Mereka pun telah sampai dirumah nenek sita,raisya yang melihat anya dan lastri serta jina kembali sambil membawa seorang anak kecil pun terkejut lalu bertanya "anak siapa itu nak?".
"Ini anak pak bahar nandira namanya pas mau kekebun teh kami lihat pak bahar yang lagi memukuli nandira makanya kami menolong dia sekaligus membawa dia kembali kesini karena kasihan"jawab anya.
"Aaaaaaa anya pundak lu itu darahnya merembes ke baju"pekik jina histeris maklum dia punya phobia akan darah.
"Astaga nak kamu buru obatin sana gih" ucap raisya.
Anya hanya mengangguk pelan lalu memberikan nandira yang sedang tertidur digendongannya ke raisya,lalu ia bergegas kekamar nya lalu mengobati perlahan lukanya itu.
Tak butuh waktu lama anya pun sudah selesai untuk mengobati luka yang ada dipundaknya dan menutupinya dengan perban sekaligus tak lupa ia mengganti bajunya yang terdapat noda darah.
"Huwaaaa hiks hiks gak mau!!!gak mau hiks hiks huwaaaa"terdengar suara tangisan dan isak tangis dari ruang tengah alias ruang keluarga.
Anya yang medengar hal itu pun bergegas keruang tengah setelah sampai anya melihat nandira yang terus menangis dengan keras mungkin karena ia yang tadi tertidur terbangun dan tidak melihat anya itu sebabnya dia menangis.
Anya pun merasa sedih melihat nandira yang terus menangis hanya karena ia tinggalkan sebentar akhirnya anya pun berjalan kearah nandira kemudian menggendongnya, sementara nandira hanya memeluk erat leher anya sambil menangis dengan tubuh yang bergetar.
"Cup cup cup nandira kan anak baik anak pintar jangan nangis lagi ya"ucap anya menenangkan nandira yang terus terusan menangis,dengan perlahan lahan anya mengelus punggung nandira agar membuatnya merasa baikan.
"Takut"ucap nandira pelan dan lirih namun masih dapat didengar oleh anya.
"Nandira takut apa hmm?ayo bilang kakak gak akan marah kok"ucap anya.
"Takut kakak itu"ucap nandira sambil menunjuk pojok ruang keluarga,mendengar hal itu anya pun mengalihkan atensinya kearah yang ditunjuk nandira.
Setelah memastikan penglihatannya tidak salah anya pun mulai membuka suara "gak apa apa dia gak jahat jangan takut ya kakak itu juga udah pergi kok"ucap anya.
mendengar hal itu nandira mengalihkan pandangannya kepojokan ruang yang ia tunjuk tadi dan benar saja tak ada sosok apapun disana.
Flashback beberapa menit yang lalu
'hantu itu lagi hantu itu lagi🙄'batin anya jengah melihat sosok hantu perempuan jahil yang beberapa hari ini selalu mengganggunya sekaligus penghuni rumah.
"kenapa?"tanya hantu itu pada anya.
'pergi kasihan nandira ketakutan'ucap anya dalam batinnya yang bisa didengar hantu tersebut.
"Gak mau aku mau main sama nandira"ucap hantu tersebut ngegas.
'pergi atau kutempeleng kau gini gini walaupun kau hantu aku masih bisa sentuh kau dan bisa tampol kau mau?!!'batin anya dengan nada malas dan diakhiri dengan kata membentak..
"Huhh iya iya nyebelin"ucap sosok hantu itu lalu pergi menembus tembok sambil cemberut.
Flashback end
"Nandira jangan takut lagi ya udah ayo ini udah siang kita makan siang dahulu"ajak anya sambil membawa nandira dalam gendongannya.
"Anya mama mau ngomong sama kamu berdua"ucap raisya sambil menatap anya dengan intens.
"Nandira sama kakak jina dan kakak Lastri dulu ya kakak anya mau ngobrol sama..."belum sempat anya menyelesaikan ucapannya tiba tiba suara nandira pun berkata.
"Iya tapi kakak jangan lama lama ya"ucap nandira dengan mata yang berkaca kaca
"Gak lama kok udah ya nandira makan siang dulu gih bareng kakak Lastri sama kakak jina"setelah mendengar hal itu nandira pun pergi bersama jina dan Lastri menuju ruang makan.
Sementara itu disisi anya dan Raisya sangat terasa suasana mencekam yang terjadi pada keduanya lebih tepatnya pada anya yang saat ini mendapat tatapan tajam dari Raisya.
"Jadi gimana mau kamu urus nandira?mama dan papa gak akan keberatan kalau kamu mau lakukan hal itu lagian nandira juga kayaknya gak mau ditinggal sama kamu"tiba tiba Raisya berbicara dengan nada lembut dan tatapan mata yang mulai sayu.
"Anya mau mah tapi anya tau anya butuh persetujuan dari pak bahar untuk hal itu"ucap anya diawal kata ia tersenyum tapi tak lama senyuman itu memudar dari sorot matanya tersirat rasa kecewa.
"Kita coba bicarakan saja dahulu baik baik dengan pak bahar"ucap Raisya dan dibalas anggukan kepala oleh anya.
"Yasudah ayo kita susul mereka dan makan siang bersama"ucap Raisya kemudian dia dan anya berjalan menuju ruang makan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments