Reinar, Bella, Sarah, dan Malvin sudah berada di rumah mewah keluarga Bagaskara. Misi mereka adalah mengawal salah satu putri keluarga Bagaskara, Wina Daniela Bagaskara.
[Ding... Mendeteksi kemunculkan misi tersembunyi. Melindungi Wina dari ancaman pembunuh bayaran]
[Hadiah misi » Apartemen di lantai 20 Blue Sky Apartement. 20 Poin Pengalaman. 20 Poin Kecepatan]
[Hukuman » Tuan akan kehilangan seluruh uang di di rekening]
‘Melindungi Wina? Aku pasti bisa melakukannya!’ ujarnya membatin.
Tak lama menunggu di depan rumah, Adhitya Bagaskara, ayah Wina sekaligus pemimpin tertinggi pasukan elite keluar dari dalam rumah bersama kedua putrinya, Wina dan Erina.
Erina yang merupakan anggota pasukan super elite negara tidak membutuhkan pengawalan ketat karena kemampuannya melindungi diri bahkan jauh lebih baik dibandingkan Ayahnya, sedangkan Wina yang hanya murid sekolah biasa, dia sangat membutuhkan pengawalan.
Erina yang keluar bersama ayah dan adiknya, dia melihat keberadaan empat pengawal baru adiknya. Bella, Sena, tidak ada yang asing dengan keduanya karena mereka sering berlatih bersama dengannya. Malvin, pria konyol itu beberapa kali bertemu dengannya saat menemani kakaknya berlatih.
“Reinar, aku masih asing denganmu, tapi dari mereka bertiga aku bisa mengandalkan kemampuanmu untuk melindungi adikku!” Hanya sekali melihat, Erina tahu kemampuan Reinar hampir setara dengannya.
Membiarkan orang seperti itu berada di dekat adiknya, dia merasa sedikit lebih tenang saat membiarkan adiknya berada di luar rumah. Masih teringat peristiwa yang menimpa adiknya beberapa hari yang lalu, dan dia tidak ingin peristiwa seperti itu kembali menimpa adiknya.
Beberapa hari yang lalu ada sekelompok orang yang menyerang Wina. Seluruh pengawal Wina sudah terluka, dan tak satupun dari mereka berhasil mengalahkan penyerang. Beruntung Erina datang tepat waktu sebelum para penyerang berhasil menyentuh adiknya.
Selain berhasil menyelamatkan adiknya, Erina juga berhasil membunuh lima dari enam orang yang mencoba mencelakai adiknya, dan hanya menyisakan satu orang untuk diinterogasi.
Sejak hari itu Wina dilarang keluar rumah, dan ini kali pertama dia diizinkan keluar tapi dengan pengawalan ketat anggota pasukan elite tingkat S.
Awalnya Wina menolak keberadaan pengawal dari anggota pasukan elite, dan memilih dikawal para pengawal keluarga Bagaskara yang sebagian besar berasal dari kemiliteran. Akan tetapi, setelah ayahnya membiarkan dia memilih sendiri pengawalnya, dengan senang hati dia setuju dikawal anggota pasukan elite tingkat S.
Bella dan Sarah adalah dua orang yang langsung dipilih Wina, kemudian Malvin menjadi pilihan ketiganya. Saat merasa sudah cukup dengan mereka bertiga, Wina melihat nama orang yang tidak mungkin dia abaikan, dan akhirnya Reinar dia pilih untuk menjadi yang keempat.
“Wina hari ini ada pembelajaran di luar kelas. Aku berharap kalian mampu menjaga keselamatannya!” Adhitya memberikan perintah pada Reinar dan yang lainnya.
“Baik Pak...” Mereka berempat bersamaan memberi balasan.
“Akhirnya kita ketemu lagi.” Dengan senyum di bibirnya Wina langsung saja memeluk lengan Reinar dan menyeretnya masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya ke gunung tempat diadakannya pembelajaran luar kelas.
Bella, Sarah dan Malvin yang melihat itu hanya tersenyum, kemudian mereka mulai masuk ke mobil yang akan berjalan di belakang mobil Wina.
“Ayah, siapa sebenarnya pemuda itu? Kelihatannya dia sudah lama mengenal Wina.”
Adhitya tersenyum mendengar itu. “Dia Reinar, beberapa hari yang lalu dia hanya anak SMA teman satu bangku Wina, tapi siapa yang menyangka dia berhasil menyelamatkan Bella saat terjadi penyerangan beberapa hari lalu, dan juga dia mendapatkan nilai ujian terbaik dalam ujian penerimaan anggota baru pasukan elite.”
“Yan terbaru, dia berhasil mengungkap keberadaan pengkhianat di dalam markas besar, dan dia kembali menyelamatkan Bella serta Sarah dari para pengkhianat yang menyekap mereka.”
“Oh iya aku hampir lupa, dia juga yang menyelamatkan Wina saat terjebak di restoran yang terdapat tiga bom didalamnya. Luar biasanya, dengan penuh ketenangan dia berhasil menjinakkan tiga jenis bom berbeda kurang dari lima menit, dan menggagalkan seluruh rencana orang itu.”
Adhitya menceritakan semua yang dia ketahui tentang Reinar pada Erina, termasuk silsilah keluarga Reinar, dan bersihnya pemuda itu serta seluruh anggota keluarganya dari segala jenis kejahatan. Akan tetapi, saat melakukan penyelidikan tentang identitas ayah Reinar, Adhitya dan timnya menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan, sekaligus membuat dirinya sangat senang.
“Erina, pemuda itu adalah putra Om Baskoro, pria yang dulu menyelamatkan hidup Ayah dan kelima Ibumu. Sekian lama mencari keberadaannya setelah dia memutuskan menikah, ternyata dia sudah tiada sejak belasan tahun lalu, dan meninggalkan istri serta anaknya di desa tempat kelahiran istrinya.”
Erina yang mendengar itu menunjukkan senyuman tipis di bibirnya, dan karena senyumnya sangatlah tipis bahkan Adhitya yang berada di dekatnya sama sekali tidak bisa melihat senyumannya. ‘Dia memang beberapa tahun lebih muda dariku, tapi dibandingkan dengan mereka, dia tentu jauh lebih baik, dan lagi sepertinya Wina juga sudah jatuh cinta padanya.’ ujarnya membatin.
“Ayah tidak mungkin melupakan janji pada penyelamat keluarga kita, dan Ayah berharap kamu bisa mengerti semua itu.” Adhitya menatap wajah Erina, dan dia bisa melihat sedikit rona merah di pipi putrinya yang tidak pernah menggunakan riasan tebal di wajahnya.
“Ayah tenang saja, aku mengerti dan tahu harus melakukan apa, tapi untuk sekarang aku ingin pergi bertugas.” Dengan ekspresi datar seperti biasa, Erina pergi meninggalkan Adhitya dan begitu saja masuk ke dalam mobilnya.
Melihat ekspresi terakhir wajah Erinayang terlihat dibalik kaca mobil, Adhitya tersenyum bahagia. “Dia sepertinya juga menyukai pemuda itu. Baskoro, putramu telah bersamaku, dan aku pastikan dia mendapatkan apa yang dulu pernah aku janjikan padamu.”
Adhitya memutuskan juga pergi ke tempat kerjanya karena pagi ini banyak pekerjaan yang harus segera terselesaikan. Untuk kelima istrinya, mereka hari ini akan menghabiskan waktunya di rumah. Sedangkan untuk ketiga putranya yang merupakan kakak dari kedua putrinya, mereka sekarang sedang mengemban tugas mulia sebagai pasukan keamanan dunia.
...----------------...
“Mendaki gunung ternyata tidak melelahkan.” Wina sama sekali tidak berkeringat meskipun sudah berjalan sejauh ratusan meter melalui jalur pendakian.
“Kalian semua semangat, beberapa ratus meter lagi kita sampai di puncak gunung.” Ketua OSIS yang memimpin rombongan berteriak memberi semangat pada teman-teman sekolahnya yang mulai kelelahan.
Ketua OSIS yang melihat Wina tak jauh dibelakangnya, dia ingin berjalan bersamanya. Wina termasuk ke dalam tiga besar wanita paling cantik di sekolah, bahkan dia menempati urutan teratas. Ketua OSIS yang merupakan pria normal, tentu dia tertarik dengan kecantikan dan keindahan tubuh Wina.
Jefri, sang ketua OSIS yang ingin mendekati Wina langkahnya dihentikan oleh Reinar yang mengambil inisiatif berdiri di depan wanita itu. Dengan masker yang dipakai Reinar, Jefri tentu hanya mengenali Reinar sebagai pengawal Wina, dan dia tahu kalau dirinya tidak diizinkan berdekatan dengan wanita incarannya.
Meski berpakaian selayaknya orang biasa, Jefri bukan orang bodoh. Dari gerakan yang begitu cepat dan hampir tak terlihat olehnya, pengawal di hadapan Wina bukanlah orang yang bisa dia singgung.
“Tunggu saja, malam ini aku pasti dapat menikmati tubuh Wina,” gumam lirih Jefri.
Pria itu telah menyiapkan sesuatu di dalam tasnya, dan dia punya rencana besar yang akan dilakukan begitu tiba waktu makan malam.
“Jangankan Wina, tubuh dua pengawal cantik itu juga akan aku nikmati sampai puas.” Dengan mata genitnya, Jefri melirik dada menonjol milik dua wanita yang mengawal Wina.
Melihat itu dia merasakan panas di selangkangannya, dan dia membutuhkan bantuan salah satu pacarnya untuk menuntaskan semua rasa panas itu begitu sampai di puncak.
Sementara itu, Reinar yang sejak awal terus mengawasi tingkah laku Jefri dan beberapa orang lainnya, dia merasa akan ada kejadian besar saat sampai di puncak, dan dia ingin memastikan apapun itu yang terjadi tidak membahayakan nyawa Wina maupun kedua wanitanya.
Untuk Malvin, dia yakin calon adik iparnya itu mampu melindungi dirinya sendiri.
Sepuluh menit berlalu akhirnya semua murid sampai di puncak. Para wanita membangun tenda di sisi barat, sedangkan para pria membangun di sisi timur, dan setelah tiga puluh menit berlalu seluruh tenda telah berdiri.
Untuk tenda Reinar, Bella, Sarah, dan Malvin. Tenda mereka berada tepat di belakang tenda Wina.
Saat malam tiba, Wina akan ditemani tidur oleh Bella dan Sarah, sedangkan Reinar dan Malvin akan melakukan penjagaan secara bergantian.
Sejak sampai di puncak, Reinar tidak melihat keberadaan Jefri, tapi saat hari mulai gelap, dia melihat Jefri dari satu arah bersama salah satu guru wanita.
Dari apa yang dirinya lihat, guru wanita itu terlihat sangat kelelahan dan pakaian yang dipakainya kusut di bagian dada dan pantat. Sedangkan saat melihat Jefri, dia hanya melihat pemuda yang sangat berenergi.
Hanya melihat, Reinar tahu apa yang terjadi diantara mereka, dan dia hanya bisa menggelengkan kepala setelah mengetahui apa yang terjadi diantara mereka.
...----------------...
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Zainal Patta
kenapa reinar tidak ikut belajar sementara dia satu kelas dengan Wina,, membagongkan
2025-02-13
1
Fachruddin Hutasuhut Hutasuhut
Murah ya Hawa di sini seperti nya tidak sulit , cari lobang Hawa , 🤔
2024-11-15
0
Sucinawati 2010
bukannya reinar ada misi melenyapkan assasin no 2 ya dah selesai belum sih perasaan blm deh apa aku kelewatan gak baca ya
2024-11-02
1