"You now dare to fight, Anna."
"Alah sudahlah, mas. Tak perlu pake bahasa inggris segala, walau pun aku bodoh. Aku bisa merubah diriku. Jadi kamu tak usah cape cape menghinaku, cukup ceraikan aku saja."
Nafas terasa berburu di dalam dada, seakan semua rasa ketakutanku hilang, dengan keberanian. Untuk melawan suamiku.
Walau mungkin ini tak pantas, tapi aku sudah jera dan tak tahan, dengan mulut suamiku yang padai menghina ini.
"Anna harusnya kamu sebagai wanita sadar akan kesalahanmu, karna berani melawanku."
Alah, tadi sok sokan pake bahasa inggis, sekarang sok nasehatin.
"Sudahlah mas, sebaiknya kamu ceraikan aku saja."
"Kalau aku tak mau?"
"Aku yang gugat kamu cerai!"
Aku langsung mematikan panggilan telepon, lelah berdebat terus menerus dengan suami seperti Mas Raka.
Tring ....
(Anna, kamu ini? Crazy, stupid. Don't know yourself. Berani beraninya, kamu mematikkan panggilan teleponku. Kita belum selesai bicara.)
Aku tersenyum dikala membaca pesan dari suamiku.
"Anna, berani beraninya dia mengatai kamu gila dan ...."
"Stop, kak. Aku tahu itu kata kata umpatan, yang tak seharusnya seorang suami mengatakan semua itu."
"Anna. kakak?"
"Aku tahu itu, maka dari itu aku ingin pintar dalam segala bidang agar aku tak di rendahkan. Aku tahu jika Mas Raka adalah seorang sarjana dan aku hanya lulusan Sederajat!"
"Anna."
Kak Indah langsung memeluk tubuhku, dengan begitu erat dan penuh kasih sayang.
"Kakak sayang kamu, An. Walau nasib kita sama sama dikhianati kita harus tetap kuat, dan bisa membuktikan pada laki laki, kita bisa berdiri tanpa bantuan mereka dan mengemis mengharap mereka berubah."
"Iya kak, Anna juga sayang sama kakak. Kita harus saling menguatkan. Satu sama lain."
Bau wangi Farhan tercium dari kejauhan, anak itu ternyata sudah selesai mandi. Ia terlihat tampan dengan hidung mancung, bola mata berwarna coklat. Senyumannya kini menampilkan lesung pipi.
"Mamah sama tante berpelukan kaya teletabis saja." Tawa Farhan, membuat air mata yang tadinya terus keluar berhenti sejenak.
"Kamu ini Farhan, bisa saja buat tante sama mamahmu tertawa."
Kak Indah mencubit pipi kiri Farhan.
"Ahk. Sakit tante."
Farhan memanjangkan bibir bawahnya, sembari mengusap-ngusap pipi kiri bekas cubitan sang tante.
Aku tertawa, dengan apa yang dilakukan kakakku kepada Farhan.
"Farhan. Tetaplah jadi anak baik, ketika nanti kita berpisah, jika ada ibu dan ayah kamu yang menjemputmu suatu saat." Gumam hati Anna, menatap ke arah wajah Farhan yang terlihat begitu ceria bersama sang kakak.
Aku berusaha menahan air mata, tidak mau kesedihan yang aku rasakan terlihat oleh Farhan.
"Aku yakin anak anakku, bisa aku besarkan dengan pendidikan tinggi, walau aku hanya seorang ibu dengan pendidikan rendah. Akan aku buktikan."
Aku terus menyakinkan diri, agar aku kuat dan bisa bertahan walau tanpa seorang suami.
Farhan memegang tanganku dengan lembut dan berkata," apa mamah baik baik saja?"
Kuusap kepala rambut Farhan dengan lembut, kucium keningnya dan berkata," mamah baik baik saja kok sayang."
Farhan tiba tiba berdiri tegak, seperti tentara yang menghormat pada jendralnya.
"Mamah. Jika ada yang berani menyakiti mamah, Farhan pastikan orang itu akan mati di tangan Farhan."
"Sayang, Farhan. Kamu ini ada ada aja."
Kak Indah tertawa dengan lepas, melihat tingkah lucu anakku yang baru berusia belasan tahun.
Hanya saja ada yang kurang dalam hatiku saat ini.
Radit, maafkan mamah nak. Mamah belum bisa jemput kamu sayang, mamah tahu pasti kamu tersiksa di sana.
@@@@@@
Malam hari, di saat santai seperti ini. Kak Indah menyuruhku untuk datang ke kamarnya.
Entah apa yang akan diobrolkan kak Indah kepadaku?
Saat itu aku mulai mengetuk pintu kamar kakaku.
Tok .... Tok ....
"Masuk."
Membuka pintu kamar Kak Indah, aku kaget bukan main. Melihat wajah kakaku putih seperti setan baru saja muncul.
"Kak Indah, Astagfirullah. Kakak ini ngapain coba, malam malam gini pake begituan, bikin orang ketakutan."
Kak Indah, memajukan bibir atas bawahnya, memukul kepalaku pelan." Ini tuh masker Anna, kamu ini katro sekali."
Aku hanya menempelkan tanganku bersamaan, membuat aku menundukkan pandangan.
"Nih, kamu pake, kebetulan kakak beli kemarin banyak, terus dapat diskon lagi."
"Ya elah kak, biar apa sih."
Kak Indah menepuk jidatnya, dan berkata." Anna, kamu ini. Asal kamu tahu ini tuh buat merawat kulit muka kamu yang kusam dan menghilangkan noda hitam di wajah kamu ini. Agar cerah dan terlihat lebih muda dan fres. Memang selama menikah suamimu tak pernah membelikan Skin Care?"
Aku menggelengkan kepala, jangankan skin care, baju_pun. Bekas aku waktu masih gadis.
"Hah ya ampun. kasihan sekali nasib kamu Anna, sekarang kamu harus bisa merawat wajah kamu, agar kinclong dan cantik."
"Mm, yang aku butuhkan bukan masalah cantiknya aja. Tapi."
"Tapi apa?"
"Bagaimana aku bisa mengandalkan hidup tanpa harus dibantu kakak, bukanya kakak juga punya kebutuhan sendiri."
Kak Indah tersenyum.
"Kamu memang anak baik, tak mau menyusahkan orang lain. Pantas saja ibu selalu sayang padamu. Dan membuat aku sering iri."
"Itukan masa lalu kak, tak usah di bahas. Untuk apa juga, yang terpenting kita saling menguatkan bersama."
"Iya, terima kasih adikku. Oh ya. Memangnya kamu mau usaha apa? Mungpung kamu punya uang warisan dari ibu?"
"Iya juga ya, sepertinya, aku akan membuka warung nasi kecil kecilan di tempat yang di berikan Pak Galih kepadaku. Tempat itukan ramai, kemungkinan bisa jadi bisnis untuk memulai dari awal."
"Bagus, ide yang bagus. Kakak akan dukung kamu, saat itu juga."
"Terima kasih kak."
Kak Indah kini memberikan beberapa pelaratan make up untukku, dengan skin care yang begitu banyak.
"Ini buat kamu, liat petunjuk pemakaian, usahakan secape apapun kamu jangan lupa perawatan, agar nanti si Raka kere itu menyesal, telah menyia nyiakan bidadari dunia seperti kamu."
Aku tersenyum senang, dikala Kak Indah begitu perhatian terhadapku, ia telaten dan selalu membuat aku bangkit dari keterpurukan.
Beruntung aku mendapatkan seorang kakak seperti Kak Indah.
"Ya sudah kak, aku mau pergi ke kamar."
"Iya, jangan lupa pake."
"Baik kak."
Berjalan keluar kamar dengan membawa beberapa Skin Care dan juga alat make up dari Kak Indah.
Membuat aku berucap," kamu akan menyesal mas."
Tring ....
Setelah sampai di dalam kamar, ponselku terus berbunyi, menandakan beberapa pesan datang. Saat itu aku letakkan skin care yang diberikan kakakku untuk aku pakai, mengambil ponsel yang tak jauh dari ranjang tempat tidur, membuat aku langsung membuka isi pesan dari ponselku..
Aku sudah mengira jika pesan itu datang dari suamiku sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Mam Lilu
semngat up nya thor 💪💪
2022-07-18
0
Siti Umayah
lagi Thor,,, berasa nanggung terus bacanya 😂
2022-07-18
0