Pagi hari aku melihat Mas Raka yang selalu sibuk memainkan Hp nya.
Entah apa yang ia kerjakan, setiap pagi sore. Menatap layar ponsel. Dengan wajah seakan malas.
Biasanya seorang lelaki selalu ingin menghabiskan waktunya dengan istri, tapi sekarang seakan tidak ada rasa selera pada Mas Raka.
Sedangkan Ibu mertuaku, seakan biasa saja, dengan tingkah anaknya yang akhir-akhir ini. Berubah.
Sebenarnya. Ada rasa senang Mas Raka bisa bekerja, dan memberi uang lebih padaku.
Dan ada rasa sesal, karna dia seakan menyembunyikan sesuatu pada diriku.
Sebenarnya apa yang sedang kamu sembunyikan dariku mas?
Karna rasa penasaran pada hati ini, membuat aku melangkah maju ke arah Mas Rakam
"Mas, kenapa sih. Akhir akhir ini, kamu kelihatan murung terus. Apalagi saat kamu memegang ponsel yang baru aku lihat," ucapku menghampiri suamiku yang sibuk memainkan Hp-nya.
"Kamu ini banyak nanya, An, biarkan saja sesuka suamimu ini." Entah sejak kapan ibu sudah ada di depanku.
Kenapa sih ibu selalu ikut campur dengan perkataanku?
Wajarkan seorang istri bertanya pada suaminya, bukanya kita sebagai suami istri harus saling bekomunikasi, agar rumah tangga terasa nyaman dan selalu utuh.
Tapi di mata ibu, aku seperti orang yang selalu terlihat salah.
"Emh, mah, kan papah lagi kerja. lagi ngomongin tentang pekerjaan. Kenapa sih kamu akhir-akhir ini jadi sensitif."
Dia memegan tanganku, menyakinkan bahwa Mas Raka tak punya rahasia apapun.
Tapi tetap saja ucapanya, tak membuat aku senang. Malah membuat aku semakin penasaran di buatnya.
"Sebenarnya ...."
Belum perkataanku terlontar semuanya, Ibu menyuruh Mas Raka begitu saja.
"Raka, tolong antarkan ibu ke depan buat beli bahan kue. Ibu mau bikin kue buat cemilan."
Kenapa ibu seakan tak menghargaiku sebagai menantu, padahal dengan susah payah aku berusaha tidak merpotkannya saat tinggal di rumahnya.
Mas Raka menatapku, memberi senyuman. Jika nanti obrolan akan di sambung kembali, saat dirinya tak sibuk.
Hingga setengah jam berlalu, Mas Raka dan ibu datang, membawa belajaan begitu banyak.
"Banyak banget bu?"
Pertanyaanku tak di gubris oleh ibu, dia asik tersenyum dengan menenteng banyak belajaan.
"Boleh aku bantu, bu?"
Aku mencoba menawarkan diri, membantu ibu. Membuat sebuah kue.
"Enggak usah."
Tangan yang tadinya mulai meraih telor dan beberapa bahan kue, membuat tangan ini perlahan menghidar dari bahan bahan kue yang sudah di susun ibu dengan cepat.
Aku mulai membalikkan badanku untuk segera pergi dari hadapan ibu.
Akan tetapi baru beberapa langkah pergi dari dapur, ibu memanggilku kembali.
"Ana."
Dengan sigap, dan menampilkan senyuman, aku bergegas menghampiri ibu." Ada apa bu?"
"Kamu ini enggak peka, bantuin ke ngocokin telur atau apa." Gerutu ibu.
Padahal tadi dia sendiri yang bilang ENGGA USAH, tapi giliran aku pergi di suruh. SERBA SALAH.
Sedangkan Mas Raka yang baru saja selesai mengantar ibu, kini terduduk kembali sembari melihat layar ponselnya.
Aku yang terus menatap ibu, kini dikagetkan dengan tangan ibu yang memukul tangan kananku.
"Kalau ngocok telor itu yang benar, nanti tumpah bagaimana."
"Eh, iya bu."
dengan telaten aku membantu ibu, membuat sebuah kue yang terlihat lezat. Membuat ke dua anak anakku datang karna mencium wanginya kue yang baru saja ke luar dari open.
Ke dua anak anakku berlari, tertawa senang menghampiri ibu.
"Wah, wanginya."
Mertuaku tetap saja fokus tak mempedulikan kehadiran cucu cucunya, yang terlihat menelan air liur sesekali.
Aku yang melihat mereka seperti ingin mencicipi kue, membuat aku berucap," kakak dan ade mau?"
"Mau!"
"Ya sudah cuci tangan kalian sana."
Mereka berdua saling berlarian, untuk segera mencuci kedua tangan mereka agar bisa mencicipi kue bolu yang sudah jadi.
Perlahan aku mulai memotong kue bolu yang baru saja di letakan ibu ke piring.
"Eh, Ana. Siapa suruh kamu potong tuh kue," bentak ibu membuat aku tentulah kaget.
"Anak anak ingin mencicipi kue bolu ini. bu, " ucapku, dikala hati ini sakit karna bentakan ibu.
"Kalau kamu mau, bikin sendiri. Ini buat cemilan ibu dan untuk anak ibu Raka untuk di bawa ke tempat kerjanya nanti."
Ibu yang biasanya diam, kini tega berbicara itu di depanku dan juga anak anak. Aku hanya menundukkan wajah masih tak percaya dengan ucapan wanita di hadapanku.
rasanya ingin menangis, tapi aku malu jika menangis di depan anak-anak dan juga Ibu. Aku harus memperlihatkan ketegaranku kepada anak-anaknya, agar mereka tak melihat keterpurukanku saat tinggal di rumah nenek mereka.
"Ya sudah, kamu cepat bereskan semua ini. Ibu mau menaruh bolu yang sudah jadi."
"Iya bu."
"Dan juga kamu ajarin anak anak kamu agar jangan jadi anak celamitan."
"Iya bu."
Ibu kini berjalan pergi dengan membawa kue bolu yang sudah jadi, aku yang melihat ibu seperti itu hanya bisa menghelap nafas berat.
"Mah, nenek pelit ya." Ucap Anak pertamakum. Membuat aku tentu saja menatap mereka berdua, dan menasehati.
"Hust, enggak boleh ngomong kaya gitu."
"Ya habisnya nyobain kue bolu juga, pake acara membentak mamah."
"Nenek enggak bentak ibu, nenek hanya kaget saja, sayang."
Kedua anak anakku, kini terdiam saat kata kata nasehat aku lontarkan pada mereka berdua, berharap dengan kelakuan mertuaku seperti itu anak anak tak membenci ibu.
"Ya sudah kalian, main lagi sana. Ibu banyak kerjaan."
"Iya bu."
Mereka kini membalikkan badan dengan raut wajah penuh rasa kecewa. Jalan mereka berdua terlihat melambat.
"Maafkan mamah ya nak."
dengan sigap aku mulai membereskan dapur bekas membuat kue bolu bersama ibu.
setelah beres membersihkan dapur dan juga peralatan bekas membuat bolu, pada saat itulah aku berencana menghampiri Mas Raka yang masih santai dengan melihat layar ponselnya di ruang tamu.
Namun saat langkah kaki ini mulai menghampiri Mas Raka, saat itu juga ibu datang dengan membawa kue bolu yang sudah terbungkus begitu rapi.
Ibu memberikan kue bolu itu kepada Mas Raka, dengan memberikan satu lembar surat yang entah aku tidak tahu isi dari surat itu.
Surat apa itu?
kini aku mulai mendengarkan percakapan ibu dengan Mas Raka yang begitu serius.
"Raka, ibu berharap kamu bisa menerima yang sudah terjadi, jangan kamu jadikan semua itu kesedihanmu. Jadikan semua itu keberuntungan dalam hidupmu."
terlihat sekali wajah Mas Raka seakan kesal. dengan ucapan yang terlontar dari mulut ibu untuk dirinya.
"Ibu berharap banyak pada kamu!"
suamiku tetap saja diam saat ibu terus berucap kepada Mas Raka.
"Apa maksud perkataan ibu, kepada Mas Raka?"
hatiku benar-benar resah, dengan apa yang aku lihat saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Siti Umayah
di tunggu kejutannya
2022-07-12
0
Mam Lilu
masih nyimak
2022-07-11
0
Ni Za
putus lagi
2022-07-08
0