Treeet... treeet... treeet
Devana mengambil ponsel dari dalam tas besar yang dibawanya.
Tanpa sengaja ia sampai menyenggol pria yang sedang tidur dengan wajah ditutupi selembar koran disebelahnya.
"Maaf," ucapnya menoleh pada pria tersebut lalu mengangkat panggilan teleponnya.
"Hallo? Bi Asih? Iya, Bi! Deva sekarang sudah ada di atas kereta. Iya, Ericko anteng. Sepertinya sangat mengerti keadaan Mamanya. Jadi gak rewel. Terima kasih, Bi! Bibi sudah banyak berjasa pada kami. Kami gak tahu harus bagaimana jika tanpa bantuan Bibi. Mas Chandra sudah tiada, sudah berpulang ke Pangkuan Yang Maha Kuasa. Mungkin ini nasib buruk Saya dan Ericko, Bi! Saya ikhlas..., Saya akan mencoba peruntungan di ibukota. Semoga Saya bisa mencari tempat tinggal dan juga pekerjaan untuk kehidupan kami selanjutnya. Tolong doakan kami selalu ya, Bi! Iya, terima kasih!"
Klik.
Pria yang tadi tersenggol rupanya terusik dengan suara cempreng Devana yang tanpa sadar semakin keras.
Iya. Devana saat ini memang sedang berada di atas kereta api. Duduk di atas salah satu kursi kelas bisnis Kereta Rel Listrik arah tujuan Ibukota dari stasiun di kota K.
Dengan menggendong bayi laki-laki yang baru berusia tujuh bulan, ia memang sedang melakukan perjalanan hijrah. Pindah mengadu nasib ke Ibukota.
Anak laki-laki bernama Ericko Putra adalah darah dagingnya buah cinta pernikahan dua tahun bersama Chandra Putra Sukoharjo.
Suaminya itu baru saja meninggal dunia dua hari yang lalu.
Yang barusan telepon adalah Bi Asih. Beliau pembantu rumah tangga orang tua Chandra Putra.
Hanya bi Asih seoranglah yang kini peduli padanya saat ini. Devana merasa sangat bersyukur Tuhan mengirimkan orang sebaik Bi Asih untuk menolongnya.
Kini Dia adalah seorang janda. Dan harus bisa menghidupi putra semata wayangnya seorang diri, tanpa adanya suami yang selama ini menafkahi. Mau tidak mau, sanggup tidak sanggup, Devana harus bisa berdiri tegak diatas kakinya sendiri demi kelangsungan hidupnya dan Ericko setelah diusir oleh kedua orang tua mendiang Chandra.
...........
*Kejadian Sehari Yang Lalu*
"Kau boleh pergi dari rumah ini sekarang juga! Mulai detik ini, diantara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Begitu juga dengan putramu, Ericko! Dengar baik-baik, kalian tidak boleh mengaku-ngaku sebagai bagian dari keluarga besar Sukoharjo. Dan Ericko juga tidak bisa lagi menggunakan nama Sukoharjo dibelakang namanya, karena sudah kuhapus dan kurubah akta kelahirannya!"
Laksana tersambar petir di siang bolong.
Devana tak percaya jika kalimat-kalimat pedas itu bisa keluar dari bibir mungil Nyonya Lalita Felicia, Ibu Mertuanya yang sangat ia hormati.
Baru beberapa jam yang lalu, beliau memeluk erat tubuh Devana di area pemakaman. Mendampinginya menerima ucapan belasungkawa dari para pelayat yang ikut hadir di San Diego Hills. Tempat jenazah Chandra Putra Sukoharjo dikebumikan.
"Mama...! Mengapa Mama berkata sekejam itu padaku juga Ericko? Lalu kami harus pergi kemana? Tinggal dimana? Kami tak punya siapa-siapa lagi selain kalian! Hiks hiks..."
"Jangan panggil aku Mama! Aku bukan Mamamu. Dan meskipun Ericko adalah darah daging Chandra, tetapi aku tidak mau menerimanya. Karena memang sedari awal aku tidak menyetujui pernikahan kalian yang digelar tanpa izin dan persetujuan kami! Ini! Ambil buat bekalmu dan Ericko! Jangan pernah mengatakan kalau kau pernah menikah dengan putraku keturunan Sukoharjo pada orang lain diluar sana! Dan jangan sekali-kali membuat masalah dengan keluarga kami. Ingat, nyawamu adalah taruhannya! Aku bisa saja menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisimu dan membuat putramu itu bernasib sama sepertimu, jadi anak yatim piatu!"
"Tidak! Jangan, Nyonya! Saya akan pergi jauh dari kota ini! Saya... tidak akan membawa-bawa nama Sukoharjo lagi!" pekik Devana sembari mengambil akta kelahiran putra tunggalnya.
Sangat menyesakkan dada Devana. Tapi ia tak bisa berkata apa-apa, tak mampu berbuat apa-apa. Hanya berdoa dalam hati, semoga Tuhan memberinya kemudahan untuk membesarkan sang buah hati.
Langkah kakinya gontai, tapi ia berusaha tegar.
Tuhan! Kemana aku harus pergi? Kemana langkah ini kuayunkan? Jalan mana yang harus kutelusuri? Apakah aku kembali saja ke panti asuhan tempatku tinggal dahulu? Tuhan... Tolong berikan aku jalan! Hati kecilnya yang tengah merapuh berdoa sepenuh hati.
Matanya tak berhenti menatap wajah tampan Ericko yang sebelas dua belas dengan mendiang Chandra Putra Sukoharjo.
Airmatanya terus menetes tak tertahankan, memikirkan nasib sang putra yang miris bahkan tak diakui sebagai salah satu keturunan Sukoharjo.
Bahkan mereka sampai hati mengubah identitas putranya dengan menghilangkan nama Sukoharjo dari nama belakangnya. Akta kelahiran Ericko sampai digubah dan diganti pula di dinas kependudukan.
Harta dan kekuasaan membuat mereka gelap mata serta mudah melakukan hal-hal yang mustahil bagi Devana.
Janda muda 22 tahun itu hanya bisa mendekap tubuh Ericko Putra dengan hati hancur berkeping-keping. Sesekali ia menoleh, menatap ke arah rumah besar yang banyak memberinya kenangan indah selama menikah dengan mendiang Chandra Putra. Suaminya tercinta dan tersayang.
Devana sangat bingung, kenapa sampai hati kedua orangtua mendiang Chandra tega memperlakukannya seperti itu. Padahal Ericko adalah satu-satunya keturunan yang mereka punya.
Entah bagaimana cara pandang dan pola fikir mereka. Devana tak mengerti.
💌To Be Continue
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
𝔉𝔢𝔯𝔬𝔫𝔦𝔫𝔞ʚɞ⃝🍀ᰔᩚ℠
sabar ya devana. semoga kehidupan mu lebih baik
2022-09-06
0
🍾⃝ ͩMᷞᴇͧᴍᷡᴀͣˢ⍣⃟ₛ ❤️⃟Wᵃf 𝐀⃝🥀
hedeh punya mertua jahat banget gitu
istilah meninggal tuh mantan istri ada tapi mantan cucu gak ada
kasian devana jg ericko🥲
2022-09-06
0
.
hadeh mertua Deva orang yang egois gak mikirin perasaan Deva
2022-08-29
0