Aku masih berdiri mematung dengan seribu kebingungan.
"Sudahlah bu, biar saya saja yang bawa Lulu ke mamahnya."
"Diam kamu."
Wajah mertuaku begitu terlihat menyeramkan, seperti singa yang tak mau diganggu. Mengagah dengan taring tajam.
Aku yang tak mau membebankan Kak Indah, kini memberanikan diri menghampiri ibu mertua.
Nafas ibu terlihat seperti orang sesak nafas naik turun, naik turun, mungkin karna meladeni kakakku yang tak mau mengalah dalam perdebatan.
"Lulu."
Teriakku lembut melihat Lulu menangis sembari memanggil mamahnya ini.
Lulu menyodorkan kedua tanganya, terlihat ingin di gendong olehku.
"Mamah, mamah." Dengan isak tangis yang tiada henti.
"Ini mamah sayang."
Aku mencoba mendekat ke arah ibu mertua, berusaha mengambil Lulu dari tangan wanita tua itu.
Akan tetapi ....
"Mau apa kamu?"
Pertanyaan yang menyulitkan, bukanya Lulu mau menyusu, kenapa Ibu malah bertanya.
Aku berusaha bersikap lembut di depan ibu, bagaimana pun dia orang tua yang harus aku hormati, walau pun ucapanya menyakitkan.
"Lulu bukanya mau nyusu, biar Ana susuin dulu," Aku semakin mendekat pada ibu.
"Tapi ada syaratnya."
Sarat. Apa maksud wanita tua dihadapanku ini.
Kak Indah mendekatiku, seraya berbisik." Sudahlah kamu jangan dengerin mertua gila kamu ini. Dia benar benar tak waras."
"Ana, apa kamu tidak lihat anakmu sudah nangis teriak teriak begini." Cetus ibu mertua.
Kak Indah yang memang terlihat geram, langsung membalas ucapan mertuaku dengan sedikit tak sopan.
"Ini nenek tua, mamahnya mau nyusuin, malah di kasih syarat," pekik Kak Indah.
Aku berusaha, menghentikan amarah Kak Indah, agar ia tak memancing emosi mertuaku kembali.
"Kak sudah hentikan, biarkan kita dengarkan dulu sarat ibu."
Kak Indah kini mulai diam dengan perkataanku.
"Ya sudah. Apa syaratnya bu?"
Aku melihat senyum Ibu terlihat sinis, saat aku bertanya tentang syarat.
" kamu harus ikut lagi dengan ibu, menjadi istri Raka seperti biasanya. Baru ibu kasih Lulu ke kamu, kalau kamu tak mau ibu akan biarkan Lulu menangis seperti ini."
kak Indah kini mulai maju dan ingin membalas perkataan mertuaku, akan tetapi aku segera menahan tubuh kak Indah, Biar aku saja yang memilih satu pilihan.
"Jadi ibu mengacamku dengan acaman yang konyol?" Aku berusaha menjadi Ana yang tidak cengeng dan gampang sakit hati, agar ibu tahu aku bukanlah wanita yang gampang dibodohin begitu saja.
Padahal dari dulu aku berusaha mengalah, bukan karena aku lemah. Melainkan aku menghargai ibu mertuaku sebagai Ibuku sendiri. Tapi kenyataannya, ketika aku menghargai seseorang yang tak lain ialah ibu Mas Raka, di sanalah aku merasakan bahwa aku ini seperti tidak dibutuhkan dalam rumah ibu mertuaku.
Aku seperti sampah yang benar-benar kotor dan menjijikkan di mata Ibu dan juga Mas Raka, mereka tak pernah menghargaiku, setiap apa yang aku lakukan di mata mereka seperti aku ini yang salah.
Padahal aku berusaha menjadi istri yang baik dan menantu, yang disayangi ibu mertuaku.
kenyataan semua itu hanyalah angan-angan belakang, semakin aku menghargai dan semakin aku berusaha mengalah. Semakin harga diriku terinjak oleh mereka berdua.
"Ibu tidak mengancam kamu, Ana. Ibu hanya memberikan syarat yang mudah untuk kamu lakukan."
Aku menghelap nafas membuang muka di depan anak bungsuku, agar ibu mertua yang ada di hadapanaku saat ini sadar diri.
"Maafkan mamah, nak." Gumam hatiku.
"Maaf bu. Syarat itu terlalu berat untukku, aku tidak bisa hidup di rumah ibu lagi. Hatiku terlalu sakit untuk masuk dalam rumah seperti derita itu, jadi aku putuskan membiarkan Lulu menangis."
Entah benar atau tidaknya aku berkata seperti itu, membuat keputusan di mana anakku terus menangis karna kelaparan.
"Gila kamu. Ana, kamu mau anakmu mati." Hardik Ibu.
Badan yang tadinya ingin berlalu pergi kini, berdiri tegak sembari bekata," Diam."
Ibu dan Kak Indah, terdiam.
"Bukan aku yang membuat Lulu menangis dan kelaparan. Tapi ibu sendiri, ibu yang membuat syarat kepadaku, di mana ibu menganggap aku sebagai robot yang seenaknya diprintah begitu saja." Pekikku di hadapan ibu.
"Lulu, asal kamu tahu, air susu ibu begitu berlimpah, membuat rasa sakit, karna kamu tak menyusui. Ibu tahu kamu pasti lapar, nak. Ibu berdosa memilih pilihan yang jelas jelas membuat kamu tersiksa. Maafkan ibu, Nak." Gumam hatiku.
"Punya menantu benar benar tidak tahu diri," gerutu Ibu.
Tiba tiba saja Lulu, mengacak rambut neneknya. Ia mengigit punggung sang nenek. Hingga mertuaku meraung kesakitan.
Ibu mertuaku kini menurunkan Lulu. Hingga di mana Lulu berusaha merangkak mendekat ke arahku.
Aku berusaha mengambil Lulu yang merangkak menujuku.
"Lulu sini sayang."
Akhirnya aku bisa memegang Lulu, membopongnya, untuk masuk ke dalam rumah.
Mertuaku yang menyadari aku membawa Lulu masuk ke dalam rumah, membuat wanita tua itu berteriak mengejar aku yang sudah masuk ke dalam rumah.
Sedangkan kak Indah masih berada di luar rumah dengan melipatkan kedua tangan, menatap sinis ke arah ibu mertuaku. Aku menatap kembali ibu mertua di balik jendela rumah, ia terus menggedor-gedor pintu rumah kak Indah. Berusaha mengambil Lulu dari tanganku.
kak Indah yang tak terima dengan ibu mertuaku kini menarik wanita tua itu hingga terdorong dari pintu rumah.
" Sudahlah sebaiknya ibu pergi dari rumah ini, karna Lulu sudah ada di tangan mamanya sendiri, jadi Ibu tidak usah khawatir mengurus Lulu atau menyusuinya, karena adik saya sendiri itu pandai mengurus rumah dan juga anak-anaknya."
Wanita tua itu seakan tak terima dengan perkataan kak Indah, hingga di mana tangan ibu mertuaku melayang pada pipi Kiri Kak Indah.
Plakkk ....
"Dari tadi kamu terus membuat saya kesal, harusnya kamu itu diam, karna saya dan Ana yang mempunyai urusan, sedangkan kamu ...."
Kak Indah dengan beraninya. Memotong pembicaraan wanita tua yang menjadi Mertuaku itu dengan lantang.
"Memang ini bukan urusan saya. Tapi anda di rumah saya sudah bikin ke rusuhan dan ketenangan tuan rumah. Harusnya anda lebih bisa mengharagi tuan rumah."
"Cihhh ...."
Membuang ludah, di depan Kak Indah, membuat aku kesal. Wanita tua itu kini pergi dengan berkata," besok saya akan ke sini, membawa Lulu."
"Silahkan saja, saya tidak takut. Mau anda bawa seribu pasukan, seribu medan perangpun. Saya siap lawan."
Mertuaku terlihat sekali benci terhadap Kak Indah, karna Kak Indah yang berani melawan.
"Awas kamu."
Setelah kepergian mertuaku, kak Indah masuk, di mana aku tengah menyusui Lulu yang begitu kehausan, terlihat sekali wajah lelah anakku karna menangis terus menerus, karna tekanan dan teriakan ibu mertua.
Mengusap lembut kepalanya dan berkata," maafin mamah ya, sayang."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Mam Lilu
mak lampir sableng
2022-07-17
0
𝐓𝐚𝐲𝐨𝐧𝐠
gereget banget pingin jambak ibu mertua ga ada akhlak gatel tangan pingin bantu ana jambak mertuanya🤭🏃♀️🏃♀️🏃♀️
2022-07-17
0
Siti Umayah
mau crazy up gak Thor 😁😁 itung-itung ibadah lah
2022-07-17
1