Aira yang sedang tertidur pulas di kamar Via harus terbangun saat ia merasakan sebuah tangan yang memeluknya, ia menoleh dan mendapati suaminya itu di sisinya.
"Mas...." panggil Aira dengan suara serak sembari mengucek matanya yang masih sangat mengantuk, ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 12.
"Maaf menganggu, Sayang," ucap Arsyad semakin mengeratkan pelukannya. Aira hanya bergumam dan saat kembali memejamkan mata, Aira mendengar bunyi perut Arsyad yang keroncongan.
"Kamu lapar?" pekik Aira sambil berbalik badan.
"Sedikit," jawab Arsyad cengengesan. "Tadi kamu nggak masak ya? Aku liat nggak ada makanan di dapur," ujarnya yang membuat Aira langsung duduk.
"Aku nggak masak, Mas. Maaf ya," ringis Aira.
"Kenapa harus minta maaf? Nggak apa-apa, Sayang. Kan aku sendiri yang bilang nggak akan makan di rumah," ujar Arsyad. "Terus kamu sama Via makan apa?"
"Makan ayam bakar, pesan dari restaurant, Mas. Kamu mau makan? Biar aku masakin, ya." Aira sudah hendak turun dari ranjang namun Arsyad mencegahnya.
"Nggak usah, ini sudah ma...." ucapan Arsyad terpotong saat perutnya kembali berbunyi, ia pun hanya bisa garuk-garuk kepala sambil cengengesan sementara Aira tertawa kecil.
"Masak, yuk!" Ajak Aira sambil menaik-turunkan alisnya yang membuat Arsyad merasa gemas dengan istrinya ini.
"Yuk!" ia langsung mengangkat Aira dalam gendongannya yang membuat Aira memekik. "Sshtt, nanti Via bangun," bisik Arsyad.
"Masak nasi goreng, Sayang," pinta Arsyad sesampainya mereka di dapur.
"Okay, Kapten!" seru Aira.
Keduanya pun bekerja sama membuat nasi goreng sederhana, dan saat Aira sibuk mengaduk nasi di wajan, Arsyad justru memeluknya dengan mesra dari belakang dan ia membantu Aira mengaduk nasi itu.
"Kenapa?" Tanya Aira sambil menoleh.
"Kangen," lirih Arsyad.
"Tingkahmu aneh akhir-akhir ini," ujar Aira akhirnya menuturkan perasaannya. "Aku bisa merasakannya, apa kamu menyembunyikan sesuatu?" Aira menatap mata suaminya itu dengan dalam dan Arsyad mengangguk. "Apa?"
"Aku akan memberi tahumu nanti," lirih Arsyad kemudian ia mematikan kompor dan meletakkan nasinya di piring.
"Enak?" tanya Aira saat Arsyad memakan nasinya.
"Kenapa kamu nggak curiga padahal aku bilang ada yang aku sembunyikan?" tanya Arsyad dengan dada yang bergemuruh.
"Iya juga ya, Mas. Kenapa aku nggak berfikir kesana?" Aira terkekeh sendiri. "Habisnya aku bingung, apa yang bisa dicurigai dari kamu." Lanjut Aira dengan polosnya yang membuat hati Arsyad terenyuh. Aira tidak pernah menipu orang, jadi sudah pasti dia tidak akan mudah curiga pada orang apalagi merasa ditipu.
"Kamu juga makan, ya." Arsyad menyuapi Aira dan keduanya makan bersama sampai nasi itu habis.
Setelah itu, Arsyad mengajak Aira kembali ke kamar mereka agar tak menganggu Via.
...***...
Menangis saja rasanya percuma bagi Anggun, ini bukan pertama kalinya ia tidur dengan Arsyad di sampingnya dan saat terbangun, pria itu sudah menghilang, pulang ke istri pertamanya.
Sama seperti pagi ini, saat Anggun terbangun, Arsyad sudah tidak ada di sisinya.
"Kamu mau kemana pagi-pagi begini, Anggun? Bukannya kamu sudah cuti dari sekolah?" Tanya pak Ardi yang melihat anaknya itu sangat rapi.
"Mau menemui Arsyad, Pa," jawab Anggun, ia menyambar kunci mobilnya dan melenggang pergi dengan emosi yang hampir memuncak.
...***...
Hari ini Arsyad ke restaurant sendiri karena Aira dan Via sedang pergi ke toko buku untuk membeli buku Via.
Dan saat Arsyad sibuk memeriksa beberapa laporan di laptopnya, ia di kejutkan dengan kedatangan Anggun yang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.
"Ada apa?" Tanya Arsyad dengan kening berkerut dalam.
"Aku rasa semuanya sudah cukup, sudah cukup aku mentoleransi sikap kamu selama ini!" Desis Anggun yang membuat Arsyad mengernyit bingung.
"Maksudnya?" Tanya Arsyad dan seketika Anggun tertawa sinis.
"Mulai sekarang, aku mau kamu bagi waktu dengan adil, Mas. Bukan cuma datang sebentar, setelah itu pulang bahkan tanpa pamit sama aku atau orang tuaku, kamu fikir rumahku itu hutan kamu bisa pulang pergi begitu saja?"
"Dulu aku bisa terima kamu cuma beberapa hari dalam sebulan bersamaku, tapi sekarang nggak lagi! Aku hamil dan aku butuh perhatian kamu lebih dari Aira. Aku mau, kamu memberikan waktu setengah bulan bersamaku setiap bulannya! Biar adil!"
Arsyad melongo mendengar mendengar ucapan Anggun yang penuh penekanan itu dan penuh emosi itu.
"Tunggu...." seru Arsyad sembari beranjak dari kursinya. "Aku rasa, kamu sendiri yang bilang, jauh sebelum kita menikah, kamu nggak akan menuntut apapun dari aku, termasuk waktu."
"Aku tahu, tapi aku rasa kamu juga tahu sekarang semua itu menjadi sebuah kewajiban buat kamu. Kamu tahu hukum, 'kan? Kamu tahu kalau kamu harus berlaku adil pada kedua istrimu," jawab Anggun dengan mata yang berkaca-kaca. Rasanya ia menyesal pernah mengatakan tidak akan menuntut apapun dari Arsyad, karena nyatanya, kini ia menginginkan banyak hal dari Arsyad.
Arsyad terdiam sejenak, ia menatap Anggun yang kini mulai meneteskan air mata. Ia tidak tega sebenarnya pada wanita itu, apalagi memang selama ini Arsyad sangat tidak adil pada Anggun.
"Anggun...." Arsyad mendekati Anggun, ia menghapus air matanya dan itu sudah membuat Anggun merasa senang, setidaknya, ia merasakan sedikit perhatian Arsyad.
"Maafkan aku, aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk memberikan hakmu sebagai istriku, tapi rasanya sangat sulit dan hatiku terasa berat. Dalam pernikahan ini, aku sangat menyakitimu, karena itulah, mungkin akan lebih jika kita bercerai dari pada aku terus dzalim padamu."
...TBC......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
Anonymous
cerai saja, toh dah hamil ini,,
2023-12-09
0
🌺°•▪︎MaMia Elf °▪︎•°🌈💦🌟
Eehhhh....emang laki ba****t
Istri lagi hamil malah mau d cerai
Minta d bejek²ini laki
Emosi aku 😡😡😄😄😄😄😄
2023-02-18
2
Harapan Memutar Tasbih
aku kecewa bila authir bikin aira memaafkn arsayad bila s aira sdh thu arsyad mendua
2022-12-28
0