Didalam perjalanan hanya ada kesunyian tak ada satupun yang membuka percakapan langit mulai berubah menjadi jingga tanda sore akan segera tiba namun mereka masih saja belum sampai.
Mereka sempat terpikir kalau mereka tersasar namun ternyata tidak mereka mulai memasuki sebuah hutan dengan jalanan tanah yang licin diguyur hujan saat hari mulai malam.
"Akhirnya masuk kehutan ini juga gue kira tadi kita tersasar kan gak lucu kalau kesasar njing"ucap jina
"Hushh jina bahasanya dijaga nanti menyinggung"ucap zefanya mengingatkan
"Iya baiklah maaf"ucap jina
Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali tak terasa mentari sudah mulai terbit menggantikan tugas rembulan untuk bersinar.
Hampir 1 harian sudah terlewati masih ada perjalanan panjang yang harus mereka lewati untuk menuju ke desa tempat tinggal neneknya zefanya.
Akhirnya mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki permukiman penduduk saat jam sudah menunjukkan pukul 07.33 pagi walaupun tidak sepadat dijakarta namun permukiman itu lumayan ramai.
"Selamat datang didesa lembanyu"ucap jina mengeja setiap kata yang ada didepan gerbang masuk desa.
(Note:nama Desa asal asalan aja😅😅😅)
Tiba tiba terlihat sosok putih terbang mengarah kemobil Adnan tak lama terdengar suara klakson mobil Adnan lalu sosok putih itu malah melayang berpindah kemobil jina.
"Bunyikan klakson mobil mu sebanyak 3 kali jina"ucap zefanya dan dipatuhi oleh jina setelah membunyikan klakson mobilnya sebanyak 3 kali sosok putih misterius itu pun menghilang seolah olah tak pernah ada.
"Kenapa sih?"tanya jina bingung.
"Harus ijin dulu kita walaupun pernah kesini tetap aja dikategorikan sebagai pendatang atau lebih tepatnya penghuni baru makanya mereka kurang terbiasa dan terganggu tapi tadi kayaknya mereka hanya mencoba menampakkan diri sebagai pertanda ingin menyambut saja gak lebih kok"ucap zefanya menjelaskan.
"Emang beda ya punya teman Indihome jantung selalu gak aman kek naik roller coaster"ucap jina dan dibalas zefanya dengan cengirannya.
"Ohh ya yang benar indigo bukan Indihome"ucap zefanya meralat ucapan jina dibalas anggukan kepala olehnya.
Terlihat mobil Adnan berhenti didepan sebuah pekarangan rumah yang lumayan besar akhirnya jina pun ikut memberhentikan mobilnya didepan pekarangan rumah tersebut.
Zefanya dan jina pun bergegas turun dari mobil setelah turun mereka pun meninggalkan barang bawaan mereka dimobil dan berjalan menuju kedalam rumah.
"Akhirnya kalian datang gimana perjalanannya"tanya seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya Raisya yang bernama sita alias nenek dari zefanya.
"Begitulah nek"ucap zefanya lalu menyalami tangan neneknya itu dan dilanjut dengan jina yang melakukan hal serupa.
"Yaudah kalian istirahat dulu pasti capek jina juga ya"ucap sita
Akhirnya zefanya pun mengambil kopernya lalu menuruhnya disalah satu kamar yang ditunjukkan neneknya lalu ia segera kembali keruang tamu.
"Nek kakek dimana"tanya zefanya sambil mencomot pisang goreng yang ada dimeja lalu memakannya.
(Ya iyalah dimakan ya kali dibuang🤣)
"Biasa kakekmu ada disawah ngurusin padi udah mau panen kan sayang kalau dimakanin burung"ucap sita menjawab pertanyaan dari zefanya.
"Owhh kalau gitu Anya sama jina kesana ya sekalian nganterin sarapan buat kakek"ucap zefanya dibalas anggukan oleh sita.
Akhirnya mereka pun berjalan menuju kesawah milik kakeknya zefanya diikuti Dion dibelakang mereka yang sedang berjalan sambil bermain hp.
Tak butuh waktu lama mereka pun sampai disawah kakeknya zefanya yang bernama Rahmat.
"Wuih pemandangannya bagus kali Cok"ucap Dion saat melihat pemandangan didepan matanya.
"Astaga bahasanya dijaga Napa yang sopan sedikit"ucap zefanya menasehati dibalas tatapan malas Dion, akhirnya zefanya pun memilih pergi bersama jina kesebuah tempat duduk panjang yang terbuat dari bambu.
Tiba tiba ada beberapa kerikil kecil yang mengenai kepala Dion.
"Siapa sih woy sakit tau jan***!!!"ucap Dion ngegas dan membuat fokus zefanya yang sedang berbicara dengan jina pun teralihkan kearah abangnya itu.
Terlihat ada sosok gadis kecil dengan rambut pirang ikal berpakaian gaun zaman dulu berwarna merah muda sedang melempari kepala Dion dengan kerikir sambil tersenyum puas.
"Puft bwahahaha"tawa zefanya ketika melihat wajah abangnya Dion yang sudah memerah menahan amarah karena terus terusan dilempar dengan kerikil oleh hantu anak kecil itu.
Karena merasa kasihan ia pun segera menghentikan tawanya dan pergi kearah abangnya.
"Jangan ganggu Abang saya pergi ya hush"ucap zefanya kearah semak semak tempat dimana hantu anak kecil itu saat ini sedang tertawa terpingkal pingkal melihat raut wajah Dion yang menahan amarah .
"Ehh kamu bisa lihat saya"tanya anak kecil itu dengan wajah bingung.
"Iya bisa boleh gak kamu jangan ganggu Abang aku maafin ya kalau dia ada salah"ucap zefanya.
Dion dan jina yang melihat zefanya berbicara sendiri pun mulai berbicara dalam hati 'astaga mulai lagi nih Indihome nya 'batin keduanya
Hantu anak kecil itu pun mengangguk lalu tak lama menghilang dari penglihatan zefanya.
"Akhh sakit sakit jangan asal tarik tarik Weh"ucap Dion saat telinganya ditarik oleh zefanya dengan kencang.
"Makanya jadi orang jangan suka cari gara gara bahasa tuh dijaga jadi kesinggung kan penghuninya"ucap zefanya menarik telinga Dion dengan sedikit berjinjit agar tangannya sampai.
"Iya iya maaf"ucap Dion kepada zefanya sambil mencoba melepaskan tangan zefanya dari telinganya.
"Janji gak buat lagi oke"ucap zefanya.
"Gak janji gak buat lagi"ucap Dion asal.
Pletak!
"Akhhh sakit Weh asal pukul kepala orang aja kualat lo"ucap Dion sambil mengusap kepalanya yang baru saja mendapat hadiah manis dari sang adik tiri.
"saya panggil yang tadi biar anda tidak cuman dilempar kerikil tapi batang pohon sekalian biar kepalanya benjol atau suruh dia tampakin wujudnya"ucap zefanya kesal melihat tingkah abang tirinya itu yang selalu senang mengganggu penghuni suatu tempat hingga dirinyalah yang harus ikut terseret menyelesaikan.
"Iya iya janji gak buat lagi tapi jangan dipanggil ye"ucap Dion dengan wajah pucat.
"yayaya"ucap Anya dengan rolling eyes nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments