"Ayo, mah. Kita pulang ke rumah Tante Indah."
Farhan mulai membantuku berdiri, melupakan kesedihan, yang amat membuat relung hatiku hancur.
Berjalan sembari merangkul kepala anakku, hatiku masih terbanyang akan tangisan Radit dan juga Lulu. Bayangkan betapa sakitnya hati ini.
"Mm."
Suara batuk yang di sengaja membuat, aku menatap ke arah orang itu.
Tawa mengema di telinga.
"Hahah, aduh ini babu udah enggak laku ya. Jadi disuruh pulang begitu saja."
Aku mengira balasan ucapanku kemarin, akan membuat Bu Nunik berhenti mengejek dan mentertawakanku, tapi ternyata wanita tua itu semakin menjadi jadi.
Sebenarnya apa salahku?
Sehingga Bu Nunik terlihat sekali membenciku?
Padahal aku tidak pernah mengusik kehidupannya?
"Heh, tu muka kenapa, sakit? Apa kena azab, jadi merah melepuh gitu."
Aku hanya bisa menanggapi Bu Nunik dengan menggelengkan kepala, berusaha tetap tenang. Karna hatiku saat ini benar benar lemah.
Melihat Bu Sumyati yang terus menasehati Bu Nunik, membuat wanita tua itu, semakin menjadi jadi dengan perkataanya.
Kedua tanganku mengepal merasakan kekesalan dalam hati ini, aku harus bisa menguatkan diri dan bersabar. Walau sebenarnya tangan kepalan ini ingin membuat bibir tebal itu semakin tebal, hingga tak berbentuk lagi.
Dalam hati, aku hanya bisa bicara kuat, kuat, kuat. Walau sulit akan kucoba.
"Heh, buruk rupa, kenapa diam aja? Kemarin berani melawan." Pekik Bu Nunik, ibu ibu yang berkumpul di sana hanya mentertawakan omongan Bu Nunik. seakan mereka terhibur.
Aku terus berjalan melangkahkan kaki, berharap ketenangan dalam hati, walau sebenarnya jalanan yang kulalui seperti menginjak pecahan beling.
"Farhan, ayo nak kita tidak usah mendengarkan omongan mereka, sebaiknya kita cepat pergi, sebelum mereka semakin menjadi jadi."
Aku yang mulai meraih tangan Farhan, malah kaget. Karna Farhan sudah tidak ada di sampingku.
"Farahan, kamu ke mana. Nak?"
Saat kulihat ke arah Bu Nunik, Farhan dengan lancangnya, melemparkan tanah comberan pada wajah Bu Nunik. Di mana para ibu ibu di sana mencoba menghindar dari amukan anakku.
"Farhan, nak. Apa yang kamu lakukan, Nak? Itu tidak baik! Biarkan saja orang seperti itu berbicara semaunya dia."
"Tapi, bu. Bu Nunik keterlaluan, menghina ibu semaunya dia."
"Tapi tetap saja, Nak. Itu tidak baik."
"Farhan, dasar kamu anak nakal."
Teriak Bu Nunik, menghampiri anakku dengan wajah kotor penuh tanah comberan.
Bu Nunik dengan lancangnya menjewer telinga anakku, membuat aku langsung mendorong tubuh wanita tua itu.
"Ibu, boleh hina saya. Tapi tidak dengan anak saya, dia tidak punya salah apa apa, jadi jangan coba coba menyakiti anak saya. Jadilah contoh ibu yang baik."
Bu Nunik terlihat geram, ia berdiri dan membuang ludah," alah, sok bijak kamu Ana. Dasar miskin, pantas saja mertuamu enggak suka, udah miskin belagu, main pungut anak haram."
Kata kata Bu Nunik, membuat luka batinku tersiksa, aku tidak mau Farhan mendengar apa yang dikatakan wanita tua itu.
"Diam." Teriakku.
Bu Sumyati datang, membawa Bu Nunik dari amarahku yang mengebu gebu. Tak tahan rasanya dengan penghinaan Bu Nunik.
"Wah, si Ana bisa marah juga."
Aku menatap tajam ke arah Bu Nunik, kedua mataku membulat, menujuk ke arah wajahnya," suatu saat ibu harus ingat ini. Aku akan balas hinaan ini, dan membuat ibu menyesal."
Bu Nunik malah tertawa dengan bahagianya, ia membalas ucapanku." Aku tidak takut wanita miskin."
Kini nafasku terasa sesak, setelah amarah terlontar dari mulut yang sudah tak terkendali.
Bu Sumyati berusaha menenangkan amarahku, karna ia tak berhasil mengendalikan ucapan Bu Nunik.
"Istigfar neng, Eling."
Aku kini beristigfar, mengingat kesalahan dan ucapan yang tak semestinya terlontar dari mulutku.
"Ya, sudah kamu sebaiknya pergi dari sini. Tidak akan ada ujungnya jika kita meladeni Bu Nunik."
"Iya Bu Sum, aku juga mau buru buru pergi."
Aku bersyukur ada Bu Sumyati yang mau membantuku dari kemarahan Bu Nunik yang dimana
Bu Nunik masih berdiri, dengan wajah kesalnya.
"Mau pergi ke mana kamu, Ana. Dasar lemah."
Teriakan Bu Nunik dan caciannya terus terlontar, di kala Aku dan Farhan pergi menaiki angkot.
Hati merasa semakin rapuh namun bertahan agar tetap kuat di depan anakku, aku tidak mau Farhan mengetahui rahasia yang selama ini aku simpan.
Farhan tetap anakku, bagaimana pun, sampai kapanpun dia tetap anak pertamaku yang paling berharga. Jika ada orang yang berani menyakiti hati anakku, dia akan tahu akibatnya.
kupeluk tubuh Farhan dengan erat, tak mau berpisah dengannya. Hanya dia penyemangatku saat ini, aku tidak mau kehilangan Farhan.
"Farhan enggak suka sama Bu Nunik, dia kejam, jahat. Farhan benar benar benci sama wanita tua itu."
Aku hanya bisa terdiam, saat anakku terus mengoceh layaknya orang dewasa.
"Sebenarnya wanita tua itu kenapa? Kenapa dia begitu membenciku, padahal aku tidak punya salah apapun pada dia."
Aku terus bertanya tanya dalam hati, memikirkan kemarahan dan cacian Bu Nunik yang tak terkendali, Apalagi Bu Nunik membahas tentang Farhan.
"Mamah jangan nangis terus. Farhan jadi sedih kalau lihat mamah nangis terus, Farhan enggak mau lihat mamah terus terus terluka seperti ini."
Di dalam angkot yang sepi tanpa penumpang, hanya ada aku, Farhan dan sopir, membuat aku menjawab pertanyaan anakku yang begitu perhatian.
"Mamah enggak nangis, sayang. Mamah hanya merasakan sakit mata."
"Apapun yang Farhan rasakan, Farhan tahu mamah sedang tak baik baik saja. Sudahlah mah jangan menangisi orang orang yang akan membuat mamah terpuruk saat ini, kita buktikan pada mereka, bahwa kita tak sehina yang dikatakan Bu Nunik dan Nenek."
Ucapan Farhan, tak pernah salah, ia selalu berkata dengan kata kata dewasa, padahal umur Farhan masih belasan tahun. Tapi pikiran dan kepekaannya begitu luar biasa.
Beruntung kamu hadir di hidup mamah, menguatkan mamah dari badai masalah yang terus menghadang. Mamah akan tetap menjaga kamu, mempertahankan kamu Farhan, karna kamu satu satunya belahan jiwa mamah.
Walau mungkin Lulu dan Radit tak bersamaku sekarang, tapi akan aku pastikan hak asuh mereka jatuh ke tanganku saat itu juga.
Aku akan berusaha sebisa mungkin, dengan tekad yang kupunya, aku tak ingin di anggap lemah.
Angkutan umum sudah membawa kami berdua ke rumah Kak Indah, melihat wanita yang menjadi kakakku tengah mengobrol dengan sosok lelaki yang entah aku tak mengenal siapa dia?
Aku melangkah melihat sosok lelaki dengan tinggi dan memakai jas ala kantor, membuat aku mengerutkan dahi.
Sedangkan Kak Indah hanya tersenyum kepadaku, mengisyarat_kan hal yang tak biasa.
"Kebetulan sekali, Ana kamu datang ke sini."
Siapa lelaki itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Ni Za
laaanjut
2022-07-15
0
𝐓𝐚𝐲𝐨𝐧𝐠
lanjut ka
2022-07-15
0
Nora Afilla
udah vote udah fav lagi.
yg semangat nulis@.
maaf agak ngegas tadi komen di sono@....
2022-07-14
0