Aku segera membereskan bekas makanan di meja, perut kini terasa perih. Membuat tangan ini perlahan menekan perut.
"Aku belum makan dari tadi pagi."
Tangan ini mencoba membuka tutup makanan, tidak terlihat sayur di atas piring, hanya ada nasi dan air putih saja.
Menghelap nafas, sayur kangkung yang kubuat dan juga perkedel jagung sudah habis tak tersisa sedikit pun untukku.
Ada raut rasa kecewa pada hati ini, membuat bibirku mengkerut menahan rasa kesal," Mas Raka, emang enggak ingat apa sama Ana?"
Ana berusaha tegar, ia mengambil nasi dan menaburi nasi hangat yang berada dalam piringnya dengan garam.
Ketika perut lapar, rasanya begitu nikmat. Padahal tadi aku tak nafsu makan, akan tetapi setelah mendengar suamiku ingin bekerja membuat nafsu makanku kembali lagi.
Aku sudah tak nyaman tinggal di rumah ibu. Semua pekerjaan aku yang bereskan. Karna merasa hidupku hanya menumpang dan Mas Raka pengangguran.
"Mm."
Ibu mertua datang menghampiriku, dimana ia hanya diam tak bertanya satu patah kata pun.
Ia menyodorkan satu keresek hitam di depanku, membuat aku hanya diam seribu bahasa.
Wanita tua itu langsung pergi begitu saja. Aku yang beres makan segera mungkin mencuci piring dan membereskan dapur. Agar terlihat bersih.
Saat matahari sudah mulai tenggelam, sedikit demi sedikit sinarnya muali redup. Aku yang menunggu kepulangan Mas Raka, di depan pintu.
Entah kenapa hati ini cemas, takut. Mas Raka kenapa-kenapa.
"An, kamu ngapain? Masuk neng udah magrib, kita shalat bareng." Panggilan bapak terdengar di telingaku.
"Iyah pak," jawabku menutup pintu depan rumah, aku tergesa-gesa pergi ke kamar mandi.
Dan Brug ...
Tubuhku terjatuh karna, bertabrakan dengan ibu.
"Aduh bu, maaf Ana enggak sengaja." tanganku meraih tubuh ibu, untuk segera membangunkannya.
Seperti biasa ibu tak berkata apa-apa, hanya saja sorot matanya yang menatap tajam ke arah wajahku.
Ibu langsung bergegas pergi, meninggalkan aku yang seakan mematung di abang pintu, kamar mandi.
"An, cepat kamu Wudhu. Bapak nunggu kita."
Suara ibu terdengar pelan, tubuh ini langsung berbalik ke arah suara itu. Tapi ternyata ibu hanya berkata sembari membelakangi tubuhku.
Setelah selesai wudhu, kami menjalani shalat berjamaah. Untung saja si bungsu Lulu anteng sama kakak-kakak nya Farhan dan Radit.
Setelah selesai shalat terdengar suara pintu di ketuk, aku bergegas menghampiri suara itu.
Tok ... Tok ...
"Mas Raka," saat pintu di buka ternyata temannya.
"Anu, Mas Rakanya ada?" tanya Bang Ilham sahabat nongkrongnya Mas Raka.
"Aduh, Bang Ilham toh. Maaf bang Mas Rakanya gak ada dari pagi, entah kemana saya kurang tahu. Ngomongnya cari kerja."
"Oh ..., ya sudah mba. Maaf ganggu, saya kira Mas Rakanya ada."
"Iyah bang."
Kenapa? Aku cemas sekali Mas Raka belum pulang. Ada apa? Tubuh ini menyender di jendela, seakan menunggu kedatangan suami yang entah kapan dia pulang.
"Kamu ngapain di sana?" ucap ibu mengagetkan lamunanku.
"Anu bu, nungguin Mas Raka!" jawabku menunduk pandangan.
Ibu berlalu pergi mengeleng-gelengkan kepalanya, semenjak tinggal di rumah mertua. Serasa tak ada teman untuk saling berbagi, berbeda saat tinggal di rumah ibu sendiri saat ada masalah apapun aku selalu bercerita.
Dan ibu selalu mendengar kelah keluhku, tak seperti ibu mertua yang hanya berkata satu dua patah kata saja.
Sampai aku segan untuk mengajak mengobrol. 10 tahun menjalani bahterai rumah tangga di saat itu pun kepergian ibu yang baru beberapa bulan.
Dengan terpaksa aku harus tinggal di rumah mertua. Karna, rumah orang tuaku di ambil alih oleh Kak Indah.
Kak Indah tak mau aku tinggal di sana, dia tak suka melihat Mas Raka yang hanya pontang panting tanpa pekerjaan.
Kenapa dengan Mas Raka, semenjak melahirkan Lulu. Mas Raka jadi pemalas.
Apalagi tinggal di rumah ibunya sendiri.
********
Pagi hari rutinitas seperti biasa aku jalani tertunda karna si kecil Lulu rewel.
Badannya panas.
"Mah kenapa dede nangis terus?" tanya Farhan menghampiriku.
"Iyah, mah." ucap Radit.
"Ibu gak tahu, kayanya Lulu demam. Apa kalian bisa bantu mamah."
"Bantu apa."
"Mamah, mau bawa Lulu ke puskesmas di depan sana. Kalian tolong cuci'in baju kakek sama nenek ya."
Mereka mengangguk mengiyakan perkataanku, karna kalau pekerjaan rumah tertunda ibu bisa marah kepadaku.
Dari tadi pagi aku tak melihat sosok wanita tua itu. Akh mungkin mertuaku sedang mongobrol dengan tetangganya.
Setiap pagi mertuaku tidak pernah ada di rumah, dia selalu keluyuran entah kemana. Mencari teman mengobrol dan bergosip.
*********
Langkah kaki ini dengan cepat melangkah ke arah kamar, mengganti pakaian dan mengambil dompet.
Saat tengah mengecek dompet. Tak ada satupun lembar uang yang ada di dalam dompet.
Padahal, uang tabunganku waktu pindah ke rumah mertua masih ada 1 juta.
Tapi, kenapa tak ada sepeserpun.
Entahlah karna panik aku melihat pecahan uang 5000 2 lembar yang ada dimeja, karna cemas melihat keadaan Lulu.
Dengan terpaksa aku mengambil uang pecahan itu.
Nanti kalau uangnya sudah ketemu akan segera ku ganti.
Aku berjalan melangkahkan kaki melewati rumah-rumah tetangga.
Saat itu langkah kaki seakan terhenti mendengar terikan ibu.
Raut wajahku hanya melirik sekilas tanpa menoleh ke arah suara itu.
Benar-benar panik di buat Lulu saat ini, hingga aku mengabaikan panggilan ibu.
"Kemana mba?" tanya Bang Ilham memberhentikan motornya.
"Mau kepuskesmas yang ada di dekat sekolah Farhan," jawabku dengan nafas sedikit terengah-engah.
"Puskesmas tutup mba."
"Bagaimana ini, Lulu badannya panas," ucapku sembari menggendong dan meraba-raba jidat anakku.
"Sudah, naik saja ke motor abang. Nanti abang anterin ke rumah sakit di arah sini."
"Rumah sakit agak jauh, dan harganya?"
"Sudah, nanti mba pinjam dulu ajah uang abang. Gantinya abang minta ke suami mba, si Raka."
kepalaku mengganguk mengiyakan perkataan Bang Ilham. Menaiki motornya.
Sebenarnya ada rasa tak enak hati, takut terjadi fitnah. Tapi apa boleh buat demi keselamatan anakku Lulu.
*******
"Untung saja ada Bang Ilham. Makasih ya bang," ucapku setelah ke luar dari ruang pemeriksaan anak.
Cukup lumayan lama aku mengantri, untung saja ada yang menolong. Aku di buat kaget dengan keadaan Lulu yang panasnya tidak turun-turun.
"Ga papa mba. Sesama tetangga harus saling menolong."
"Iyah bang, saya tak enak hati."
" Ya Sudah, kita pulang mba, nanti mertua nya Raka nyariin mba."
Sesaat sampai di tujuan Bang Ilham mengantarkan aku sampai ke rumah.
Terlihat ibu langsung menghampiriku, dengan tergopoh-gopoh berlari.
"Ana, dari mana saja kamu?" tanya ibu. Sedikit menyunggingkan bibir bawahnya.
"Tadi Mba Ana, saya antar ke rumah sakit. Soalnya De Lulu demam mak."
Untung saja Bang Ilham angkat bicara,
kalau tidak ibu mungkin taakan mempercayai perkataan yang ke luar dari mulutku.
Setelah itu Bang Ilham langsung pamit pulang kepadaku dan ibu. Ah, lega sekali rasanya setelah membawa Lulu ke rumah sakit.
"Kenapa kamu ke luar gak bilang-bilang sama ibu dulu? Malah nyelonong sendirian," ucap ibu saat tengah berjalan beriringan bersamaan.
"Maaf bu, tadi Lulu demamnya tinggi. Takut kenapa-kenapa." jawabku sedikit menelan ludah.
"Sini biar ibu yang gendong Lulu." wanita tua itu langsung mengambil anakku, dengan sedikit merebut.
Teringat dengan Farhan dan Radit, segera langkah kaki menghampiri dapur.
Saat kulihat, mereka tak ada di dapur.
Terlihat dapur sudah rapih, piring cucian tidak ada begitupun dengan baju sudah ada dijemuran saja.
Apa mereka mengerjakan ini semua? Sudahlah, segera aku mencari keberadaan mereka. Ternyata mereka sedang asik menonton tv.
"Farhan, Radit," ucapku menghampiri kedua anakku yang begitu fokus melihat layar tv.
Radit yang ber umur 9 taun dan Farhan berumur 14 taun.
"Ibu, sudah pulang."
"Iyah, maafin ibu nyuruh kalian membereskan semua pekerjaan ibu di dapur." Aku mencium kedua jidat mereka dan berterima kasih, telah meringankan perkerjaan ibunya ini.
Farhan angkat bicara. "Bukan kami yang melakukan pekerjaan rumah. Bu,"
Alisku sedikit mengerut, seraya berucap." Terus siapa?"
"Nenek yang mengerjakan semua pekerjaan rumah."
"Apa nenek marah, saat mengerjakan pekerjaan dapur."
"Nenek, ngusir kami. Nenek tak bicara apa-apa sama kita. Cuman saat kita tengah asik menonton tv, Nenek begitu berisik di dapur."
"Maksud kalian."
"Nenek seperti orang yang lagi perang, setiap cucian piring yang nenek cuci. Seakan di banting-banting di pukul. Saat Farhan mau bantu, Farhan liat raut wajah nenek yang kesal. Entah kenapa? Liat Bibir nenek manyun terus." ucap Farhan mengeluhkan kelakuan neneknya.
"Ya."
"Makanan yang di meja juga hanya ada garam saja."
"Emang nenek gak masak."
"Gak tau."
"Sudah nanti ibu beliin ayam goreng untuk kalian, tapi kalian sabar ya, uangnya ibu cari dulu, ibu lupa taronya di mana."
Saat itu bibir mereka merekah terseyum senang. Benar apa yang aku pikirkan ibu pasti tak senang saat pekerjaan rumah belum aku bereskan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Tri Widayanti
Kasihan amat
2022-08-04
0
Siti Umayah
ayo Thor penasaran nih,
2022-07-12
0