Aku menatap sekilas kearah Farhan yang menyemangati mamahnya ini, agar bisa melawan para para manusia tidak tahu diri itu.
Berusaha kuat.
Tangan kanan ini mulai membuka pintu rumah Kak Indah, terlihat wajah sang ibu mertua ternyata sudah ada di depan mata.
Wanita tua yang berada dihadapanku, kini menarik legan hingga aku tersungkur jatuh. Ia berusaha masuk untuk mengambil Lulu dari tangan Farhan.
Aku yang sudah duduk berada di atas tanah, berteriak." Farhan, cepat kunci pintunya. Nak."
Dengan sigap anak pintar itu, menutup pintu, hingga kepala ibu mertua terbentur pintu dengan keras.
"Aaahk."
Teriakan ibu mertua membuat, Ajeng dengan perhatiannya mendekati wanita tua itu, sembari memegang jidat ibu yang terlihat memar." Oh my God, it must be so sick."
"Aduh, kepala ibu sakit sekali." Gerutu ibu.
Radit anakku yang terlihat lemas, aku suruh dia bersembunyi.
"Radit nak, cepat kamu sembunyi. Cepat." Printahku, pelan.
Radit berusaha berjalan dengan tertatih tatih. Entah kenapa dengan kaki anakku, kenapa jalannya seperti itu.
Aku terus memperhatikan kepergian anakku, saat mereka tengah sibuk memperhatikan luka di jidat ibu.
"Anna."
Plakkkk ....
Belum juga aku berdiri, suamiku sudah menampar pipi kiriku. Keterlaluan, dengan rasa kesal. Aku mulai menampar balik lelaki yang sudah menjadi ayah dari anak anakku.
Plakkkk ....
Menujuk pada dada bidangnya dan berkata," kamu sudah melukai hati dan juga fisikku, apa kamu tidak pernah merasa bersalah atas semua yang kamu lakukan padakku, Mas?"
Ajeng melipatkan kedua tanganya, menatap ke arahku.
"Fisik, hati. Hey, ugly woman. Jangan sok ingin di kasihani, jijik dengarnya."
Mas Raka masih dengan amarahnya, terlihat dadanya yang naik turun naik turun seakan tengah mengontrol emosi.
"Hah, cewek sok ke bule bulean. Kamu sekarang bisa menghina saya, tapi hinaan itu sebentar lagi akan berbalik padamu."
"Apa kamu bilang."
Wanita bernama Ajeng itu, dengan sepontan. Menjambak rambutku, membuat aku kini melawannya, aku berusaha mencakar wajahnya yang putih mulus kincong bagai minyak jelantah.
Membuat ia, semakin menjadi jadi. Menarik paksa rambut panjangku.
"Dasar wanita tidak tahu diri." Teriakku. Mencakar wajah dan juga badanya.
Ajeng seakan tak mau kalah denganku, ia berusaha membuat aku terjatuh.
Dan bruggg ....
Aku benar benar terjatuh saat itu, di mana Mas Raka mendorong badanku dan meraih Ajeng dengan memeluk wanita sok kebule bulean itu.
"I hate you, you crazy woman. Don't know yourself, you should just die, it's no use." Hinaa Ajeng, membuat aku bangkit kembali.
Dan Brugg ....
Aku berhasil meninju wanita sok itu, hingga ia jatuh pingsan.
"Rasakan, pukulan maut."
Aku tersenyum sinis, sedangkan Mas Raka. Berusaha menahan Ajeng yang jatuh pingsan gara gara pukulan tanganku.
"Anna, kamu ini benar benar."
Ibu mertua langsung menghampiri Ajeng dan juga Mas Raka.
"Gimana, kalian juga mau merasakan pukulan mautku." Ucapku menawarkan sebuah pukulan. Memperlihatkan kepalan tangan.
"Raka, si Anna ini benar benar gila, dia sudah tak waras. Sebaiknya kita pergi dari sini."
"Tapi bu, kalau kita pergi dari sini langsung. Bagaimana dengan Lulu."
"Sudah biarkan saja Lulu di sini, nanti kita jemput lagi dia, ibu takut Ajeng kenapa kenapa."
"Ya sudah bu."
Aku yang mendengarkan obrolan mereka, hanya berdiri dengan kemenangan, seperti super hero yang sudah mengalahkan musuhnya.
Hanya dengan sekali pukulan.
Mas Raka dan ibu yang kuatir dengan Ajeng, langsung membawa Ajeng ke dalam mobil. Untuk di larikan ke rumah sakit.
Mas Raka seakan kewalahan membawa Ajeng, membuat aku berniat mengerjainya lagi.
Di mana ia sedang berjalan melewatiku, aku dengan isengnya mendekatkan kakiku ke arah jalanya, hingga ia tak sadar dan terjatuh.
"AHKKK."
Ajeng yang dibopong suamiku kini malah terhempit oleh tubuh Mas Raka, membuat Ajeng langsung sadarkan diri.
Wanita tua yang bersetatus sebagai mertuaku, kini melayangkan sebuah tamparan pada pipi kiriku.
Akan tetapi tamparan itu berhasil di tepis oleh tanganku sendiri.
"Aduh, ini ibu mertua. Berani beraninya mau menampar wajah Anna." Kemarahan yang menggebu membuat aku memegang erat tangan, membuat wanita tua itu meringis kesakitan.
"Ahk. Lepaskan Anna."
Saat itulah kulepaskan tanganya.
Ajeng yang baru saja sadarkan diri, memegang kepalanya, karna terbentur jalanan aspal.
"Makanya kalau gendong istri itu yang ikhlas."
Aku tertawa sembari menutup mulut, membuat Mas Raka menggengam erat ke dua tanganya.
Ibu mertua yang sepertinya kewalahan, menghadapiku. Kini mulai mengajak Raka dan juga Ajeng pulang.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, Si Anna ini sudah enggak waras."
Mas Raka dan Ajeng menuruti apa perkataan ibu mertua. Mereka mulai masuk ke dalam mobil, sedangkan Ajeng, beraninya menghampiriku.
"Ini belum selesai, aku akan buat perhitungan sama kamu. Crazy woman."
"Terserah kamu."
Menggenggam erat telunjuk tangan Ajeng, membuat aku ingin langsung mematahkannya begitu saja.
"Lepaskan tanganku."
"Tidak akan."
Mas Raka kini keluar lagi dari dalam mobil, melepaskan genggaman erat tanganku yang menggengam telunjuk tangan Ajeng.
"Kamu jangan macam macam ya, Anna. Aku akan beri kamu perhitungan."
Ancaman yang terlontar dari mulut Ajeng yang membuat aku hanya tersenyum sinis dan melipatkan kedua tangan melihat kepergian mereka.
Aku melambaikan tangan ke arah mobil mereka, untuk pergi dari rumahku.
"Selamat tinggal manusia manusia busuk."
Setelah kepergian Mas Raka dan yang lainya, waktunya aku mencari keberadaan Radit, yang di mana Aku menyuruh Radit untuk bersembunyi.
Aku mulai berteriak teriak memanggil nama anakku, berharap jika iya keluar dari persembunyiannya.
"Radit, Radit. Di mana kamu nak."
sempat kuatir dengan ke adaan Radit, tidak ada satu pun orang yang melintas ataupun segaja menongkrong,
"Ke mana, Radit?"
Melihat setiap rumah, semua nampak sepi, karna tetangga Kak Indah rata rata pekerja semua. Jarang jarang ibu ibu ke luar rumah, mereka selalu menhabiskan di luar rumah.
Aku terus berteriak memanggil nama anakku, hingga di mana dus yang bertumpukan kini bergerak-gerak, membuat aku langsung menghampiri dus itu bekas itu.
Aku langsung membuka perlahan tumpukan dus itu dengan perlahan, dan benar saja ternyata Radit bersembunyi di tumpukan dus yang aku curigai. Kedua matanya menutup sepertinya ia sedang tertidur.
Terlihat sekali wajah lelahnya dan juga badan yang begitu kurus tak terawat. Membuat aku ingin menangis melihat keadaan Radit yang sekarang.
Perlahan tanganku mulai memegang pipi anakku, mengusap-usap dengan lembut dan menyuruhnya untuk bangun.
"Radit, sayang. Bagun nak, ini ibu."
Beberapa kali aku membangunkan Radit, hingga di mana kedua mata anakku mulai terbuka. Radit tersenyum menangis dan memelukku begitu erat.
"Mamah, Radit, kangen mah. Radit mau sama mamah."
Tangispun pecah seketika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Siti Umayah
ayo ana semangat terus tunjukan kekuatan mu
2022-07-20
0
Rosana Ros
semangat Thor lanjut 🤣🤣🤣
2022-07-19
0
Mam Lilu
jangan2 radit di suruh kerja di rumah si nnek peot
2022-07-19
0