Aku pulang untuk segera menyiapkan makanan, memasak, semua bahan yang baru saja aku beli.
Fokus mengiris bawang dan lainnya. Semua aku lakukan sendiri tanpa bantuan, siapapun
Menarik nafas, aku sudah lelah dan ingin ke luar dari rumah ini, tapi dengan nasib anak-anak bagaimana?
Apa mereka sanggup tanpa seorang ayah? Karna tadi malam Radit bercerita tentang sahabatnya yang terus melamun, karna kedua orang tua berpisah.
Dia seakan tak mau jika aku berpisah dengan Mas Raka. Bertahan rasanya berat, aku harus bagaimana?
Saat mengiris bawang, tanpa sadar pisau mengenai jari tangan, membuat darah perlahan ke luar, di situasi seperti ini. Rasanya aku ingin menjerit, dunia rasa tak adil.
Setelah mengobati luka, aku bergegas memasak dengan cepat, sampai di mana. Aku membalikkan badan ke arah pintu dapur yang terbuka.
Bruyyyy ....
Perih aku menjerit begitu keras, seakan semua orang menghampiriku.
"Ada apa?" tanya Mas Raka menghampiriku. Ia menatap wajah yang sudah melepuh karna siraman air.
"Mas, tolong perih," ucapku mengelap-ngelap wajahku dengan tangan. Mas Raka langsung menahan kedua tangan agar tidak melukai wajah yang sudah tersiram air yang entah aku tidak tahu air apa itu. Karna semakin kuusap, kulit mukaku semakin menjadi mengelupas .
"Siapa yang tega menyiram air panas ke muka kamu An, kurang ajar," Mas Raka menggendongku dia membawa aku ke puskesmas terdekat. Tergesa-gesa berlari karna panik.
Seorang bidan memberikan salep agar luka kulit di wajah sedikit membaik.
Tega sekali orang itu melakukan perbuatan ini, pasti wanita itu. Pikiranku mulai menyalahkan istri ke dua Mas Raka.
Setelah pemeriksaan wajahku di perban, naas wajahku melepuh merah.
"Mas bagaimana ini perih," ucapku dengan menangis meraung kesakitan.
Mas Raka hanya terdiam tanpa berkata, apa-apa. Seperti ia tak terima dengan perubahan wajahku.
Aku tak terima atas pelakuan orang itu.
Dia menghancurkan wajahku.
Mas Raka dan ibu hanya cuek saja ketika aku tengah kesakitan.
Keluarga macam apa mereka, hanya bapak mertua yang selalu baik terhadapku.
********
Saat di rumah, wajahku belum juga membaik. Tapi aku harus mengerjakan pekerjaan rumah semua.
Suara tawa mengema di telinga, seakan menandakan kepuasan atas penderitaanku.
"Sudah enak, upik abu. Eh, sekarang jadi buruk rupa." tawa istri ke dua Mas Raka, menghampiriku yang tengah membereskan baju dan melipatnya.
"Aku tahu selama ini kamu yang membuat wajahku seperti ini." Rahang ini seketika mengeras, kesal dan beci bercampur aduk menjadi satu. Gemuruh jiwa kian menggebu, amarah yang memendam membuat aku ingin membalas perlakuan wanita itu.
"Ouh, masa, akhhaha. Enak saja nuduh sembarangan.
I'm not that cruel person Ana." Tangan melambai-lambai, entah apa yang dilakukan wanita itu seperti nyonya rumah saja.
Tanganku menampar keras pipinya, hingga . Memegang baju depanya, sedikit dililit oleh tanganku. Tatapan mata kami saling beradu, menanam kebencian.
"Lepaskan, I don't like your dirty hands."
Ia menepis tangganku. Tapi sayang, pegangan tanganku pada bajunya begitu kencang.
"Kamu tahu, suatu saat kamu akan menerima akibatnya lebih dari ini," ancamku membuat wanita itu menelan ludah.
Aku melepaskan tanganku dari kerah bajunya yang kujambak. Dan mendorong dia hingga terjatuh. Seperti membuang sampah pada tempatnya.
"Dasar buruk rupa, No self-awareness," cecarnya menghina wajahku.
"Apa kamu bilang?"
Kaki ini menyentuh kakinya, hingga menginjak keras. Ia begitu kesakitan.
Pada akhirnya Mas Raka datang dengan kepanikan.
"Apa yang kamu lakukan, Ana?" tanya Mas Raka membangunkan Ajeng.
"Mas, dia mendorong tubuhku. I'm in pain. Dan lagi dia menampar pipiku hingga merah." wanita itu memperlihatkan bekas tamparanku.
Lebay sekali wanita itu, mengadu kepada suamiku.
"Kamu, Ana kalau kamu melakukan ini lagi kuusir kamu dari sini, ingat ini! I don't need a woman like you," ancam Mas Raka. Aku hanya melipatkan kedua tanganku tersenyum dengan menahan rasa sakit di dada.
"Tak perlu kamu suruh, aku akan keluar sekarang juga," teriakku bergeming pada telinga Mas Raka.
Ibu datang menghampiriku dan berkata," jangan bodoh kamu, Ana. Jika kamu pergi dari sini kamu mau tinggal di mana?"
"Itu bukan urusan ibu, tinggal di kolong jembatan_pun aku mau, dari pada tinggal di rumah. Tapi harga diriku seakan di injak injak untuk apa," jawabku semakin beruntal.
Mereka terdiam dengan perkataan yang ke luar dari mulutku, seakan tak percaya jika aku sekarang bisa melawan.
Saat aku hendak, masuk ke kamar. Suara Radit terdengar jelas. Ia berlari menangis memeluk tubuhku.
"Mamah jangan pergi, Radit enggak mau liat mamah pisah sama papah. Jangan pergi ya, ma."
Air mata itu terus mengalir, hingga ke dasar pipi, aku berusaha mengusap perlahan air mata dari anakku.
Mas Raka datang dengan melipatkan berdiri begitu angkuhnya
"Lihat apa yang kamu perbuat, adalah kebodohan besar Ana, kamu ingin pergi dari rumah ini. Tapi tidak memikirkan nasib dan kesedihan anakmu sendiri."
Sedangkan aku duduk, memeluk anak keduaku dan juga Lulu.
"Sudahlah, Mas, ini sudah jadi pilihanku. Bukanya ini yang kamu inginkan. Aku juga punya hati punya perasaan, mana ada wanita yang kuat dengan perlakuan suaminya yang tak adil."
Aku melihat Mas Raka melipatkan kedua tanganya," sekarang apa yang kamu inginkan, agar kamu tidak pergi dari rumah ini."
"Sudahlah, Mas. Jangan coba tahan aku lagi, aku sudah muak dan benci sama kamu."
Tangisan anak anak terdengar begitu semakin keras, membuat ibu mengambil Lulu dari tanganku.
Begitu pun dengan Radit.
Aku menarik tangan anakku, tak bisa berpisah dengan mereka, karna jiwaku ada pada anak anakku.
Tangisan Lulu semakin keras, aku tak sanggup melangkah untuk keluar rumah, seakan kedua kakiku benar benar lemah.
"Aku harus kuat," Gumam hatiku.
"Mamah."
"Mamah."
Teriakan anak anakku, terus bergeming di telinga.
Aku berusaha berdiri, untuk tetap tegar.
Saat kaki ini melangkah ke luar rumah dengan membawa tas besar yang berisi baju.
"Mamah."
"Farhan?"
"Mamah, mau ke mana, Farhan ikut."
Ibu mertua menatap tajam ke arahku, ia tak peduli dengan Farhan, saat itulah aku pergi bersama Farhan, sedangkan Lulu masih menangis. Dia masih membutuhkan Asi, tapi ibu.
Terlihat tak memperdulikan semua itu, Mas Raka seakan tak mempertahankanku.
Batin ini menangis sejadi jadinya, hati ini rapuh.
"Mah, kenapa Radit dan Lulu ditahan sama nenek?"
Pertanyaan itu membuat relung hatiku, benar benar sakit. Apa yang harus aku katakan pada Farhan, kalau adik adiknya ditahan sedangkan Farhan diabaikan.
Air mata tak terbendung lagi, aku berjongkok menangis, sedangkan Farhan terus menenagkan tangisan ini dengan mengusap punggungku.
"Mamah, maafkan Farah ya, Mah?"
Aku menatap ke arah wajah anakku, kupeluk erat dia." Kamu enggak salah, Nak."
*******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
𝐓𝐚𝐲𝐨𝐧𝐠
kasian radit ma lulu ditahan dah pergi dulu aja ana kamukan dapat warisan buktikan kamu rubah jatidiri kamu kamu bisa lebih dari pelakor,,,, datang bawa mobil sama pengawal jemput anak2mu biar mereka ga berani nahan anakmu
2022-07-14
0
Ika Christina
semangat author aq tunggu lanjutannya 💪💪
2022-07-14
0