"Kenapa kemari," Tanya Aku
"Kamu ini di telp tidak kamu angkat-angkat, makanya Mamak kemari bersama Siti," Ungkap Mak Hendon.
"Istri saja belum pernah menginjak kakinya ke kantor ku apa lagi masuk keruangan aku, ini Siti bukan siapa apa aku udah duduk di ruangan kerja aku," Batin Ku berkata.
"Kalo sampai Mala tahu, Pasti Ia akan marah padaku." Tambah batinku lagi
"Bukan gitu, Mak. Yahya tadi pagi-pagi ada meeting sama orang cabang pusat." Yahya menjelaskan pada Mak Hendon.
"Alasan saja kamu," Ucap Ma Hendon.
Siti hanya duduk tanpa bersuara. Ia biarkan Ibu dah anak itu menyelesaikannya.
Aku terus saja memberi penjelasan pada orang yang telah melahirkan ku, Namun Mamak Kekeh pada pendapatnya, dan tau mau perduli pada penjelasan Aku sebagai putranya.
Mamak terus menyalahkan Keumala. Padahal Keumala di rumah tidak tahu apa-apa dan Keumala tidak pernah melarang Aku untuk bertemu atau menerima telpon kecuali membiayai Keponakan Aku Wandi yang bukan Anak yatim tapi anak yang memiliki kedua orang tua yang masih lengkap dan termasuk orang berada.
" Si Mala itu yang melarang kamu, bertemu Mak mu ini." Tanya Mak Hendon sinis.
"Tidak, Mak. Mala istriku tidak pernah mejelek-jelek kan Mak apalagi sampai melarang, Yahya, emang lagi sibuk, banyak kerjaan, Mak." Aku mencoba menjelaskan dan membela istriku yang memang tidak seperti di tuduh padanya.
"Mak gak percaya, itu pasti akal bulus istrimu." Ungkap Mak Hendon
Lebih baik kamu ceraikan istrimu itu, kami nikah saja sama Siti, lihat Siti Ia lebih cantik, kaya dan seorang dokter lagi." Ucap Mak hendon bangga.
"Yaa Allah, apa maksud Mamak Ku ini." Keluh Batin Aku.
Siti senyum-senyum sendiri. Ia. senang banget hatinya berbunga-bunga mendengar perkataan Mak Hendon untuknya.
Tinggalkan si Mala dan nikahilah Siti." Ulang Mak hendon.
Yahya mengacak acak rambutnya.
"Aku sudah berkeluarga, sudah memiliki putra putri, Aku tidak mau menyakiti istri dan anak-anakku, Aku mencintai mereka." Ungkap Yahya pada Mak Hendon.
Wajah Siti berubah cemberut.
Dree dree suara ponsel Yahya.
Yahya melihat sekilas "Istriku" terpapar nama di benda pipih itu.
Yahya mengabaikannya, namun ponselnya terus berbunyi. Pada dering ke tiga kali Yahya baru menekan tanda biru di ponselnya.
"Assalamualaikum, Mama." Ucap Yahya sambil melirik Mak Hendon dan jari manisnya di letakkan pada bibirnya.
Yang memberi isyarat bahwa Mak Hendon jangan bersuara.
Mak Hendon menuruti ke inginan anaknya.
"Waalaikumsalam, Ayah. Ayah bisakah Ayah ke sekolah Dek Al sebentar untuk membawa pulang Dek Al." Ucap Keumala dari seberang sana.
Yahya mengerut dahinya. Ia merasa aneh padahal Ia tahu kalau Keumala tidak pernah meminta dirinya untuk menjemput anak-anaknya.
"Biasanya Mama yang jemput Dek Al, Kenapa tidak Mama saja yang jemput, Ayah lagi sibuk nie." Tolak Yahya dengan hati-hati.
"Tapi sekarang Dek Al lagi sakit Ayah, Lebih baik Ayah bawa pulang dengan mobil, Buka apa-apa kasihan Ia kalau Mama bawa pulang dengan Motor." Kata Keumala lagi.
"Bagaimana ini, Mak dan Siti ada di sini," Ucap Yahya dalam hatinya.
"Tidak bisa, Mak pasti mengamuk dan tidak mungkin aku menuruti Mala. ungkap Yahya pada dirinya.
"Mmm, Baiklah. Tunggu Ayah Tiga puluh menit lagi." Namun yang keluar dalam mulutnya lain.
Yahya mengakhiri pembicaraannya.
"Sebaiknya Mak dan Siti pulanglah," Ucap Yahya pada Mak Hendon dan siti.
"Tidak, Mak tidak mau pulang, Mak belum selesai bicara." Ucap Mak Hendon lagi.
"Lain kali kita bicara lagi, Yahya mau keluar sebentar," Ungkap Yahya lagi.
"Kamu mau jalan sama istri mu di jam kerja?" Tanya Mak Hendon.
"Tidak, Mak." Jawab Yahya dengan cepat.
"Bukankah barusan istrimu yang mengubungi Kamu? Tanya Mak Hendon lagi.
" Iya, Tapi buka begitu. Aku mau ke sekolah Dek Al, Mak" ungkap Yahya jujur.
"untuk apa kamu urus anak perempuan mu itu, kan ada Mala, suruh saja Ia jemput." Mak Hendon mulai murka.
"Jangan gitulah, Mak," Kata Yahya tegas
"Ia anak aku juga, mungkin anak aku Dek Al lagi membutuhkan sekarang, Kalo tidak mendesak Mala tidak akan minta bantuan Aku, Mak." Tambah Yahya lagi.
"Bela terus istrimu itu, kamu ini bisa di bilang." Mak Hendon ikut emosi.
"Udahlah tinggalkan si Mala itu, Nikah Lah sama Siti agar kau bahagia dan derajat kita pun akan. tinggi." Pinta Mak Hendon pada Yahya.
"Udahlah, Maaak" Ucap Yahya.
"Kamu ini tidak bisa di bilangin ya," Mak Hendon terus marah-marah.
"Pulang lah, Mak." Pinta Yahya pada Mak hendon.
Yahya melihat ke arah Siti dan berkata.
"Ajak pulang Mamak, Siti." Pinta Yahya pada Siti
Siti melihat ke Mak hendon.
"Baiklah, Kami akan pulang, tapi kamu yang antar." Ucap Mak Hendon akhirnya.
"Kumohon pulang lah naik taksi, Aku buru-buru mau jemput anak ku, Mak." Pinta Yahya pada Mak. Hendon.
Yahya mengacak acak rambutnya sambil melihat kelangi atap ruang kerjanya.
"Kalau Aku berdebat dengan Mamak gak bakal akan habis-habis, Mamak tidak akan mengalah kalo berhubungan dengan Mala." Kata Yahya dalam batinnya.
"Baiklah, Aku akan antar," Ucap Yahya Akhirnya.
"Gitu kek dari tadi." Kata hendon
Siti begitu senangnya mendengar jawaban dari Yahya.
Kini mereka sudah di dalam mobil.
Siti duduk depan sekat Yahya, sedangkan Mak Hendon di kursi belakang.
Siti bahagia sekali dapat berbincang dan bisa bersama Yahya, walau Yahya cuek padanya.
"Makasih sudah mau mengantarkan kami, Bang."
Siti mulai memecahkan keheningan.
Yahya hanya melirik sekilas dan tetap fokus mengemudi tanpa menjawab perkataan Siti.
Namun Siti tidak habis akar, Ia mencoba terus mengajak Yahya berbicara, dan Mak Hendon agar Ia bisa mendekati Yahya.
Setiap perkataan dari Mak hendon dan Siti di balas datar oleh Yahya.
Mereka sudah masuk ke sebuah komplek perumahan mewah.
"Itu bang, rumah yang pagar putih." Siti menunjukkan sebuah rumah minimalis dengan pagar putih, cat rumah warna. abu-abu.
Mobil Berhenti pas di depan rumah cat dinding abu-abu.
"Ok, sudah sampai. Turunlah. Perintah Yahya.
" Baik terima kasih, Bang." Ucap Siti dengan senyum penuh arti.
"Turunlah dulu, Yahya." Pinta Mak Hendon.
"Tidak, Mak. Aku sudah telat, ini sudah lebih dari tiga puluh menit." Balas Yahya datar
"Tapi Mak belum selesai bicara." Kata Mak Hendon.
"Lain kali saja, kasihan anak aku, Mak." Balas Yahya penuh penekanan.
"Baik nanti kamu setelah jemput anak mu, datang lah kemari !." Perintah Mak Hendon.
"Maaf, Mak, ada banyak kerjaan, Aku harus menyelesaikan pekerjaan, Ku mohon mengerti lah, Mak." Ucap Yahya dengan lemas.
"Mak tidak mau tau, kamu. harus kemari, Titik" Ucap Mak Hendon penuh pemaksaan.
"Kek mana ini, tidak ada jalan lain selain Aku iya kan dulu, Aku sudah telat kasihan Dek Al dan Mala menunggu Ku," Ucap Yahya dalam pada diri sendiri.
Yahya melihat ponselnya dan melihat banyak. sekali panggilan tidak terjawab dari Keumala.
"Baiklah, Mak. Nanti Aku kemari lagi." Akhirnya Yahya setuju karena Ia tidak mau lama lama Ia ingin cepat-cepat menjemput anaknya.
Mak Hendon dan Siti tersenyum penuh kemenangan.
"Mak tunggu kamu, Yahya." Tambah Mak Hendon. sambil keluar dari dalam mobil.
Setelah mengantar Mak Hendon dan Siti, Yahya Langsung GeGas mobil menuju ke sekolah putrinya.
Dree dree suara pesan masuk, namun Yahya hanya melirik sekilas ponselnya. Ia terus menyetir dengan kecepatan tinggi.
Yahya memarkirkan mobilnya didalam halaman sekolah putrinya. Ia turun dan berlari kecil masuk ke gedung sekolah. Sekolah tanpa lebih sepi.
"Permisi, Bu." Tegur Yahya pada seorang Ibu guru yang lewat depannya.
"Iya, Pak. Ada yang dapat saya bantu." Kata Ibu guru.
"Saya Ayahnya Al-Ziatun, Saya mau menjemput putri saya, boleh saya tau dimana kelas putri saya ?" Tanya Yahya pada guru tersebut.
"Ooo iya, Pak. Ikut saya Pak.' Pinta Ibu guru dan terus berjalan, di ikuti oleh Yahya di belakang.
"Silakan masuk, Pak, Istri dan anak Bapak ada didalam ruangan ini, Saya permisi dulu." Tunjuk Ibu Guru dengan baju seragam coklat.
"Terima kasih, Bu." Balas Yahya.
Lalu Ia mengulurkan Tangannya pada knop pintu.
Yahya melihat putrinya terbaring di atas Brangkar dan ada Mala istrinya di tepi brangkar.
Ia melihat sekitar ruangan dan Ia kaget,
"Ooo kenapa Ini, Aku membiarkan anak aku menunggu dan putriku sakit." Ucap Ia pelan namun tidak ada yang dapat mendegarnya.
Maaf Ayah terlambat." Ucap Yahya sambil berjalan ke arah Keumala dan Al-Ziatun.
"Lama kali,Ayah." Tanya Al-Ziatun pada Yahya.
Yahya berjalan mendekati sang anak sambil tersenyum dan langsung mengecup kening si buah hatinya.
"Oo Anakku, Maafin Ayah mu ini." Ucap Yahya dalam hatinya
"Maafin, Ayah Nak, tadi Ayah waktu mau jemput Al datang teman kekantor, Mmm maksudnya clean Ayah." Akhirnya itu yang keluar dari mulutnya, sambil melirik istrinya Keumala.
Yahya sengaja Ia. berkata pada anaknya. Ia tidak tau harus bicara apa pada sang istri.
"Maafin Ayah Mama, Nak. Ayah ini tidak bisa menjadi Ayah Bisa di andalkan." Kata Batin Yahya.
Al-Ziatun mengangguk kepalanya dengan tersenyum indah pada sang Ayah.
"Maaf telat datang menjemput, Mama." Ungkap Yahya sambil memalingkan wajahnya pada sang istri dan senyum kecil.
Keumala hanya diam, Ia hanya melihat ungkapan sang suami padanya dengan wajah datar saja.
"Gimana ini, apakah Ia marah," Yahya berbicara sendiri.
Yahya tidak bisa menebak, apakah Keumala Marah atau tidak. kini Yahya di buat salah tingkah.
Ia merasa bersalah pada sang istri dan anaknya. Ia telah minta maaf dan Yahya kira itu sudah selesai dan buat apa marah, toh Ia sudah datang kok Pikir Yahya lagi.
Ia tidak menjelas lagi kenapa terlambat pada istrinya menurut Ia, karena Ia telat mengutarakannya tadi pada anaknya dan istrinya pasti sudah mendengarnya.
"Anak Ayah kenapa ini?" Tanya Yahya pada Al-Ziatun.
"Ade Tadi au main pecotan awu kawan ade tabak ade jatoh dech," Kata Al-Ziatun pada Ayahnya.
"Mmm, baiklah sekarang kita pulang ya." Kata Yahya pada Anaknya.
Aku lagi duduk dengan istri ku dikamar.
Banyak pertanyaan di lontarkan Mala padaku
Namun Aku bisa mengatasinya. Aku akan membuat istri percaya padaku, Namun disisi lain ada orang tuaku yang yang membuat Mati kutu depannya, Aku mencintai Keluarga ku namun Aku juga menyayangi Mamak Aku. Sehingga membuat Aku harus berbohong pada istriku.
"Maafkan Ayah, Mama." Ucapku dalam hati
"Ayah tidak bisa berkata jujur pada Mama." Tambah Yahya Lagi.
"Maaf tadi Ayah lagi ada tamu dari kantor pusat, jadi tidak bisa terima telpon." Namun Ini yang keluar dari mulut Yahya.
Dree dree.
Pesan masuk di ponselnya Aku.
Aku melepaskan tangganya dari bahu Keumala yang tadi aku rangkul, Aku kaget dan tersentak buru-buru aku berdiri agar mala tidak bisa pesan di ponsel ku.
Aku membaca pesan sambil berdiri, dan ku lirik Mala istriku. Ku coba tersenyum pada Mala agar Ia tidak curiga.
Kulihat senyum di bibir istriku, rasanya aku tak tega.
ku coba mebuat Mala tenang dan percaya padaku. Ku duduk di samping Mala dan merangkulnya.
"Mama baik-baik di rumah ya, Ayah pergi dulu." Ucap Ucapku pada Mala, Aku mencium kening Mala.
aku ke kamar mengambil kunci mobil.
Mala hanya diam melihat Aku, semakin hatiku tidak enak pada Mala. Namun Aku harus pergi.
Ku terus melangkah, meninggalkan mala yang masih diam ditempat.
Buru-buru Aku menuju mobil....
🌺🌺🌺
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Stargirl✨
Ia sih kalau orang lain sedang ada masalah yang dapat mereka selesaikan sendiri lebih baik kita tidak perlu ikut campur, dari pada malah jadi tambah ribut.
2022-11-30
1
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Karisma Ad🕊️⃝ᥴͨᏼᷛ
Sungguh kejam dirimu Yahya, teganya kau bohongi istrimu, yang selalu ada di sampingmu. menemanimu di saat kau tak ada apa-apa dan sekarang kau tegamembohonginya.
2022-11-24
1
reedha
Mak tua, anaknya Keumala itu cucumu...hallo hati...hati Mak lupa dibawa ya, ketinggalan di rumah, tolonglah Mak, kalau tak suka sama menantumu, sayangilah cucumu, di dalam tubuh cucumu, mengalir darah anakmu...
2022-11-21
2