(Ana, cepat pulang. Don't be a stupid woman, just walk away.)
(Aku ini suamimu, kamu tidak berhak pergi begitu saja. Kamu masih punya tangung jawab menjadi seorang istri.)
(Harusnya menjadi wanita itu kamu sadar diri, aku masih mau menerima kamu tanpa menceraikan kamu.)
Dan benar saja kedua bola mata kak Indah membulat, setelah melihat pesan datang dari ponselku. Kata kata umpatan dan juga hinaan, membuat Kak Indah terlihat marah besar.
Kak Indah seperti ingin membanting ponselku saat itu juga, tapi ia tahan, karna berusaha sabar.
"Kalau saja ini poselku, mungkin sudah kubanting, Ana," ucap Kak Indah. Dengan menahan amarah, yang terus bergejolak di jiwa, membuat Kak Indah memberikan ponsel kepadaku.
Aku mulai merai ponsel itu, tapi nyatanya.
Kak Indah tak bisa menahan amarah ia mulai membalas pesan dari ponselku.
(Apa kamu bilang, stupid. Hem, sudahlah mas, kalau kamu terus menghina aku dengan kata kata itu, aku tidak akan datang ke sana lagi. Aku akan menggugat kamu.)
(Hey, kamu mau mengugatku dengan alasan apa, Hah.)
( Hahha, aku mau mengugat kamu dengan alasan apapun terserah aku donk.)
(Sudahlah jangan bertingkah sok banyak duit, kamu itu tidak bisa hidup tanpa aku. Memang kamu nanti mau kasih makan anakku Lulu pake apa? Batu.)
Aku melihat wajah Kak Indah, begitu terlihat tak seperti biasanya, membuat aku penasaran.
"Kak."
Kak Indah memperlihatkan telapak tanganya, menyuruh aku untuk tak bertanya dan hanya duduk diam saja.
(Kata siapa aku tak bisa hidup tanpamu, mas. Helo, kamu yang akan berkata seperti itu, saat nanti kita berpisah. Ingat itu, mas.)
(Haha, heh. Ana, jangan sok kepedean kamu jadi wanita, dulu kamu memang cantik, aku sangat mencintai kamu tapi sekarang. Ahk sudahlah tak perlu di katakan lagi, kamu juga pasti akan mengerti.)
(Wow, hebat ya, mas. Kamu mengukur aku dalam segi kecantikan wajahku, tapi tak pernah mempedulikan bagaimana perjuanganku bertahan dengan lelaki sok tampan seperti kamu.)
(Heh, Ana, emang aku tampan. Makanya aku masih laku, tidak seperti kamu.)
Kak Indah, tiba tiba mengepalkan tanganya. Meninju meja di hadapanku dan berkata." Ini, laki harus di musnakan. Di muka bumi ini."
Aku masih tak mengerti dengan apa yang di katakan Kak Indah, hingga ia memberikan poselku.
"Nih, kamu BACA."
Aku membulatkan kedua mataku, tak percaya dengan apa yang aku lihat.
"Kamu lihatkan Ana, lelaki kere seperti Raka itu harus diberi pelajaran. Agar dia jera."
Berusaha bersikap tenang memaklumi segala kemarahan kakaku," kakak harus tenang. Semua bisa di selesaikan tanpa harus marah marah."
Dukkk.
Suara pukulan keras pada meja depanku, membuat aku tentulah sangat kaget. Bibirku keluh tanpa bisa mengeluarkan satu patah katapun lagi.
"Ana, ini bukan masalah marah marah. Tapi ini harga diri sebagai wanita, ia menjelek jelekan kamu tak menghargai kamu lagi."
Aku menundukkan pandangan, apa yang dikatakan Kak Indah benar, tapi tetap saja hatiku tak bisa membuat kemarahan seperti yang dilakukan kakakku sendiri.
"Kamu harus sadar, dan bangkit dari semua ini. Kakak yakin setelah kamu bangkit dalam keterpurukan dan hinaan Raka, dia akan menyesal."
"Aku percaya semua itu kak, tapi bisa tidak kita membalas mereka dengan cara halus, tanpa mengotori tangan kita."
Kak Indah terdiam, mencerna ucapanku dan menjawab." Maksud kamu cara halus."
Aku membisikan ke telinga kak Indah, membuat kak Indah tersenyum.
"Kakak setuju."
Dreet .... Dreet .....
Ponselku kini berbunyi, menandakan. Satu panggilan datang, di mana layar ponselku menampilkan nama suamiku yang tak lain ialah Mas Raka.
Saat itulah aku mulai mengangkat panggilan teleponku.
" Halo."
Terdengar suara Mas Raka tiba tiba, memarahiku. Membuat aku hanya mendengarkan dari kuping kanan keluar lagi ke kuping kiri.
Masa Bodo.
"Halo, Ana. Jangan bertingkah bodo kamu, mau mengugatku untuk bercerai, harusnya sebagai wanita kamu sadar diri. Jangan belagu."
Kak Indah menyuruhku untuk mengeraskan suara Mas Raka pada ponselku.
Agar Kak Indah mendengar ocehan Mas Raka yang bagi dirinya tak berguna, dan hanya sia sia. Buang buang waktu.
Terlihat bibir Kak Indah ia panjangkan, sambil komat kamit tidak jelas di depanku, membuat aku tertawa.
Sedangkan, Mas Raka kini memanggil namaku.
"Halo, Halo. Ana."
Saat itu aku mulai menjawab panggilan suamiku," Ya. Mas, ada apa?"
"Kamu ini dengan enggak suami bicara, hah,"
"Dengar, mas."
"Ya sudah, urungkan niatmu untuk mengugatku. Besok aku akan ke sana menjemputmu dan Lulu begitupun Farhan."
Dengan seenaknya Mas Raka berkata seperti itu, ia benar benar tak menghargaiku, dia cenderung lebih banyak menghina tanpa mimikirkan hati istrinya ini.
Menjadi seorang istri yang sabar itu bukan hal yang mudah, apalagi ditekankan dengan keadaan yang harus memaksakan seorang istri itu harus bertahan. Itu rasanya tak mungkin bagiku, terlalu banyak rasa sakit yang harus aku terima hingga aku tak kuat lagi menompang rasa sakit itu.
Bukankah membahagiakan istri itu adalah kewajiban bagi seorang suami, begitupun dengan memuliakannya.
Tapi, kenapa laki laki seperti Mas Raka cenderung banyak menuntut, tanpa ia pedulikan hati dan perasaan ini.
"Halo, Ana."
Lamunanku membuyar, aku berusaha mengusap pelan air mata yang tak kusadari menetes begitu saja.
Kak Indah, menyemangatiku agar aku tetep tenang, kuat dan berani melawan demi kebaikan.
Memang melawan suami itu adalah dosa besar, kita di tuntut untuk mematuhi suami agar terhidar dari api neraka.
Aku belum bisa menjadi istri yang baik. Aku masih belajar dan berusaha. Tapi kenyaataanya, merubah diri itu tidak gampang, apalagi hidup dikelilingi dengan suami dan keluarga yang seakan tak bisa menghargai kita untuk apa? Percuma. Hanya membuang buang sisa hidup dengan orang orang yang akan merusak mental.
Aku putuskan ingin berpisah dengan Mas Raka.
Aku juga ingin bahagia, lepas dari tekanan yang membuat batinku tersiksa.
Berusaha untuk tetap tegar, dalam satu pilihan. Walau sebenarnya hati ini masih berat ingin berpisah dengan Mas Raka. Tapi apa daya hati sudah rapuh di tekan dengan penghinaan yang begitu berat.
"Maksud, mas. Aku harus bertahan dengan mas di rumah ibu, mana mungkin mas. Aku punya perasaan aku punya kewarasan yang harus aku jaga. Aku tidak bisa, mas. Maafkan aku."
"Ana, berani kamu melawanku, Aku akan ...."
Belum perkataan Mas Raka terlontar semuanya pada sambungan telepon, aku langsung berkata." Kamu akan apa? ceraikan aku, bunuh aku. Silahkan mas aku tak takut, aku tetap pada pendirianku, aku tidak mau larut dalam nestapa diri akan di perbudak oleh orang tuamu, dan di hina terus menerus oleh madumu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Tri Widayanti
Jangan lemah,lawan ketidak adilan
2022-08-05
0
Hasanah Ibu
lanjuttttt...seru
2022-07-18
0
𝐓𝐚𝐲𝐨𝐧𝐠
semangat ana jangan terlalu lemah kudu berani melawan untuk kebaikan kamu melawan karna kamu di dzolimi tak akan berdosa
2022-07-18
0