Pintu rumah ku buka, kulihat suamiku tersenyum pada ku, Ku abaikan tak perduli. Setelah ku buka pintu Aku tetap menyalurkan tangan ini mencium punggung tangannya, dan berbalik meninggalkannya setelah suamiku Yahya menutup pintu depan.
Tidak ku tanyakan kemana dan kenapa Ia tidak pulang semalam, tidur dimana. Walau hati ini penasaran dan penuh tanda tanya. Karena Aku tau suamiku pasti akan tidak jujur dan aku pun tau Ia akan melakukan seakan tidak terjadi apa-apa, karena itu pun sudah menjadi kebiasaannya.
Kulihat suamaiku Yahya masuk langsung ke kamar tanpa menegurku, se akan aku yang salah disni.
Aku kembali duduk di sofa, dengan TV menyala. ku abaikan suamiku yang masuk ke kamar pasti Ia bersih-bersih dan ganti baju. Kemaren suamiku pergi dengan baju lain hati ini ia pulang dengan baju berbeda bukan baju yang Ia miliki.
"Apa Ayah beli baju lain, Ia kemaren pergi tidak membawa baju satu pun, malam ini pulang dengan baju kemeja abu-abu celana hitam. sedang kemaren malam baju kaos merah celana coklat dan baju ket coklat juga." Bisik ku pada diriku.
Pikiran Ku terus menggenerawang kemana-mana.
terbayang Lipstik yang jatuh dari kantong baju suamiku, banyak yang pertanyaan belum terjawab. Membuat hati semakin pilu. Namun lagi-lagi Aku tidak tau harus berbuat apa. Air bening ku tahan agar tidak jatuh, Aku tidak mau terlihat lemah di depan suamiku. Aku tidak boleh rapuh, Aku terus membatin dan menguatkan diri sendiri.
15 menit berlalu....
Sebuah tanggan memegang bahuku, kupalingkan wajah. Senyum minis di bibirnya terukir indah padaku. Namun Hanya wajah datar ku berikan. ku tak bisa lagi menahan rasa dan kecewa ini. bukan sekali dua kali Ia membuatku kecewa, nanum sudah sekian kalinya. Bagaikan luka yang di taburkan garam, sakit luar biasa ku rasakan. namun ku coba terus bertahan.
Kini Yahya sudah duduk di sofa samping Keumala.
"Cemberut amat sih, Mama." Senyum. mengembang di bibir Yahya.
Keumala diam tak menangapi perkataan Yahya.
"Maaa..., Ayah semalam tidak pulang karena ada suatu hal yang tidak bisa Ayah ceritakan pada mama." Tutur kata keluar dari mulut Yahya.
Kulihat wajah suamiku dengan inten, tak percaya Aku, ucapannya sungguh menusuk sampai ke ulu hatiku.
Kenapa Ia tidak cerita sama Aku, emang aku ini di anggap apa.. Tidak aku harus selesaikan semua ini aku tidak mau di remehkan walau ia suamiku, sebagai seorang perempuan apa lagi statusku istri sah Ia. bisik hatiku.
"Oo.. Jadi Gitu ya.. Emm... Ya ya.. Aku ini gak perlu tau dan tidak usah tau.. Emangnya aku ini siapa nya Kamu sih, Ayah. Kamu pergi pagi, pulang pagi lagi ya.. gqk masalah." ucapku pelan namun tegaskan.
Aku bangkit menuju kamar, Ku Tinggalkan suamiku Yahya masih duduk dan berkata membela dirinya, Namun aku tidak mau dengar, Emosiku sudah di ubun-ubun.
Ku masuk kamar ku ambil lipstik yang jatuh dari kantong baju suamiku.
"Ini apa, Yah." Tanyaku sambil menunjuk kan sebuah lipstik di tangan ku.
"Gak Tau, Maa" Ucap Yahya sambil mengambil lipstik di tangan Istrinya.
Tangan di dada ku hembuskan nafas kasar, Aku tak tau apakah suamiku jujur atau tidak, yang pasti benda itu ku dapatkan dari kantong baju suamiku dan itu lipstik benda pasti milik perempuan.
"Apa Ayah Sekarang mengunakan lipstik?" Tanyaku
"Tidak Lah, Mama." Balas Yahya buru-buru.
"Ini jelas lipstik lho Ayah, Yang kemaren jatuh dari katong baju Ayah." Jelas ku lagi pada suamiku Yahya.
"Iya... Mama. Ayah tau ini lipstik ta-tapi..." Ucap Yahya mulai gugup.
"Tapi Apa, Ayah." Sambung Aku mendengar suamiku gugup dan lama menjawab, seperti. lagi mencari sebuah alasan.
"Tidak mungkin lah, Ayah mengunakan lipstik, Ayah laki-laki sejati, buka jadi-jadian." Senyum dibuat -buat terukir di wajah Yahya.
"Kalau bukan punya Ayah, punya siapa juga." Tanyaku.
"Punya Mama kali." Balas Yahya dengan melihat tempat lain seakan cuek.
"Kalau punya Mam.. tidak mungkin mama tanya Ayah..." Kini suaraku mulai tinggi.
Ku lihat mimik wajah suamiku lagi kebingungan.
Tak akan ku biarkan ini berlalu begitu saja, sudah sifat suamiku Yahya yang membuat semua masalah berlalu begitu saja tanpa kata permintaan maaf setiap kali Ia berbuat salah tau menyakiti hatiku. Tekat ku dalam hati.
"Jawab Ayah! kenapa Ayah diam.. Atau jangan-jangan ini punya perempuan simpanan, Ayah?." Ku tatap wajah lelaki yang berstatus suamiku.
"Bu-bukan, Maa." Kini suara suamiku ini Mulai gugup ku tatap wajahnya ku ingin melihat kejujuran di sana, Namun Keringat di wajahnya menandakan Ia lagi berbohong.
"Kenapa gugup, Ayah." Tembak ku langsung tak ingin bertele-tele lagi.
Aku sakit dan kecewa namun aku harus tegas, ini kenyataan, Namun Aku berharap ini hanya mimpi buruk ku.
"Sudahlah, jangan membuat keadaan makin kacau, Maa."
Lhok, Apa-apaan ini.. Ia tuduh ku membuat kekacauan, Memperburuk keadaan, tidak akan kubiarkan ini, dah pinter bicaranya. batinku tak terima.
"Apa maksud ayah, Mama membuat keadaan makin buruk, Gak salah.. Ayah sediri yang membuat keadaan ini." Rasa kesel sudah di ubun-ubun tangan ku lipat di dada dengan lipstik masih aku pegang.
"sudah lah, Maa, mendingan kita keluar ayo cari angin." Dengan. mimik tak bersalah dan santai.
"Tiiiidaaaaak!" Suaraku lebih keras
"Ini harus selesai sekarang, ini aku serius Mr Yahya. tolong sekarang jujur dan jelaskan kemana semalam tidak pulang." Tambak ku lagi.
"Te-tenang, Maa." suara gugup namun di coba terlihat santai dengan senyum terpaksa terukir di bibir.
"Beneran Ayah tidak tau punya siapa lipstik itu, Maa." Kini dengan suara penuh emosi Tangkas Yahya.
"Ayah cuma nginap tempat kawan, Karena kami di kafe sampai tengah malam. Teman Ayah tidak bisa mengemudi mobil karena sudah mengantuk sekali, Ayah antar pulang Ia." Tambah Yahya Lagi mulai menjelaskan.
"Lalu Ayah kemana lagi, Kenapa tidak pulang?."
Mama tidak tanya teman Ayah. Namun AYAH KENAPA TIDAK PULAANG." Tanya Ku dengan penuh penekanan dan suara lebih rendah seperti mengeja kata kata.
"Yaa ka-karena A-Ayah tidur rumah Ia." Ucapnya dengan suara terpata-pata.
"Ooo.. Gituuuu. Mama mohon Ayah jujurlah, Jangan begini." Suaraku serak karena ku tahan tangis agar tak pecah.
Diam sesaat.
"Jawab." Ucapku
Lelaki yang ku cintai ternyata masih diam tak berkutik. Aku tak tau apa yang Ia pikirkan. Yang Ku Tau Aku terluka, Aku tersakiti, Aku kecewa.
Hanya Diam tau menjawab, Ia duduk di sofa tak membalas kata-kata ku mau pun memberi penjelasan semua ini. Membuatku semakin emosi. Kini aku tak sanggup lagi menahan air bening yang mengalir membasahi pipi ini.
Driii Driii
Benda pipih milik suamiku berbunyi. Ku alih pandangan pada benda itu. Aku tak dapat melihat siapa gerangan yang menghubungi Lelaki berstatus suami sah Ku. Ia melihat sekilas namun seperti tak ada niat untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Siapa yang menghubungi mu, Ayah." Rasa penasaran membuat Aku bertanya. Tak tahan hati ini untuk tidak bertanya. Sambil ku hapus air bening yang membasahi pipi ini. Aku bangkit dan mendekati suamiku.
Ia tak menjawab melihat. ku sekilas dan mematikan panggilan dengan menggesernya tombol warna merah.
"Kenapa Tidak Ayah Jawab." Tanyaku lAgi
Yahya masih diam.
Dree dree
Kini benda pipih itu bunyi lagi Suamiku langsung menolak panggilan tersebut.
******
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Karisma Ad🕊️⃝ᥴͨᏼᷛ
Janganlah kamu menyembunyikan masalah Yahya, jika benar kamu tidak melakukan hal yang di tuduhkan oleh Kumala. ceritakanlah masalah itu, aku yakin Kumala akan mengerti, dari pada kamu hanya menyembunyikannya dan membuat suasana makin kacau.
2022-11-27
0
reedha
Nah ini yang bakal bikin Keumala berpikiran buruk sama kamu, Yahya. Kalau alasannya bagus dan masuk akal, ya tidak perlu ditutup-tutupi.
2022-11-26
2
Neunek Ulka
Kalau Kamu jadi Keumala..
Apa yang akan kamu lakukan?😩🤔
2022-09-17
1