Aku membuka ponsel, berharap emosiku bisa setabil, agar aku bisa menghadapi Mas Raka dalam keberanian.
"Lawan Anna, ayo lawan. Mas Raka bukan lelaki yang harus kamu pertahankan."
Meyakinkan hati, dan saat itu aku mulai menatap layar ponsel.
Nomor baru?
Entah nomor siapa ini? Aku baru kali ini mempunyai nomor baru di ponselku, karna pada ponselku hanya ada dua nomor yang aku simpan. Kak Indah dan Mas Raka.
(Asslamualaikum, Anna. Apa kamu sudah tidur?)
Rasa penasaran mulai menghantuiku, balas atau tidak?
karna penasaran, saat itulah aku mulai mengetik kaybor pada ponselku.
(Walaikumsalam, ini siapa?)
(Ini saya Galih!)
Galih, lelaki duda yang kemarin memberi tanah dan juga rumah untukku, ada apa ya dia mengirim pesan padaku?
(Iya, Pak Galih. Ada apa?)
(Saya hanya ingin bekerja sama dengan kamu! katanya kamu mau membuka usaha warung nasi?)
Mm, dari mana dia tahu? Padahalkan baru saja tadi aku .... kasih tahu kakak.
Kayanya kakak kasih tahu nomor aku ke Pak Galih, begitupun dengan usaha yang akan aku jalani.
Aku jawab apa ya? Jujur saja ini kesempatan yang bagus untukku, jika tidak di ambil kan sayang. Hanya saja Pak Galih kan laki laki, kalau aku bekerja sama dengan laki laki, nanti kesannya fitnah.
(Biar nanti aku pikirkan dulu, pak.)
(Ya sudah, jika nanti kamu berubah pikiran hubungi saya saja. Saya akan menaruh dana untuk usaha kamu dan memberi tempat.)
Waw, betapa terkejutnya aku setelah melihat balasan dari Pak Galih, baru saja mau merintih usaha, sudah ada yang mau menanam dana dan memberi tempat usaha. Padahal kemarin dia memberikan tanah dan juga rumah dengan alasan balas budi kepada almarhum bapak dulu. Dimana bapak dulu pernah membantunya, saat ia susah.
Itu pun aku mendengar cerita dari Kak Indah, dan selanjutnya aku tidak mau tahu lagi.
Setelah pergi dari rumah ibu mertua. Aku seakan di beri suatu peluang besar, yang terus berdatangan.
"Radit tunggu mamah sukses, setelah mamah sukses, mamah akan mengambil alih hak asuh kamu."
Aku menggenggam erat ponsel jadulku ini, berharap keajaiban terus menerus datang. Agar tak ada derita yang aku rasakan di setiap sisa sisa hidupku ini.
Aku menatap ke arah Farhan, mengusap pelan kepalanya dan berkata," kamu keberkahan mamah nak, walau kamu tidak lahir di rahim mamah. Tapi kamu tetap anak mamah selamanya."
Lulu tidur begitu nyenyak, setelah tadi tebangun ingin menyusu.
@@@@@@@
Waktu sudah menunjukkan pukul 04:30, waktu sebagai umat muslim menjalankan ibadah salat shubuh.
Setiap jam segini, di rumah mertua. Aku sudah di hidangkan dengan cucian yang menumpuk di tambah lagi Lulu yang rewel.
Tapi sekarang, aku hanya bangun dan membereskan rumah kakak yang sudah terbilang rapi.
Membuat sarapanpun simpel, hanya nasi goreng.
Sedangkan kak Indah tidak biasa makan pagi, ia selalu sarapan roti tawar dengan selai kacang favoritnya.
Saat di meja makan.
"Gimana, Anna. Apa kamu sudah menyetujui kerja sama dengan Pak Galih? Duda keren dan tampan itu. tidak kere seperti si Raka!"
Aku mengerutkan dahi, mulai duduk dan mengambil nasi goreng untuk sarapanku bersama Farhan.
"Aku pikir pikir dulu, kak."
"Mm, sudahlah setujui saja. Apa yang kamu pikirkan lagi, ini kesempatan emas buat kamu, An."
"Tapi dia duda kak, apa kata orang."
Brakkk ....
Piring yang berada di samping kak Indah tiba tiba tak sengaja tersenggol olehnya.
"Maaf, Anna, ini bukan sebagian dari akting. Maka lanjut lagi, siap action."
Kak Indah menatap tajam ke arah wajahku, kedua matanya tak berkedip, menampilkan keseriusan.
"Anna, kamu masih saja memikirkan apa kata orang. Haduh, An, bisnis ya bisnis. Cinta ya cinta, hubungan ya hubungan. Jangan di samakan. Harus propesional."
Apa yang di katakan Kak Indah benar, aku harus propesional, jangan terlalu mendengarkan kata orang. Apapun masalahnya, yang terpenting tidak buat rugi orang.
"Sudah kamu pikirkan lagi, apa perkataan kakak kamu ini?"
Aku menganggukkan kepala dikala Kak Indah menasehatiku agar tidak terlalu memikirkan apa kata orang.
"Nih, ya. An, orang itu bakal selalu komen tentang hidup kita, mau benar, mau salah. Apapun mereka komentari, jadi. Hidup di dunia tidak akan tenang, karna akan selalu ada orang yang mengomentari. Dan menghujat. Jadi lupakan soal itu, sekarang kamu fokus dengan tujuan kamu saat ini. Mengerti."
Aku mendengarkan dengan seksama perkataan Kak Indah, sebuah motivasi untuk diriku, agar tidak terlalu memikirkan apa perkataan orang dibelakang atau di depanku.
Kak Indah kini mulai berdiri, setelah selesai memakan sarapanya, ia mengambil tas untuk berangkat bekerja.
Kak Indah, adalah wanita mandiri. Selama ia dikhianti tak ada kesedihan lagi pada raut wajahnya, ia terlihat lebih bahagia.
"Ya sudah, An. Kakak berangkat pergi bekerja dulu, kamu jangan ke mana mana. Kakak takut nanti, Raka si kere itu datang membawa Lulu dan malah menyered kamu ke rumah ibunya untuk dijadikan babu."
"Iya, kak. Aku dan Farhan akan diam di rumah, tak akan ke mana- mana."
"Bagus kalau begitu."
Kak Indah kini melangkah untuk segera berangkat bekerja, dengan menaiki motornya.
Aku dan Farhan, melambaikan tangan dikala Kak Indah melajukan motornya.
Kami berdua langsung masuk ke dalam rumah.
Aku yang bisanya sibuk, kini bisa bersantai, sembari memikirkan desain rumah makan, agar terlihat menarik dan nyaman.
Sedangkan Farhan tengah asik, bermain dengan Lulu, walau hatiku masih sakit, memikirkan Radit yang tidak ada di sampingku.
Tok .... Tok .... Tok ....
Ketukan pintu begitu keras terdengar, membuat kuping ini sakit. Siapa yang berani mengetuk pintu begitu keras?
Melangkah mengintip ke jendela kamar, ternyata Mas Raka dan Ibu. Dan aku melihat si bule jadi jadian itu ikut serta juga.
Ngapain dia ikut serta. Radit, aku melihat Radit tengah dipegang oleh Ajeng.
"Ya Allah, Radit. Anakku."
Badan Radit terlihat kurus sekali, kedua matanya merah bengkak, ia seperti tertekan karna tidak ada aku.
Radit begitu tak terurus, membuat aku tak tega.
"Anna, ke luar kamu."
Gedoran pintu kini terdengar kembali, membuat aku berusaha melawan getaran rasa takut pada badanku ini.
"Anna, ibu ingin membawa Lulu sekarang juga. Kamu dengar tidak."
Teriakan ibu bergeming di telinga.
"Mamah, mamah, ini Radit, Radit kangen sama mamah."
Radit, itu suara anak keduaku, terdengar sayu, dan lemah. Radit apa kamu sedang sakit nak.
Farhan mendekat dan bertanya?" Mah, itu suara Radit."
"Iya Farhan, mamah tahu."
"Kita hadapi mereka, mah. Kita selamatkan Radit dari nenek dan juga papah."
Apa aku bisa melawan mereka lagi?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Bidadarinya Sajum Esbelfik
lelaki gk punya harga diri,. udh tinggal aja Ana😶😶
2022-07-30
0
Lailatul Fadjariyah
rad85 aga4 bs kum0ul dgn anna, Anna bercera8 dgn raka. smoga pertolongan cepat datangenolong anna dan anak2xnya
2022-07-19
0
Nina Ribeiro de Deus
up lagi lkak.... makin penasaran. Ana...semangat...dan janganemyerah...
2022-07-19
0