Rencana Diandra untuk menyamar dan masuk ke keluarga Adijaya ternyata berhasil.
Sehari setelah pertemuannya dengan Pak Anton, ia langsung meminta Jonathan untuk menyamar bersama dirinya. Iapun menceritakan apa yang tengah terjadi sebenarnya pada asisten pribadinya tersebut. Dirinya akan menyamar sebagai gadis desa bodoh sedangkan sang asisten yang akan menjadi paman dari gadis itu.
Tentu saja Jonathan mematuhi perintah sang atasan. Begitulah Diandra, tanpa harus Jonathan bertanya, wanita itu pasti akan bercerita jika dirasa waktunya sudah tepat.
Mereka meminta bantuan salah satu oknum polisi untuk memuluskan jalan mereka. Diandra tahu jika Nyonya Livia adalah seseorang yang sangat ingin dihormati di depan umum. Dia akan berlaku bak malaikat demi mencari popularitas. Ia yakin wanita itu tak akan mengusirnya didepan aparat hukum tersebut.
Dengan berada ditengah-tengah mereka, pasti akan lebih memudahkannya untuk mencari tahu apa yang telah terjadi pada keluarganya di masa lalu.
***
Livia dan Lilian begitu kesal melihat dua orang kampung yang berada di hadapannya. Keduanya memegang barang-barang antik miliknya bahkan hampir menjatuhkan guci kesayangannya.
" Hei, apa yang kalian lakukan?! Jika sampai guciku pecah, aku tidak akan segan-segan menyeret kalian keluar dari sini! Kalian bekerja seumur hiduppun tidak akan pernah bisa membeli guci itu. Dasar udik! " bentak Livia geram.
Asih dan Pak Parno sama sekali tak menggubrisnya. Mereka berlagak seolah-olah terpukau dengan berbagai barang mahal yang terpajang disana.
" Saatnya beraksi. Aku ingin sekali melihat nenek sihir itu darah tinggi." Diandra menyeringai licik.
Baru saja Livia selesai berucap, tiba-tiba..
Teerrrr....
Netra keempat orang itu membelalak ketika tanpa sengaja Asih menjatuhkan salah satu guci kecil, tapi memiliki nilai jual yang termahal.
" Ma-af Ma. "
Ucapnya terbata lantaran melihat sorot mata tajam Livia yang kini tengah berapi-api. Gadis itu memasang tampang memelas seolah ketakutan.
Raut wajah Livia yang tadi terbakar amarah kini berubah sendu,
" Guciku. Guci kesayangan yang aku beli dari Tiongkok. Itu adalah guci paling mahal yang bulan kemarin ku beli." rutuk Livia. Wanita itu nampak begitu sedih, kemudian kembali berapi-api.
" Udiiiikkk..!! Cepat pergi dari rumahku ini. Kalian benar-benar pembawa sial. " ia mendekati Asih lalu berniat menarik gadis tersebut untuk keluar dari rumahnya.
" Maafkan Asih, Ma. Asih benar-benar tak sengaja. "
" Jangan panggil aku Mama. Mulutmu tak pantas memanggilku seperti itu! " Livia menarik tubuh Asih yang mencoba untuk tetap bertahan.
" Nyonya, sadar Nyonya. Dia ini anak tiri anda. Maafkan ketidaksengjaannya. " ucap Pak Parno memelas.
" Anak kau bilang, Pria tua! Aku sama sekali tidak percaya keturunan Adijaya ada yang semacam ini. " jawab Livia sinis.
Para pelayanpun diam-diam mengintip dari balik tembok. Mereka sudah hafal dengan tabiat majikannya yang sudah seperti malaikat pencabut nyawa.
" Ada apa ini ribut-ribut! "
Suara Pak Dedy yang baru saja datang untuk melapor pada atasannya, seketika mengalihkan fokus semuanya.
" Dia ini, Gadis udik ini mengaku putri Sheina dan Mas Burhan. Aku harus mengusirnya dari sini. Dia berani merusak guci kesayanganku! " tutur Livia berapi-api.
Dedy terdiam sejenak,
" Sudahlah. Biarkan dia disini dulu. Siapa tahu dia benar-benar putri Nyonya Sheina. "
Ucapan Dedy barusan membuat Livia bergeming, ia tak menyangka selingkuhannya itu justru membela gadis kampung tersebut.
" Apa kau sudah gila! Bisa-bisanya kau membela gadis ini! " geram Livia. Lilian mengangguk membenarkan ucapan Mamanya.
Dedypun mendekat lalu memberi hormat pada atasannya. Ia meminta Livia dan Lilian untuk pergi sebentar keruang kerja bersamanya.
Dengan berat hati Livia menuruti asistennya. Ketiganya beranjak dari sana dengan wajah penuh ancaman agar Asih dan Pak Parno tidak kembali berulah.
****
Suasana diruang kerja penuh ketegangan, raut wajah Livia menunjukkan kekesalan akibat ulah Dedy yang justru membela gadis itu.
" Nyonya. Sebaiknya kita biarkan wanita kampung itu sementara disini. " pinta Dedy.
" Apa maksudmu, Ded? Kau memintaku untuk menampung gadis udik itu? Tidak! Aku tidak sudi. Wanita itu benar-benar si*lan! " Livia berdiri sambil menggebrak meja kerjanya.
" Nyonya, tenang dulu. Saya tidak bermaksud membelanya. Bukankah dalam surat wasiat tertulis bahwa harta Nyonya Sheina akan menjadi hak putranya? Jika benar gadis itu adalah putrinya, berarti kita bisa memanfaatkan gadis bodoh itu untuk meraup harta kekayaan Adijaya. Anda tidak ingin bukan, jika harta itu jatuh ke yayasan?" Dedy menjelaskan alasannya.
Dengan cepat Lilian merespon,
" Benar juga yang dikatakan Om Dedy, Ma. Kita bodohi saja gadis kampung itu dan kita kuras semua hartanya. Ooh...aku sudah tidak sabar, menjadi Nyonya Syailendra dan pewaris Adijaya. Aku bisa belanja sesukaku dengan uang yang tidak ada habis-habisnya. " ucapnya yang sudah mulai mengkhayal.
Livia tak menyangka, kelicikannya juga menurun pada putrinya. Wanita itupun setuju dengan apa yang diusulkan oleh sang asisten.
" Baiklah kalau begitu. Aku serahkan semuanya padamu. Kita biarkan gadis itu sementara disini. Jika kita berhasil, tinggal kita tendang saja dia dari sini. " ucapnya sepakat.
Ketiganya tertawa lepas, gadis yang semula Livia anggap sebagai musibah sepertinya akan memberikan keberuntungan baginya kali ini.
...****...
Asih dan Pak Parno duduk di ruang tamu sembari menunggu apa akan terjadi selanjutnya. Pak Parno nampak gelisah. Ia memperhatikan sekitar untuk memastikan tidak ada siapa-siapa disana.
" Nona, apa kau yakin jika rencana kita akan berhasil? " tanyanya sembari berbisik pada Diandra.
Diandra menyeringai, " Kau tunggu saja. Sebentar lagi mereka pasti akan turun. " jawabnya santai.
Jonathan melihat rasa percaya diri yang besar pada sang atasan. Ia akui Diandra memiliki insting yang kuat, atasannyapun memang sangat pandai dalam menyusun siasat. Jika tidak, manamungkin Diandra mampu membawa TVC sebagai perusahaan media terbesar di negeri ini.
" Baiklah, Nona. Saya percaya pada anda. Ngomong-ngomong, anda sangat pandai berakting. " ungkap Jonathan sembari menahan tawa.
Ia akui make up artis yang ditunjuk Diandra benar-benar luar biasa. Wanita itu bisa terlihat sangat berbeda apalagi ditambah tompel dan kaca mata tebal yang bertengger di wajah Diandra. Jika bukan atasannya, sudah pasti ia akan menertawakan wanita itu habis-habisan.
" Jo? Jaga perilakumu. Meskipun seperti ini aku masih bisa bertindak tegas terhadapmu. " Diandra seolah mampu membaca pikiran sang asisten.
Nyali lelaki itu menciut, iapun segera meminta maaf pada atasannya.
" Bagus. Setelah ini kau pergi saja dari sini. Sementara aku titip perusahaan selama aku disini. Jika ada yang penting segera laporkan padaku atau kau bisa berkunjung kemari. " perintah Diandra.
" Baik, Nona. "
Benar saja, tak berselang lama Livia dan yang lainnya turun menghampiri mereka. Sikapnyapun berubah sedikit melembut.
Ia mengijinkan mereka untuk tinggal disana, tetapi Asih harus ikut bantu-bantu mengurus rumah dengan alasan ada beberapa pelayan yang baru keluar minggu ini.
Diandra tahu ini hanya akal licik Livia agar bisa memanfaatkannya. Bahkan nenek sihir itu hanya memberinya sebuah kamar bekas pembantu. Namun, itu tak masalah baginya. Yang terpenting dirinya bisa diterima disana.
Pak Parnopun berpamitan dan menitipkan Asih pada keluarga tersebut. Ia berjanji akan sering-sering menengok Asih disana.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya terbaruku. Makasih sebelumnya😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Nurma Sari
Heemmm....
2024-11-22
0
ˢ⍣⃟ₛ ◌ᷟ⑅⃝ͩ●Angela●⑅⃝ᷟ◌ͩ
hhhhhh
2024-11-18
0
erike Erike
SM z ya dgn fezzo,byk yg salah
2024-10-02
0