Di tengah obrolan ibu dan Mas Raka yang begitu serius.
"Mamah, sedang apa?"
Pertanyaan anak pertamaku membuat aku menempelkan jari tangan pada bibir, tentu ia sedikit mengerti hingga tak berani bertanya lagi.
Farhan pergi dari hadapanku, hingga di mana. Aku melihat ke arah Mas Raka dan ibu. Sudah tidak ada di tempat.
"Ke mana mereka? Padahal dari tadi mereka tengah mengobrol dengan serius.
Menghelap nafas, ada rasa penasaran dengan obrolan ibu dan Mas Raka yang tak tuntas aku dengar.
Jam sudah menunjukkan pukul 21:00, di mana Mas Raka masih dengan ponselnya. Entahlah kenapa setiap hari Mas Raka tak pernah jauh dengan ponselnya.
Apa ada yang sepecial pada ponselnya itu? Hingga dia terkadang mengabaikan ucapanku.
Tapi jika ada yang sepecial kenapa wajahnya selalu terlihat muram?
"Pah."
Di samping kiri, melihat Mas Raka yang belum tidur, membuat ia menjawab penggilanku.
"Ya, kenapa mah?"
"Papah enggak kangen sama mamah, setiap hari megang ponsel mulu!"
Aku mencoba menggoda suamiku. Berharap Mas Raka peka dengan ucapanku.
"Papahkan ngurusin pekerjaan, jadi enggak sempat kangen kangenan sama mamah!"
"Tapi?
Mas Raka meletakan ponselnya, ia merebahkan tubuh. Sekilas ia mencium keningku dan tertidur begitu saja.
"Pah?"
Mas Raka mengabaikan panggilanku, seakan menghindari semua pertanyaan yang akan aku katakan. Kenapa kamu menjadi berbeda sepeti ini Mas?
Padahal aku berencana untuk mengontrak dengan Mas Raka dan tak mau tinggal dengan ibu. Karna terlalu banyak kesalah pahaman yang terjadi.
Aku mencoba merebahkan tubuhku, walau hatiku merasa sakit dengan Mas Raka yang selalu mengabaikanku.
@@@@@
Satu minggu suamiku berada di rumah, kini waktunya ia berangkat kembali bekerja. Mas Raka berpamitan pada ibu, bapak dan juga aku. Tak lupa memeluk sang buah hatinya.
Punggung suamiku sudah tak nampak lagi, aku mulai masuk ke dalam rumah.
Dreet .....
Suara ponsel berbunyi, di mana aku bergegas berlari ke dalam kamar, mencari ponsel. Yang dari tadi berbunyi.
Saatku lihat pada layar ponsel. Ternyata panggilan dari ka Indah.
Segera kuangkat dan sedikit menjauh dari hadapan mertuaku.
"Ada apa, ka?" tanyaku saat menerima panggilan telepon.
"Kapan kamu ke sini, de," ucap Ka Indah dengan nada sayu, terdengar dari suaranya ka indah seperti habis menangis.
"Entahlah kak, aku masih ada di rumah mertua dan kebetulan Mas Raka pergi kerja ke luar kota," balasku pada Kak Indah.
"Apa tak salah si Raka suami kamu itu kerja," terdengar suara kak Indah yang terdengar syok.
Kak Indah memang tipe orang yang selalu kaget dengan perubahan seseorang. Ia terkadang sedikit meledekku.
Walau terkadang aku berusaha tak menanggapi ledekanya. Lebih baik aku diam, dari pada harus bertengkar, dan mengperkeruh keadaan.
"Maksud kakak?" tanyaku, sedikit kesal.
"Ya, kan biasanya dia orangnya pemalas!" jawab Kak Indah jutek.
"Ada apa ya ka? kalau kaka butuh aku, ngomong saja langsung. Tak perlu menjelek-jelakan suamiku," cetusku pada Kak Indah.
"Iyah, iyah. Maaf. Kakak cerai sama Mas Danu, dia ketahuan selingkuh!" jawab Kak indah dengan nada terdengar kecewa.
"Yang benar, kak?" Aku masih tak percaya dengan apa yang di katakan kakaku.
Rintihan tangisan ka Indah di dalam telepon begitu terdengar kencang, hatinya mungkin sedang sakit karna pengkhianatan dari suaminya.
"Ya sudah kak, nanti aku akan datang ke sana. Tapi aku izin dulu sama mertuaku." ucapku, berusaha menenangkan hati kakaku.
Walau terkadang aku kesal kepada sang kakak, tapi bagaimanapun aku harus tetap menghargai dia, karna dia adalah keluargaku satu satunya.
"Cepetan ya, de," balas Kak Indah.
Telepon pun di matikan sebelah pihak, aku menghampiri ibu dan meminta izin untuk pergi ke rumah orang tuaku.
Terlihat ibu tengah bersantai, dengan majalah yang selalu ia baca.
Saat menghampiri ibu ...,
"Bu."
Ibu menatap ke arah wajahku.
"Mm."
" Ana mau izin pulang ke rumah almarhum orang tua Ana dulu," ucapku pada ibu yang tengah duduk di teras depan rumah.
"Emh."
Entahlah ibu mengizinkan atau tidak, tapi jawaban ibu hanya berdehem saja.
"Ibu izinin Ana pergikan?"
"Mm. Iya!"
Setelah ibu mengatakan kata iya, aku bergegas mengemasi baju, dan juga baju anak anakku. Begitu banyak bawaan yang aku bawa. Karna ke tiga anakku semua ikut.
Aku melewati setiap rumah di desa, yang masih kahs memakai bilik, akan tetapi, banyak ibu-ibu yang tengah mengobrol di teras depan rumah Sumyati.
Saat melewati mereka yang tengah berkumpul.
Terdengar di telinga ini, mereka menyebut namaku, walau terdengar pelan.
Jujur saja Bibirku gatal ingin rasanya menimpal ucapan mereka.
Bagaimana pun juga aku berusaha mengabaikan obrolan mereka, mengenai diriku, saat tengah berjalan bersama anak anak.
Salah satu tetangga ibu mertua, kini memanggil namaku.
"Eh, Ana, kamu mau kemana? Bawa tas gede," ucap Bu Nunik yang sedang berkumpul dengan ibu-ibu itu.
"Pasti di usir, suka nyolong duit mertua sih." Sindir Bu Nunik, dengan di iringi tawa semua tetangga.
Mencoba mengelus dada, menahan kemarahan yang mengelegar di jiwa.
Apa yang mereka katakan, membuat seketika darah naik. Enak sekali mereka ngomong, ah kalau di lawan percuma malah jadi ribut nantinya.
Aku hanya tersenyum lepas melirik sekilas, dan kembali lagi berjalan.
"Bu, mereka kok usil banget?" tanya Farhan dan Radit.
"Sudah biarkan saja, tetangga rese!" jawabku cetus.
"Mana ada maling ngaku, yang ada penjara penuh. Si Ana diem-diem bae." timpal Bu Tuti sembari berkacak pinggang, aku yang menatapnya hanya geleng-geleng kepala.
"Ibu-ibu, dia kan hanya numpang di mertua." suara tawa menggema di telingaku. Tak terasa bulir bening mulai berjatuhan di pelipih mata.
Aku dan anak-anak berjalan lebih cepat.
Tapi, berbeda dengan Farhan anakku yang pertama.
Dia berlari menuju ibu-ibu yang tengah berkumpul sambil ber ucap." Eh ibu-ibu, tak kusumpahi, mulut kalian di sengat lebah. Maen nuduh ibuku segala. Fitnah itu namanya. Orang tua tapi gak punya adab."
Aku langsung menarik tanggan Farhan, yang berhadapan dengan ibu-ibu. Mata ibu-ibu itu membulat seketika saat kutarik lengan Farhan.
Untung saja ada angkot, segera kami menaiki angkot itu. Menjauh dari amukan ibu-ibu.
"Mah, kenapa sih. Mamah diam saja kali-kali beri mereka pelajaran."
Aku mengelus kepala Farhan," tidak baik. Biarkan mereka berbicara sesuka hati. Asal jangan kita."
"Ibu gak asik."
Terkadang hati ini juga ingin membalas seperti apa yang anak-anak bicarakan. Tapi bukan dengan cara harus membalas kasar melainkan dengan cara halus.
Setelah sampai di tempat Ka Indah. Dimana rumah ini menjadi saksi bisu kebahagianku dan almarhum ibu.
Terlihat Kak indah menungguku dengan wajah cemasnya.
"Kak Indah."
Setelah turun dari angkot, Kami saling berpelukan, rasa senang seakan menyelimuti hari itu.
"Ade, makasih ya kamu mau datang di saat kakak sedang sedih begini."
"Sudah kakak tak usah kuatir, aku akan selalu ada di samping kak indah."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments