Menjelang pagi Reinar dan Bella telah sampai di markas besar pasukan elite dan keduanya menempati satu bangunan yang mana di dalam bangunan itu terdapat dua kamar, satu kamar mandi, dan satu dapur.x
Hari ini adalah weekend jadi Reinar bisa menata barang-barangnya di kamar yang akan ditempatinya entah sampai kapan. Sebenarnya dia bisa membeli apartemen atau bahkan rumah pribadi dengan uangnya, tapi mengikuti saran Bella dan demi keamanannya untuk sementara waktu dirinya tinggal di markas utama pasukan elite.
Bella sendiri tidal langsung menata barang-barangnya, setelah meletakkan barang bawaannya di kamar, Bella langsung saja pergi meninggalkan kamarnya. Sekarang dia berada di ruang interogasi pasukan elite, melihat lima orang yang sesaat yang lalu ingin membunuhnya sedang diinterogasi oleh rekannya.
Setelah tiga puluh menit berlalu dan tidak mendapatkan jawaban yang sesuai, kelima orang itu akhirnya dieksekusi dan mayatnya menjadi santapan buaya yang dipelihara di halaman belakang markas utama pasukan elite.
“Seperti biasa, tidak ada informasi yang bisa didapatkan dari mereka.” Bella mengagumi kesetiaan yang senantiasa ditunjukkan anggota asosiasi assasin si nomor dua. Mereka lebih memilih mati daripada mengungkap rahasia asosiasi.
Mengetahui tidak ada informasi yang didapat dari kelimanya, Bella memutuskan kembali ke ruangan yang ditinggali dirinya bersama Reinar. Ruangan itu lebih mirip seperti apartemen, tapi bedanya tidak ada tempat bersantai di dalam ruangan.
“Apa dia sengaja menunjukkannya padaku?”
Baru juga masuk ke dalam ruangan, Bella sudah disuguhi tubuh berotot Reinar yang kebetulan baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya menutupi tubuhnya dengan lilitan handuk.
“Ah, Kak Bella maaf, aku lupa membawa baju ganti saat pergi ke kamar mandi.”
Reinar buru-buru masuk kedalam kamarnya, mengabaikan Bella yang diam mematung dengan wajah mulemerah selayaknya kepiting rebus.
“Sepertinya ada yang salah dengan tubuhku setelah aku melihat dia bertel*njang dada.” Bella merasa ada yang keluar begitu deras dari miliknya, dan saat ini dia sangat membutuhkan mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Masuk ke kamar mengambil handuk, pakaian ganti serta peralatan mandinya, Bella buru-buru pergi ke dalam kamar mandi setelah memastikan semua yang dibutuhkannya sudah lengkap.
“Uh, yah... aku benar-benar tidak bisa mengontrol ini.” Bella memainkan miliknya sendiri, dan tak lama air yang begitu deras keluar dari miliknya.
Tubuh Bella terasa sangat lemas, tapi dia tersenyum penuh kemenangan setelah memenangkan pertarungan dengan gairahnya yang membara.
“Ini sangat memalukan!” Bella sadar yang dia lakukan sangat memalukan, tapi mau bagaimana lagi, dia sangat menikmatinya dan ini bukan kali pertama dirinya melakukan itu, dan lagi-lagi Reinar lah pria yang membuatnya melakukan itu.
Seharusnya malam ini dia sudah menyerahkan semuanya pada pria yang telah merenggut hatinya sejak pertama kali bertemu, tapi gara-gara datangnya para pengganggu, malam ini dia kembali harus memuaskan diri dengan permainan jari-jari tangannya.
“Kalau malam ini gagal, masih ada malam lainnya,” gumam Bella sambil membasuh tubuhnya menggunakan air dingin.
Sedangkan Reinar yang berada di dalam kamarnya, dia memilih memakai pakaian santai kemudian merebahkan tubuh mencoba tidur walaupun tak lama lagi sudah tiba waktu matahari terbit.
...----------------...
Tak lama setelah terbitnya matahari di saat Reinar dan Bella masih tertidur, seseorang memasuki ruangan keduanya. Setelah memastikan pemilik ruangan masih terlelap dalam tidurnya, dia masuk ke kamar pertama yang ditempati Reinar. Baru juga orang itu memasukkan kepalanya ke dalam kamar, sebuah pistol sudah menempel di kepalanya.
“Aku tidak tau apa tujuanmu memasuki ruanganku, tapi sebelum kepalamu meledak, sebaiknya kamu segera berlutut dan meminta maaf karena sudah masuk ruangan ini tanpa permisi!” Reinar berkata dengan nada dingin karena dia benar-benar tidak suka ada yang masuk ke dalam kamarnya tanpa seizin darinya.
Sedangkan orang yang kepalanya sewaktu-waktu bisa meledak, dia adalah Jerry, pria yang sudah lama menyukai Bella. Alasan pagi ini dia menerobos masuk ke dalam ruangan yang ditempati Bella dan Reinar, itu semua karena dia tidak terima saat mendengar Bella kembali ke markas besar bersama seorang pria.
“Siapa kamu? Beraninya menodongkan pistol ke anggota pasukan elite negara, apa kamu ingin menjadi musuh seluruh pasukan elite?” Jerry menggertak Reinar dengan membawa nama besar pasukan elite.
“Apa kamu pikir aku takut dengan ancamanmu? Dilihat dari sisi manapun kamulah yang berada di pihak bersalah karena memasuki ruangan orang lain tanpa permisi!” Dengan santainya Reinar masih menodongkan pistol di tangannya ke arah kepala Jerry.
‘Sial, pria ini sepertinya bukan orang biasa. Pergerakannya sangat cepat, bahkan aku sama sekali tidak menyadari keberadaannya sebelum dia menodongkan pistol ke kepalaku.” Jerry membatin.
Jerry mencari cara melepaskan diri dari pistol yang menempel di kepalanya tanpa harus merendahkan diri pada pria yang keberadaannya tidak dirinya sukai karena pria itu dikatakan memiliki hubungan dekat dengan wanita pujaan hatinya.
“Aku teman dekat Bella dan mungkin sebentar lagi kami akan menjadi sepasang kekasih. Kedatanganku ke ruangan ini tentu untuk menemui Bella, tapi sepertinya aku salah memasuki kamar, dan sebaiknya...” Belum juga Jerry menyelesaikan perkataannya, sebuah tendangan menghantam tubuhnya, membuat dirinya terpelanting ke samping dan merintih kesakitan.
“Kita tidak memiliki hubungan dekat dan siapa juga yang ingin menjadi kekasih pria sepertimu?” Bella yang marah setelah mendengar perkataan Jerry, tanpa ampun dia kembali menendang tubuh pria itu sampai keluar dari ruangan.
“Bella, bukannya selama ini hubungan kita cukup dekat, dan aku merasa kamu senang saat berada di dekatku.” Jerry yang sudah berada di luar ruangan memasang wajah melas.
“Hah, hubungan dekat? Apa yang kamu katakan sebagai hubungan dekat nyatanya adalah kamu senantiasa mengganggu kehidupanku, dan juga sudah berkali-kali aku mengatakan padamu untuk tidak lagi muncul di hadapanku!” Bella benar-benar tidak habis pikir Jerry nekad mengaku memiliki hubungan dekat dengannya.
“Bella, aku sangat mencintaimu, aku bahkan rela mati untukmu. Pria itu, pasti dia yang membuatmu tiba-tiba menjauhiku!” Jerry sangat tidak menyukai keberadaan Reinar.
“Door...” satu peluru melesat dari pistol di tangan Reinar, mengarah tepat di hadapan Jerry.
“Kalau kamu tidak segera pergi, aku pastikan peluru selanjutnya tepat mengenai kepalamu!” Reinar tidak sedang mengancam, melainkan dia benar-benar akan melakukannya kalau Jerry tidak segera pergi dari hadapannya.
“Ba... baiklah, aku pergi dari tempat ini.” Sebagai anggota pasukan elite, Jerry tentu bisa membedakan mana yang hanya sekedar ancaman, dan mana yang benar-benar akan terjadi. Melihat sorot mata Reinar, dia tahu kalau pria itu benar-benar akan menembak kepalanya kalau dirinya tidak segera pergi.
“Kali ini aku kalah, tapi tidak untuk lain waktu!” gumam lirih Jerry sambil melangkah pergi.
“Akhirnya dia pergi.” Reinar menatap Bella yang terlihat kesal dengan kemunculan pria yang mengaku sebagai calon kekasihnya.
Hanya sekali melihat Reinar tahu kalau pria itu yang tergila-gila dengan Bella, sedangkan Bella sama sekali tidak tertarik dengan keberadaan pria itu. Daripada tertarik, jelas terlihat Bella sangat tidak ingin melihat keberadaan pria itu.
“Kamu jangan percaya dengan perkataan pria itu! Aku dan dia tidak memiliki hubungan apapun selain rekan kerja.” Bella khawatir Reinar mempercayai perkataan Jerry.
Reinar menggelengkan kepala. “Aku lebih percaya dengan Kak Bella.” Dia berkata sambil menunjukkan senyuman manis di bibir yang membuat Bella semakin terpana dengan ketampanannya.
“Ehm, nanti malam kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang semalam!” Bella berkata sambil mengalihkan pandangannya.
“Tanggungjawab?” Reinar bingung dengan tanggungjawab yang dimaksud Bella.
“Ya, malam nanti kamu harus melakukan itu denganku! Kalau kamu tidak melakukannya, aku akan membuat kamu menjadi kasim!” Bella langsung saja masuk ke dalam kamar mandi setelah mengatakan itu pada Reinar.
“Melakukan itu dengannya? Apa yang dimaksud Kak Bella adalah itu?”
Reinar membayangkan kelanjutan dari apa yang seharusnya terjadi malam tadi. Membayangkan itu tiba-tiba saja dia merasakan panas di miliknya yang perlahan menegang.
“Aku masih terlalu muda, apapun aku benar-benar harus melakukan itu untuk menyelamatkan masa depanku?” Menjadi kasim, tentu Reinar tidak ingin menjadi kasim.
Reinar tidak memiliki pilihan lain selain melakukan itu. Sebenarnya dia bisa saja pergi, tapi mengingat kejadian semalam, entah kenapa dia tertarik untuk melakukan itu. Apalagi saat mengingat lekuk tubuh Bella, dia semakin ingin melakukan itu dengannya.
...----------------...
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Apud Tahu
minum jamu dulu
2025-02-20
0
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
panas2
2024-07-24
2
George Lovink
Bagusnya Reiner itu seorang Mahasiswa bukannya Siswa SMA...pantasnya Mahasiswa gitu sama Bella,baru cocok
2023-10-07
7