikan wajah dan hati Devana.
Keapesannya yang ketinggalan dompet justru menjadi titik balik tersambungnya tali silaturahmi Chandra dengan Devana.
Turun dari ojol, Chandra kebingungan. Dompet rupanya ketinggalan.
"Berapa, Mas?" tanya Deva yang kebetulan sama juga saat itu baru turun dari ojek online. Langsung gerak cepat karena melihat kecemasan di wajah Chandra. Devana tak mau orang semakin ramai berkerumun dan mempermalukan Chandra saat itu.
"Tiga puluh dua ribu, Mbak!" jawab mas-mas ojol.
"Ini, Mas!"
"Terima kasih, Mbak!"
Devana membayarkan ongkos ojek Chandra dan hanya tersenyum meninggalkan kakak kelasnya dua tahun lalu.
"Kamu, Devana khan? Devana Wandira?"
"Iya."
Entah mengapa, saat itu Chandra memiliki banyak keberanian untuk mendekati Devana.
Empat tahun tak berjumpa, wajah-wajah cupu culun punya Chandra telah berubah pastinya. Membuat kepercayaan dirinya meningkat tak seperti jaman sekolah dahulu.
Apalagi kini tubuhnya pun tak kerempeng lagi.
"Makasih banyak, Deva!"
Senyuman paling indah yang Chandra lihat dari seorang perempuan cantik. Ia merasa, Deva wajib untuk dikejar.
Ia yang selama ini sudah begitu apatis dengan hidupnya yang sering pulang-pergi keluar masuk ruang IGD rumah sakit, seketika seperti mendapatkan suntikan semangat.
Hidup adalah anugerah Tuhan.
Umurpun Tuhan Yang Mengatur.
Meskipun mengidap penyakit mematikan, ternyata menunggu datangnya ajal adalah sesuatu hal yang menyakitkan.
Dan dia sudah berada di titik jenuh menunggu saat-saat pemakamannya tiba.
Chandra kini ingin berganti suasana.
Bunga-bunga cintanya pada Devana bermekaran tanpa sanggup ia kendalikan.
Mencoba mengekor kemana pun Devana pergi di saat acara reuni, Chandra sempat mendapatkan tuduhan tidak mengenakkan.
"Kakak sepertinya masih punya dendam ya sama aku gara-gara aku pernah mengatakan hal yang menyakiti hatimu?"
Tentu saja Chandra menampik.
Ia murni ingin mengenal Devana lebih dekat. Empat tahun tak bersua, ini adalah kesempatannya bisa mengobrol bersama.
"Kamu, tidak mau temenan sama aku?"
"Bukan begitu, Kak! Cuma agak merinding aja lihat kakak yang seperti bodiguardku yang mengikuti kemana langkahku pergi! Hehehe..."
"Bukan begitu, Deva! Dulu... saya cuma bisa melihatmu dari kejauhan!"
"Eh?" Devana kaget mendengar penjelasan Chandra.
"Iya. Selama ini Saya hanya bisa mengagumi Deva karena kebaikannya!"
Deva tersentuh, sebelas dua belas dengan tersanjung.
Apa benar yang Chandra ucapkan?
Mereka mulai intens saling mengirim chattan. Walau hanya sekedar tanya kabar dan cerita tentang aktifitas keseharian.
Cinta tumbuh dari mata turun ke hati.
Dari perhatian-perhatian kecil yang Chandra sengaja lancarkan pada Devana pun ada hasilnya juga.
Gayung bersambut, cinta mulai menampakkan diri. Indah bersemi perlahan namun pasti.
Devana jatuh cinta pada pesona dan ketulusan Chandra dalam mengungkapkan rasa cintanya.
Hampir setiap hari menyambangi stand tempat Devana bekerja, Chandra mengantar pulang sampai pintu yayasan.
Bunda Anne pun menerima Chandra dengan ramah karena kakak kelasnya itu sopan dan juga santun.
Begitulah. Hari demi hari, Chandra kian menancapkan panah asmara di hati Devana.
Tepat tiga bulan, Chandra meminta Devana pada bunda Anne. Bahkan langsung meminang dengan uang mahar sebesar dua puluh juta rupiah. Chandra kata, uang itu bisa digunakan untuk renovasi rumah yayasan yang memang bocor separuh atapnya.
Chandra tidak menginginkan pesta pernikahan, kecuali pernikahan yang resmi dan tercatat dalam KUA. Itu saja permintaannya selain syukuran kecil-kecilan yang digelar sebagai hari bersejarah dalam hidupnya.
Devana meminta bunda Anne menerima keputusan Chandra. Karena uang dua puluh juta lebih berarti dan lebih dibutuhkan bunda ketimbang dirinya juga Chandra.
Chandra bilang pada Deva, seminggu setelah pernikahan akan memboyongnya ke kota lain, tempat tinggal kedua orangtua Chandra.
Satu yang menjadi pe'er di fikiran Deva, pernikahan Chandra tak dihadiri kedua orangtuanya dengan alasan ada kejadian tak terduga di kediaman mereka. Kakeknya meninggal dunia, dan kedua orangtuanya harus mengurus semua acara pemakaman. Tak bisa melihat putra tunggalnya mengucap ijab kabul.
Hanya beberapa orang utusan dari mereka yang mengantar dan menghadiri acara pernikahan mereka.
Baru kini Deva tahu, itu semua adalah salah satu contoh kebohongan Chandra agar benar-benar bisa menikah tanpa ditentang kedua orangtuanya.
💌TO BE CONTINUE
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
menikah tanpa restu memang tidak mudah, apalagi keluarga Chandra ngelihat orang dari status sosialnya
2022-09-06
0
🍁𝕬𝖓𝖉𝖎𝖓𝖎•𖣤᭄æ⃝᷍𝖒❣️HIAT
mudah2an gk ketahuan ya dev..
2022-08-29
0
❤️⃟Wᵃfᴍ᭄ꦿⁱˢˢᴤᷭʜͧɜͤіͤιιᷠа ツ
Chandra begitu mencintai Deva tapi sayang takdir berkehendak lain, semoga aja Deva mendapatkan pengganti Chandra yang benar-benar tulus mencintai Deva seperti Chandra
2022-08-29
0