Wajah cantik, kulit cerah, tubuh ideal, membuat banyak pria tertarik melihat Bella yang berjalan bersebelahan dengan Reinar.
“Ka.. kak Bella apa tidak risih jalan berdua denganku?” Reinar merasa risih dengan banyaknya pria yang mengarahkan sorot mata tajam kearahnya.
“Risih? Kenapa juga harus risih? Tampang keren, penampilan keren, kalau kamu lebih percaya diri, mungkin sudah berjajar banyak wanita mengantre untuk jadi pacarmu.” Bella mengaku kalau Reinar bukanlah sosok pria yang buruk.
“Tetap saja aku bukan dari kalangan keluarga berada, tak sebanding dengan para pria yang sejak tadi curi-curi pandang pada Kak Bella.” Reinar memang berasal dari kalangan keluarga kurang mampu. Ayahnya sudah tiada sejak dia masih duduk di sekolah dasar, sedangkan ibunya hanyalah pemilik toko kelontong kecil di desa.
Reinar bisa sekolah di kota juga karena beasiswa, dan ada seorang donatur yang setiap bulannya memberi uang bulanan sebanyak satu juta rupiah padanya.
Bella sendiri hanya menggelengkan kepala mendengar perkataan Reinar. “Mereka memang kaya dan memiliki banyak uang, tapi sayangnya itu bukan milik mereka mereka, melainkan semua milik orangtuan mereka,” ujar Bella.
Bella memang berbeda dengan wanita pada umumnya, oleh karena itu Reinar mengagumi sosoknya.
“Bagaimana kalau malam ini kita makan di tempat ini?” Bella menunjuk warung nasi goreng pinggir jalan yang malam ini cukup ramai pengunjung.
“Lebih baik kita makan di restoran itu! Dilihat dari luar tempatnya cukup nyanan.” Reinar melihat restoran sederhana yang hanya berjarak seratus meter dari warung nasi goreng.
Bella melihat restoran yang dilihat Reinar. Restoran itu memang sederhana, tapi dia tahu berapa harga makanan di restoran itu untuk satu porsinya karena dia sering makan di restoran itu.
Dia buru-buru mengarahkan pandangannya ke arah Reinar. “Restoran itu memang sederhana, tapi harga makanannya cukup mahal. Lebih baik kita makan di tempat ini!”
Reinar menggelengkan kepala. “Uang tidak masalah untukku karena malam ini aku ingin sedikit boros.”
Reinar memegang tangan Bella, kemudian menarik wanita itu ikut dengannya pergi ke restoran yang ingin dia kunjungi.
Reinar dan Bella memilih tempat duduk yang cukup jauh dari pengunjung lainnya. Begitu keduanya duduk, salah satu pelayan mendatangi mereka untuk mencatat makanan yang dipesan.
“Aku pesan makan dan minuman terbaik di restoran ini.” Reinar memesan tanpa membuka buku menu makanan di atas meja.
Bella hanya menghela napas mendengar pesanan Reinar, kemudia dia memesan sama persis seperti yang dipesan pria itu.
“Kalau uang kamu tidak cukup, biar aku yang membayar.” Bella berkata pelan pada Reinar begitu pelayan yang melayani mereka pergi.
“Kak Bella tenang saja, uangku tidak akan habis hanya untuk makan malam kita.” Setelah berduaan selama beberapa menit, Reinar mulai tidak canggung dan dia tidak lagi menundukkan kepala.
“Harga makanan terbaik di sini tidak murah. Kalaupun kamu memiliki banyak uang untuk hari ini, seharusnya kamu tidak terlalu boros dalam pengeluaran.” Bella memberitahu Reinar supaya tidak menjadi orang yang boros.
Diberitahu seperti itu Reinar hanya tersenyum, tapi tiba-tiba wajahnya berubah serius saat dia mendengar suara sistem.
[Ding... Misi tersembunyi terdeteksi dan wajib diselesaikan! Temukan dan jinakkan bom yang di letakkan di ruangan restoran!]
[Hadiah misi » Peningkatan 1 Level, 10 Poin Kekuatan, 10 Poin Kecepatan, 5 Poin Kecerdasan, Satu Miliar Uang Tunai]
[Kegagalan misi » Kematian]
“Sistem, bagaimana caraku menemukan benda itu? Apa aku perlu menggeledah semua orang di tempat ini?” Reinar bertanya pada sistem di pikirannya.
[Ding... Tuan cukup mengaktifkan mata tembus pandang untuk mencari dan menjinakkan bom yang beberapa menit lagi akan meledak]
[Dimohon untuk tidak membuat kepanikan karena itu hanya akan mempersulit terselesaikannya misi Tuan]
“Bagaimana cara mengaktifkan mata tembus pandang?”
[Ding... Tuan cukup mengatakan aktif untuk mengaktifkan mata tembus pandang, dan untuk menonaktifkannya Tuan cukup mengatakan tutup]
Mengerti apa yang harus dia lakukan, Reinar langsung mengatakan aktif, dan bersamaan dengan itu kedua bola mata miliknya yang semula berwarna hita kini berubah warna menjadi biru.
Mata tembus pandang telah aktif, tapi seketika wajah Reinar memerah saat dia melihat Bella. ‘Mata ini benar-benar berfungsi.’ Reinar membatin, dan sekarang dia merasa telah memiliki apa yang selama ini menjadi impian para pria.
Teringat dengan misi yang harus dia selesaikan, Reinar berhenti main-main, dan mencari apa yang harus dia selesaikan.
Melihat sekeliling saat Bella sedang bermain dengan HP nya, tak butuh waktu lama untuk Reinar menemukan apa yang dicarinya. Sebuah kebetulan, benda itu berada tepat di belakang kursi yang ditempati Bella.
“Kak Bella, apapun yang sebentar lagi kamu lihat, aku mohon untuk tetap duduk dengan tenang!” Baru juga Reinar selesai berkata, pemilik restoran memberitahukan kalau ada bom di restorannya, dan melarang siapun meninggalkan restoran karena bom bisa meledak kalau ada yang meninggalkan restoran.
Mendengar itu seluruh pengunjung restoran panik, kecuali Reinar dan Bella.
“Apa kamu sebelumnya sudah tahu di tempat ini ada bom?” Bella menatap wajah Reinar tanpa berkedip.
Reinar mengangguk. “Kebetulan, salah satu bom itu ada di belakang kak Bella, tapi ada dua lainnya yang terpasang di pintu depan dan pintu belakang restoran.” Reinar baru saja menemukan ada dua bom lainnya di tempat berbeda.
Bella memutar posisi duduknya, kemudian dia mencari keberadaan benda mencurigakan, dan segera saja pandangannya tertuju pada tas hitam di atas satu-satunya meja yang saat ini berada di hadapannya.
“Rei, bagaimana kamu bisa tahu kalau itu bom?” Bella bertanya tanpa membalikkan badan.
“Tas itu tergeletak secara misterius di tempat itu, dan terlihat beberapa kabel terurai keluar dari dalam tas. Dari situ aku merasa isi tas itu adalah bom.”
Reinar menyampaikan sesuai dengan apa yang terlihat secara visual dari tas di hadapan Bella. Tidak mungkin dia mengatakan kalau dia memiliki mata tembus pandang, yang dapat melihat benda di dalam tas itu.
Kalau dia sampai mengatakan itu, mungkin saat ini Bella sudah mencongkel kedua matanya.
“Lalu, bagaimana kamu bisa tahu ada bom di pintu depan dan belakang restoran?” Kali ini Bella mengarahkan pandangan pada Reinar.
“Bukannya barusan pemilik restoran kengatakan pengunjung restoran tidak boleh keluar dari dalam restoran, kalau tidak ingin bom meledak?”
“Secara logika, pastinya ada sesuatu di pintu depan dan belakang, yang mungkin saja itu bom sama seperti di dalam tas itu.”
Logika Reinar cukup masuk akal, dan Bella yang seorang anggota elit kepolisian, dia cukup kagum dengan ketenangan Reinar meski nyawanya sedang terancam.
“Sepertinya ada orang penting di restoran ini sampai ada yang berencana meledakkannya.” Bella melihat sekeliling, dan pandangannya segera tertuju pada wanita yang kebetulan juga sedang memandangnya.
“Kenapa juga harus dia yang muncul di tempat ini?” Bella bergumam lirih, kemudia dia kembali mengarahkan pandangan ke arah Reinar.
Akan tetapi, sosok Reinar tak lagi ada di hadapannya.
“Ini tidak terlalu sulit.” Reinar ternyata sudah berada di belakang Bella.
Saat Bella melihat ke belakang, dia melihat bom di atas meja sudah berhasil di jinakkan, dan dengan kedua matanya dia melihat Reinar dengan santai berjalan ke pintu depan restoran.
Sedangkan Reinar yang berjalan ke pintu depan restoran, dia dapat melihat bom di atas pot bunga, tepat di samping pintu bagian luar.
Menggunakan mata tembus pandang, Reinar dengan mudah menemukan kabel yang harus dia potong untuk menjinakkan bom.
“Rupanya menjinakkan bom bukan sesuatu yang sulit. Dua selesai, tinggal satu lagi yang perlu aku jinakkan.” Di saat semua dilanda ketakutan, Reinar justru dengan santainya berjalan di hadapan banyak orang.
Dia bertanya letak pintu belakang pada pekerja restoran. Setelah tahu letak pintu belakang, Reinar pergi ke tempat itu untuk menjinakkan bom ketiga sekaligus yang terakhir.
“Baik, ini sudah selesai.” Reinar dengan tenang menjinakkan bom ketiga, dan tanpa dia sadari, sejak berjalan ke arah pintu belakang ada dua wanita yang mengikutinya.
Merasa misinya sudah terselesaikan, Reinar ingin masuk kembali ke dalam restoran, tapi saat membalikkan badan dia hanya bisa berhenti di tempat karena dua wanita berdiri tepat di hadapannya.
“Semua sudah selesai, mari kita lanjut makan! Oh iya, sebelum makan bagaimana kalau salah satu dari kalian menelpon pihak kepolisian untuk membereskan tiga bom yang telah aku jinakkan?”
Reinar mengenali dua wanita di depannya. Salah satu wanita adalah Bella dan wanita lainnya adalah Wina, ketua kelas yang memiliki hubungan cukup baik dengan Reinar.
Oleh karena itu, Reinar tidak terlalu canggung berada di hadapan mereka.
...----------------...
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Apud Tahu
cukup mantap n pinter.
2025-02-20
0
Bayu Widodo
bagus dan seru banget
2024-10-05
0
Naga Hitam
hadehh
2024-09-19
0