Part 9 Berdua..

Mobil berhenti di sebuah perkantoran

"Tunggu lah dalam mobil, Mama! Ayah akan kedalam dulu untuk absen dan memberikan berkas ini," Sambil berjalan dan menunjukan sebuah Map yang Ia pegang.

Kini tinggallah Keumala sendiri dalam mobil.

Sambil menunggu Yahya, Keumala membuka ponselnya untuk Membaca novel online.

* 20 Menit Kemudian *

"Maaf lama menunggu." Kata Yahya.

"Iya,, Gak apa-apa." Jawab Keumala.

Yahya melaju perjalan dengan kecepatan sedang, Keduanya diam tanpa bicara.

Kini merapat sampai di suatu tempat yang indah di sebuah Kafe di atas perbukitan.

"Ayo kita sudah sampai."

Yahya mengajak Keumala di sebuah kafe yang berada di perbukitan tinggi, dengan pemandangan yang indah, Yang dari Atas nampak kebawah terlihat Laut yang indah di lengkapi dengan permandangan indah serta lengkapi tempat duduk yang cantik nan nyaman untuk beristirahat.

Mereka mencari tempat duduk yang bisa lihat langsung ke indahan dari atas. Tak lama kemudian meraka memesan makanan kesukaannya.

"Apa yang ingin dibicarakan, Katakan Ayah," Keumala memulai percakapan.

"Tidak Ada.. Ayah hanya ingin mengabiskan waktu berdua dengan. mama." Ucap Yahya

"Sudah sangat lama kita tidak menghabiskan waktu berdua, Ayah selama ini sibuk dengan kerjaan Ayah hingga tidak ada waktu berdua dengan Mama, Maafkan Ayah" Ucap Yahya lagi.

"Apakah tidak takut Ayah.. Nanti di sini ada yang melihat kita?."

"Kenapa Mama ngomong begitu?" Ucap Yahya. lagi.

"Karena ini yang terjadi selama ini," Kata Keumala. lagi.

Yahya Hanya diam.

"Mama sudah bosan..., Mama merasa buruk banget, hina kali dimana Ayah dan Mamak Ayah..."

"Mama sudah tidak sanggup lagi.. Seakan hidup Mama tidak berarti. Ayah dan orang tua Ayah melakukan sesuka hati. kalian,"

"Mama, Emang miskin tapi bukan berarti tidak mempunyai harga diri."

"Sudahlah Ayah,"

"Rumah tangga kita sudah tidak ada masa depan,"

"Setiap kapal mempunyai satu nahkoda, Begitu juga dengan rumah tangga. hanya perlu 1 kepala rumah tangga. Ini Rumah Tangga kita, kitalah yang mengatur, Merencanakan kemana kita bawa."

"Kita yang tau Suasana, Kita yang tau apa yang kita mau.. Bagaimana masa depan Rumah tangga kita, Sekolah, Pendidikan tuk anak-anak kita kedepannya, Anak-anak kita sudah besar... namun kita belum bisa mebanggun rumah yang nyaman tuk mereka.. Untuk hari tua kita kelak. Kita tidak ada tabungan... namun bukan kita tidak mampu tapi uangnya di gunakan di luar kebutuhan rumah tangga kita dan memberi pada yang belum hak pada yang tidak begitu membutuhkan."

"Setiap anak laki-laki berkewajiban eman menafkahi kedua orang tuanya, namum tidak lupa juga ada kewajiban lain.. ADa istri ada anak untuk diberikan nafkah, kebutuhan untuk. sekarang masa depan."

"Memberi uang belanja kepada orang tua... Itu bagus banget.. Namun. tidak sampai berlebihan. Maksudnya 6,5 % gaji untuk orang tua yang hanya tinggal berdua tidak mengeluarkan biaya pendidikan dan lain-lain, orang tua hanya butuh uang kebutuhan sehari-hari. tidak ada anak kecil yang masih minum susu, uang biaya sekolah, transportasi dan lain-lain. Sedangkan diri sendiri hanya 2,5 % yang di bagi ke 4 orang penghuni yang masih perlu biaya pendidikan dan membutuhkan simpanan, Tabungan untuk membangun Rumah dan lain-lain."

Keumala Terus saja berbicara panjang lebar..

Ia mengeluarkan semua unek-unek di hatinya.

Yahya Masih diam tidak mengeluarkan satu katapun.

"Kalo begini terus... Lebih baik kita jalankan hidup masing-masing, biarlah anak bersama Mama.. Dan Ayah fokus saja pada orang tua Ayah." Ucap Keumala Akhirnya.. Dengan melihat ke Arah lain.

Kini Yahya menunduk kepalanya dengan diam.

Keheningan, Yahya Keumala diam.

Mereka asik dengan pikiran masing-masing.

"Maafkan aku, Maa.. Ayah sungguh tidak bisa menolak permintaan mamak, Ayah mohon mengertilah, Mama.." ungkap Yahya Akhirnya.

"Tapi sampai kapan, Apakah sampai tua.. ?

Anak-anak akan tumbuh besar.. Kita membutuhkan biaya banyak. Belum lagi uang untuk nabung beli rumah. Pendidikan aja tidak cukup." Kata keumala.

"Ayah harus membiayai kedua orang tua Ayah," Kata Yahya lagi.

"Iya.. Silakan.. Mama tidak pernah melarang untuk memberikan uang kebutuhan untuk kedua orang tua Ayah, Tapi dalam bentuk wajar... Orang tua Ayah tinggal berdua seperti Mama bilang tadi, Mereka tidak mungkin mempunyai biaya hidup sebesar itu. Malah Lebih banyak mereka dari kebutuhan kita.. masa iya sich... Orang tua Ayah juga punya sawah setahun 3 kali panen dan biaya penanaman pun dari Ayah.. Ketika Sudah panen Ayah tidak pernah dapat apa-apa, Bukan kita mengharap sesuatu memberi.. Namun setidaknya dari hasil panen setiap kalinya cukup untuk kebutuhan mereka sehari hari malah lebih lagi. karena Mama dengar dari bibi Ina kemaren kalau panen orang tua Ayah. selalu melimpahkan luas, selalu untung banyak. jadi tidak ada alasan mereka membuat Ayah begini.. Ayah tidak akan punya apa-apa di hari tua. kalau Ayah tidak bisa menabung, membagun rumah dari sekarang.. Umur jalan terus." Kata Keumala panjang lebar lagi...

"Jadi Apa yang harus Ayah lakukan.. Mereka orang tua Ayah."

"Siapa bilang mereka bukan orang tua Ayah.." Rasa kesel mulai mendidih di dada.

"Ayah kasih uang sewajarnya.. dan kalau Mamak minta lebih Ayah bisa pertanyakan.. kemana uang panen selama ini." Kata Keumala

"Mamak pasti akan marah," Kata Yahya..

"Apa mau Ayah selalu si manfaatkan oleh Mamak dan Adik Ayah..." Kata Keumala.

"Ya.. Tidak." Jawab Yahya.

"Masih ingat Ayah... Bagaimana kita dihina.. Ayah tidak di Anggap Ketika Ayah miskin dulu. Ketika Ayah masih pengangguran. Masih ingatkah Ayah?." Ucap Keumala.

"Iya... Ayah ingat." Jawab Yahya.

"Jadi Ayah sekarang harus punya prinsip.. harus tegas untuk masa depan Ayah, Masa depan Anak-Anak kita, Masa depan kita." ucap Keumala dengan tegas.

Diam sesaat.

"Baiklah, Ayah Akan coba..." Ucap. Yahya.

"Jangan coba-coba saja tapi harus." Kata Keumala tegas.

"Baiklah... Mama." Ucap Yahya Akhirnya.

"Mama mengatakan ini untuk kebaikan kita bersama." Seru Keumala lagi.

"Siap istriku..." Kata Yahya dengan tangan siap bendera.

Keumala hanya tersenyum

"Sudah lama ya Mama kita tidak jalan bersama" Yahya berkata sambil. Meletakkan tangganya di atas punggung tangga Keumala yang berada si atas meja.

'Iya..." Sambil tersenyum manis.

Kini mereka asik ngobrol duduk berduaan bagaikan anak ABG hehe.

"Ini sudah waktunya jemput si Adek, Ayah." kata Keumala tiba-tiba.

"Tenang Mama, Anak-anak sudah Ayah minta tolong Bu Halimah untuk menjemput dan menjaga mereka. Ucap Yahya.

" Eemmm, Udah direncanakan ini...?" Tanya Keumala.

"Tidak juga... Tiba-tiba saja, tadi pagi... Ayah lihat jadwal tidak padat di kantor.. Dan Ayah telpon Bu Halimah, Beliau pun tidak sibuk dan bersedia.." Ucap Yahya.

Yahya dan Keumala asik ngobrol dan terbawa dengan perasaan mereka masing-masing.

Setelah 3 jam mereka menghabiskan waktu bersama, Kini mereka bangkit untuk pulang

setelah membayar pesanan mereka.

Dreeen dreeen suara ponselnya Yahya.

Tertera nama di layar MAMAK DIKAMPUNG

Bersambung.....

**********

Ini Mamaknya dikampung telpon.... Kira kira apa yang ingin membicarakan masalah apa ya Mak Hendon pada anaknya Yahya ??? 😁🤗

Terpopuler

Comments

anan

anan

hadir k

2022-12-22

0

Hiatus

Hiatus

Tuh kan Keumala itu istri yang baik dan selalu mendukungmu gimana kamu bisa malu sama istri sebaik dia Yahya.

2022-11-25

0

✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Karisma Ad🕊️⃝ᥴͨᏼᷛ

✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Karisma Ad🕊️⃝ᥴͨᏼᷛ

Walaupun kamu Yahya berbakti dan sayang pada mak mu. Jangan lah kamu turuti semua apa yang di mintak sama mak mu, turutilah sekali-sekali permintaan anak dan istrimu, karna mereka adalah tanggung jawabmu sekarang..

2022-11-07

1

lihat semua
Episodes
1 Part 1 Di Usir dari rumah sakit
2 Part 2 Telepon dari jauh
3 Part 3 Kembali kerumah Prov Keumala
4 Part 4 Norak dan kampungan
5 Part 5 Melamar kerja..
6 Part 6 Rumput Tetangga
7 Part 7 Wanita Lain Merawatku Prov Yahya
8 Part 8 Di Aja Pacaran
9 Part 9 Berdua..
10 Part 10 Ia Cucu Mu...
11 Part 11 Gelisah hati...
12 Part 12 Pelakor...
13 Part 13 Ke sekolah Al-Ziatun
14 Part 14 Siapa wanita itu...
15 Part 15. Ooo Mamak.... Pov Yahya
16 Part 16. Gagal dech...
17 Part 17 Cubitan...
18 Part 18 Siapa Pria itu...
19 Part 19. Tidak pulang semalam suamiku...
20 Part 20 Lipstik....
21 Part 21 Ku putuskan untuk pergi...
22 Part 22 Kata kramat dari bibir suamiku....
23 Part 23 Satu Syarat
24 Part 24 Telpon dari Sang Pelakor
25 Part 25 Rayuan. Pov. Yahya
26 Part 26. Menghilangnya Yahya.
27 Part 27 Keumala mulai bekerja
28 Part 28. Pov Yahya. Keluar kota dengan Siti
29 Part 29. Pov Yahya Keluar kota dengan Siti 2
30 Part 30 Membawa pulang perempuan
31 Part 31. Dasar Pelakor
32 Part 32. Terbongkar rahasia Yahya
33 Part 33. Malam penuh luka.
34 Part 34 : Rela istri pergi demi pelakor...
35 Part 35. Pilih Aku atau Dia
36 Part 36 Aku memilih Mu...
37 Part 37 Siti datang
38 Part 38. Cemburu Aku Pov Yahya
39 Part 39. Taktik Siti
40 Part 40 POV Mak Hendon
41 Part 41. Rayuan Siti
42 Part 42 Siti tidak mau pulang.
43 Part 43 POV YAHYA Aku diapit dua wanita.
44 Part 44 Ada syaratnya....
45 Part 45 Kembali Ke Rumah.
46 Part 46. Andaikan Mamakmu meminta untuk menceraikan Aku...
47 Part 47. Janji Yahya.
48 Part 48. Tertangkap Basah
49 Part 49 Manja kok sama suami orang?
50 Part 50. Hianati Keumala
51 Part 51. Nasehat Untuk Mak Hendon
52 Part 52 POV Yahya Ini tidak benar
53 Part 53. Kegelisahan Hatiku
54 Part 54 Mertua Minta Aku memberikan Izin Suami Nikah Lagi...
55 Part 55 Curhat Keumala.
56 Part 56 POV Tidak Itu Bukan Anak Aku.
57 Part 57 Ancaman Mak Hendon
58 Part 58 POV YAHYA Ada Syarat nya.
59 Part 59. Keumala curiga pada Siti.
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Part 1 Di Usir dari rumah sakit
2
Part 2 Telepon dari jauh
3
Part 3 Kembali kerumah Prov Keumala
4
Part 4 Norak dan kampungan
5
Part 5 Melamar kerja..
6
Part 6 Rumput Tetangga
7
Part 7 Wanita Lain Merawatku Prov Yahya
8
Part 8 Di Aja Pacaran
9
Part 9 Berdua..
10
Part 10 Ia Cucu Mu...
11
Part 11 Gelisah hati...
12
Part 12 Pelakor...
13
Part 13 Ke sekolah Al-Ziatun
14
Part 14 Siapa wanita itu...
15
Part 15. Ooo Mamak.... Pov Yahya
16
Part 16. Gagal dech...
17
Part 17 Cubitan...
18
Part 18 Siapa Pria itu...
19
Part 19. Tidak pulang semalam suamiku...
20
Part 20 Lipstik....
21
Part 21 Ku putuskan untuk pergi...
22
Part 22 Kata kramat dari bibir suamiku....
23
Part 23 Satu Syarat
24
Part 24 Telpon dari Sang Pelakor
25
Part 25 Rayuan. Pov. Yahya
26
Part 26. Menghilangnya Yahya.
27
Part 27 Keumala mulai bekerja
28
Part 28. Pov Yahya. Keluar kota dengan Siti
29
Part 29. Pov Yahya Keluar kota dengan Siti 2
30
Part 30 Membawa pulang perempuan
31
Part 31. Dasar Pelakor
32
Part 32. Terbongkar rahasia Yahya
33
Part 33. Malam penuh luka.
34
Part 34 : Rela istri pergi demi pelakor...
35
Part 35. Pilih Aku atau Dia
36
Part 36 Aku memilih Mu...
37
Part 37 Siti datang
38
Part 38. Cemburu Aku Pov Yahya
39
Part 39. Taktik Siti
40
Part 40 POV Mak Hendon
41
Part 41. Rayuan Siti
42
Part 42 Siti tidak mau pulang.
43
Part 43 POV YAHYA Aku diapit dua wanita.
44
Part 44 Ada syaratnya....
45
Part 45 Kembali Ke Rumah.
46
Part 46. Andaikan Mamakmu meminta untuk menceraikan Aku...
47
Part 47. Janji Yahya.
48
Part 48. Tertangkap Basah
49
Part 49 Manja kok sama suami orang?
50
Part 50. Hianati Keumala
51
Part 51. Nasehat Untuk Mak Hendon
52
Part 52 POV Yahya Ini tidak benar
53
Part 53. Kegelisahan Hatiku
54
Part 54 Mertua Minta Aku memberikan Izin Suami Nikah Lagi...
55
Part 55 Curhat Keumala.
56
Part 56 POV Tidak Itu Bukan Anak Aku.
57
Part 57 Ancaman Mak Hendon
58
Part 58 POV YAHYA Ada Syarat nya.
59
Part 59. Keumala curiga pada Siti.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!