Mobil berhenti di sebuah perkantoran
"Tunggu lah dalam mobil, Mama! Ayah akan kedalam dulu untuk absen dan memberikan berkas ini," Sambil berjalan dan menunjukan sebuah Map yang Ia pegang.
Kini tinggallah Keumala sendiri dalam mobil.
Sambil menunggu Yahya, Keumala membuka ponselnya untuk Membaca novel online.
* 20 Menit Kemudian *
"Maaf lama menunggu." Kata Yahya.
"Iya,, Gak apa-apa." Jawab Keumala.
Yahya melaju perjalan dengan kecepatan sedang, Keduanya diam tanpa bicara.
Kini merapat sampai di suatu tempat yang indah di sebuah Kafe di atas perbukitan.
"Ayo kita sudah sampai."
Yahya mengajak Keumala di sebuah kafe yang berada di perbukitan tinggi, dengan pemandangan yang indah, Yang dari Atas nampak kebawah terlihat Laut yang indah di lengkapi dengan permandangan indah serta lengkapi tempat duduk yang cantik nan nyaman untuk beristirahat.
Mereka mencari tempat duduk yang bisa lihat langsung ke indahan dari atas. Tak lama kemudian meraka memesan makanan kesukaannya.
"Apa yang ingin dibicarakan, Katakan Ayah," Keumala memulai percakapan.
"Tidak Ada.. Ayah hanya ingin mengabiskan waktu berdua dengan. mama." Ucap Yahya
"Sudah sangat lama kita tidak menghabiskan waktu berdua, Ayah selama ini sibuk dengan kerjaan Ayah hingga tidak ada waktu berdua dengan Mama, Maafkan Ayah" Ucap Yahya lagi.
"Apakah tidak takut Ayah.. Nanti di sini ada yang melihat kita?."
"Kenapa Mama ngomong begitu?" Ucap Yahya. lagi.
"Karena ini yang terjadi selama ini," Kata Keumala. lagi.
Yahya Hanya diam.
"Mama sudah bosan..., Mama merasa buruk banget, hina kali dimana Ayah dan Mamak Ayah..."
"Mama sudah tidak sanggup lagi.. Seakan hidup Mama tidak berarti. Ayah dan orang tua Ayah melakukan sesuka hati. kalian,"
"Mama, Emang miskin tapi bukan berarti tidak mempunyai harga diri."
"Sudahlah Ayah,"
"Rumah tangga kita sudah tidak ada masa depan,"
"Setiap kapal mempunyai satu nahkoda, Begitu juga dengan rumah tangga. hanya perlu 1 kepala rumah tangga. Ini Rumah Tangga kita, kitalah yang mengatur, Merencanakan kemana kita bawa."
"Kita yang tau Suasana, Kita yang tau apa yang kita mau.. Bagaimana masa depan Rumah tangga kita, Sekolah, Pendidikan tuk anak-anak kita kedepannya, Anak-anak kita sudah besar... namun kita belum bisa mebanggun rumah yang nyaman tuk mereka.. Untuk hari tua kita kelak. Kita tidak ada tabungan... namun bukan kita tidak mampu tapi uangnya di gunakan di luar kebutuhan rumah tangga kita dan memberi pada yang belum hak pada yang tidak begitu membutuhkan."
"Setiap anak laki-laki berkewajiban eman menafkahi kedua orang tuanya, namum tidak lupa juga ada kewajiban lain.. ADa istri ada anak untuk diberikan nafkah, kebutuhan untuk. sekarang masa depan."
"Memberi uang belanja kepada orang tua... Itu bagus banget.. Namun. tidak sampai berlebihan. Maksudnya 6,5 % gaji untuk orang tua yang hanya tinggal berdua tidak mengeluarkan biaya pendidikan dan lain-lain, orang tua hanya butuh uang kebutuhan sehari-hari. tidak ada anak kecil yang masih minum susu, uang biaya sekolah, transportasi dan lain-lain. Sedangkan diri sendiri hanya 2,5 % yang di bagi ke 4 orang penghuni yang masih perlu biaya pendidikan dan membutuhkan simpanan, Tabungan untuk membangun Rumah dan lain-lain."
Keumala Terus saja berbicara panjang lebar..
Ia mengeluarkan semua unek-unek di hatinya.
Yahya Masih diam tidak mengeluarkan satu katapun.
"Kalo begini terus... Lebih baik kita jalankan hidup masing-masing, biarlah anak bersama Mama.. Dan Ayah fokus saja pada orang tua Ayah." Ucap Keumala Akhirnya.. Dengan melihat ke Arah lain.
Kini Yahya menunduk kepalanya dengan diam.
Keheningan, Yahya Keumala diam.
Mereka asik dengan pikiran masing-masing.
"Maafkan aku, Maa.. Ayah sungguh tidak bisa menolak permintaan mamak, Ayah mohon mengertilah, Mama.." ungkap Yahya Akhirnya.
"Tapi sampai kapan, Apakah sampai tua.. ?
Anak-anak akan tumbuh besar.. Kita membutuhkan biaya banyak. Belum lagi uang untuk nabung beli rumah. Pendidikan aja tidak cukup." Kata keumala.
"Ayah harus membiayai kedua orang tua Ayah," Kata Yahya lagi.
"Iya.. Silakan.. Mama tidak pernah melarang untuk memberikan uang kebutuhan untuk kedua orang tua Ayah, Tapi dalam bentuk wajar... Orang tua Ayah tinggal berdua seperti Mama bilang tadi, Mereka tidak mungkin mempunyai biaya hidup sebesar itu. Malah Lebih banyak mereka dari kebutuhan kita.. masa iya sich... Orang tua Ayah juga punya sawah setahun 3 kali panen dan biaya penanaman pun dari Ayah.. Ketika Sudah panen Ayah tidak pernah dapat apa-apa, Bukan kita mengharap sesuatu memberi.. Namun setidaknya dari hasil panen setiap kalinya cukup untuk kebutuhan mereka sehari hari malah lebih lagi. karena Mama dengar dari bibi Ina kemaren kalau panen orang tua Ayah. selalu melimpahkan luas, selalu untung banyak. jadi tidak ada alasan mereka membuat Ayah begini.. Ayah tidak akan punya apa-apa di hari tua. kalau Ayah tidak bisa menabung, membagun rumah dari sekarang.. Umur jalan terus." Kata Keumala panjang lebar lagi...
"Jadi Apa yang harus Ayah lakukan.. Mereka orang tua Ayah."
"Siapa bilang mereka bukan orang tua Ayah.." Rasa kesel mulai mendidih di dada.
"Ayah kasih uang sewajarnya.. dan kalau Mamak minta lebih Ayah bisa pertanyakan.. kemana uang panen selama ini." Kata Keumala
"Mamak pasti akan marah," Kata Yahya..
"Apa mau Ayah selalu si manfaatkan oleh Mamak dan Adik Ayah..." Kata Keumala.
"Ya.. Tidak." Jawab Yahya.
"Masih ingat Ayah... Bagaimana kita dihina.. Ayah tidak di Anggap Ketika Ayah miskin dulu. Ketika Ayah masih pengangguran. Masih ingatkah Ayah?." Ucap Keumala.
"Iya... Ayah ingat." Jawab Yahya.
"Jadi Ayah sekarang harus punya prinsip.. harus tegas untuk masa depan Ayah, Masa depan Anak-Anak kita, Masa depan kita." ucap Keumala dengan tegas.
Diam sesaat.
"Baiklah, Ayah Akan coba..." Ucap. Yahya.
"Jangan coba-coba saja tapi harus." Kata Keumala tegas.
"Baiklah... Mama." Ucap Yahya Akhirnya.
"Mama mengatakan ini untuk kebaikan kita bersama." Seru Keumala lagi.
"Siap istriku..." Kata Yahya dengan tangan siap bendera.
Keumala hanya tersenyum
"Sudah lama ya Mama kita tidak jalan bersama" Yahya berkata sambil. Meletakkan tangganya di atas punggung tangga Keumala yang berada si atas meja.
'Iya..." Sambil tersenyum manis.
Kini mereka asik ngobrol duduk berduaan bagaikan anak ABG hehe.
"Ini sudah waktunya jemput si Adek, Ayah." kata Keumala tiba-tiba.
"Tenang Mama, Anak-anak sudah Ayah minta tolong Bu Halimah untuk menjemput dan menjaga mereka. Ucap Yahya.
" Eemmm, Udah direncanakan ini...?" Tanya Keumala.
"Tidak juga... Tiba-tiba saja, tadi pagi... Ayah lihat jadwal tidak padat di kantor.. Dan Ayah telpon Bu Halimah, Beliau pun tidak sibuk dan bersedia.." Ucap Yahya.
Yahya dan Keumala asik ngobrol dan terbawa dengan perasaan mereka masing-masing.
Setelah 3 jam mereka menghabiskan waktu bersama, Kini mereka bangkit untuk pulang
setelah membayar pesanan mereka.
Dreeen dreeen suara ponselnya Yahya.
Tertera nama di layar MAMAK DIKAMPUNG
Bersambung.....
**********
Ini Mamaknya dikampung telpon.... Kira kira apa yang ingin membicarakan masalah apa ya Mak Hendon pada anaknya Yahya ??? 😁🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
anan
hadir k
2022-12-22
0
Hiatus
Tuh kan Keumala itu istri yang baik dan selalu mendukungmu gimana kamu bisa malu sama istri sebaik dia Yahya.
2022-11-25
0
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Karisma Ad🕊️⃝ᥴͨᏼᷛ
Walaupun kamu Yahya berbakti dan sayang pada mak mu. Jangan lah kamu turuti semua apa yang di mintak sama mak mu, turutilah sekali-sekali permintaan anak dan istrimu, karna mereka adalah tanggung jawabmu sekarang..
2022-11-07
1